Tafsir Surat al-Fatihah ayat 5
Oleh: Rifqy Fathin al-Bukhari
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan
Tafsir Mufradat
إِيَّــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــاكَ
Lafazh 'iyyaka' dalam kajian ilmu sharf ialah dhamir nashbin munfashil dan dalam kajian ilmu nahwu berkedudukan sebagai maf'ul bih. Adapun secara makna, 'iyyaka' ialah nakhusshuka yang artinya kami mengkhususkan hanya kepada-Mu.
نَــــــــــــــــــــــــــــــــــــعْــــــــــــــــــــــــــــــبُـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــدُ
Lafazh 'na'budu' ialah fi'il mudhari dari 'abada yang fa'ilnya ialah nahnu (kami). Mashdarnya ialah al-'Ibadah. Berarti na'budu arti harfiah ialah kami beribadah. Perlu diketahui bahwa fi'il mudhari berfaidah al-Istimrar wa at-Tajaddud (terus menerus dan selalu memperbaharui). Karenanya, ungkapan 'na'budu' tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali, tetapi terus menerus beribadah dan selalu diperbaharui kualitas (menjadi lebih baik) ibadahnya.
العبادة هي التقرب إلى الله تعالى بامتثال أوامره واجتناب نواهيه والعمل بما أذن به الشارع.
Ibadah ialah mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan cara mengerjakan semua perintah-Nya, meninggalkan semua larangan-Nya dan beramal dengan apa yang Allah izinkan.
نــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــســـــــــــــــــــــــــــــــــــــتــــــــــــــــــــــــــــــــــــــعــــــــــــــــــــــــــــــــــــيـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــن
Lafazh 'nata'in' ialah fi'il mudhari dari ista'ana yang fa'ilnya ialah nahnu (kami). Mashdarnya ialah al-Isti'anah. Berarti 'nata'in' arti harfiah ialah kami meminta pertolongan. Sebagaimana pembahasan di atas bahwa fi'il mudhari berfaidah al-Istimrar wa at-Tajaddud (terus menerus dan selalu memperbaharui). Karenanya, ungkapan 'nata'in' tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali, tetapi terus menerus meminta pertolongan dan selalu diperbaharui kualitas (menjadi lebih baik) memohon pertolongan-Nya.
الْعَوْنُ: المُعَاوَنَةُ والمظاهرة.
Al-'Aun ialah pertolongan dan bantuan.
والْاستِعَانَةُ: طلب العَوْنِ. قال: اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ.
Al-Isti'anah ialah memohon/meminta al-'Aun. Allah swt. berfirman: "Mintalah pertolongan oleh kalian dengan cara sabar dan shalat." (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 598)
Kenapa Mendahulukan Maf'ul Bih Daripada Fa'il?
Sebagaimana sudah dijelaskan di awal bahwa dalam kajian ilmu nahwu, lafazh 'iyyaka' berkedudukan sebagai maf'ul bih, sedangkan fa'ilnya diakhirkan. Secara kaidah:
وتقديم المفعول يفيد القصر، أي لا نعبد سواك.
Mendahulukan maf'ul berfaidah al-Qashr (pembatasan), maknanya kami tidak beribadah selain kepada-Mu. (at-Tafsir al-Munir, I: 55)
Seorang laki-laki yang mencintai perempuan dikatakan: "Uhibbuki" yang artinya aku mencintaimu. Ungkapan tersebut memungkinkan makna kedua, yaitu bisa laki-laki tersebut mencintai perempuan lain juga. Namun bila laki-laki tersebut mengatakan: "Iyyaki uhibbu" yang artinya hanya kamu yang aku cinta, berarti ia menafikan perempuan lain dan tidak mungkin ada perempuan lain yang dicintainya.
Demikian juga dengan ayat ini. Doa kita bukan 'na'buduka' melainkan 'iyyaka na'budu'. Kita tidak mengatakan kami beribadah kepada-Mu, tetapi kita mengatakan hanya kepada-Mu kami beribadah. Maka hal demikian dinamakan al-Qashr (pembatasan), bahwa kita menafikan ilah (tuhan) lain dan menetapkan Allah sebagai satu-satunya ilah. Seperti itu juga dengan lafazh 'iyyaka nasta'inu'
Kenapa Lafazh Iyyaka Diulang?
Sebenarnya, bisa saja kita berdoa 'iyyaka na'budu wa nasta'inu', dan dengannya tidak akan merubah makna. Namun nyatanya, yang termaktub dalam surat al-Fatihah, lafazh 'iyyaka' disebut berulang, maka pasti ada makna yang lebih. Ibnu Katsir menjelaskan:
وَكُرِّرَ؛ لِلِاهْتِمَامِ.
