TAHAPAN PENGARAHAN DALAM KEPEMIMPINAN

2 Sep 2026

oleh: Hanafi Anshory, S.Pd.I,. M.Pd (Ketua PD Pemuda PERSIS Kab Bandung)

  1. Makna Takbiratul Ihram sebagai Komando Awal

Takbiratul ihram bukan hanya simbol dimulainya shalat, tetapi juga titik perubahan dari aktivitas dunia menuju aktivitas ibadah. Dalam jam’iyah, ini adalah analogi bagi pengarahan pemimpin: komando yang jelas, terarah, dan mengikat seluruh anggota agar fokus pada tujuan.

2. Dalil Sunnah

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ»

"Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti."

Hadis di atas sungguh banyak jalur sanad periwayatan dan ragam matannya pada pelbagai kitab hadis mu’tabar, salah satunya adalah sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ: صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاكٍ، فَصَلَّى جَالِسًا، وَصَلَّى وَرَاءَهُ قَوْمٌ قِيَامًا، فَأَشَارَ إِلَيْهِمْ: (أَنِ اجْلِسُوا). فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: (‌إِنَّمَا ‌جُعِلَ ‌الْإِمَامُ ‌لِيُؤْتَمَّ ‌بِهِ، فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا، وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا).

Dari ‘Aisyah, Ummul Mukminin, bahwa ia berkata: Rasulullah ﷺ pernah shalat di rumah beliau dalam keadaan sakit, maka beliau shalat sambil duduk. Orang-orang yang berada di belakang beliau shalat dengan berdiri, lalu beliau memberi isyarat kepada mereka: “Duduklah.” Ketika selesai shalat, beliau bersabda: “Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka apabila ia rukuk, rukuklah kalian; apabila ia bangkit, bangkitlah kalian; dan apabila ia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian semua dalam keadaan duduk.” [1]

Al-Hafidz Ibn Hajar al-‘Asqalānī menjelaskan:

قَوْلُهُ: (بَابُ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ) هٰذِهِ التَّرْجَمَةُ قِطْعَةٌ مِنَ الحَدِيثِ الآتِي فِي البَابِ، وَالْمُرَادُ بِهَا أَنَّ الِائْتِمَامَ يَقْتَضِي مُتَابَعَةَ المَأْمُومِ لِإِمَامِهِ فِي أَحْوَالِ الصَّلَاةِ، فَتَنْتَفِي المُقَارَنَةُ وَالمُسَابَقَةُ وَالمُخَالَفَةُ إِلَّا مَا دَلَّ الدَّلِيلُ الشَّرْعِيُّ عَلَيْهِ، وَلِهٰذَا صَدَّرَ المُصَنِّفُ البَابَ بِقَوْلِهِ: وَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ وَهُوَ جَالِسٌ، أَيْ: وَالنَّاسُ خَلْفَهُ قِيَامًا، وَلَمْ يَأْمُرْهُمْ بِالجُلُوسِ كَمَا سَيَأْتِي، فَدَلَّ عَلَى دُخُولِ التَّخْصِيصِ فِي عُمُومِ …

Ucapannya: “Bab: Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti.” Judul bab ini adalah bagian dari hadis yang akan disebutkan pada bab tersebut. Maksudnya adalah bahwa mengikuti imam menuntut agar makmum mengikuti imam dalam keadaan-keadaan shalat. Dengan demikian, hilanglah tindakan menyamakan gerakan (bersamaan), mendahului, atau menyelisihi gerakan imam—kecuali dalam hal-hal yang memiliki dalil syar‘i yang mengecualikannya. Karena itu, penyusun kitab (al-Bukhari) memulai bab ini dengan perkataannya: “Dan Nabi ﷺ shalat pada sakit yang menyebabkan wafatnya dalam keadaan duduk,” yaitu sementara orang-orang di belakang beliau berdiri, dan beliau tidak memerintahkan mereka untuk duduk, sebagaimana akan dijelaskan. Hal ini menunjukkan adanya pengecualian (takhsis) dalam keumuman (hadis tersebut).[2]

Imam memulai shalat dengan takbir; pemimpin memulai gerakan dengan arahan. Tanpa komando yang jelas, jamaah akan bergerak tanpa arah. 

3. Bacaan Imam sebagai Petunjuk Arah

Bacaan imam adalah bentuk pengarahan. Para ulama menyebut bahwa imam harus membaca sesuai kondisi jamaah—tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek.

Hadis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: ‌إِذَا ‌صَلَّى ‌أَحَدُكُمْ ‌بِالنَّاسِ ‌فَلْيُخَفِّفْ، ‌فَإِنَّ ‌فِيهِمُ ‌الضَّعِيفَ، ‌وَالسَّقِيمَ، ‌وَالْكَبِيرَ، وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ.

Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang di antara kalian shalat bersama orang banyak, hendaklah ia mempercepat (shalatnya), karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan tua. Namun apabila salah seorang shalat untuk dirinya sendiri, hendaklah ia memanjangkan (shalatnya) sesuai kehendaknya." [3]

Ini menunjukkan pentingnya kebijaksanaan pemimpin dalam memberi pengarahan: sesuai kapasitas anggota dan tidak memberatkan.

Wallahu A'lam, hanafi anshory.

Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.


[1] Abū ‘Abdillāh Muḥammad ibn Ismā‘īl al-Bukhārī al-Ju‘fī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dār Ibn Kathīr, Dār al-Yamāmah, Damaskus. Cet.ke-7. 1414 H-1993 M. 7 juz.

[2] Aḥmad ibn ‘Alī ibn Ḥajar al-‘Asqalānī (773–852 H), Fatḥ al-Bārī bi-Syarḥ al-Bukhārī. al-Maktabah as-Salafiyyah, Mesir. 1380–1390 H. 14 juz.

[3] HR. Mālik ibn Anas (93 – 179 H), Muwatta’ al-Imām Mālik: I: 132: 336. Mu’assasat ar-Risālah – Bayrūt. Cet.ke-1, 1412 H – 1991 M. 2 jilid. Ahmad, Al-Musnad, XIV: 207: 10305. Mu’assasat ar-Risālah. Cet.ke-1, 1421 H – 2001.