Melekatnya Orientasi Dunia Meski Sudah Tua

11 Agt 2026

Oleh: Rifqy Fathin al-Bukhari (Anggota PC Pemuda PERSIS Bojongsoang)

Sebagaimana yang telah dimaklum bahwa kehidupan dunia bukan destinasi akhir dari pengembaraan manusia. Sejatinya dunia hanyalah dijadikan sebagai jalur adimarga menuju akhirat. Tidak ada keabadian dan kekekalan selama masih dalam perjalanan. Sebab hakikat kehidupan manusia di alam dunia ialah mazra’atul amal yang artinya ladang menanam amal kebaikan.

Allah swt. menjelaskan dalam Al-Quran bahwa kehidupan dunia ialah Al-Mata’u, yaitu segala hal yang dianggap senang dan nikmat ketika digunakan. Kebanyakan dari manusia merasa senang dan nikmat dengan segala sesuatu dari isi dunia, di antaranya harta. Gharizah (naluri) manusia selalu ada kecenderungan terhadap harta, hatta manusia bersikukuh untuk mendapatkannya dan berlomba-lomba dalam memperbanyaknya. Gharizah terhadap harta tidak mengenal muda atau tua, laki-laki atau perempuan, rakyat atau pejabat; ketika seseorang itu disebut ‘manusia’ maka gharizah seperti itu akan selalu melekat pada dirinya. Hal demikian dijelaskan oleh Rasulullah saw. 

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَا يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ: فِي حُبِّ الدُّنْيَا، وَطُولِ الْأَمَلِ.

Bahwasannya Abu Hurairah ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Hati orang yang sudah tua senantiasa muda dalam dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan.” (Hr. Al-Bukhariy, Shahih Al-Bukhariy, VIII: 89, no. 6420)

Dalam kajian Ilmu Bayan (Balaghah), hadits di atas termasuk pembahasan majaz isti’arah (tashrihiyyah) dengan uraian sebagai berikut:

لَا يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ: فِي حُبِّ الدُّنْيَا، وَطُولِ الْأَمَلِ

التوضيح

المستعار منه

المستعار له

شبه النبي صلى الله عليه وسلم كون قلب الكبير

بالشاب في قوة الرغبة في حب الدنيا وطول الأمل، وصرح بذكر المستعار منه وهو المشبه به: (شابا)

شابا

(مذكور)

كون قلب الكبير

(محذوف)

في هذا الحديث استعارة تصريحية، حيث صرّح النبي صلى الله عليه وسلم بالمستعار منه، وهو قوله: "شابًّا"، وحذف المستعار له تقديرًا، وهو: كونُ قلبِ الكبيرِ قويَّ الرغبةِ في حبِّ الدنيا وطولِ الأمل. واستُعير لفظُ "شابًّا" للدلالة على هذه الحالة؛ لأن الشابَّ يمتاز بقوة الرغبة في حب الدنيا وطول الأمل.

Pada hadits ini terdapat isti’arah tashrihiyyah, dimana Nabi saw. menjelaskan musta’ar minhu, yaitu sabdanya: “pemuda,” dan dibuang musta’ar lahu secara taqdir (kira-kira), yaitu: “keadaan hati orang yang sudah tua ialah kuatnya keinginan terhadap dunia dan panjang umur.” Dipinjam lafazh “pemuda” untuk menunjukkan keadaan ini; karena pemuda identik dengan kuatnya keinginan cinta dunia dan panjang umur.

Maksudnya, Nabi saw. menyebut “syabban” atau pemuda ialah menjelaskan bagaimana kondisi hati orang yang sudah tua, yaitu mempunyai keinginan yang besar dan kuat terhadap dunia dan harta benda. Seolah-olah Nabi saw. bersabda: “Kondisi hati orang yang sudah tua seperti pemuda dalam hal besar dan kuatnya keinginan.” Namun, besar dan kuatnya keinginan tersebut bukan digunakan dalam kebaikan dan amal shaleh, melainkan untuk bersemangat mencari dan memupuk sebanyak-banyaknya harta. 

قال الأزهري: وأصل المادة الحركة والنشاط، وهو من البلوغ إلى بلوغ الأربعين، هذا أحسن تحديدٍ له.

Al-Azhariy berkata: “Asal arti As-Syabab ialah Al-Harakah (bergerak; berpindahnya jasad dari satu tempat ke tempat lainnya) dan An-Nasyath (kebalikan malas; energik, semangat, lincah, aktif). Usia pemuda itu sejak baligh sampai 40 tahun, inilah batasan yang paling baik bagi usia pemuda. (Taudhih Al-Ahkam, V: 214)

قَوْله: (شَابًّا) سَمَّاهُ شَابًّا لقُوَّة استحكامه فِي محبَّة المَال.

