Tafsir Surat al-Fatihah ayat 6
oleh: Rifqy Fathin al-Bukhari
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus
Tafsir Mufradat
اهْـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــدِنَـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــا
Lafazh 'ihdina' dalam kajian ilmu sharf ialah fi'il amr. Secara kaidah ushul fiqh, salah satu makna fi'il amr ialah ad-Du'a (memohon). Maka ungkapan 'tunjukilah' bukan berarti memerintah Allah, tetapi maksudnya seseorang memohon untuk diberi petunjuk oleh Allah swt.
الهداية دلالة بلطف.
Al-Hidayah ialah petunjuk yang diberikan sebagai bentuk kelembutan (keramahan). (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 836)
Allah sebagai al-Hadi karena Ia mempunyai sifat al-Lathif (ramah, lemah lembut) sehingga dengan sebab itu Ia memberi petunjuk jalan at-Taqwa kepada hamba-Nya, supaya tidak tersesat di jalan al-Fujur. Hal ini sebagaimana firman-Nya berikut:
وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ.
Kami telah memberi hidayah kepada dua jalan. (Qs. al-Balad [90]: 10)
Ketika kita berdoa: 'ihdina' maka maksudnya ialah 'alhimna' yang berarti meminta ilham kepada Allah tentang an-Najdain (dua jalan). Adapun an-Najdain yang dimaksud ialah sebagaimana firman Allah swt. berikut:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا.
Lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. (Qs. as-Syams [91]: 8)
الْإِلْهَامُ: إلقاء الشيء في الرّوع، ويختصّ ذلك بما كان من جهة الله تعالى، وجهة الملإ الأعلى.
Menyampaikan sesuatu ke dalam akal dan digunakan secara lafazh tersebut jika penyampaian itu berasal dari Allah Dzat yang Mahatinggi. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 748)
Jadi meminta hidayah dalam konteks ayat ini ialah kita meminta supaya Allah memberi penjelasan mengenai jalan taqwa dan fujur ke dalam akal kita, sehingga setiap ucapan dan perbuatan kita akan senantiasa berada di jalan taqwa dan selamat dari jalan fujur.
الــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــصِّـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــرَاطَ
Lafazh 'as-Shirath' artinya at-Thariq al-Mustaqim (jalan yang lurus). Lafazh jalan dalam bahasa Arab bisa menggunakan lafazh as-Sabil, at-Thariq, as-Sirath, atau as-Shirath. Dalam surat al-Fatihah, yang kita pinta ialah as-Shirath yang mempunyai arti jalan secara khusus, yaitu jalan yang lurus.
Adapun yang dimaksud dengan jalan, tidak dipahami secara hakiki. Karena ungkapan 'as-Shirath' ialah lafazh musta'ar (yang dipinjam) untuk sebuah maksud, yaitu sebagaimana dijelaskan oleh Jarir Ibnu Athiyyah:
قَالَ: ثُمَّ تَسْتَعِيرُ الْعَرَبُ الصِّرَاطَ فَتَسْتَعْمِلُهُ فِي كُلِّ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وُصِفَ بِاسْتِقَامَةٍ أَوِ اعْوِجَاجٍ، فَتَصِفُ الْمُسْتَقِيمَ بِاسْتِقَامَتِهِ، وَالْمُعْوَجَّ بِاعْوِجَاجِهِ.
Ia berkata: "Kemudian orang-orang Arab meminjam lafazh as-Shirat, lalu menggunakannya pada setiap ucapan, perbuatan, dan sifat baik yang lurus atau yang menyimpang. Maka jalan yang lurus disebut mustaqim, sedangkan jalan yang menyimpang disebut mu'awwij." (Tafsir Ibnu Katsir, I: 137)
الْـــــــــــــــــــــــمُـــــــــــــــــــــسْـــــــــــــــــــتــَــــــــــــــــــــــــقِــــــــــــــــــــــيْـــــــــــــــــــــــــمِ
Lafazh 'al-Mustaqim' maknanya ialah istiqamah yang arti asalnya ialah garis yang lurus. Lalu diisti'arahkan untuk menjelaskan jalan yang lurus, karena ada kesamaan di antara keduanya.
