Tafsir Surat al-Fatihah Ayat 2

20 Apr 2026

Penyusun: Rifqy Fathin al-Bukhariy

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji milik Allah, Tuhan Semesta Alam

Tafsir Mufradat

الحــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــمــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــد

         Al-Hamdu berasa dari kata hamida – yahmadu yang artinya memuji, menyanjung, berterima kasih. Ar-Raghib al-Ashfahaniy menjelaskan:

الحَمْدُ لله تعالى: الثناء عليه بالفضيلة، وهو أخصّ من المدح وأعمّ من الشكر.

Alhamdulillah ialah pujian karena ada keutamaan atas-Nya, al-Hamdu itu lebih khusus dari al-Madhu dan lebih umum dari as-Syukru. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 256)

        Lafazh al-Hamdu (ditulis dengan alif lam) ialah alif lam lil istigraq yang maknanya ialah segala macam pujian. Adapun dalam tinjauan ilmu balaghah, lafazh hamdalah ini ialah khabariyah lafzhi, tetapi insyaiyah ma'nawi.

الْحَمْدُ لِلَّهِ جملة خبرية لفظا، إنشائية معنى، أي قولوا: الحمد لله، وهي مفيدة قصر الحمد عليه تعالى.

Hamdalah ialah jumlah khabariyah secara lafazh, namun insyaiyah secara makna. Maksudnya, ucapkanlah hamdalah. Hamdalah itu berfaidah qashr (membatasi) pujian hanya kepada Allah Ta'ala. (at-Tafsir al-Munir, I: 55)

لـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــلــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــه

         Huruf lam pada lafazh tersebut ialah lam lil milki (lam yang menunjukkan kepunyaan atau kepemilikan). Berarti, bahwa semua al-Hamdu itu hendaknya disandarkan kepada Allah, sebab Allah yang mempunyai atau memiliki pujian itu. Alhasil, tidak layak bilamana Allah memberi nikmat kepada makhluk-Nya, lalu makhluk tersebut malah memuji selain Allah.

رب

         Rabb merupakan mashdar yang diisti’arahkan bagi fa’il yang berarti yang mengurus. Guru disebut murabbi, karena ia yang mengurus santri atau muridnya. Maka Allah disebut rabb karena Ia yang mengurus semua semesta dan yang ada di dalamnya. Ar-Raghib al-Ashfahaniy menjelaskan makna rabb sebagai berikut:

إنشاء الشيء حالا فحالا إلى حدّ التمام.

Menjadikan sesuatu setahap demi setahap sampai batas yang sempurna. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 336)

       Dari penjelasan di atas, Allah itu disebut rabb, salah satu alasannya ialah karena Ia menciptakan manusia setahap demi setahap sampai batas yang sempurna; berawal dari setetes mani, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian menjadi manusia yang sempurna secara jasmani dan rohani. Wahbah az-Zuhailiy menjelaskan:

الرب: المالك والسيد المعبود والمصلح والمدبر والجابر والقائم، فيه معنى الربوبية والتربية والعناية بالمخلوقات.

Ar-Rabb ialah al-Malik (sang raja), as-Sayid (sang tuan), al-Ma’bud (yang layak diibadahi), al-Mushlih (yang membereskan semua urusan), al-Mudabbir (yang mengatur), al-Jabir (sang pengatur), dan al-Qaim (yang sempurna). Pada lafazh rabb ada makna rububiyyah dan tarbiyah (meyakini bahwa Allah yang mengurus semesta alam), serta yang menjaga semua makhluk-Nya. (at-Tafsir al-Munir, I: 56)

العـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــالــــــــــــــــــــــــــــــمـــــــــــــــــــــــــــــــــيــــــــــــــــــــــــــــــــــــن

         ‘Alamin merupakan bentuk jamak dari lafazh ‘alam. Wahbah az-Zuhailiy menjelaskan:

هو كل موجود سوى الله تعالى، وهو أنواع كعالم الإنسان والحيوان والنبات والذر والجن.

