Tafsir Ist'adzah
Penyusun: Rifqy Fathin al-Bukhariy
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terlaknat
Tafsir Mufradat
أَعُـــــــــــــــــــــــــــــــــوْذُ
Lafazh isti'adzah maknanya ialah astajiru wa aljau (aku memohon perlindungan). Ar-Raghib al-Ashfahaniy berkata:
العَوْذُ: الالتجاء إلى الغير والتّعلّق به.
Al-'Audz ialah meminta perlindungan kepada orang lain dan bergantung kepadanya. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 594)
Dikatakan: 'Udztu bi fulanin wa ista'adztu (aku memohon pertolongan kepada si fulan). Allah swt. berfiman:
وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ.
Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari ancamanmu untuk merajamku. (Qs. ad-Dukhan [44]: 20)
أي التجأت واستجرت به.
Maksudnya ialah aku memohon perlindungan kepadanya.
Alhasil, yang dimaksud dengan 'audzubillah ialah aku meminta perlindungan diri kepada Allah swt. dan bergantung (atas kehidupan) kepada-Nya.
الــــــــــــــــــــــــــــشَّـــــــــــــــــــــــــــــــيْـــــــــــــــــــــــــــــطَــــــــــــــــــــــــــــــــــــانِ
Lafazh as-Syaithan merupakan pecahan dari lafazh syathana yang artinya ba'uda (jauh). Dikatakan: Syathantu darahu (aku menjauhkan tempat tinggalnya). Al-Qurthubiy menjelaskan makna as-Syaithan sebagai berikut:
وسمي الشيطان (شيطانا) لبعده عن الحق وتمرده، وذلك لأن كل عات متمرد، من الجن، والإنس، والدواب، شيطان.
Dinamakan as-Syaithan karena ia menjauhkannya dari kebenaran dan menentangnya. Demikianlah, karena setiap yang menentang kebenaran, baik jin, manusia, dan hewan disebut setan. (Rawai' al-Bayan, I: 15)
Sebutan setan itu karena ia menjauhkan seseorang dari kebenaran dan menentang kebenaran. Maka setiap yang menjauhkan seseorang dari kebenaran dan menentangnya disebut setan. Dan setan itu tidak dikhususkan bagi kalangan jin saja, tetapi juga bagi manusia berpeluang menjadi setan bilamana menjauhkan seseorang dari kebenaran atau menentang kebenaran.
الـــــــــــــــــــــــــــــرَّجِــــــــــــــــــــــــــــــيْــــــــــــــــــــــــــــــــــمِ
Ar-Rajim (bentuk fa'iilun) maknanya ialah marjum (bentuk maf'ul) artinya yang dilempari batu. Dikatakan: Rajulun la'iinun, maksudnya rajulun mal'un artinya laki-laki yang dilaknat. Al-Qurthubiy menjelaskan makna ar-Rajim sebagai berikut:
وأصل الرجم: الرمي بالحجارة، والرجم يأتي بمعنى القتل، واللعن، والطرد، والشتم.
Asal dari ar-Rajm ialah melempar batu. Ar-Rajm bermakna juga al-Qatlu (pembunuhan), al-La’nu (laknat), at-Thardu (penolakan), dan as-Syatmu (makian).
قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَانُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمَرْجُومِينَ.
Mereka berkata: "Wahai Nuh, jika tidak berhenti (berdakwah), niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang dirajam." (Qs. as-Syu'ara [26]: 116)
فالشيطان مرجوم لأنه ملعون ومطرود من رحمة الله عز وجل.
Maka setan itu marjum karena ia yang dilaknat dan yang disingkirkan dari rahmat Allah ‘azza wa jalla. (Rawai' al-Bayan, I: 15-16)
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa isti'adzah maknanya ialah memohon perlindungan dan bergantung atas semua urusan kepada Allah swt. dari segala macam dorongan, bisikan, kejelekan, kesesatan, dan kemadharatan yang mengakibatkan jauh dari kebenaran dan rahmat Allah swt.
Perbedaan Setan dan Iblis
Sebagaimana pada penjelasan di atas bahwa setan ialah segala sesuatu yang dapat menjauhkan diri dari kebenaran dan menentangnya. Setan bisa berupa manusia, jin, binatang, barang, harta, atau yang lainnya yang dapat menjauhkan diri kita dari kebenaran dan menentangnya.
Sedang Iblis berasal dari lafazh ablasa yang maknanya ialah kesedihan dikarenakan keputusasaan yang begitu mendalam.
وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُبْلِسُ الْمُجْرِمُونَ.
Pada hari (ketika) terjadi kiamat, para pendurhaka terdiam berputus asa. (Qs. ar-Rum [30]: 12)
Maka disebut Iblis karena ia terdiam putus asa (terputus) dari rahmat Allah swt. disebabkan perbutannya sendiri, yaitu aba (menolak sujud) dan istikbar (sombong), sebagaimana firman Allah swt. berikut:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ.
(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam!" Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir. (Qs. al-Baqarah [2]: 34)
Ayat di atas menunjukkan bahwasannya Iblis itu makhluk pertama yang membangkang perintah Allah swt. untuk sujud kepada Adam. Dan Iblis itu merupakan nama khusus dan berasal dari kalangan jin.
كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ.