والاسْتِقَامَةُ يقال في الطريق الذي يكون على خطّ مستو، وبه شبّه طريق المحقّ.
Istiqamah dikatakan pada jalan yang berada pada garis yang lurus. Karenanya disamakan (garis yang lurus) dengan jalan yang lurus. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 692)
Macam-Macam Hidayah
Para ulama membagi hidayah kepada beberapa macam, yaitu:
1. Hidayah Ilham (naluri)
هداية الإلهام الفطري وتكون للطفل منذ ولادته، فهو يحس بالحاجة إلى الطعام والشراب، فيصرخ طالبا له إن غفل عنه والداه.
Hidayah ilham terletak pada bayi sejak kelahirannya, yaitu bayi merasa butuh terhadap makanan dan minuman, kemudian ia menangis (menjerit) untuk meminta makanan dan minuman jika kedua orangtuanya lupa (karena lalai).
2. Hidayah Hawas (panca indra)
هداية الحواس: وهي متممة للهداية الأولى، وهاتان الهدايتان يشترك فيهما الإنسان والحيوان، بل هما في البداية أكمل في الحيوان من الإنسان، إذ إلهام الحيوان يكمل بعد ولادته بقليل، ويكتمل في الإنسان تدريجيا.
Hidayah hawas ialah hidayah yang menyempurnakan hidayah yang pertama (hidayah ilham). Kedua hidayah tersebut sama-sama dimiliki oleh manusia dan hewan. Tetapi pada permulaannya kedua hidayah ini lebih dulu sempurna pada hewan ketimbang pada manusia. Sebab ilham hewan menjadi sempurna setelah kelahirannya dengan waktu singkat, sedangkan pada manusia berkembang secara bertahap.
قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ.
Katakanlah: "Dialah Zat yang menciptakan kalian dan mengembangkan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. (Akan tetapi,) sedikit sekali kalian bersyukur." (Qs. al-Mulk [67]: 23)
3. Hidayah Aqli (akal)
هداية العقل: وهي أسمى من الهدايتين السابقتين، فالإنسان خلق مدنيا بالطبع ليعيش مع غيره، ولا يكفي الحس الظاهر للحياة الاجتماعية، فلا بد له من العقل الذي يوجهه إلى مسالك الحياة، ويعصمه من الخطأ والانحراف، ويصحح له أغلاط الحواس، والانزلاق في تيارات الهوى.
Hidayah akal lebih tinggi dari dua hidayah sebelumnya. Maka manusia diciptakan sebagai makhluk sosial untuk menjalani kehidupan bersama orang lain, dan indra lahiriah tidak akan cukup untuk kehidupan bermasyarakat, maka bagi manusia diberi akal supaya dapat membimbing ke jalan kehidupan, melindungi diri dari kesalahan dan penyimpangan, mengoreksi kekeliruan indrawi dan mencegahnya tergelincir dalam arus hawa nafsu.
4. Hidayah Diin (agama)
هداية الدين: وهي الهداية التي لا تخطئ، والمصدر الذي لا يضل، فقد يخطئ العقل، وتنجرف النفس مع اللذات والشهوات، حتى توردها موارد الهلاك، فيحتاج الإنسان إلى مقوّم مرشد هاد لا يتأثر بالأهواء.
Hidayah diin ialah hidayah yang tidak akan keliru, sumber yang tidak akan menyesatkan. Terkadang akal keliru dan jiwa hanyut bersama kelezatan dan syahwat sehingga menjerumuskannya ke jurang kebinasaan. Maka manusia membutuhkan kepada muqawwim (yang meluruskan), mursyid (yang mengarahkan), hadin (yang memberi petunjuk) yang tidak terpengaruh oleh hawa nafsu.
5. Hidayah Taufiq
هداية التوفيق للسير في طريق الخير والنجاة: وهي أخص من هداية الدين.
Hidayah taufiq untuk menapaki jalan kebaikan dan keselamatan, dan hidayah ini lebih khusus dari hidayah diin. (at-Tafsir al-Munir, I: 59-60)
Kenapa Lafazh Jalan yang Dipilih as-Shirat? Bukan as-Sabil atau at-Thariq
الطَّرِيقُ: السّبيل الذي يُطْرَقُ بالأَرْجُلِ، أي يضرب. وجمعُ الطَّرِيقِ طُرُقٌ.
