Tafsir Surat al-Fatihah ayat 3
Oleh: Rifqy Fathin al-Bukhariy
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Mengapa ar-Rahman dan ar-Rahim Disebutkan Berulang?
Pada pembahasan yang telah lalu sudah dijelaskan makna umum dari lafazh ar-Rahman dan ar-Rahim, yaitu pada pembahasan surat al-Fatihah ayat 1. Kemudian pada ayat 3, Allah swt. kembali mengungkapkan bahwa Ia merupakan zat ar-Rahman dan ar-Rahim. Padahal, ungkapan ar-Rahman dan ar-Rahim sudah Ia sebutkan sebelumnya, lalu pada ayat berikutnya kembali disebutkan. Maka pengulangan ar-Rahman dan ar-Rahim bukan tanpa alasan dan pasti mempunyai maksud dan makna yang berbeda dengan ar-Rahman dan ar-Rahim sebelumnya.
Untuk mengetahui dan memahami pengulangan ar-Rahman dan ar-Rahim ini, perhatikanlah penuturan dari Rasyid Ridha:
وَالنُّكْتَةُ فِيهَا ظَاهِرَةٌ وَهِيَ أَنَّ تَرْبِيَتَهُ تَعَالَى لِلْعَالَمِينَ لَيْسَتْ لِحَاجَةٍ بِهِ إِلَيْهِمْ كَجَلْبِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ، وَإِنَّمَا هِيَ لِعُمُومِ رَحْمَتِهِ وَشُمُولِ إِحْسَانِهِ.
Nuktah di dalamnya menujukkan bahwa tarbiyah Allah Ta'ala kepada semesta alam bukan karena kebutuhan-Nya kepada mereka, seperti untuk menarik manfaat atau menolak mudharat. Ia hanyalah karena umumnya rahmat-Nya dan menyeluruhnya ihsan-Nya.
Seorang peternak sapi; ia menyayangi dan mengasihi sapinya karena ia ingin supaya sapi tersebut memberi manfaat bagi ia, Manfaat yang sapi berikan bisa berupa susu yang bisa diperas atau daging yang bisa diperjualbelikan atau hanya sekadar untuk dikonsumsi keluarga sehari-hari. Atau seorang peternak ayam; ia menyayangi dan mengasihi ayamnya karena ia ingin supaya ayam tersebut memberi manfaat bagi ia. Manfaat yang ayam berikan bisa berupa telur atau daging yang bisa diperjualbelikan dan dikonsumsi untuk keluarga sehari-hari.
Namun Allah tidak begitu. Ia menyayangi dan mengasihi semua makhluk-Nya tanpa alasan dan karena. Allah tidak menyayangi karena ingin mengambil manfaat dari makhluk-Nya atau ingin menolak mudharat. Maka pada pengulangan ar-Rahman dan ar-Rahim ini menunjukkan bahwa Allah sang Rabb yang menyayangi dan mengasihi seluruh makhluk-Nya. Allah menyayangi orang mukmin sehingga ia sanggup dan mampu menjalankan apa yang Ia perintah dan menjauhi apa yang Ia larang. Demikian juga Allah menyayangi orang kafir, sekalipun ia mengingkari-Nya, tetap saja Allah memberi rezeki dan memberi waktu serta kesempatan untuk bertaubat.
فَذَكَرَ الرَّحْمَنَ وَهُوَ الْمُفِيضُ لِلنِّعَمِ بِسَعَةٍ وَتَجَدُّدٍ لَا مُنْتَهَى لَهُمَا، وَالرَّحِيمُ الثَّابِتُ لَهُ وَصْفُ الرَّحْمَةِ لَا يُزَايِلُهُ أَبَدًا.
Kemudian Allah menyebut ar-Rahman yang melimpahkan nikmat dengan keluasan dan pembaruan yang tidak ada batasnya, dan ar-Rahim yang tetap bagi-Nya sifat rahmah yang tidak pernah meninggalkannya selamanya.