Disebut “syabban” karena kuat dan kokohnya keterikatan hati dalam mencintai harta. (Umdah Al-Qariy, XXIII: 36)

Arti As-Syabab ialah Al-Harakah, maksudnya seorang pemuda ialah orang yang mempunyai tenaga besar dan kondisi fisik yang kuat untuk menjelajahi tempat-tempat yang ada di dunia; diserupakan dengan kondisi hati orang yang sudah tua karena mereka seringkali pro-aktif dan mensiasati seribu satu cara untuk terus menambah dan memupuk harta, meski kondisi fisiknya sudah melemah. Meskipun fisik sudah tua (melemah), kondisi hati yang mempunyai kecenderungan terhadap harta tetap muda (tetap kuat).

Kemudian arti berikutnya dari As-Syabab ialah An-Nasyath, maksudnya seorang pemuda ialah orang yang selalu mempunyai ambisi besar dan semangat dalam merealisasikan hal-hal yang diinginkannya; diserupakan dengan kondisi hati orang yang sudah tua karena mereka seringkali mempunyai ambisi besar terhadap hal-hal yang membuatnya semakin kaya harta dan bersemangat dalam merealisasikannya.

Sabda Nabi saw. ini merupakan alarm pengingat bagi sekalian manusia, khususnya bagi yang sudah melampaui usia muda. Kecenderungan terhadap dunia dan harta, jangan sampai menjadi tabiat yang akan menjadi amal penutup usia. Sebab kematian akan menemui manusia sesuai dengan kebiasaan sehari-harinya.

Usia yang melampaui usia 40 tahun tersimpan 2 hikmah; kesempatan waktu untuk terus memupuk amal kebaikan dan kesempatan waktu untuk terus meminta maghfirah (ampunan) atas dosa dan kesalahan yang diperbuatnya selama hidup. 2 hikmah itu seyogyanya disadari dan dijadikan energi semangat dalam beramal shaleh dan bertaubat kepada Allah swt. Namun pada realitanya, justru kebanyakan manusia tidak menyadari, bahkan semakin berambisius terhadap dunia, hatta ada keinginan yang kuat dalam dirinya untuk panjang umur dengan sebab kecintaannya terhadap dunia yang telah menutupi hati dan akal dari mempersiapakan kehidupan setelah mati.

Di antara bukti bahwa seseorang telah terbawa larut dalam cinta dunia ialah thulul amal (panjang angan-angan), sebagaimana yang disabdakan Nabi saw. di atas.

الْأَمَلُ بِفَتْحَتَيْنِ رَجَاءُ مَا تُحِبُّهُ النَّفْسُ مِنْ طُولِ عُمُرٍ وَزِيَادَةِ غِنًى.

Al-Amal ialah harapan terhadap sesuatu yang dicintai/disukai oleh jiwa, seperti panjang umur dan bertambahnya kekayaan. (Fath Al-Bariy, XI: 240)

Penjelasan Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy tersebut mengungkap bahwa yang dimaksud dengan panjang angan-angan ialah kecenderungan hati untuk terus mengharapkan kehidupan dunia yang panjang disertai kelalaian terhadap kematian dan kehidupan akhirat. Akibatnya, seseorang akan menunda amal shaleh, mengakhirkan taubat, serta merasa aman dari datangnya kematian yang sesungguhnya dapat menjemput kapan saja. Karenanya, Nabi saw. menisbatkan panjang angan-angan dengan kecintaan terhadap dunia. Semakin besar kecintaan seseorang kepada dunia, semakin besar pula keinginannya untuk terus hidup demi menikmati kenikmatan duniawi.

وَفِي الْأَمَلِ سِرٌّ لَطِيفٌ لِأَنَّهُ لَوْلَا الْأَمَلُ مَا تَهَنَّى أَحَدٌ بِعَيْشٍ وَلَا طَابَتْ نَفْسُهُ أَنْ يَشْرَعَ فِي عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ الدُّنْيَا وَإِنَّمَا الْمَذْمُومُ مِنْهُ الِاسْتِرْسَالُ فِيهِ وَعَدَمُ الِاسْتِعْدَادِ لِأَمْرِ الْآخِرَةِ فَمَنْ سلم من ذَلِك لم يُكَلف بإزالته.