At-Thariq ialah jalan yang diinjak oleh kaki. Dan bentuk jamak at-Thariq ialah thuruq. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran. Hal. 518-519)
السَّبِيلُ: الطّريق الذي فيه سهولة، وجمعه سُبُلٌ.
As-Sabil ialah at-Thariq yang pada ada kemudahan, dan bentuk jamaknya ialah subul. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran. Hal. 395)
الصِّرَاطُ: الطّريقُ المستقيمُ.
As-Shirath ialah at-Thariq yang lurus. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran. Hal. 483)
Jalan disebut at-Thariq karena secara fisikal jalan itu diinjak oleh kaki dan disebut as-Sabil karena jalan itu dapat dilewati sehingga dapat sampai pada tujuan dengan mudah. Keduanya lafazh tersebut mempunyai bentuk jamaknya, sedangkan as-Shirath tidak ada bentuk jamaknya karena jalan yang lurus hanya ada satu, tidak ada dua atau bahkan banyak. Maka satu jalan yang dimaksud ialah Islam.
Makna Jalan yang Lurus
Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan as-Shirath al-Mustaqim, namun pada hakikatnya sama. Ada yang menafsirkan kitabullah, agama Islam, al-Haq, dan lainnya. Kata Ibnu Katsir semua pendapat itu menguatkan satu sama lainnya.
وَكُلُّ هَذِهِ الْأَقْوَالِ صَحِيحَةٌ، وَهِيَ مُتَلَازِمَةٌ، فَإِنَّ مَنِ اتَّبَعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاقْتَدَى بِاللَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَقَدِ اتَّبَعَ الْحَقَّ، وَمَنِ اتَّبَعَ الْحَقَّ فَقَدِ اتَّبَعَ الْإِسْلَامَ، وَمَنِ اتَّبَعَ الْإِسْلَامَ فَقَدِ اتَّبَعَ الْقُرْآنَ، وَهُوَ كِتَابُ اللَّهِ وَحَبْلُهُ الْمَتِينُ، وَصِرَاطُهُ الْمُسْتَقِيمُ، فَكُلُّهَا صَحِيحَةٌ يُصَدِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Semua pendapat ini shahih, satu sama lainnya saling memperkuat, maka sesungguhnya siapa saja yang mengikuti Nabi saw. dan orang-orang setelahnya, yaitu Abu Bakar dan Umar, maka ia mengikuti al-Haq; dan siapa saja yang mengikuti al-Haq, maka ia mengikuti Islam; siapa saja mengikuti Islam, maka ia mengikuti al-Quran, yaitu Kitabullah atau tali Allah yang kuat atau jalan yang lurus. Semuanya shahih yang masing-masing membenarkan yang lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 46)
Rahasia Mendahulukan Pujian Sebelum Berdoa
وَهَذَا أَكْمَلُ أَحْوَالِ السَّائِلِ، أَنْ يَمْدَحَ مسؤوله، ثُمَّ يَسْأَلُ حَاجَتَهُ وَحَاجَةَ إِخْوَانِهِ الْمُؤْمِنِينَ بِقَوْلِهِ: (اهْدِنَا)، لِأَنَّهُ أَنْجَحُ لِلْحَاجَةِ وَأَنْجَعُ لِلْإِجَابَةِ، وَلِهَذَا أَرْشَدَ اللَّهُ تَعَالَى إِلَيْهِ لِأَنَّهُ الْأَكْمَلُ.
(Berdoa setelah memuji) merupakan suatu hal yang terbaik bila seseorang yang mengajukan permohonan kepada Allah swt. terlebih dahulu memuji-Nya, setelah itu memohon kepada-Nya apa yang dia perlukan dan saudara-saudaranya yang berima melalui ucapannya, "Tunjukilah kami." Cara ini lebih membawa kepada keberhasilan dan lebih dekat untuk diperkenankan oleh-Nya; karena itulah Allah memberi mereka petunjuk cara ini, mengingat Ia paling sempurna. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 45)
Setelah ayat-ayat sebelumnya kita memuji Allah dengan segala macam tarbiyah-Nya, maka pada ayat ini kita berdoa (memohon) hidayah. Maka Ibnu Katsir menjelaskan bahwa memuji Allah sebelum berdoa dapat membawa kita kepada keberhasilan (mendapatkan apa yang pinta) dan lebih cepat untuk dikabulkan doanya.
