Tafsir Surat al-Fatihah Ayat 1
Penyusun: Rifqy Fathin al-Bukhariy
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Tafsir Mufradat
بـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــســـــــــــــــــــــــــــــــــــــــم
Huruf ba merupakan salah satu huruf jar yang mengkasrahkan lafazh setelahnya; bismi. Setiap huruf jar pasti membutuhkan kepada muta'allaq (kaitan, hubungan, atau penyempurna). Seperti ungkapan, "dengan nasi yang panas", tidak akan bisa dipahami dengan sempurna kecuali ditambah kata-kata, "saya makan". Ungkapan "saya makan" disebut muta'allaq yang membuat kalimat tersebut menjadi sempurna.
Demikian juga pada ungkapan "dengan nama Allah", tidak akan dipahami dengan sempurna kecuali ditambah muta'allaq. Pada surat ini, muta'allaqnya tidak disebutkan berarti menunjukkan umum, yaitu tergantung kepada aktivitas yang akan dilakukan. Para ulama memperkirakan muta'allaq-nya ialah abtadiu (aku memulai). Jadi ungkapan basmalah maknanya, "saya memulai pekerjaan ini dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." Adapun muta’allaq-nya dihapus mempunyai dua faidah:
1- التبرك بتقديم الله عز وحل.
1- Meminta keberkahan dengan cara mendahulukan Allah 'azza wa jalla.
Jadi dengan mendahulukan ma'mul daripada 'amil berarti pelakunya memohon keberkahan atau tabarruk kepada Allah swt. Misalnya ketika akan makan, lalu mengucapkan basmalah, maka maknanya ialah "saya memulai makan atas nama Allah dengan memohon keberkahan-Nya."
2- الحصر؛ لأن تأخير العامل يفيد الحصر. كأنك تقول: "لا آكل باسم أحد متبركا به ومستعينا به إلا باسم الله عز وجل".
2- Al-Hashr; karena mengakhirkan pelaku berfaidah al-Hashr (membatasi). Seolah-olah kau mengatakan: "Aku tidak makan atas nama siapapun dengan meminta keberkahan dan meminta pertolongan dengan nama tersebut melainkan dengan nama Allah ‘azza wa jalla."
Jadi dengan mendahulukan ma'mul daripada 'amil bermakna hashr atau membatasi. Maksudnya, motif pekerjaan semata-mata karena Allah saja, bukan karena selain-Nya. Adapun contohnya sebagaimana dicantumkan di atas.
Lafazh ism dengan bentuk mufrad yang kemudian disandarkan kepada lafazh berikutnya itu bermakna umum. Jadi meskipun ism pada basmalah itu mufrad, maknanya jamak; karena nama-nama bagi Allah itu tidak hanya satu, tapi banyak (99 asmaul-husna).
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى.
Dan milik Allah-lah nama-nama yang baik. (Qs. al-A'raf [7]: 180)
الـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــلــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــه
Lafazh "Allah" itu tidak musytaq, melainkan 'alam (sebuah nama khusus) bagi Tuhan semesta alam. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir:
عَلَمٌ عَلَى الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، يُقَالُ إِنَّهُ الِاسْمُ الْأَعْظَمُ لِأَنَّهُ يُوصَفُ بِجَمِيعِ الصِّفَاتِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ عالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهادَةِ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيمُ. هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ. هُوَ اللَّهُ الْخالِقُ الْبارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْماءُ الْحُسْنى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.
Lafazh Allah merupakan sebuah nama khusus bagi Tuhan Tabaraka wa Ta'ala. Dikatakan juga bahwa lafazh Allah ialah nama yang paling mulia, karena nama tersebut mencakup semua sifat-sifat Allah, sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam Qs. al-Hasyr [59]: 22-24. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 36)
الــــــــــــــــــــــــــــــــرحـــــــــــــــــــــــــمــــــــــــــــــــــــــــن الــــــــــــــــــــــــــــــــــــرحــــــــــــــــــــــــــــــــــــيــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــم
Ar-Rahman dan ar-Rahim berasal dari kata yang sama, yaitu ar-Rahmah (kasih sayang). Keduanya merupakan nama yang khusus dimiliki Allah swt. sehingga tidak boleh disandarkan kepada manusia kecuali dengan didahului oleh 'abdun (hamba). Ar-Rahman maknanya 'azhimur rahmah (besarnya kasih sayang Allah), sedangkan ar-Rahim maknanya daimur rahmah (konsistennya kasih sayang Allah).
