Tafsir Surat al-Fatihah ayat 4
oleh: Rifqy Fathin al-Bukhari
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Pemilik Hari Pembalasan Tafsir Mufradat مَـــــــــــــــــــــــالِـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــكِ
Lafazh 'malik' merupakan isim fa'il dari malaka yamliku yang berati penguasa atau pemilik. Ar-Raghib al-Ashfahaniy menjelaskan:
هو المتصرّف بالأمر والنّهي في الجمهور.
Al-Malik ialah yang berkuasa untuk memerintah dan melarang semua orang. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 774) .
Allah swt. disebut al-Malik karena Ia berkuasa untuk memerintah dan melarang sesuatu kepada semua makhluk-Nya. Pada surat al-Fatihah ayat 4 ini, lafazh 'malik' diidhafahkan kepada yaumud diin karena Allah swt. memiliki kekuasaan tunggal pada hari kiamat, sebagaimana firman-Nya berikut:
لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ.
Kepunyaan siapakah kerajaanpada hari ini? Kepunyaan Allah yang Maha Tungga lagi Maha Mengalahkan. (Qs. Ghafir [40]: 16)
يَــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــوْمِ
Lafazh 'yaum' artinya hari; secara makna 'yaum' ada dua macam: Pertama, ungkapan mengenai sebagian waktu, yaitu sejak matahari terbit sampai terbenamnya matahari. Kedua, ungkapan mengenai waktu keseluruhan. Hal demikian selaras dengan penjelasan ar-Raghib al-Ashfahaniy sebagaimana berikut:
اليَوْمُ يعبّر به عن وقت طلوع الشمس إلى غروبها. وقد يعبّر به عن مدّة من الزمان أي مدّة كانت.
Al-Yaum dita'bir tentang waktu sejak terbitnya matahari sampai terbenamnya matahari. Namun terkadang 'yaum' dita'bir tentang waktu semata, berapapun lamanya waktu itu. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 894)
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ. Sesungguhnya orang-orang yang
berpaling di kalian pada hari dua pasukan bertemu. (Qs. Ali Imran [3]: 155)
Adapun 'yaum' pada ayat ini bukan bermakna waktu sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, melaikan 'yaum' yang bermakna waktu secara keseluruhan. Berarti, Allah ialah yang berkuasa atas segala hal pada keseluruhan waktu saat berlangsungnya hari pembalasan.
الـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــدِّيْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــنِ
Dari beberapa kamus bahasa Arab, lafazh ad-Diin ada banyak makna: (1) pembalasan, (2) perhitungan, (3) keputusan, (4) kepatuhan, (5) ketundukan, (6) sikap berserah diri (Islam), (7) kerendahan, (8) wara', (9) adat atau kebiasaan, (10) keadaan, (11) tingkah laku, (12) kekuasaan, (13) pemaksaan, (14) cara atau jalan, (15) peraturan, (16) hukum, (17) syariah, (18) akidah, dan (19) agama (millah).
Lafazh ad-Diin yang berarti agama satu akar kata yang sama dengan lafazh ad-Dain yang berarti hutang, seperti firman Allah swt. berikut:
مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ.
Sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau sesudah dibayar hutangnya. (Qs. an-Nisa [4]: 11) Seorang muslim disebut orang yang beragama (Islam) hakikatnya ia sedang membayar hutang kepada sang Rabb semesta alam. Sehingga beragama merupakan manhaj (cara) membayar hutang kepada Tuhan. Adapun seorang yang kufur, sekalipun beragama namun bukan Islam, hakikatnya ia tetap berhutang kepada sang Rabb, sebab tidak ada agama di sisi-Nya selain agama Islam.
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ.
Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. (Qs. Ali Imran [3]: 19) Namun makna ad-Diin pada ayat ini bukan agama atau hutang, tetapi al-Jazau dan al-Mukafaah yang berarti pembalasan atas semua perbuatan. Hal demikian sebagaimana telah dijelaskan Imam al-Bukhariy sebagai berikut:
وَالدِّينُ الْجَزَاءُ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ، كَمَا تَدِينُ تُدَانُ.