Mengapa Terus Berdoa Petunjuk? Padahal Kita Sudah Berada di Jalan yang Lurus
فَإِنْ قِيلَ: كَيْفَ يَسْأَلُ الْمُؤْمِنُ الْهِدَايَةَ فِي كُلِّ وَقْتٍ مِنْ صَلَاةٍ وَغَيْرِهَا، وَهُوَ مُتَّصِفٌ بِذَلِكَ؟ فَهَلْ هَذَا مِنْ بَابِ تَحْصِيلِ الْحَاصِلِ أَمْ لَا؟
Apabila dikatakan: "Mengapa seorang mukmin dituntut untuk memohon hidayah dalam setiap salat dan juga dalam keadaan lainnya, padahal dia sendiri berpredikat sebagai orang yang memperoleh hidayah? Apakah hal ini termasuk ke dalam pengertian meraih apa yang sudah teraih?"
فَالْجَوَابُ: أَنْ لَا وَلَوْلَا احْتِيَاجُهُ لَيْلًا وَنَهَارًا إِلَى سُؤَالِ الْهِدَايَةِ لَمَا أَرْشَدَهُ اللَّهُ إِلَى ذَلِكَ؛ فَإِنَّ الْعَبْدَ مُفْتَقِرٌ فِي كُلِّ سَاعَةٍ وَحَالَةٍ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي تَثْبِيتِهِ عَلَى الْهِدَايَةِ، وَرُسُوخِهِ فِيهَا، وَتَبَصُّرِهِ، وَازْدِيَادِهِ مِنْهَا، وَاسْتِمْرَارِهِ عَلَيْهَا.
Jawabannya: Tidak. Seandainya seorang hamba tidak memerlukan minta hidayah di siang dan malam harinya, niscaya Allah benar-benar tidak akan membimbingnya ke arah itu. Karena sesungguhnya seorang hamba itu selalu memerlukan Allah swt. dalam setiap waktu dan keadan agar diteguhkan hatinya pada hidayah dan dipertajam pandangannya untuk menemukan hidayah, serta hidayahnya bertambah meningkat dan terus-menerus berada dalam jalan hidayah. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 47)
Hal ini seperti perintah beriman kepada beriman dalam surat an-Nisa ayat 136:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نزلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزلَ مِنْ قَبْلُ.
Wahai orang-orangyang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.
فَقَدْ أَمَرَ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْإِيمَانِ، وَلَيْسَ فِي ذَلِكَ تَحْصِيلُ الْحَاصِلِ؛ لِأَنَّ الْمُرَادَ الثَّبَاتُ وَالِاسْتِمْرَارُ وَالْمُدَاوَمَةُ عَلَى الْأَعْمَالِ الْمُعِينَةِ عَلَى ذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Maka sungguh Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk beriman. Hal seperti ini bukan termasuk ke dalam pengertian meraih apa yang telah teraih, melainkan makna yang dimaksud ialah perintah untuk lebih meneguhkan iman dan terus-menerus melakukan semua amal perbuatan yang dapat melestarikan keimanan. Wallahu A'lam. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 47)
Karena hati manusia berada pada ujung jari Allah (keadaannya selalu berbolak-balik), maka Abu Bakar selalu membaca doa ini di setiap rakat ketiga pada shalat maghrib:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
Ya Tuhan kami! Janganlah Kau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Kau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Kau Maha Pemberi (karunia). (Qs. Ali Imran [3]: 8)
Kesimpulan:
اسْتَمِرَّ بِنَا عَلَيْهِ ولا تعدل بنا إلى غيره.
Tetapkanlah kami pada jalan yang lurus dan janganlah Kau simpangkan kami ke jalan yang lain. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 47)