MINIMAL DUA ORANG: KEPEMIMPINAN SELALU MENUNTUT PASANGAN (IMAM–MAKMUM)

13 Okt 2026

Oleh: Hanafi Anshory, S.Pd.I,. M.Pd (Ketua PD Pemuda PERSIS Kab Bandung)

Konsep kepemimpinan dalam Islam tidak pernah berdiri sendiri. Bahkan dalam skala terkecil, kepemimpinan memerlukan minimal dua pihak: imam dan makmum.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ ‌فَلْيُؤَمِّرُوا ‌أَحَدَهُمْ.»

Dari Abu Sa‘id al-Khudri r.a., bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila tiga orang keluar dalam suatu perjalanan, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin.” [1]

‌)فَلْيُؤَمِّرُوا ‌أَحَدَهُمْ) قَالَ الْخَطَّابِيُّ إِنَّمَا أَمَرَ بِذَلِكَ لِيَكُونَ أَمْرُهُمْ جَمِيعًا وَلَا يَتَفَرَّقُ بِهِمُ الرَّأْيُ وَلَا يَقَعُ بَيْنَهُمُ الِاخْتِلَافُ.

“(Maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin).” Al-Khaṭṭābī berkata: “Sesungguhnya perintah tersebut diberikan agar urusan mereka menjadi satu dan agar pendapat mereka tidak tercerai-berai, serta supaya tidak terjadi perselisihan di antara mereka.”

(إِذَا كَانَ ثَلَاثَةٌ) أَيْ مَثَلًا وَالْمَعْنَى أَنَّهُ إِذَا كَانَ جَمَاعَةٌ وَأَقَلُّهَا ثَلَاثَةٌ.

(Apabila ada tiga orang) maksudnya sebagai contoh; dan maknanya adalah bahwa apabila ada suatu jamaah—dan jumlah minimalnya adalah tiga orang.

قَالَ الْخَطَّابِيُّ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الرَّجُلَيْنِ إِذَا حَكَّمَا رَجُلًا بَيْنَهُمَا فِي قَضِيَّةٍ بَيْنَهُمَا فَقَضَى بِالْحَقِّ نَفَذَ حُكْمُهُ انْتَهَى.

Al-Khaṭṭābī berkata: “Di dalam hadis ini terdapat dalil bahwa apabila dua orang menunjuk seorang laki-laki sebagai hakim di antara keduanya dalam suatu perkara yang terjadi di antara mereka, lalu ia memutuskan perkara tersebut dengan kebenaran, maka keputusannya berlaku dan sah.” [2]

Analogi Shalat Jamaah dalam ibadah shalat; 1 imam dan 1 makmum

Sudah menjadi jamaah sempurna. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan selalu relational, bukan individual.

Pelajaran Jam’iyah

  1. Strukturalisasi bukan formalitas—itu kebutuhan syariat.
  2. Tidak ada jamaah tanpa pemimpin, dan tidak ada pemimpin tanpa jamaah.
  3. Inilah dasar tandzim (penataan organisasi) dalam Islam.

Wallahu A'lam,

Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.


[1] HR. Abū Dāwūd Sulaymān bin al-Asy‘ats bin Isḥāq bin Basyīr bin Syaddād bin ‘Amr al-Azdī as-Sijistānī (w. 275 H), Sunan Abī Dāwūd, III: 36: 2608. al-Maktabah al-‘Aṣriyyah, Beirut. 4 juz.

[2] Muḥammad Asyraf bin Amīr bin ‘Alī bin Ḥaidar, Abū ‘Abd ar-Raḥmān, Syaraf al-Ḥaqq aṣ-Ṣiddīqī al-‘Aẓīm Ābādī (w. 1329 H), ‘Awn al-Ma‘būd Syarḥ Sunan Abī Dāwūd, VII: 192: 2609. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut. Cet.ke-2, 1415 H. 14 juz.