Ad-Diin ialah al-Jazau (pembalasan) dalam kebaikan dan kejelekan, sebagaimana kamu membalas demikian juga kamu akan dibalas. (Shahih al-Bukhariy, VI: 17)
Kelak pada hari kiamat, semua perbuatan manusia akan diberi balasan; jika berbuat kebaikan, Allah akan membalasnya dengan kebaikan berupa surga, sedangkan jika berbuat keburukan, Allah akan membalasnya dengan serupa berupa neraka. Untuk melakukan demikian, Allah berkuasa karena Ia ialah al-Malik (sebagaimana penjelasan di atas).
Kenapa Maliki Yaumid Diin, Tidak Malikid Diin?
Sebenarnya, bisa saja Allah swt. menyebut dirinya 'malikid diin' yang berarti sama dengan 'maliki yaumid diin'. Namun nyatanya, Ia menyebut 'yaum' yang kemudian diidhfahkan kepada 'ad-Diin'. Rasyid Ridha menjelaskan alasannya sebagai berikut:
بِأَنَّ لِلدِّينِ يَوْمًا مُمْتَازًا عَنْ سَائِرِ الْأَيَّامِ، وَهُوَ الْيَوْمُ الَّذِي يَلْقَى فِيهِ كُلُّ عَامِلٍ عَمَلَهُ وَيُوَفَّى جَزَاءَهُ.
Bahwa hari yang paling istimewa daripada seluruh hari ialah hari pembalasan, yaitu hari dimana seluruh manusia akan diperlihatkan amalannya dan dipenuhi semua balasannya. (Tafsir al-Manar, I: 46)
Hubungan ar-Rahman ar-Rahim Dengan Maliki Yaumid Diin
Setelah dijelaskan pada pembahasan yang telah Allah swt. tentang bagaimana ar-Rahman dan ar-Rahim, lalu pada ayat selanjutnya Ia menyebut ad-Diin (pembalasan) atas semua perbuatan makhluk-Nya. Ayat ini sejatinya melengkapi ayat sebelumnya, bahwa Allah mentarbiyah semesta alam dengan dua bentuk, yaitu tarbiyah targhib dan tarbiyah tarhib. Tarbiyah targhib terletak pada ayat yang ketiga, sedangkan tarbiyah tarhib terletak pada ayat keempat. Hal demikian seperti halnya dalam firman-Nya yang lain:
نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ.
Kabarkanlah kepada hamba hamba-Ku bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang dan bahwa sesungguhnya siksaan-Kulah azab yang sangat pedih. (Qs. al-Hijr [15]: 49-50)
Ayat di atas diawali dengan penjelasan tentang kasih sayang Allah, kemudian diikuti dengan siksaan Allah yang begitu pedih. Demikian juga dengan ar-Rahman ar-Rahim dan maliki yaumid diin; setelah Allah menjelaskan kasih sayang-Nya kepada semua makhluk termasuk kepada orang kafir yang mengingkari-Nya, kemudian diikuti dengan pembalasan atas setiap perbuatan makhluk-Nya.
Dari penyebutan maliki yaumid diin ini dapat kita ambil pelajaran berharga bahwa jangan sampai kita meyakini bahwa Allah ar-Rahman dan ar-Rahim, sehingga kita dapat berlaku dan bersikap seenaknya tanpa memikirkan baik dan buruknya perbuatan itu. Seperti orang yang bermaksiat, ia melakukan kemaksiatan dengan alasan Allah ar-Rahman dan ar-Rahim sehingga kemaksiatannya itu tidak berakibat buruk bagi dirinya. Padahal Allah menyebut maliki yaumid diin sebagai bantahan dan peringatan (tarhib) bahwa perbuatan maksiat, akan Allah balas dengan azab yang begitu pedih.