Penulisan Ism (Ditulis Alif dan Tidaknya)
Penulisan lafazh ism, ada yang ditulis alif dan ada juga yang tidak ditulis alifnya. Lafazh isim yang dihapus huruf alif (seperti yang termaktub surat al-'Alaq ayat pertama) dikarenakan sering digunakan. Berbeda dengan lafazh ism yang ditulis alif; dikarenakan jarang digunakan.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ.
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. (Qs. al-'Alaq [96]: 1)
Kenapa Ditulis Bismillah Bukan Billah?
قال العلامة أبو السعود: هو التفريق بين اليمين والتيمن يعني التبرك، فقول القائل: بالله يحتمل القسم ويحتمل التبرك. فذكر الاسم يدل على إرادة التبرك والاستعانة بذكره تعالى، يقطع احتمال إرادة القسم.
Al-'Alamah Abu as-Su'ud berkata: "Ditulis bismillah bukan billah ialah sebagai pembeda antara sumpah dan mendahulukan yang bermakna tabarruk." Maka ucapan seseorang: "Billah" dimungkinkan sumpah dan juga dimungkinkan tabarruk. Penyebutan isim menunjukkan atas keinginan untuk bertabarruk dan meminta pertolongan dengan cara menyebut nama-Nya serta memutus kemungkinan bersumpah. (Rawai' al-Bayan, I: 31)
Perbedaan Allah dan Ilah
الفرق بين لفظ "الله" ولفظ "الإله" أن الأول اسم علم للذات المقدسة لا يشاركه فيه غيره ومعناه المعبود بحق، والثاني يطلق على الله وعلى غيره ومعناه المعبود سواء كان بحق أو غير حق.
Perbedaan antara lafazh "Allah" dan lafazh "al-Ilah" bahwa yang pertama ialah nama bagi zat yang Maha Suci, selain-Nya tidak bisa berserikat di dalamnya, maknanya ialah zat yang berhak untuk diibadahi. Sedangkan yang kedua dimutlakan atas Allah dan selain-Nya dan maknanya ialah ma'bud (yang diibadahi), baik yang berhak ataupun tidak. (Rawai' al-Bayan, I: 31)
Perbedaan ar-Rahman dan ar-Rahim
Sebagaimana yang sudah dijelaskan, bahwa ar-Rahman dan ar-Rahim berasal dari kata yang sama, yaitu ar-Rahmah (kasih sayang). Hakikatnya, Allah swt. menyayangi seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali, baik muslim atau kafir, mukmin atau munafiq, laki-laki atau perempuan, dan yang lainnya. Sebab semua makhluk itu merupakan hasil ciptaan-Nya.
Adapun kadar ar-Rahmah yang Allah berikan kepada makhluk-Nya berbeda-beda sesuai dengan kondisi hati seseorang. Bila dalam hatinya terdapat keimanan, maka Allah akan menyayanginya dengan sangat. Namun bila dalam hatinya kosong dari keimanan, maka Allah akan menyayanginya dengan sekadar.
Rahman itu sepola dengan Fa'lan, maka faidahnya sementara. Seperti 'athsyan (haus) atau ghadhban (marah); ketika seseorang yang merasa haus, maka tidak selamanya haus (sementara) atau seseorang yang sedang marah, maka tidak selamanya marah (sementara). Begitu juga dengan rahman yang sifatnya sementara, yaitu Allah menyayangi sementara kepada seluruh makhluk-Nya.
Adapun rahim itu sepola dengan fa'il, maka faidahnya kekal atau senantiasa melekat pada seseorang. Seperti kabir (besar) atau thawil (tinggi); kedua sifat tersebut tidak hanya berlaku untuk satu atau dua hari saja, tetapi senantiasa melekat pada diri seseorang.
Untuk memahami lebih jelas, perhatikanlah hadits berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً، وَأَرْسَلَ فِي خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً، فَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللهِ مِنَ الرَّحْمَةِ، لَمْ يَيْئَسْ مِنَ الْجَنَّةِ ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللهِ مِنَ الْعَذَابِ ، لَمْ يَأْمَنْ مِنَ النَّارِ.
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah menciptakan kasih sayang seratus bagian, maka dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkannya satu bagian untuk seluruh makhluk-Nya, sekiranya orang-orang kafir mengetahui setiap kasih sayang yang ada di sisi Allah, niscaya mereka tidak akan berputus asa untuk memperoleh surga, dan sekiranya orang-orang mukmin mengetahui setiap siksa yang ada di sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman dari neraka." (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, VIII: 99, no. 6469)
Apakah Basmalah Termasuk al-Fatihah?