‘Alam ialah semua jenis yang berwujud selain Allah Ta’ala, seperti manusia, hewan, tumbuhan, dan jin. (at-Tafsir al-Munir, I: 56)

                  Dari lafazh tersebut, berarti lebih menegaskan bahwa Allah sebagai rabb yang mengatur selurus semesta dan semua yang ada di dalamnya. Ada juga yang mengatakan bahwa al-'Alamin berasal dari kata al-'Alamah (tanda), maknanya bahwa semesta alam dan seisinya merupakan tanda bagi yang menciptakannya, yaitu Allah swt.

Perbedaan al-Hamdu, al-Madhu, dan as-Syukru

Lafazh al-Hamdu itu ungkapan pujian atas perbuatan yang baik, hasil usahanya sendiri seperti memuji karena kebaikannya, kepeduliannya, atau karena keterampilannya. Sedangkan memuji karena kecantikan atau ketampanan tidak dapat disebut al-Hamdu karena bukan hasil usaha, tetapi bisa disebut al-Madhu. Kata Ibnu Katsir:

وَأَمَّا الْمَدْحُ فَهُوَ أَعَمُّ مِنَ الْحَمْدِ؛ لِأَنَّهُ يَكُونُ لِلْحَيِّ وَلِلْمَيِّتِ وَلِلْجَمَادِ -أَيْضًا-كَمَا يُمْدَحُ الطَّعَامُ وَالْمَالُ وَنَحْوُ ذَلِكَ، وَيَكُونُ قَبْلَ الْإِحْسَانِ وَبَعْدَهُ، وَعَلَى الصِّفَاتِ الْمُتَعَدِّيَةِ وَاللَّازِمَةِ أَيْضًا فَهُوَ أَعَمُّ.

Adapun al-Madhu itu lebih umum daripada al-Hamdu, karena a-Madhu dapat ditujukan kepada yang hidup, yang mati, juga terhadap benda mati, sebagaimana pujian terhadap makanan, harta, dan lain sebagainya; dan al-Madhu dapat ditujukan sebelum dan sesudah kebaikan, juga dapat ditujukan kepada sifat yang lazimah dan yang muta'addiyyah. Dengan demikian, berarti al-Madhu lebih umum daripada al-Hamdu. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 38)

                  Adapun lafazh as-Syukru itu ungkapan untuk menggambarkan kenikmatan atau memperlihatkan kenikmatan. Pada hakikatnya, as-Syukru juga al-Hamdu, yaitu memuji Allah swt. atas kenikmatan yang diberi-Nya dengan cara menggambarkan atau memperlihatkan kenikmatan tersebut. Akan tetapi, lafazh as-Syukru hanya boleh disandarkan kepada Allah, sebab hanya Allah yang memberi kenikmatan kepada seluruh makhluk-Nya.

Korelasi an-Ni'mah Dengan al-Hamdu

Ar-Raghib al-Ashfahaniy mendefinisikan an-Ni'mah ialah:

النعمة: الحالة الحسنة.

An-Ni'mah ialah keadaan yang baik. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 814)

       Dalam kehidupan ini, kita tak pernah luput dari limpahan nikmat yang Allah anugerahkan. Bagaimana tidak, kita merasa nyaman beraktivitas, tentram beribadah, bahkan tidak ada gelisah dalam bekerja. Maka semua keadaan baik yang kita rasakan merupakan an-Ni'mah yang Allah berikan. Alhasil, tak ada salahnya bila kita diperintah Allah swt. untuk memuji-Nya. Sebab Ia telah memberi segala macam kebaikan yang tak terhitung jumlahnya, sebagaimana firman-Nya berikut:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوها.

Jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak bisa menghitungnya. (Qs. an-Nahl [16]: 18)

Mengakhiri Aktivitas Dengan Hamdalah

            Manusia ialah makluk harakah, yaitu makhluk yang senantiasa bergerak, tidak bisa diam. Sekalipun manusia itu tertidur, ia tidak benar-benar diam; terkadang ia bergerak membalikan badan, terkadang ngigau, bahkan manusia tetap bernafas dan jantung tetap berdetak. Hal demikian menunjukkan bahwa manusia tidak pernah luput dari an-Ni'mah Allah.