Pada Al-Amal ada rahasia yang lembut. Sebab, seandainya tanpa ada harapan, niscaya tidak ada seorangpun yang dapat menikmati kehidupan, dan jiwanya pun tidak akan terdorong untuk memulai suatu pekerjaan dari berbagai urusan dunia. Harapan yang tercela ialah Al-Irtisal (terbawa hanyut oleh syahwat dan hawa nafsu terhadap urusan dunia) dan tidak ada persiapan untuk urusan akhirat. Maka barangsiapa yang selamat dari hal tersebut, ia tidak ada taklif untuk menghilangkannya. (Fath Al-Bariy, XI: 240)

Panjang angan-angan pada hakikatnya bukan sekadar memiliki rencana atau cita-cita untuk masa depan. Islam tidak melarang seseorang merencanakan kehidupan dunia selama tetap berada dalam koridor syariat. Keterangan Ibnu Hajar di atas memberikan sebuah insight yang sangat penting bahwa tidak semua Al-Amal (harapan atau angan-angan) bersifat tercela. Bahkan, harapan merupakan salah satu fitrah yang Allah tanamkan dalam diri manusia; dengannya seseorang memiliki semangat untuk bekerja, menjemput rezeki, membangun keluarga, menuntut ilmu, dan melakukan berbagai aktivitas yang menjadi maslahat bagi kehidupan. Seandainya manusia sama sekali tidak memiliki harapan terhadap masa depan, niscaya kehidupan akan kehilangan gairah dan semangat berjuang; dan manusia tidak akan memiliki motivasi untuk berusaha dan berikhtiar.

Alhasil, yang menjadi objek celaan syariat bukanlah adanya harapan itu sendiri, melainkan pada sikap Al-Irtisal, yaitu larut dan tenggelam dalam angan-angan hingga melampaui batas. Keadaan ini menjadikan seseorang terlalu sibuk mengejar dunia, seakan-akan kehidupan dunia ialah tujuan akhirnya. Demikian juga pada sikap ‘Adam Al-Isti’dad li Amr Al-Akhirat, yaitu ketiadaan persiapaan untuk menghadapi masa keabadiaan (akhirat).

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَفَعَهُ: صَلَاحُ أَوَّلِ هَذِهِ الْأُمَّةِ بِالزَّهَادَةِ وَالْيَقِينِ وَهَلَاكُ آخِرِهَا بِالْبُخْلِ وَالْأَمَلِ. أَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِيُّ، وَابْنُ أَبِي الدُّنْيَا.

Dari Abdullah bin ‘Amr, ia merafa’kannya: “Beresnya umat ini dengan zuhud dan yakin; dan rusaknya umat terakhir dengan bakhil dan panjang angan-angan.” (Fath Al-Bariy, XI: 240)

Hadits yang dinukil oleh Ibnu Hajar di atas semakin menegaskan bahwa thulul amal bukan sekadar persoalan individu, melainkan penyakit yang dapat berdampak pada kemunduran suatu umat. Rasulullah saw. mengontraskan keadaan generasi awal umat Islam dengan generasi akhir melalui dua karakter yang saling berlawanan. Generasi awal memperoleh keberhasilan karena dihiasi sifat zuhud dan keyakinan yang teguh, sedangkan generasi akhir mengalami kerusakan akibat sifat bakhil dan panjang angan-angan.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبَيْ، فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ، وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ.

Dari Abdullah bin Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. memegang kedua pundakku, lalu beliau bersabda: “Jadilah kamu di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir.” Keadaan Ibnu Umar berkata: “Apabila kamu berada di waktu sore, maka janganlah kamu menunggu waktu pagi. Apabila kamu berada di waktu pagi, maka janganlah kamu menunggu waktu sore. Gunakanlah masa sehatmu untuk masa sakitmu dan masa hidupmu untuk masa matimu.” (Hr. Al-Bukhariy, Shahih Al-Bukhariy, VIII: 89, no. 6416)

وَفِي ذَلِكَ إِشَارَةٌ إِلَى إِيثَارِ الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا وَأَخْذِ الْبُلْغَةِ مِنْهَا وَالْكَفَافِ فَكَمَا لَا يَحْتَاجُ الْمُسَافِرُ إِلَى أَكْثَرَ مِمَّا يُبَلِّغُهُ إِلَى غَايَةِ سَفَرِهِ فَكَذَلِكَ لَا يَحْتَاجُ الْمُؤْمِنُ فِي الدُّنْيَا إِلَى أَكْثَرَ مِمَّا يُبَلِّغُهُ الْمَحَلَّ.