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا سُئِلَتْ عَنْ قِرَاءَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: كَانَ يُقَطِّعُ قِرَاءَتَهُ آيَةً آيَةً (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ).
Dari Ummu Salamah, bahwa ia pernah ditanya tentang bacaan (al-Fatihah) Rasulullah saw. ia berkata: "Keadaan Nabi saw. memisahkan bacaannya dengan satu ayat satu ayat." (Hr. Ahmad, Musnad Ahmad, XII: 6420, no. 27226)
عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: سُئِلَ أَنَسٌ: كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: كَانَتْ مَدًّا، ثُمَّ قَرَأَ: (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) يَمُدُّ بِبِسْمِ اللهِ، وَيَمُدُّ بِالرَّحْمَنِ، وَيَمُدُّ بِالرَّحِيمِ.
Dari Qatadah, ia berkata: Anas pernah ditanya: "Bagaimana bacaan (al-Fatihah) Nabi saw?" Anas menjawab: "Bacaan beliau panjang," kemudian Anas membaca basmalah, memanjangkan bismillah, memanjangkan ar-Rahman, dan memanjangkan ar-Rahim. (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, VI: 195, no. 5046)
Keterangan di atas merupakan salah satu dalil yang menunjukkan bahwa basmalah merupakan bagian dari surat al-Fatihah. Kemudian ada beberapa hal lainnya yang jadi pertimbangan, di antaranya:
1. Bukti penulisan basmalah di awal surat al-Fatihah dan awal setiap surat;
2. Tidak ditulisnya basmalah di awal surat at-Taubah. Hal ini bukan semata-mata ijtihad para sahabat, tetapi karena memang resminya tidak ada;
3. Nabi saw. memulai dengan basmalah dalam membaca surat al-Fatihah dan surat yang lainnya seperti surat al-Kautsar.
Membaca Basmalah Sebelum Beraktivitas
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ كَلَامٍ أَوْ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُفْتَحُ بِذِكْرِ اللهِ [عَزَّ وَجَلَّ] فَهُوَ أَبْتَرُ أَوْ قَالَ: أَقْطَعُ.
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah sa.w bersabda: "Setiap ucapan atau urusan yang tidak dibuka dengan menyebut nama Allah 'azza wa jalla maka itu punah atau terputus." (Hr. Ahmad, Musnad Ahmad, II: 1828, no. 8833)
Maksud dari hadits di atas ialah bahwa setiap ucapan atau urusan itu tidak bernilai di sisi Allah dan tidak akan mendapat pahala karenanya. Karenanya, agar semua perbuatan dan perkataan dinilai ibadah di sisi Allah, mulailah dengan membaca basmalah.
Namun hadits di atas dinilai sebagai hadits dhaif (lemah). Pada jalur periwayatannya ada rawi yang bernama Qurrah bin Abdurrahman; para ulama menilai bahwa ia merupakan rawi yang suka meriwayatkan hadits munkar.
Sekalipun hadits tersebut ialah hadits dhaif, secara makna dapat diamalkan sebab banyak hadits lainnya yang menjelaskan bahwa memulai suatu perbuatan dengan basmalah, dengan catatan bukan dalam ibadah mahdhah. Perhatikanlah hadits-hadits berikut:
1. Basmalah saat akan menguburkan mayyit
بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ.
Dengan nama Allah dan atas millah (agama) Rasulullah. (Hr. Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, VII: 375 no. 3109)
2. Basmalah saat akan makan
يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ.
Wahai anak muda! Ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di sekitarmu. (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, VII: 68, no. 5376)
3. Basmalah saat akan bersetubuh
إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِاسْمِ اللهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا.
Apabila ingin mendatangi istrinya, ia berdoa: "Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Kau berikan kepada kami," maka jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari bersetubuh itu, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya. (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, VIII: 82, no. 6388)
4. Basmalah saat akan tidur
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ: بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا.
Keadaan Nabi saw. apabila hendak tidur, beliau berdoa: "Dengan nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup." (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, VIII: 71, no. 6324)
Dari keterangan di atas menunjukkan bahwa Nabi saw. senantiasa memulai sesuatu yang sifatnya ghair mahdhah dengan basmalah. Adapun dalam ibadah mahdhah, maka tidak ada perintah yang menunjukkan atasnya.