SISI KEBAIKAN MENJADI TASYKIL PIMPINAN*

Artikel 9 Mar 2026

Menjadi tasykil pimpinan dalam jam’iyyah bukan sekadar amanah struktural, tetapi medan ibadah dan tanggung jawab syar’i. Menjadi bagian dari tasykil pimpinan dalam jam’iyyah bukan sekadar menerima posisi struktural atau menjalankan fungsi organisatoris semata. Ia adalah panggilan ibadah, amanah perjuangan, sekaligus ujian ruhani yang menuntut kesadaran iman yang mendalam. Kepemimpinan dalam perspektif Islam tidak diukur dari kedudukan yang dimiliki, melainkan dari sejauh mana seseorang mampu menghadirkan keadilan, menjaga amanah, dan menebarkan kemaslahatan bagi umat.

Seorang pimpinan pada hakikatnya bukan hanya pengarah organisasi, tetapi penjaga nilai. Ia berdiri di antara harapan umat dan pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta‘ala.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap diri kalian sendiri.” (QS. An-Nisā’: 135)

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan merupakan fondasi utama kepemimpinan. Keadilan bukan sekadar keputusan administratif atau kebijakan organisasi, melainkan sikap ruhani yang lahir dari ketakwaan. Pemimpin yang adil tidak dipengaruhi kepentingan pribadi, kedekatan emosional, maupun tekanan sosial. Ia berdiri tegak bersama kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu menuntut pengorbanan dirinya sendiri. Keadilan adalah sifat utama yang harus melekat pada setiap mukmin, terlebih bagi pemimpin. Keadilan bukan hanya kebijakan administratif, melainkan sikap ruhani yang lahir dari ketakwaan. Al-Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan:

يَأْمُرُ تَعَالَىٰ عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَكُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ، أَيْ بِالْعَدْلِ، فَلَا يَعْدِلُوا عَنْهُ يَمِينًا وَلَا شِمَالًا، وَلَا تَأْخُذُهُمْ فِي اللَّهِ لَوْمَةُ لَائِمٍ، وَلَا يَصْرِفُهُمْ عَنْهُ صَارِفٌ، وَأَنْ يَكُونُوا مُتَعَاوِنِينَ مُتَسَاعِدِينَ مُتَعَاضِدِينَ مُتَنَاصِرِينَ فِيهِ.

Allah Ta‘ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka menjadi penegak keadilan, yakni berlaku adil. Mereka tidak boleh menyimpang darinya ke kanan maupun ke kiri, tidak terpengaruh oleh celaan orang-orang yang mencela dalam menegakkan (hukum) Allah, serta tidak ada sesuatu pun yang memalingkan mereka darinya. Dan Allah memerintahkan agar mereka saling bekerja sama, saling membantu, saling menguatkan, dan saling menolong dalam menegakkan keadilan tersebut. Tafsir Ibn Katsir, III: 433.

 

Kepemimpinan sebagai Amanah Ilahiyah

Kesadaran berikutnya yang harus tertanam dalam diri setiap pimpinan adalah bahwa kepemimpinan merupakan amanah, bukan kehormatan yang layak dibanggakan.

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisā’: 58)

Ayat ini mencakup seluruh bentuk amanah, termasuk amanah kepemimpinan. Maka tasykil pimpinan adalah amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Imam Al-Maraghi menjelaskan:

يُخْبِرُ تَعَالَىٰ أَنَّهُ يَأْمُرُ بِأَدَاءِ الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا، وَفِي حَدِيثِ الْحَسَنِ، عَنْ سَمُرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَىٰ مَنِ ائْتَمَنَكَ، وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ». رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَهْلُ السُّنَنِ.

Allah Ta‘ala memberitakan bahwa Dia memerintahkan agar amanah-amanah disampaikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hasan dari Samurah, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayakan amanah itu kepadamu, dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang berkhianat kepadamu.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para ahli Sunan.

 

Pemimpin Adil: Golongan yang Dinaungi Allah

Keutamaan kepemimpinan yang adil mencapai derajat yang sangat tinggi dalam Islam. Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat adalah imām ‘ādil — pemimpin yang adil.

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.

“Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya: (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, (3) seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, (5) seseorang yang diajak (berzina) oleh wanita yang berkedudukan dan cantik lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, (6) seseorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya, dan (7) seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi jalan menuju kemuliaan akhirat. Pemimpin yang adil menjadi sebab lahirnya berbagai kebaikan lain di tengah masyarakat. Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan:

وَأَحْسَنُ مَا فُسِّرَ بِهِ الْعَادِلُ أَنَّهُ الَّذِي يَتَّبِعُ أَمْرَ اللَّهِ بِوَضْعِ كُلِّ شَيْءٍ فِي مَوْضِعِهِ مِنْ غَيْرِ إِفْرَاطٍ وَلَا تَفْرِيطٍ، وَقَدَّمَهُ فِي الذِّكْرِ لِعُمُومِ النَّفْعِ بِهِ.

Penafsiran terbaik tentang makna pemimpin yang adil adalah: orang yang mengikuti perintah Allah dengan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, tanpa sikap berlebihan dan tanpa kelalaian. Ia didahulukan penyebutannya dalam hadis karena luas dan besarnya manfaat yang ditimbulkan oleh keadilannya. (Al-Hafidz Ibn Hajar, Fath al-Bari, II: 145)

 

Korelasi Kepemimpinan Shalih dengan Lahirnya Kebaikan Kolektif

Dalam konteks jam’iyyah, kualitas tasykil pimpinan sangat menentukan arah peradaban organisasi. Kepemimpinan yang shalih tidak hanya menghasilkan program, tetapi membentuk kultur.

Ketika pimpinan menghadirkan keteladanan iman dan akhlak, maka kebaikan akan tumbuh secara kolektif:

  • Kader-kader tumbuh dalam keshalihan karena melihat contoh nyata, bukan sekadar arahan.
  • Masjid dan majelis ilmu menjadi hidup karena pimpinan menyalakan ruh dakwah.
  • Ukhuwah fillah menguat, sebab hubungan dibangun atas dasar keikhlasan, bukan kepentingan.
  • Integritas organisasi terjaga karena pemimpin takut kepada Allah sebelum takut kepada manusia.
  • Budaya amal tersembunyi berkembang, menggantikan riya’ dan pencitraan.

Dengan demikian, kepemimpinan bukan sekadar mengelola organisasi, tetapi membangun peradaban nilai.

 

Kepemimpinan sebagai Jalan Kebaikan

Menjadi tasykil pimpinan sejatinya adalah kesempatan besar untuk menjadi sebab hadirnya kebaikan yang meluas. Setiap keputusan, setiap keteladanan, dan setiap pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Semoga Allah menjadikan para pimpinan Pemuda PERSIS se-Kabupaten Bandung sebagai imām ‘ādil — pemimpin yang adil, amanah, ikhlas, dan menjadi sebab tersebarnya kebaikan di tengah umat.

Āmīn yā Rabbal ‘Ālamīn. Hanafi Anshory.


*Taujih Muspimleng PD Pemuda PERSIS Kab. Bandung 26-29. Jum’at, 30 Januari 2026 di Kantor Bersama PERSIS Pameungpeuk.

Tag