Dan lafazh 'iyyaka' diulang menunjukkan ihtimam (perhatian). (Tafsir Ibnu Katsir, I: 43)
Keterangan di atas menunjukkan bahwa diulangnya 'iyyaka' bermakna ihtimam (perlu kepada perhatian). Maksudnya, ibadah yang dilakukan karena Allah, jangan sampai meminta pertolongan malah kepada selain Allah. Contohnya seperti orang yang tidak absen melaksanakan shalat, tetapi masih saja meminta pertolongan kepada dukun, hal-hal mistik, atau kepada orang shaleh yang sudah wafat. Maka dengan pengulangan 'iyyaka' mendorong kita untuk memperhatikan dengan sangat atas 'nasta'inu'; jangan lengah dan jangan abai.
Perubahan Dhamir dari Ghaib Menjadi Mukhathab
Kalau kita cermati alur cerita surat al-Fatihah, ternyata dari awal menggunakan dhamir ghaib (personal ketiga), yaitu dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji milik Allah Tuhan semesta alam, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Lalu pada ayat kelima, dhamirnya berubah menjadi mukhathab (anta). Maka dalam kajian ilmu balaghah, yang demikian itu dinamakan iltifat (beralih dari ghaib ke mukhathab).
وَتَحَوُّلُ الْكَلَامِ مِنَ الْغَيْبَةِ إِلَى الْمُوَاجَهَةِ بِكَافِ الْخِطَابِ، وَهُوَ مُنَاسَبَةٌ، لِأَنَّهُ لَمَّا أَثْنَى عَلَى اللَّهِ فَكَأَنَّهُ اقْتَرَبَ وَحَضَرَ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ تَعَالَى.
Perubahan pembicaraan dari ghaib menjadi muwajahah dengan kaf khithab. Ungkapan ini lebih sesuai, karenanya ketika memuji Allah swt. maka seakan-akan ia mendekat dan hadir di hadapan Allah swt. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 43)
Perubahan dhamir ini seolah-olah mengajak kita untuk mendekatkan diri dan menghadirkan Allah dalam diri kita. Maka ketika mengucapkan 'iyyaka' seolah Allah berada di hadapan kita dan itu membuat kita lebih khusyuk dalam beribadah dan meminta pertolongan kepada Allah swt. Alhasil, dengan memahami iltifat yang terkandung dalam surat al-Fatihah ini akan mewujudkan al-Ihsan dalam diri kita.
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.
Al-Ihsan ialah kamu beribadah kepada Allah, seolah-olah kamu melihat-Nya. Maka jika kamu tidak dapat melihat Allah, sesungguhnya Allah melihatmu. (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, I: 19, no. 50)
Kenapa Didahulukan Na'budu Daripada Nasta'in?
Dalam kajian ilmu nahwu, huruf wawu ialah huruf 'athaf yang tidak berfaidah tartib (urutan). Jadi, bukan berarti harus beribadah dulu baru meminta pertolongan, karena huruf wawu tidak berfaidah tartib. Dengan begitu, bukan berati didahulukannya 'na'budu' daripada 'nasta'in' tidak ada maknanya, pasti ada makna yang tersembunyi. Ibnu Katsir membuka rahasianya dalam kitab tafsirnya sebagai berikut:
وَإِنَّمَا قُدِّمَ: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ) عَلَى (وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) لِأَنَّ الْعِبَادَةَ لَهُ هِيَ الْمَقْصُودَةُ، وَالِاسْتِعَانَةُ وَسِيلَةٌ إِلَيْهَا، وَالِاهْتِمَامُ وَالْحَزْمُ هُوَ أَنْ يُقَدَّمَ مَا هُوَ الْأَهَمُّ فَالْأَهَمُّ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Hanyalah lafazh 'iyyaka na'budu' didahulukan atas lafazh 'iyyaka nasta'inu' karena ibadah kepada-Nya merupakan tujuan, sedangkan meminta pertolongan merupakan sarana untuk melakukan ibadah, maka perhatian dan keteguhan tekad itu didahulukan apa yang lebih penting. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 44)
Kenapa Doanya: "Kami Beribadah" Padahal yang Mengucapkannya Seorang?