Allah swt. menyebut ar-Rahman sebagai bukti tarbiyah-Nya karena Ia ingin menjelaskan bahwa kasih sayang Allah begitu luas tanpa batas dan tidak pernah menemukan batas akhir. Kemudian Allah swt. juga menyebut ar-Rahim sebagai bukti tarbiyah-Nya karena Ia ingin menjelaskan bahwa kasih sayang Allah akan selalu melekat pada makhluk-Nya, dimanapun dan kapanpun.
Sebab itulah, kita sebagai hamba Allah tidak layak beranggapan tidak ada yang menyayangi atau mencintai kita dengan tulus. Buktinya, sejak kita berbentuk setetes mani sampai hari ini berbentuk manusia dengan sempurna tidak pernah lepas dari kasih sayang Allah; berupa makanan yang setiap hari kita makan, minuman yang setiap hari kita minum, udara yang setiap hari kita hirup, dan yang lainnya.
فَكَأَنَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ أَنْ يَتَحَبَّبَ إِلَى عِبَادِهِ، فَعَرَّفَهُمْ أَنَّ رُبُوبِيَّتَهُ رُبُوبِيَّةُ رَحْمَةٍ وَإِحْسَانٍ لِيَعْلَمُوا أَنَّ هَذِهِ الصِّفَةَ هِيَ الَّتِي رُبَّمَا يَرْجِعُ إِلَيْهَا مَعْنَى الصِّفَاتِ، وَلِيَتَعَلَّقُوا بِهِ وَيُقْبِلُوا عَلَى اكْتِسَابِ مَرْضَاتِهِ، مُنْشَرِحَةً صُدُورُهُمْ، مُطْمَئِنَّةً قُلُوبُهُمْ.
Seolah-olah Allah Ta'ala ingin menarik hati seluruh hamba-Nya kepada-Nya, maka Ia memperkenalkan kepada mereka bahwa rububiyyah-Nya adalah rububiyyah rahmah dan ihsan agar mereka mengetahui bahwa sifat ini seringkali menjadi rujukan makna sifat-sifat, dan agar mereka bergantung kepada-Nya dan mengharap perolehan ridha-Nya dengan dada yang lapang dan hati yang tenang. (Tafsir al-Manar, I: 43)
Dengan pengulangan ar-Rahman dan ar-Rahim ini seolah Allah ingin membuat hati kita yakin dan tenang, bahwa sudah seharusnya kita memasrahkan semua urusan hanya kepada-Nya. Hanyalah Allah sebagai Rabb yang lihai dan pandai dalam mengurus semua urusan kita; sebab sejak pertama kita menyerahkan urusan kepada-Nya, sekalipun kita tak akan pernah menyapa kekecewaan dan kesedihan hati.
Menciptakan ar-Rahim Pada Diri
Sebagaimana yang sudah dijelaskan pada pembahasan yang lalu bahwa ar-Rahman berkaitan dengan sifat Allah, sehingga lafazh ar-Rahman tidak boleh disandarkan kepada seorang pun. Adapun ar-Rahim berkaitan dengan perbuatan Allah, sehingga dari lafazh ar-Rahim ini mengajarkan dan mendorong kita untuk berbuat ar-Rahim; menyayangi semua semesta.
A. Zakaria menjelaskan bahwa ar-Rahim ada dua macam. Pertama, ar-Rahim (kasih sayang) secara langsung. Seperti seorang ibu yang mencintai bayi yang ada dalam kandungannya, ia tidak mengetahui bagaimana bentuk wajahnya, jenis kelaminnya, dan ia pun belum pernah bertemu dengan bayi yang dikandungnya itu. Namun, seorang ibu begitu menyayangi bayi tersebut dengan sangat. Maka inilah yang dimaksud ar-Rahim secara langsung.
Kedua, ar-Rahim secara tidak langsung (menyayangi karena ada alasan tertentu). Seperti seorang anak yang mencintai ibunya, ia mencintai ibunya karena ia merasakan langsung bagaimana kasih sayang yang sang ibu berikan kepadanya, sejak dalam kandungan sampai tumbuh menjadi manusia dewasa. Maka inilah yang dimaksud dengan ar-Rahim secara tidak langsung.
