ORGANISASI YANG BESAR BUKAN KARENA STRUKTUR, TAPI KARENA BERJAMAAH

8 Okt 2026

oleh: Hanafi Anshory, S.Pd.I,. M.Pd (Ketua PD Pemuda PERSIS Kab Bandung)

Syariat tidak pernah memberi nilai pada organisasi yang rumit tanpa kebersamaan; nilai tertinggi ada pada al-jama‘ah.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: خَطَبَنَا عُمَرُ بِالجَابِيَةِ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي قُمْتُ فِيكُمْ كَمَقَامِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِينَا فَقَالَ: «أُوصِيكُمْ بِأَصْحَابِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَفْشُو الكَذِبُ حَتَّى يَحْلِفَ الرَّجُلُ وَلَا يُسْتَحْلَفُ، وَيَشْهَدَ الشَّاهِدُ وَلَا يُسْتَشْهَدُ، أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ، ‌عَلَيْكُمْ ‌بِالجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ، مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الجَنَّةِ فَلْيَلْزَمُ الجَمَاعَةَ، مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكَ الْمُؤْمِنُ».

Dari Ibnu ‘Umar r.a. ia berkata: *“Umar berkhutbah kepada kami di al-Jābiyah, lalu berkata: ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku berdiri di hadapan kalian pada posisi seperti posisi Rasulullah ﷺ di tengah-tengah kami ketika beliau bersabda: “Aku berwasiat kepada kalian agar berpegang teguh kepada para sahabatku, kemudian kepada orang-orang setelah mereka, lalu kepada orang-orang setelah mereka. Setelah itu, kebohongan akan merajalela, hingga seseorang bersumpah padahal ia tidak diminta bersumpah, dan seseorang memberi kesaksian padahal ia tidak diminta menjadi saksi. Ketahuilah, tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali yang ketiganya adalah setan. Hendaklah kalian berpegang teguh kepada jamaah dan jauhilah perpecahan; karena sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian, dan ia lebih jauh dari dua orang. Barang siapa menginginkan kelapangan (kenikmatan) surga, maka hendaklah ia tetap bersama jamaah. Barang siapa yang bergembira dengan kebaikannya dan bersedih dengan keburukannya, maka itulah orang mukmin.”[1]

Bersatu adalah asas besar dalam agama, sementara perpecahan adalah sumber segala keburukan; sebagaimana Imam Al-Mubarakfuri menjelaskan:

(عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ) أَيْ الْمُنْتَظِمَةِ بِنَصْبِ الْإِمَامَةِ، (وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ) أَيْ احْذَرُوا مُفَارَقَتَهَا مَا أَمْكَنَ.

 “(Hendaklah kalian berpegang teguh pada jamaah), yaitu jamaah yang teratur dengan adanya penegakan kepemimpinan (imam). (Dan jauhilah perpecahan), yakni berhati-hatilah kalian untuk tidak memisahkan diri darinya semampu mungkin.”[2]

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا.

"Berpeganglah kalian semua pada tali Allah dan jangan bercerai-berai." [3]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ" ‌وَاعْتَصِمُوا ‌بِحَبْلِ ‌اللَّهِ ‌جَمِيعاً ‌وَلا ‌تَفَرَّقُوا" قَالَ: الجماعة، روي عنه و [عن غَيْرِهِ] مِنْ وُجُوهٍ، وَالْمَعْنَى كُلُّهُ مُتَقَارِبٌ مُتَدَاخِلٌ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَأْمُرُ بِالْأُلْفَةِ وَيَنْهَى عَنِ الْفُرْقَةِ فَإِنَّ الْفُرْقَةَ هَلَكَةٌ وَالْجَمَاعَةَ نَجَاةٌ.

Dari Abdullah bin Mas‘ud tentang firman Allah Ta‘ala: “Dan berpegangteguhlah kalian semua kepada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai.” Ia berkata: yang dimaksud adalah al-jama‘ah (persatuan). Riwayat ini dinukil darinya dan juga dari selain beliau melalui berbagai jalur, dan seluruh maknanya saling berdekatan serta saling melengkapi. Sesungguhnya Allah Ta‘ala memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan, karena perpecahan adalah kebinasaan, sedangkan persatuan adalah keselamatan.

وَرَحِمَ اللَّهُ ابْنَ الْمُبَارَكِ حَيْثُ قَالَ: إِنَّ الْجَمَاعَةَ حَبْلُ اللَّهِ فَاعْتَصِمُوا … مِنْهُ بِعُرْوَتِهِ الْوُثْقَى لِمَنْ دَانَا. قَوْلُهُ تَعَالَى:" (وَلا تَفَرَّقُوا) " [يَعْنِي فِي دِينِكُمْ] كَمَا افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فِي أَدْيَانِهِمْ،

Semoga Allah merahmati Ibnu al-Mubarak, ketika ia berkata: “Sesungguhnya al-jama‘ah adalah tali Allah, maka berpegangteguhlah dengannya … dengan ikatan yang kokoh bagi siapa saja yang beragama bersama kami.” Adapun firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kalian bercerai-berai,” maksudnya adalah janganlah kalian berpecah-belah dalam agama kalian, sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani telah berpecah-belah dalam agama mereka.[4]

Pelajaran Jam’iyah

  1. Besarnya jam’iyah bukan diukur dari banyaknya struktur birokrasi, tetapi dari soliditas jamaah.
  2. Struktur hanyalah alat; jamaah adalah ruhnya.
  3. Keberhasilan pemimpin bukan membesarkan struktur, tetapi membesarkan kebersamaan.

Ketaatan dan kepemimpinan tidak akan bermakna tanpa jamaah yang banyak, kuat, dan solid.

Wallahu A'lam,

Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.


[1] HR. Muḥammad bin ‘Īsā bin Sawrah bin Mūsā bin aḍ-Ḍaḥḥāk at-Tirmiżī, Abū ‘Īsā (279 H), Sunan at-Tirmiżī, IV: 465: 2165, hasan shahih gharib. Syirkat Maktabah wa Maṭba‘ah Muṣṭafā al-Bābī al-Ḥalabī – Mesir. Cet.ke-2, 1395 H / 1975 M. 5 juz.

[2] Abū al-‘Alā’ Muḥammad ‘Abd ar-Raḥmān bin ‘Abd ar-Raḥīm al-Mubārakfūrī (1353 H), Tuhfat al-Aḥwadzī bi Syarḥ Jāmi‘ at-Tirmidzī, VI: 320. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah – Beirut, tt. 10 Jilid.

[3] QS. Al-Imran 3:103.

[4] Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Aḥmad al-Anṣārī al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, IV: 159. Dār al-Kutub al-Miṣriyyah – Kairo. Cet.ke-2, 1384 H / 1964 M. 20 juz.