Tafsir Surat al-Fatihah Ayat 7

20 Apr 2026

Penyusun: Rifqy Fathin al-Bukhariy

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Jalan orang-orang yang Kau beri nikmat kepada mereka, bukan yang dimurkai atas mereka, bukan juga orang-orang yang sesat

Tafsir Mufradat

أَنْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــعَــــــــــــــــــــــــــــــــــمْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــتَ

Lafazh 'an'amta' merupakan fi'il madhi yang fa'ilnya ialah anta yang artinya Kau telah memberi nikmat. Adapun yang disebut nikmat ialah:

النعمة: الحالة الحسنة.

An-Ni'mah ialah keadaan yang baik. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 814)

         Dimasukan ke dalam surga termasuk sebuah kenikmatan, karena penghuninya merasa nyaman dan tentram di dalamnya (al-Halah al-Hasanah). Maka penghuni surga itu ialah sebagaimana yang disebut dalam firman-Nya berikut:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا.

Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (Qs. an-Nisa [4]: 69)

Maka jalan yang lurus ialah jalan yang dilalui oleh mereka para penghuni surga. Sehingga kita meminta kepada Allah supaya diteguhkan berada di jalan yang benar, sehingga kita bisa sampai dengan selamat ke surga bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih.

الــــــــــــــــــــــــــــمـــــــــــــــــــــــــــــــغــــــــــــــــــــــــــضــــــــــــــــــــــــــــــــوب

Al-Maghdhub merupakan isim maf'ul dari ghadhiba yaghdhabu yang berarti marah, dan mashdarnya ialah ghadhab. Ar-Raghib al-Ashfahaniy menjelaskan makna ghadab sebagai berikut:

 

الغَضَبُ: ثوران دم القلب إرادة الانتقام.

Al-Ghadhab ialah ledakan darah dalam hati untuk membalas dendam. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 608)

Namun kalau lafazh ghadhab dinisbatkan kepada Allah artinya bukan balas dendam, tetapi maksudnya ialah al-Intiqam (memberi balasan) berupa azab.

أن المغضوب عليهم: هم الذين بلغهم الدين الحق الذي شرعه الله لعباده، فرفضوه ونبذوه.

Al-Maghdhub 'alaihim ialah mereka yang menerima agama haq yang Allah syariatkan kepada seluruh hamba-Nya, lalu mereka menolak  dan meninggalkannya (enggan mengamalkan agama haq). (at-Tafsir al-Munir, I: 57)

Alasan Allah memberi azab kepada al-Maghdhub karena mereka mengetahui agama Islam, namun tidak mengamalkan syariat Islam, karena sebab itulah mereka dimurkai oleh Allah swt.

الـــــــــــــــــــــــــــــضـــــــــــــــــــــــــــــالـــــــــــــــــــــــــــــــــــيــــــــــــــــــــــــــــــــــن

Ad-Dhalin merupakan isim fa'il dari lafazh dhalla yadhillu yang berarti tersesat, kesasar, hilang arah, tidak mendapat petunjuk, dan mashdarnya ialah dhalal atau dhalalah, kebalikannya hidayah. Ar-Raghib al-Ashfahaniy menjelaskan makna dhalal sebagai berikut:

الضلال في كلام العرب هو الذهاب عن سنن القصد، وطريق الحق، والانحراف عن النهج القويم.

Ad-Dhalal dalam ucapan orang Arab ialah pergi dari jalan yang dituju, jalan yang benar, dan menyimpang dari jalan yang tidak bengkok. (Rawai' al-Bayan, I: 24)

الضَّلَالُ: العدولُ عن الطّريق المستقيم، ويضادّه الهداية.

Ad-Dhalal ialah menyimpang dari jalan yang lurus, dan antonimnya ialah al-Hidayah. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 509)

Bila jalan yang lurus maknanya al-Quran, maka dhalal ialah orang yang menyimpang dari ajaran al-Quran. Bila jalan yang lurus maknanya Islam, maka dhalal ialah orang menyimpang dari syariat Islam. Bila jalan yang lurus maknanya al-Haq, maka dhalal ialah orang menyimpang dari kebenaran atau al-Haq. 