Yaumid Diin: Ketika Lisan Dibungkam dan Membisu Seribu Bahasa
Perhatikanlah kondisi sekitar kita. Betapa banyak ketidakadilan yang menjamur dalam tataran hukum, seperti orang yang mencuri ayam dihukum dengan hukuman yang berat, tetapi bagi yang mencuri harta rakyat dihukum dengan hukuman yang ringan, bahkan bebas tanpa hukuman. Pelaku kejahatan bisa saja mengelak dan berdalih dengan seribu satu alasan supaya ia terbebas dari hukuman, bahkan seseorang yang tidak bersalah pun bisa ditetapkan sebagai pelaku kejahatan yang dijatuhi hukuman kejam.
Namun tidak dengan Yaumid Diin. Allah swt. akan berlaku adil atas setiap perbuatan. Tidak hukum yang tidak adil. Tidak ada manusia yang terzhalimi. Semua kejahatan akan diberi balasan dengan azab dan semua kebaikan akan diberi balasan dengan pahala berlipat. Perhatikanlah ayat berikut ini:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.
Pada hari ini (yaumid diin), akan kami tutup mulut-mulut mereka, tangan-tangan mereka akan berbicara kepada kami, dan kaki-kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang mereka usahakan. (Qs. Yasin [36]: 65)
Betapa banyak pelaku kejahatan yang mengelak dan berdalih dengan lisannya supaya tidak dijatuhi hukuman; berbagai macam kebohongan ia ucapkan demi menutupi kejahatannya. Kelak, mulut yang dijadikan alat kebohongan itu akan dikunci (dilarang berbicara) pada yaumid diin. Allah akan mempersilahkan tangan dan kaki (anggota badan) mereka untuk berbicara dan memberi kesaksian atas semua perbuatan yang dilakukannya semasa di dunia. Sehingga pada saat itu, manusia tidak bisa memprotes atas ketetapan Allah dan menggugat keputusan-Nya. Allah akan memberi balasan dengan balasan yang seadil-adilnya.
الْيَوْمَ الذي يدل على أن العذاب حاضر، وأن لذاتهم قد مضت، وبقي العذاب اليوم.
Lafazh 'al-Yaum' menunjukkan bahwa azab (Allah) sudah hadir dan kelezatan (maksiat) usai berlalu, dan yang tersisa ialah azab Allah hari ini. (at-Tafsir al-Munir, XXIII: 38)
Setelah tangan dan kaki memberi kesaksian atas apa yang telah diperbuatannya, Allah menyatakan:
اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا.
Bacalah kitabmu. Cukuplah bagi dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghisab atas dirimu sendiri. (Qs. al-Isra [17]: 14)
Setiap manusia merasa heran dan tercengang dengan melihat kitab amalnya sendiri. Maka manusia pun akan berkata:
وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَاوَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا.
Diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. Mereka berkata: "Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, kecuali mencatatnya." Mereka mendapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun. (Qs. al-Kahf [18]: 49)
Muhasabah Diri Agar Tak Menyesal di Kemudian Hari
Yaumid Diin merupakan kepastian waktu yang akan terjadi di kemudian hari. Semua amal akan mendapat balasannya. Maka dalam hal ini, Rasulullah saw. memberi nasihat agung kepada kita, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits yang dikutip Ibnu Katsir:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ أَيْ حَاسَبَ نَفْسَهُ لِنَفْسِهِ.
Al-Kayyis (orang pintar) ialah orang yang melakukan perhitungan terhadap dirinya sendiri dan beramal untuk bekal sesudah mati, maksudnya menghisab dirinya sendiri. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 43)
Demikian juga Umar bin al-Khaththab memberi nasihat berharga kepada kita:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تَحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأَهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ عَلَى مَنْ لَا تَخْفَى عَلَيْهِ أَعْمَالُكُمْ.
Hisablah diri kalian sendiri sebelum dihisab dan timbanglah amal perbuatan kalian sebelum ditimbang, dan bersiap-siaplah (berbekallah) untuk menghadapi peradilan yang paling besar di hadapan Tuhan yang tidak samar bagi-Nya semua amal perbuatan kalian. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 43)