Dalam hal itu (sikap seperti orang asing) terdapat isyarat untuk mengutamakan zuhud di dunia, mengambil al-Bulghah (secukupnya) dan al-Kafaf (sesuai kebutuhan). Sebagaimana seorang musafir tidak membutuhkan lebih dari apa yang dapat mengantarkannya sampai ke tujuan perjalanannya, maka demikianlah seorang mukmin di dunia tidak membutuhkan lebih dari apa yang dapat mengantarkannya ke tempat tinggalnya (akhirat). (Fath Al-Bariy, XI: 237)

Nasehat Rasulullah saw. dan Ibnu Umar ra. serta penuturan Ibnu Hajar merupakan solusi praktis untuk membasmi penyakit hubbud dunya dan thulul amal yang mewabah pada generasi hari ini. Jika panjang angan-angan muncul karena hati yang terlalu bergantung kepada dunia, maka Rasulullah saw. mengarahkan umatnya untuk mengubah cara pandang terhadap kehidupan dunia. Seorang mukmin dituntun agar menjalani kehidupan di dunia layaknya seorang yang asing atau seorang musafir, yakni tidak menjadikan dunia sebagai tempat menetap, melainkan sekadar tempat singgah sebelum melanjutkan perjalanan menuju kampung akhirat.

Akibat lainnya dari hati yang terlalu bergantung kepada dunia ialah ketiadaan persiapan dalam menghadapi kematian dan masa depan di akhirat, maka Ibnu Umar ra. mengarahkan untuk mempersiapkan segala hal dengan memanfaatkan dan memaksimalkan segenap fasilitas hidup seperti waktu, kesehatan, dan masa hidup untuk bekal di akhirat kelak.

Lalu Ibnu Hajar menjelaskan bahwa dalam hadits tersebut terdapat isyarat agar seorang muslim mengutamakan sikap zuhud terhadap dunia, yaitu mengambil Al-Bulghah dan Al-Kafaf. Yang dimaksud dengan Al-Bulghah ialah mengambil dari dunia sekadar bekal yang dapat mengantarkan seseorang kepada tujuan akhirnya, sedangkan Al-Kafaf ialah mencukupkan diri dengan kebutuhan yang diperlukan tanpa berlebihan. Dengan demikian, Islam tidak memerintahkan untuk meninggalkan dunia secara mutlak, tetapi mengajarkan prinsip keseimbangan, yaitu memanfaatkan dunia sebatas sarana untuk menggapai kebahagiaan akhirat.

وَقَالَ عَلِيٌّ: ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتِ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ.

Aliy berkata: “Kehidupan dunia pergi menjauh, sedangkan akhirat kian mendekat, dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) mempunyai anak-anak. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Karena sejatinya hari ini (di dunia) ialah waktu untuk beramal tanpa ada hisab, sementara besok (di akhirat) ialah waktu hisab dan bukan untuk beramal. (Shahih Al-Bukhariy, VIII: 89)

Atsar Aliy ra. di atas semakin memperkuat pesan Rasulullah saw. tentang hakikat kehidupan dunia sebagai tempat persinggahan. Dengan ungkapan yang sangat indah, beliau menggambarkan bahwa dunia terus bergerak menjauh, sedangkan akhirat terus datang mendekat. Ungkapan tersebut mengandung makna bahwa setiap detik yang dilalui manusia sejatinya menjauhkan dirinya dari dunia dan sekaligus mendekatkannya kepada akhirat. Artinya, semakin seseorang menjauh dari titik awal, maka ia semakin dekat kepada titik akhir. Sehingga bertambahnya usia bukanlah tanda semakin jauhnya dengan kematian, tetapi sebagai isyarat bahwa seseorang semakin dekat kepada perjumpaan dengan Allah swt.

اعْمَلْ مَا تَلْقَى نَفْعَهُ بَعْدَ مَوْتِكَ وَبَادِرْ أَيَّامَ صِحَّتِكَ بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ فَإِنَّ الْمَرَضَ قَدْ يَطْرَأُ فَيَمْتَنِعُ مِنَ الْعَمَلِ فَيُخْشَى عَلَى مَنْ فَرَّطَ فِي ذَلِكَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الْمَعَادِ بِغَيْرِ زَادٍ.

Beramallah dengan amalan yang akan kamu dapati manfaatnya setelah matimu dan bersegeralah memanfaatkan hari-hari sehatmu dengan amal shaleh, karena sesungguhnya penyakit dapat datang tiba-tiba sehingga dapat menghambat seseorang dari beramal shaleh. Maka dikhawatirkan atas orang yang lalai dalam hal itu, ia akan sampai kepada hari kembali (akhirat) tanpa perbekalan. (Fath Al-Bariy, XI: 237)

Cepat ataupun lambat, fase penurunan fisik akan menghampiri, siang-malam tidak terasa peralihannya, dan perputaran jarum jam seolah berputar lebih cepat dari biasanya. Pada akhirnya, nasehat Ibnu Hajar inilah yang menjadi bahan renungan dan muhasabah; sikap adil yang sepantasnya dilakukan ialah memupuk amal shaleh sesegera mungkin dan sebanyak-banyaknya. Karena sejatinya amal shalehlah yang akan menjadi sahabat setia yang menemani perjalanan panjang setelah kehidupan dunia berakhir.