TAHAPAN KESIAPAN SPIRITUAL DALAM KEPEMIMPINAN
oleh: Hanafi Anshory, S.Pd.I,. M.Pd (Ketua PD Pemuda PERSIS Kab Bandung)
Landasan Al-Qur’an
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ.
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” [1]
Ayat ini menunjukkan bahwa kualitas amal tidak hanya diukur dari bentuk lahiriah, tetapi dari kesiapan batin, ketakwaan, dan kesucian hati. Wudhu dan niat merupakan simbol kesiapan spiritual seorang pemimpin untuk memulai amanah.
2. Landasan Sunnah
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” [2]
Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan harus berangkat dari niat lillāhi ta‘ālā, bukan niat duniawi seperti gengsi, popularitas, atau ambisi jabatan.
3. Syarah Ulama
Imam Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan:
النِّيَّةُ مِيزَانُ الأَعْمَالِ.
“Niat adalah timbangan amal.”
Sebagaimana shalat tidak sah tanpa niat, kepemimpinan pun tidak sah secara moral tanpa niat yang benar. Wudhu melambangkan penyucian diri, sedangkan niat adalah penyucian hati. Pemimpin jam’iyah harus memulai tugas dengan membersihkan ambisi, meluruskan orientasi, dan memperbarui keikhlasan.
Wallahu A'lam, hanafi anshory.
Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.

[1] QS. Al-Mā'idah: 27.
[2] HR. Bukhari dan Muslim.