الضالون: هم الذين لم يعرفوا الحق، أو لم يعرفوه على الوجه الصحيح، وهم الذين لم تبلغهم رسالة أو بلغتهم بنحو ناقص.

Ad-Dhalun ialah mereka yang tidak mengenal kebenaran atau yang tidak mengenal kebenaran atas cara yang benar. Mereka itulah yang tidak menerima risalah atau menerima risalah dengan kadar yang kurang (tidak sempurna). (at-Tafsir al-Munir, I: 57)

Bahkan penafsiran dhalal dari Wahbah az-Zuhailiy di atas, seseorang yang mengetahui risalah Islam dengan kadar minimum juga disebut 'ad-Dhalin'. Hal demikian karena orang yang memiliki kadar minimum terhadap risalah Islam tidak akan bisa menjalankan Islam dengan benar.

Siapakah yang Disebut 'An'amta' Itu?

Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas bahwa yang dimaksud an'amta ialah para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang yang shalih. Hal demikian selaras dengan penafsiran Ibnu Abbas berikut:

وَقَالَ الضَّحَّاكُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ بِطَاعَتِكَ وَعِبَادَتِكَ، مِنْ مَلَائِكَتِكَ، وَأَنْبِيَائِكَ، وَالصِّدِّيقِينَ، وَالشُّهَدَاءِ، وَالصَّالِحِينَ.

Ad-Dhahak berkata dari Ibnu Ibnu Abbas: "(yaitu) jalan orang yang Kau beri nikmat kepada mereka disebabkan ketaatan dan ibadah kepada-Mu seperti para malaikat, para nabi, syuhada, dan orang-orang yang shalih. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 47)

Siapakah Nabiyyin?

Mereka yang dipilih Allah untuk memperoleh bimbingan sekaligus ditugasi untuk menuntun manusia menuju kebenaran ilahi. Mereka yang selalu berucap dan bersikap benar, serta memiliki kesungguhan, amanah, kecerdasan, dan keterbukaan sehingga mereka menyampaikan segala sesuatu yang harus disampaikan. Mereka adalah orang-orang yang terpelihara identitas mereka sehingga tidak melakukan dosa atau pelanggaran apapun.

Siapakah Shiddiqin?

Orang-orang yang dalam kondisi dan situasi bagaimana pun selalu benar dan jujur. Mereka tidak ternodai dengan kebatilan, tidak pula mengambil sikap yang bertentangan dengan kebenaran. Tampak di pelupuk mata mereka yang haq. Mereka selalu mendapat bimbingan ilahi, walau tingkatnya berada di bawah tingkatan bimbingan yang diperoleh para nabi dan rasul.

Siapakah Syuhada?

Syuhada yaitu mereka yang bersaksi atas kebenaran dan kebaikan melalui ucapan dan tindakan mereka, walau harus mengorbankan nyawanya. Sekalipun, dan atau mereka yang disaksikan kebenaran dan kebaikannya oleh Allah, para malaikat, dan lingkungan mereka.

Siapakah Shalihin?

Orang-orang shalih yaitu mereka yang tangguh dalam kebaikan dan selalu berusaha untuk mewujudkannya. Kalaupun sesekali ia melakukan pelanggaran, maka itu adalah pelanggaran kecil dan tidak berarti jika dibandingan dengan kebaikan-kebaikan mereka. (Tafsir Surat al-Fatihah A. Zakaria, Hal. 327-328)

Makna Aamiin

وأما «آمين» فدعاء، وليس من القرآن، وهو اسم فعل ومعناه: اللهم استجب.

Adapun 'aamiin' ialah doa dan tidak termasuk al-Quran. Lafazh 'aamiin' ialah isim fa'il, maknanya 'allahumma istajib'. (at-Tafsir al-Munir, I: 55)