URGENSI KEPEMIMPINAN
Dalam sebuah hadis disebutkan;
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ.
Dari Abu Sa'id Al Khudri ra., bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Apabila ada tiga orang yang keluar dalam suatu perjalanan, maka hendaknya mereka menunjuk salah seorang dari mereka sebagai pemimpin!.”[1]
Pada hadis tersebut, Rasulullah Saw memerintah diangkat seorang pemimpin dalam sebuah kelompok. Syamsulhaq ‘Azhim Abadiy mengutip penjelasan Al-Khattabi terkait hadis tersebut;
إِنَّمَا أَمَرَ بِذَلِكَ لِيَكُونَ أَمْرُهُمْ جَمِيعًا وَلَا يَتَفَرَّقُ بِهِمُ الرَّأْيُ وَلَا يَقَعُ بَيْنَهُمُ الِاخْتِلَافُ.
“Sesungguhnya perintah tersebut diberikan agar urusan mereka menjadi satu dan agar pendapat mereka tidak tercerai-berai, serta supaya tidak terjadi perselisihan di antara mereka.”[2]
Dalam mengangkat dan memilih pemimpin tidak boleh dilakukan dengan gegabah dan tergesa-gesa. Akan tetapi, harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati serta penuh pertimbangan. Karena, keadaan seorang pemimpin menentukan keadaan rakyat yang dipimpin. Sebagaimana Ibnu Hajar dalam Kitab Fathul Bary mengatakan;
وَبِصَلَاحِ الْأَمِيْرِ تَصْلُحُ الرَّعِيَةُ، وَبِفَسَادِهِ تَفْسُدُ.
Dengan beresnya Amir membuat maslahat rakyat, dan dengan rusaknya amir menyebabkan rusaknya rakyat.[3]
Al-Syaukany mengatakan dalam kitab Nailul Authar:
(إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ) مَعْنَاهُ أَنَّ الْاِئْتِمَامَ يَقْتَضِيْ مُتَابَعَةَ الْمَأْمُوْمِ لِإِمَامِهِ، فَلَا يَجُوْزُ لَهُ الْمُقَارَنَةُ وَالْمُسَابَقَةُ وَالْمُخَالَفَةُ إِلَّا مَا دَلَّ الدَّلِيْلُ الشَّرْعِي عَلَيْهِ.
(‘Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti’) maknanya ialah bahwa bermakmum menetapkan mengikutinya makmum kepada imamnya, maka tidak boleh bagi makmum membarengi (muqāranah), mendahului (musābaqah), dan menyelisihi (mukhālafah), kecuali bila ada dalil syar‘i yang menunjukkan kepadanya.”[4]
Menurut hemat kami, apa yang dipaparkan tersebut dapat dianalogikan dengan kepemimpinan dalam jam’iyah dimana anggota harus ridha menjadi makmum yang baik sebagai konsekuensi dari berjam’iyah.
Sebagai penguat hal tersebut, dalam kitab Ibanatul Ahkam dijelaskan:
أَنَّ فِيْ ذَالِكَ مَعْنًى لِلْوَحْدَةِ، وَالتَّمْرِيْنِ عَلَى الْأَعْمَالِ الْمُشْتَرَكَةِ، والتَّدْرِيْبِ عَلَى مَوَافِقِ الْحَرْبِ تَحْتَ إِمْرَةِ قَائِدٍ وَاحِدٍ.
Sesungguhnya pada Salat berjama’ah untuk mewujudkan kesatuan dan melatih bekerja sama dan mendidik kedisiplinan di bawah komando seorang pemimpin.[5] Wallahu A'lam. hanafi anshory.
Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.

[1] HR. Abu Dawud No. 2608.
[2] Muḥammad Asyraf bin Amīr bin ‘Alī bin Ḥaidar, Abū ‘Abd ar-Raḥmān, Syaraf al-Ḥaqq aṣ-Ṣiddīqī al-‘Aẓīm Ābādī (w. 1329 H), ‘Awn al-Ma‘būd Syarḥ Sunan Abī Dāwūd, VII: 192: 2609. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut. Cet.ke-2, 1415 H. 14 juz.
[3] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bary Syarh Shahih Al-Bukhari, (Mesir: Maktabah Shafa, 2003) jilid 1, hal 161
[4] Al-Syaukaniy, Nailul Authar, Jilid 2, hal 223.
[5] Al-Kafrawi, Ibanatul Ahkam Syarah Bulughul Maram, juz 2, hal 3