ISTIQAMAH DI TENGAH KESIBUKAN
Di tengah derasnya aktivitas, padatnya pekerjaan, dan godaan hiburan yang tak pernah berhenti, seorang muslim sering kali diuji bukan pada banyaknya amal, tetapi pada konsistensinya. Di sinilah makna istiqamah menjadi sangat penting: tetap lurus ketika dunia mengajak berbelok, tetap taat ketika kesibukan mencoba melalaikan.
Istiqamah adalah Kewajiban dari Allah
Allah Ta’ala berfirman:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ.
“Maka tetaplah engkau [Muhammad] (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu.” (QS. Huud: 112)
Ayat ini bukan sekadar anjuran, tetapi perintah. Para ulama menjelaskan maknanya:
أَيْ: اسْتَقِمْ عَلَى دِينِ رَبِّكَ، وَالْعَمَلِ بِهِ، وَالدَّعْوَةِ إِلَيْهِ.
Artinya, beristiqamahlah pada agama Rabbmu, mengamalkannya, dan berdo’a kepada-Nya.
Istiqamah bukan hanya bertahan dalam keyakinan, tetapi juga konsisten dalam amal dan dakwah. Ia bukan sekadar sikap pasif, melainkan komitmen aktif terhadap kebenaran.
Secara definisi,
وَالِاسْتِقَامَةُ: هِيَ لُزُومُ الْمَنْهَجِ الْمُسْتَقِيمِ.
Istiqamah ialah senantiasa tetap pada jalan yang lurus.
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu memberikan gambaran yang sangat tegas:
قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: الِاسْتِقَامَةُ أَنْ تَقُومَ عَلَى الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ، وَلَا تَرُوغَ عَنْهُ رَوَغَانَ الثَّعْلَبِ.
Umar ra. berkata, “Istiqamah ialah engkau melaksanakan perintah dan menjauhi larangan dan tidak pergi ke sana ke mari sebagaimana rubah.” (Tatriz Riyadlush Shalihin, 1: 83)
Artinya, istiqamah menuntut ketegasan sikap. Tidak plin-plan. Tidak mencari celah untuk menghindari kewajiban atau membenarkan penyimpangan.
Istiqamah itu Tidak Kufur, Baik Ketika Sibuk Tidak Terukur ataupun Saat Diri Ingin Dihibur
Allah menjanjikan kedudukan agung bagi orang-orang yang istiqamah:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا ...
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah [meneguhkan pendirian] mereka, … .
Lalu Allah lanjutkan:
... تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ.
… maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS Fushilat: 30)
قَالَ مُجَاهِد وَالسُّدِّيّ وَزَيْد بْن أَسْلَمَ وَابْنه يَعْنِي عِنْد الْمَوْت قَائِلِينَ:
Mujahid, As-Saddi, Zaid ibnu Aslam, dan anaknya mengatakan bahwa yang dimaksud ialah di saat mereka menjelang kematiannya, para malaikat itu turun kepada mereka dengan mengatakan:
أَلَّا تَخَافُوا
Janganlah kamu merasa takut [dalam menghadapi kehidupan masa mendatang di akhirat]
وَلا تَحْزَنُوا
dan janganlah kamu merasa sedih [terhadap urusan dunia yang kamu tinggalkan, seperti urusan anak, keluarga, harta benda, dan utang; karena sesungguhnya Kami (Allah Ta’ala) akan menggantikanmu dalam mengurusnya]
وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. (Tafsir Ibnu Katsir, 12/236)
Ini menunjukkan bahwa istiqamah hari ini menentukan ketenangan esok hari. Karena itu Allah juga berfirman:
"وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ" أَيْ حَافِظُوا عَلَى الْإِسْلَام فِي حَال صِحَّتكُمْ وَسَلَامَتكُمْ لِتَمُوتُوا عَلَيْهِ فَإِنَّ الْكَرِيم قَدْ أَجْرَى عَادَتهُ بِكَرْمِهِ أَنَّهُ مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْء مَاتَ عَلَيْهِ وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْء بُعِثَ عَلَيْهِ فَعِيَاذًا بِاَللَّهِ مِنْ خِلَاف ذَلِكَ.