Keadaan Iblis berasal dari kalangan jin, lalu ia mengingkari perintah Tuhannya. (Qs. al-Kahf [18]: 50)
وإبليس: أبو الجن، فله ذرية، والملائكة لا ذرية لهم.
Iblis ialah bapaknya jin, dan jin itu mempunyai keturunan, sedangkan malaikat bukanlah keturunan jin. (at-Tafsir al-Munir, XV: 270)
Iblis berbeda setan. Setan itu sifat yang dapat dimiliki siapapun, baik manusia, jin, atau hewan yang bersikap menjauhkan dari kebenaran dan menentangnya. Adapun Iblis itu person atau nama khusus bagi makhluk pertama yang membangkang perintah Allah swt. untuk sujud kepada Adam dan ia mempunyai keturunan yang terus hidup sampai hari kiamat dengan misi menyesatkan manusia dari jalan yang seperti halnya kepada Adam dan Hawa. Perhatikanlah ayat berikut ini:
قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ.
Dia (Allah) berfirman: "Turunlah kamu darinya (surga) karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina."
قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ.
Ia (Iblis) menjawab: "Berilah aku penangguhan waktu sampai hari mereka dibangkitkan."
قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ.
Dia (Allah) berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi penangguhan waktu."
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ.
Ia (Iblis) menjawab: "Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ.
Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur."
قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ.
Dia (Allah) berfirman: "Keluarlah kamu darinya (surga) dalam keadaan terhina dan terusir! Sungguh, siapapun di antara mereka yang mengikutimu pasti akan Aku isi (neraka) Jahanam dengan kamu semua." (Qs. al-A'raf [7]: 13-18)
Ringkasnya:
Setan → Sifat bagi siapapun yang menjauhkan dari kebenaran dan menentangnya.
Iblis → Nama khusus bagi makhluk pertama yang membangkang perintah Allah swt.
Kedudukan Isti'adzah
Isti’adzah tidak termasuk al-Quran. Sebab dalam al-Quran, isti'adzah tidak termaktub di dalamnya. Akan tetapi, jika akan membaca al-Quran, demikian juga jika akan membaca surat al-Fatihah, hendaknya memulai dengan isti'adzah terlebih dahulu. Hal ini sebagaimana firman Allah swt. berikut:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
Apabila kamu akan membaca al-Quran, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang dilaknat. (Qs. an-Nahl [16]: 98)
فَإِذا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ أي أردت قراءته فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ أي قل: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، أي ألجأ إلى الله لحمايتي من وساوس الشيطان في القراءة.
Apabila kamu akan membaca al-Quran maksudnya apabila kamu hendak membaca al-Quran, maka minta perlindungan dengan membaca: "A'udzubillah minas syaithanir rajim," maksudnya aku memohon perlindungan kepada Allah untuk menjagaku dari bisikan setan saat membaca al-Quran. (at-Tafsir al-Munir, XIV: 230)
Isti'adzah Dalam Shalat
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
Apabila kamu akan membaca al-Quran, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang dilaknat. (Qs. an-Nahl [16]: 98)
Dalam kajian ilmu nahwu, ayat di atas terdapat syarat dan jawab syarat; hendak membaca al-Quran (syarat) dan isti'adzah (jawab syarat). Maka dalam shalat, salah satu rukunnya ialah membaca al-Fatihah, sedangkan al-Fatihah merupakan bagian dari al-Quran. Maka sebelum membaca al-Fatihah, hendaknya isti'adzah terlebih dahulu, yaitu dengan membaca:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terlaknat.
عَنْ عَلْقَمَةَ، أَنَّهُ انْطَلَقَ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: فَرَأَيْتُهُ قَالَ حِينَ افْتَتَحَ الصَّلَاةَ: "سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ". عَنْ حُصَيْنٍ : وَزَادَ : "ثُمَّ يَتَعَوَّذُ".
Dari 'Alqamah, bahwa ia menemui Umar bin al-Khattab ra. ia berkata: Aku melihat Umar berdoa ketika memulai shalat: "Subhanaka Allahumma wa Bihamdika wa Tabarakasmuka wa Ta'ala Jadduka wa Laa Ilaaha Ghairuka." Dari Hushain: Ia menambah: "Kemudian Umar beristi'adzah." (Hr. ad-Daruquthniy, Sunan ad-Daruquthniy, II: 62, no. 1145 & 1147)
Isti'adzah dalam shalat hanya diucapkan satu kali, yaitu pada rakaat pertama sebelum membaca al-Fatihah atau sesudah takbiratul ihram.
Hikmah Isti'adzah
قال جعفر الصادق: الحكمة فيه أن العبد قد ينجس لسانه بالكذب، والغيبة، والنميمة، فأمر الله تعالى العبد بالتعوذ ليصير لسانه طاهرا، فيقرأ بلسان طاهر كلاما أنزل من رب طيب طاهر.
Ja'far as-Shadiq berkata: "Hikmah dalam beristi'adzah ialah bahwa seorang hamba terkadang lisannya ada najis disebabkan kebohongan, ghibah, dan namimah. Kemudian Allah Ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk beristi'adzah supaya lisannya menjadi bersih. Kemudian seorang hamba membaca kalam Allah yang Maha Suci dengan lisan yang suci pula." (Rawa'i al-Bayan, I: 29)