TAKWA ATAU POPULARITAS? ISLAM MENENTUKAN KRITERIA PEMIMPIN
KRITERIA PEMIMPIN JAMAAH
Dalam shalat berjamaah, posisi imam bukan sekadar pemimpin ritual, tetapi simbol kepemimpinan kolektif dalam komunitas Muslim. Para ulama menyebut bahwa shalat berjamaah adalah madrasah qiyādah—sekolah kepemimpinan—yang di dalamnya Allah mengajarkan prinsip-prinsip dasar tentang siapa yang layak memimpin, bagaimana ia memimpin, dan nilai apa yang harus ia jaga.
Pemimpin Dipilih karena Aqwa (Takwa), Bukan karena Asma (Nama)
1. Prinsip Qur’ani: Kemuliaan karena takwa
Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” [1]
Imam Al-Tabari menjelaskan:
يقولُ تعالى ذكرُه: إن أكرمَكم أيُّها الناسُ عندَ رَبِّكم، أشدُّكُم اتِّقاءً له بأداءِ فرائضِه واجتنابِ معاصيهِ، لا أعظمُكم بيتًا، ولا أكثرُكم عَشِيرةً.
“Allah Ta‘ala berfirman—Mahasuci Dia—bahwa sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian, wahai manusia, di sisi Tuhan kalian adalah yang paling kuat ketakwaannya kepada-Nya, yaitu yang paling sungguh-sungguh dalam menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya dan menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat kepada-Nya, bukan yang paling tinggi keturunannya, dan bukan pula yang paling banyak pengikut atau keluarganya.” [2]
Bahwa ayat ini adalah prinsip dasar kepemimpinan: seseorang diutamakan bukan karena nasab, status sosial, atau ketenaran (asma’), tetapi karena ketakwaannya (aqwa).
Dalam konteks imam shalat, para ulama sepakat bahwa yang paling utama menjadi imam adalah aqra’uhum (yang paling baik bacaan Qur’annya) karena bacaan Qur’an adalah cermin takwa dan kedalaman ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda: “Yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling baik bacaan al-Qur’annya.” [3]
2. Relevansi terhadap jam’iyah
Kepemimpinan jam’iyah tidak boleh diberikan kepada figur terkenal atau populer hanya karena nama besarnya. Popularitas tidak sama dengan kompetensi.
Pemimpin jam’iyah harus dipilih karena:
· kekuatan iman dan integritas (takwa),
· track record bersih,
· komitmen terhadap visi perjuangan,
· kedalaman ilmu syar’i dan wawasan organisatoris.
Pemimpin yang dipilih karena “nama” hanya akan melahirkan organisasi yang rapuh, penuh pencitraan, dan jauh dari keberkahan.
Wallahu A'lam, hanafi anshory.
Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.

[1] QS. Al-Hujurat: 13.
[2] Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr ath-Ṭabarī (224–310 H), Tafsīr ath-Ṭabarī = Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Dār Hijr liṭ-Ṭibā‘ah, Kairo - Meṣir. Cet.ke-1, 1422 H / 2001 M. 26 juz.
[3] HR. Muslim.