“…dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.,” [QS. Ali Imran: 102] yakni “Peliharalah Islam ketika kamu sehat wal afiat, agar engkau mati di atas islam. Sesungguhnya Dzat yang Maha mulia dengan kemurahan-Nya akan memberlakukan seseorang sesuai kebiasaannya. Bahwa orang yang memiliki kebiasaan tertentu dalam hidup, dia akan mati sesuai kebiasaannya. Dan siapa yang mati dalam kondisi tertentu, dia akan dibangkitkan sesuai kondisi matinya. Sungguh kita berlindung kepada Allah, jangan sampai menyimpang dari kebenaran. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/87)
Tidak Sekedar Sibuk, Tetapi Fokus Istiqamah Meraih Jannah
Kesibukan bukan alasan untuk lalai. Justru dalam kesibukan, kualitas istiqamah diuji. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allâh”, kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang shalih) maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. [QS. al-Ahqâf /46:13-14].
Istiqamah itu Membawa Berkah
وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا.
Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (Qs Al Jinn; 16)
Istiqamah Dimulai dari Lidah
عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ.
Dari Sufyan bin Abdullâh ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda!” Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘aku beriman’, lalu istiqomahlah”. [HR Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah].
Namun istiqamah iman tidak akan tegak tanpa istiqamah hati, dan hati tidak akan lurus tanpa lisan yang lurus.
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ.
Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga. [HR Ahmad, no. 12636 dari Anas bin Malik].
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا.
Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan: “Takwalah kepada Allâh di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. [HR Tirmidzi, no. 2407 dari Abu Sa’id Al-Khudriy]
Bahkan disebutkan bahwa setiap pagi anggota tubuh “memohon” kepada lisan agar bertakwa kepada Allah. Jika lisan lurus, seluruh tubuh lurus. Jika lisan menyimpang, seluruh amal ikut rusak.
Di era kesibukan digital, ini menjadi sangat relevan. Banyak orang jatuh bukan karena kurang amal, tetapi karena lisan — termasuk tulisan dan unggahan — yang tidak terjaga.
Istiqamah Tamat Jika Abai dari Taubat
Allah menggandengkan istiqamah dengan taubat:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ.
Maka istiqomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [QS. Hûd/11:112].
Artinya, istiqamah bukan berarti tidak pernah salah. Justru ia dijaga dengan taubat yang terus-menerus.
Mustahil Istiqamah Jika Mengikuti Hawa Nafsu
فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ۖ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ.
Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan istiqomahlah (tetaplah dalam agama dan lanjutkanlah berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allâh dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allâh-lah tuhan kami dan tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu, tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allâh akan mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah tempat kembali (kita)”. [Syûrâ/42:15].
Hawa nafsu ingin cepat, ingin mudah, ingin menyimpang sedikit demi sedikit. Istiqamah adalah disiplin melawan itu semua.
Istiqamah itu Jauh dari Musyrik kepada Allah
Allah berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ.
Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka istiqomahlah (tetaplah pada jalan yang lurus) menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya. [QS. Fush-shilat/41:6].
Istiqamah sejati tidak mungkin berdampingan dengan syirik. Ia tumbuh dari tauhid yang murni dan terus disirami dengan istighfar.
Istiqamah di Tengah Dunia yang Berlari
Dunia akan terus berlari. Kesibukan tidak akan pernah habis. Hiburan tidak akan pernah berhenti menggoda. Namun yang menentukan keselamatan bukan seberapa sibuk kita, melainkan seberapa lurus kita.
Istiqamah adalah keteguhan dalam iman, konsistensi dalam amal, penjagaan lisan, pembiasaan taubat, dan penolakan terhadap hawa nafsu.
Siapa yang hidup di atas istiqamah, ia akan mati di atasnya. Siapa yang mati di atasnya, ia akan dibangkitkan di atasnya. Dan siapa yang dibangkitkan di atasnya, malaikat akan menyambutnya dengan kabar gembira: “Jangan takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga.” Wallâhu A’lam. Hanafi Anshory.