Selayang Pandang Surat al-Fatihah
Penyusun: Rifqy Fathin al-Bukhariy
Penamaan Surat
1. Al-Fatihah (pembuka): Disebut al-Fatihah karena surat ini ialah surat pembuka al-Quran secara tartib mushafiy, bukan secara tartib nuzuliy.
2. Ummul Kitab (induk kitab): Disebut Ummul Kitab karena surat ini memuat seluruh maqashid asasiyah (tujuan-tujuan dasar) al-Quran, yaitu:
a. Pujian terhadap Allah swt.
b. Mengisbatkan rububiyah Allah swt.
c. Beribadah dengan menaati apa yang Allah perintahkan dan menjauhkan diri dari apa yang Allah larang.
d. Memohon hidayah (petunjuk) dan istiqamah dalam keimanan.
e. Penjelasan tentang kisah-kisah umat terdahulu.
f. Penjelasan tentang jalan-jalan kebahagiaan dan kesengsaraan.
3. As-Sab'u al-Matsaniy (tujuh ayat yang diulang-ulang): Disebut as-Sab'u al-Matsaniy karena surat ini dibaca berulang kali pada setiap shalat, fardhu maupun sunnat.
4. Shalat: Disebut shalat karena membaca al-Fatihah termasuk rukun dalam shalat.
5. Al-Asas (inti/pokok): Disebut al-Asas karena inti dari al-Quran terletak pada surat al-Fatihah, dan inti dari surat al-Fatihah terletak pada basmalah.
Keutamaan Surat al-Fatihah
عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَ: كُنْتُ أُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ، فَدَعَانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي، فَقَالَ: أَلَمْ يَقُلِ اللهُ: (اسْتَجِيبُوا لِلهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ) ثُمَّ قَالَ لِي: لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي الْقُرْآنِ، قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ، ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ، قُلْتُ لَهُ: أَلَمْ تَقُلْ: لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ، قَالَ: (الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) . هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ.
Dari Abu Sa'id bin al-Mu'alla, ia berkata: "Aku pernah shalat di masjid, lalu Rasulullah saw. memanggilku, tetapi aku tidak sempat menjawabnya." Aku berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi aku sedang shalat." Rasulullah saw. bersabda: "Bukankah Allah berfirman: Apabila Allah dan rasul memanggil kalian, jawablah." Kemudian Rasulullah saw. bersabda kepadaku: "Sungguh aku ingin mengajarkan satu surat, yaitu surat yang paling agung di dalam al-Quran sebelum kamu keluar dari masjid." Kemudian Rasulullah saw. memegang kedua tanganku, lalu ketika ia akan keluar, aku pun bertanya kepadanya: "Bukankah kau bersabda: Sungguh aku ingin mengajarkan satu surat, yaitu surat yang paling agung di dalam al-Quran." Rasulullah saw. membaca surat al-Fatihah. Al-Fatihah ialah as-Sab'u al-Matsaniy dan al-Quran al-'Azhim yang diberikan kepadaku. (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, VI: 17, no. 4474)
Jumlah Ayat Surat al-Fatihah
وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ.
Dan sungguh, Kami telah memberimu 7 ayat yang diulang-ulang dan al-Quran yang agung. (Qs. al-Hijr [15]: 87)
الْمَثانِي جمع مثنى، من التثنية وهو التكرير والإعادة، والسبع المثاني: هي الفاتحة، كما قال صلّى الله عليه وسلّم في حديث رواه الشيخان لأنها تثنى في كل ركعة، وآياتها سبع.
Al-Matsaniy ialah jamak dari matsna (dari lafazh tatsniyah) yaitu pengulangan. As-Sab’u al-Matsaniy ialah al-Fatihah, sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam hadits yang diriwayatkan al-Bukhariy dan Muslim; karena al-Fatihah itu dibaca berulang-ulang di setiap rakaat (dalam shalat), dan al-Fatihah berjumlah 7 ayat. (at-Tafsir al-Munir, XIV: 67)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أُمُّ الْقُرْآنِ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي.
Dari Abu Hurairah ra. dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Ummul Quran itu 7 ayat yang diulang-ulang." (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, VI: 81, no. 4706)
Dari keterangan di atas menunjukkan bahwasannya surat al-Fatihah itu berjumlah 7 ayat; as-Sab’u al-Matsaniy.
Kedudukan Surat al-Fatihah Dalam Shalat
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.
Dari Ubadah bin as-Shamit, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat al-Fatihah.” (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, I: 151, no. 756)
Hadits di atas menunjukkan bahwasannya membaca surat al-Fatihah termasuk rukun shalat (salah satu yang menentukan sah atau tidaknya shalat). Alhasil, bilamana mushalli (orang yang shalat) tidak membaca surat al-Fatihah, maka shalatnya tidak sah; karena salah satu rukun shalat tidak terpenuhi.
Apakah Ma'mum Membaca al-Fatihah di Belakang Imam?
Sebagaimana hadits riwayat as-Shamit bahwa membaca al-Fatihah merupakan salah satu rukun shalat, baik bagi imam atau ma'mum, baik dalam shalat jahriyah atau sirriyah. Adapun bagi ma'mum dalam shalat jahriyah, diwajibkan untuk mendengar dan diam saja (tidak membaca al-Fatihah di belakang imam).
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.
Apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah bacaannya dan diamlah supaya kalian diberi rahmat. (Qs. al-A'raf [7]: 204)
Cara Membaca Surat al-Fatihah
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا سُئِلَتْ عَنْ قِرَاءَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: كَانَ يُقَطِّعُ قِرَاءَتَهُ آيَةً آيَةً (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ).
Dari Ummu Salamah, bahwa ia pernah ditanya tentang bacaan (al-Fatihah) Rasulullah saw. ia berkata: “Keadaan Nabi saw. memisahkan bacaannya dengan satu ayat satu ayat.” (Hr. Ahmad, Musnad Ahmad, XII: 6420, no. 27226)
Hadits di atas menunjukkan bahwa cara membaca surat al-Fatihah ialah satu ayat satu ayat, artinya bahwa membaca surat al-Fatihah tidak dengan diwashal / disambung.