Ketika Muktamar Jadi Arena Ambisi: U’inta atau Wukilta yang Memimpin?

Artikel 26 Mar 2026

Oleh : Denis Gilang PG

Muktamar tinggal sesaat lagi, Ia bukan sekadar forum organisasi—ia adalah cermin paling jujur tentang apa dan siapa kita sebenarnya. Di sanalah idealisme diuji oleh kepentingan, keikhlasan ditantang oleh ambisi, dan nilai-nilai dipertaruhkan oleh hasrat akan kekuasaan. Banyak yang datang dengan wajah perjuangan, tetapi tidak sedikit yang pulang membawa luka karena terseret arus politik yang tidak mereka sadari sejak awal. Di titik paling rawan inilah, pertolongan Allah menjadi pembeda yang tegas: apakah seseorang akan dijaga dalam kebenaran (u’inta), atau dibiarkan tersesat dalam ambisinya sendiri (wukilta).

Dalam setiap muktamar, kita harus berani jujur pada satu kenyataan: kekuasaan itu menggoda. Ia bukan sekadar amanah, tetapi juga magnet bagi hasrat terdalam manusia—ingin diakui, ingin berpengaruh, ingin menentukan arah, ingin dihormati, ingin berkuasa. Ini bukan sesuatu yang asing, bukan pula hal yang aneh, justru sangat manusiawi. Namun di titik inilah ujian sebenarnya dimulai. Apakah seorang pemimpin mampu menundukkan hasrat itu dalam bimbingan Ilahi (u’inta), atau justru dikuasai olehnya hingga terjerumus dalam kesendirian spiritual (wukilta)?

Hasrat terhadap kekuasaan sering kali menyamar sebagai idealisme. Banyak yang berbicara tentang perubahan, tentang perbaikan organisasi, tentang masa depan yang lebih baik. Tapi di balik itu, ada ambisi yang diam-diam tumbuh: keinginan untuk menang, untuk diakui, untuk berada di puncak. Muktamar menjadi panggung di mana semua itu bertemu—antara niat tulus dan ambisi tersembunyi. Dan di sinilah garis pembeda antara u’inta dan wukilta menjadi sangat tipis, tetapi sangat menentukan.

Pemimpin yang u’inta bukan berarti tidak memiliki ambisi. Ia tetap ingin menang, tetap ingin memimpin. Namun ambisinya dikendalikan, ditundukkan, dan diarahkan. Ketundukannya kepada Allah mengalahkan hasrat dan ambisi nya. Ia tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai alat perjuangan. Ketika peluang menang terbuka, ia tidak euforia berlebihan. Ketika peluang tertutup, ia tidak menghalalkan segala cara. Ada rem batin yang kuat—dan itulah tanda pertolongan Allah bekerja.

Sebaliknya, pemimpin yang wukilta adalah mereka yang membiarkan hasrat itu lepas kendali. Ia mulai membenarkan segala cara demi kemenangan. Lobi menjadi manipulasi, strategi berubah menjadi intrik, dan dukungan dibangun bukan atas dasar kepercayaan, tetapi kepentingan. Ia mungkin menang di forum, tetapi kalah dalam nilai. Dan yang lebih berbahaya, ia sering tidak sadar bahwa dirinya sedang terseret.

Dampak positif dari u’inta sangat nyata, meskipun sering tidak kasat mata. Pemimpin yang mendapat pertolongan Allah akan memiliki ketenangan yang tidak dibuat-buat. Dalam situasi panas muktamar, ia tetap jernih. Dalam tekanan politik, ia tetap tegak. Keputusan yang diambil cenderung tepat, bukan karena ia paling cerdas, tetapi karena ia dibimbing. Bahkan ketika menghadapi kekalahan, ia tetap bermartabat—karena yang ia jaga bukan sekadar posisi, tetapi nilai perjuangan.

Lebih jauh lagi, u’inta melahirkan kepemimpinan yang menyatukan. Ia tidak membangun sekat “kubu kami” dan “kubu mereka” setelah muktamar selesai. Ia sadar bahwa kemenangan sejati adalah ketika organisasi tetap utuh. Energi tidak habis untuk konflik internal, tetapi diarahkan untuk kerja nyata. Inilah efek domino dari pertolongan Allah: satu hati yang lurus bisa menenangkan banyak hati yang gelisah.

Sebaliknya, dampak wukilta sering terasa cepat dan keras. Pemimpin yang lahir dari ambisi tanpa kendali akan membawa budaya yang sama dalam kepemimpinannya. Balas jasa politik mulai muncul, keputusan tidak lagi objektif, dan organisasi perlahan kehilangan arah. Konflik kecil membesar, kepercayaan retak, dan energi habis untuk urusan internal. Ini bukan sekadar kegagalan teknis, tetapi kegagalan moral.

Yang lebih mengkhawatirkan, wukilta menciptakan ilusi kekuatan. Seorang pemimpin merasa berhasil karena berhasil menang, karena didukung banyak orang, karena mampu mengendalikan forum. Padahal itu semua rapuh. Ketika situasi berubah, dukungan bisa hilang, dan di situlah ia tersadar: ia berjalan sendirian. Tidak ada ketenangan, tidak ada arah yang jelas—hanya beban yang semakin berat.

Muktamar seharusnya menjadi tempat lahirnya pemimpin yang u’inta, bukan sekadar yang “terpilih”. Tapi ini menuntut keberanian kolektif untuk melampaui politik transaksional. Tidak cukup hanya memilih yang populer atau yang kuat jaringan. Harus ada kepekaan: siapa yang hatinya terjaga? siapa yang tidak silau oleh kekuasaan? siapa yang tetap lurus ketika peluang untuk menyimpang terbuka lebar?

Akhirnya, kita harus mengakui satu hal yang sering dihindari: tidak semua yang menang itu layak, dan tidak semua yang kalah itu gagal. Dalam perspektif u’inta dan wukilta, ukuran keberhasilan bukan hanya hasil muktamar, tetapi bagaimana proses itu dijalani dan bagaimana kekuasaan itu diposisikan. Karena ketika kekuasaan tidak lagi dituntun oleh pertolongan Allah, maka ia bukan lagi alat perjuangan—tetapi awal dari kemunduran yang perlahan namun pasti.

 

أنا مسلم قبل كل شيء

Tag