Semisal anda membaca 'iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in' dalam shalat, maka anda mengatakan 'hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan' padahal yang mengatakan anda seorang diri. Anda tidak mengatakan 'iyyaka a'budu wa iyyaka asta'inu'. Ibnu Katsir menjelaskan hal demikian sebagai berikut:
بِأَنَّ الْمُرَادَ مِنْ ذَلِكَ الْإِخْبَارُ عَنْ جِنْسِ الْعِبَادِ وَالْمُصَلِّي فَرْدٌ مِنْهُمْ، وَلَا سِيَّمَا إِنْ كَانَ فِي جَمَاعَةٍ أَوْ إِمَامَهُمْ، فَأَخْبَرَ عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ إِخْوَانِهِ الْمُؤْمِنِينَ بِالْعِبَادَةِ الَّتِي خُلِقُوا لِأَجْلِهَا، وَتَوَسَّطَ لَهُمْ بِخَيْرٍ.
Bahwasannya maksud hal tersebut ialah menyampaikan berita tentang jenis dari hamba-hamba Allah, sedangkan orang yang melakukan shalat adalah salah seorang dari mereka; terlebih lagi jika dia berada dalam shalat jamaah atau menjadi imam mereka, berarti sebagai berita tentang dirinya dan saudara-saudaranya yang mukmin bahwa mereka sedang melakukan ibadah yang merupakan tujuan utama mereka diciptakan, dan dia menjadi perantara bagi mereka untuk kebaikan. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 44)
Isti'anah: Sebab Kita Tak Bisa Hidup Tanpa Allah
Dalam hidup ini, ternyata perjalanan tak selamanya mulus. Terkadang kita temukan hal-hal yang membuat kita sulit untuk menyelesaikannya; ada saja hal-hal yang membuat kita berat dalam menunaikannya. Entah dalam urusan keluarga, negara, pendidikan, bahkan demikian juga dalam urusan dakwah. Sebab itulah kita harus isti'anah (meminta pertolongan).
Kita harus sadar, bahwa kita ialah maha lemah. Sejatinya, kita tidak punya daya dan upaya. Semua hal tak akan terselesaikan bila tanpa pertolongan-Nya, termasuk tentang pengurusan diri kita sendiri. Tubuh yang katanya milik kita, ternyata kita tak punya kekuatan untuk mengurusinya barang sedetik pun. Sebab itulah, Rasulullah saw. pernah berdoa:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ .
Wahai zat yang Maha Hidup dan yang senantiasa mandiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, bereskanlah seluruh urusanku dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekedip mata. (Hr. an-Nasaiy, as-Sunan al-Kubra, IX: 211, no. 10330)
Sebagaimana yang sudah dijelaskan bahwa isti'anah maksudnya ialah thalab al-'Aun (meminta pertolongan). Ibnu 'Asyur menjelaskan fungsi isti'anah sebagai berikut:
وَالْعَوْنُ وَالْإِعَانَةُ تَسْهِيلُ فِعْلِ شَيْءٍ يَشُقُّ وَيَعْسُرُ عَلَى الْمُسْتَعِينِ وَحْدَهُ.
Bantuan dan pertolongan ialah memudahkan suatu pekerjaan yang dirasa berat dan sulit bagi yang meminta pertolongan sendirian. (at-Tahrir wa at-Tanwi, I: 184)
Dalam surat al-Baqarah ayat 153, Allah swt. menjelaskan tentang bagaimana cara isti'anah dan para ulama menyebutkan rahasia dari cara isti'anah yang disebut Allah tersebut:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ.
Wahai orang-orang yang beriman! Beristi'anahlah kalian dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. (Qs. al-Baqarah [2]: 153)
الصبر: توطين النفس على احتمال المكاره، أي استعينوا على الآخرة بالصبر على الطاعة والبلاء.
Sabar: Menahan diri atas hal-hal yang kemungkinan tidak disenangi, maksudnya beristi'anahlah kalian atas akhirat dengan sabar dalam ketaatan dan musibah. (at-Tafsir al-Munir, II: 38)
مَعَ الصَّابِرِينَ أي معهم بالعون.
Bersama orang-orang yang bersama maksudnya bersama mereka dengan pertolongan Allah. (at-Tafsir al-Munir, II: 38)
وإنما خصّ الصبر لأنه أشدّ شيء باطني على النفس، وخصّت الصلاة، لأنها أشدّ عمل ظاهري على الإنسان، إذ فيها انقطاع عن الدنيا، واتجاه إلى الله.
Hanyalah dikhususkan sabar, karena sabar adalah faktor mental yang paling kuat pengaruhnya terhadap jiwa, dan dikhususkan shalat karena shalat adalah amal fisik yang paling besar pengaruhnya terhadap manusia sebab dengan shalat manusia terputus hubungannya dengan dunia dan menghadapkan diri kepada Allah. (at-Tafsir al-Munir, II: 39-40)