         Kita dapati Rasulullah saw. sebagai uswah hasanah; ketika beliau telah menyelesaikan suatu aktivitas, biasanya beliau mengakhir dengan hamdalah. Adapun contohnya sebagai berikut:

1.    Ketika selesai makan

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنْ طَعَامِهِ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِينَ.

Dari Abu Sa'id al-Khudriy, bahwa Rasulullah saw. apabila selesai makan, beliau bersabda: "Segala puji milik Allah yang telah memberi kami makanan dan minuman, serta menjadikan kami bagian dari kalangan kaum muslimin." (Hr. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, III: 432, no. 3850)

2.   Ketika bangun tidur

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ.

Dari Hudzaifah, ia berkata: Keadaan Nabi saw. apabila bangun tidur, beliau bersabda: "Segala puji milik Allah yang telah membangunkan kami setelah kami mati, dan kepada-Nya dikembalikan." (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, VIII: 69, no. 6312)

3.   Ketika beres buang air

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِّي الْأَذَى وَعَافَانِي.

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Keadaan Nabi saw. apabila beliau keluar dari tempat buang air, beliau bersabda: "Segala puji milik Allah yang telah menghilangkan penyakit dariku dan memberi 'afiyah kepadaku." (Hr. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I: 201, no. 322)

         Hadits di atas merupakan contoh bahwa Rasulullah saw. apabila selesai melakukan suatu aktivitas, beliau mengucapkan hamdalah sebagai bentuk syukur dan memuji-Nya yang telah memberikan segala macam kebaikan kepadanya. Perlu diketahui, bahwa selesainya satu aktivitas ialah kenikmatan yang Allah berikan kepada kita, maka bertahmidlah!

Hamdalah Selepas Shalat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ اللهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَحَمِدَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبَّرَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ. وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ.

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw. (bersabda): "Barangsiapa yang bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh tiga kali maka itu menjadi sembilan puluh sembilan, kemudian disempurnakan menjadi seratus dengan bertahlil setelah selesai shalat, niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan." (Hr. Muslim, Shahih Muslim, II: 98, no. 597)

       Hadits di atas menunjukkan bahwa dzikir setelah shalat -salah satunya bertahmid- itu disyariatkan.

Meyakini Allah Sebagai Rabb

            Sebagian ulama membagi tauhid menjadi tiga bagian, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma wa shifat. Adapun yang dimaksud dengan tauhid rububiyah ialah tauhid kepada Allah swt. berkaitan dengan apa yang dilakukan-Nya, seperti menciptakan, memberi rezeki, mengatur urusan, menghidupkan, mematikan, dan yang lainnya.

         Sebagaimana yang sudah dijelaskan bahwa makna rabb itu cakupannya luas, seperti yang diungkapkan Wahbah az-Zuhailiy berikut:

الرب: المالك والسيد المعبود والمصلح والمدبر والجابر والقائم، فيه معنى الربوبية والتربية والعناية بالمخلوقات.

Ar-Rabb ialah al-Malik (sang raja), as-Sayid (sang tuan), al-Ma’bud (yang layak diibadahi), al-Mushlih (yang membereskan semua urusan), al-Mudabbir (yang mengatur), al-Jabir (sang pengatur), dan al-Qaim (yang sempurna). Pada lafazh rabb ada makna rububiyyah dan tarbiyah (meyakini bahwa Allah yang mengurus semesta alam), serta yang menjaga semua makhluk-Nya. (at-Tafsir al-Munir, I: 56)

         Kita sebagai hamba Rabb al-'Alamin tidak ruang atau akses untuk meragukan kehidupan, mengkhawatirkan masa depan, atau meratapi masa lampau. Sebab semua kehidupan kita telah digoreskan bagaimana takdirnya dengan sebaik-baiknya takdir menurut-Nya. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya daripada hamba itu sendiri.

         Dengan tauhid rububiyah dalam lafazh hamdalah ini memberi pengajaran yang begitu mendalam; bahwa ketika semua urusan diserahkan kepada sang Rabb, maka sekalipun kita tidak akan pernah kecewa dan bersedih hati.