Hikmah dari pembagian ar-Rahim ini untuk mendorong kita supaya menjadi makhluk Allah yang menyayangi semesta, sebagaimana Allah yang ar-Rahim kepada seluruh semesta. Hal ini sebagaimana perintah Rasulullah saw. kepada kita semua sebagai umatnya berikut:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ، الرَّحِمُ شِجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللهُ.
Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Orang yang penyayang itu akan disayangi Allah, maka sayangilah oleh kalian yang ada di bumi niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian. Sesungguhnya rahim itu syijnah (daun pohon yang rindang) dari ar-Rahman. Barangsiapa yang menyambungkannya, niscaya Allah akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah pun akan memutuskannya." (Hr. at-Tirmidziy, Sunan at-Tirmidziy, III: 483, no. 1924)
Hadits di atas merupakan perintah kepada kita supaya menjadi makhluk Allah yang penyayang kepada siapapun dan apapun yang ada di muka bumi ini, termasuk kepada orang kafir. Sehingga kelak Allah pun dengan niscaya akan menyayangi siapapun yang menjadi sosok penyayang.
قَالَ ابْنُ أَبِيْ جَمْرَةَ: اَلْوَصْلُ مِنَ اللَّهِ كِنَايَةٌ عَنْ عَظِيْمِ إِحْسَانِهِ. وَكَذَا الْقَوْلُ فِي الْقَطْعِ، هُوَ كِنَايَةٌ عَنْ حِرْمَانِ الْإِحْسَانِ.
Ibnu Abi Jamrah berkata: "Allah menyambung itu maksudnya kinayah (bahasa kiasan) dari besarnya kebaikan yang Allah berikan. Demikian juga ungkapan Allah memutuskan itu maksudnya kinayah dari terputusnya kebaikan Allah." (Fath al-Bari, X: 430)
Silaturahmi (Menyambungkan Kasih Sayang)
Sudah tidak asing lagi ungkapan silaturahin di kalangan kita. Namun pemaknaan dan pemahaman silaturahmi yang kerapkali keliru; seperti kebiasaan anggapan bahwa silaturahmi maknanya ialah berjabat tangan, ketemuan, makan bersama, bertamu, dan lain sebagainya. Pada pembahasan kali ini, kita coba uraikan dengan singkat apa dan bagaimana silaturahmi yang disyariatkan itu.
Silaturahmi ialah ungkapan bahasa Arab yang berasal dari dua kata, yaitu as-Shilah dan ar-Rahim. Perhatikan definisi dari kedua lafazh tersebut berikut:
صِلَةٌ: اِتِّحَادُ الْأَشْيَاءِ بَعْضِهَا بِبَعْضٍ.
Mempersatukan sebagian sesuatu dengan sebagian lainnya. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 873)
الرَّحِمُ: رَحِمُ الْمَرْأَةِ، وَامْرَأَةٌ رَحُوْمٌ تَشْتَكِيْ رَحِمَهَا. وَمِنْهُ اسْتُعِيْرَ الرَّحِمُ لِلْقَرَابَةِ، لِكَوْنِهِمْ خَارِجِيْنَ مِنْ رَحِمٍ وَاحِدَةٍ.
Ar-Rahim adalah rahim perempuan dan yang suka terasa sakit (ketika haid). Dipinjam lafazh ar-Rahim untuk orang-orang terdekat/kerabat karena keadaan mereka sama-sama keluar dari satu rahim. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Hal. 347)
Silaturahmi merupakan bagian dari syariat Allah yang hukumnya wajib kita laksanakan, sebagaimana firman-Nya berikut:
وَاتَّقُوْا اللَّهَ الَّذِيْ تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengannya kamu saling meminta satu sama lain dan jagalah silaturahim. (Qs. an-Nisa [4]: 1)
وَقَالَ الضَّحَّاكُ: وَاتَّقُوْا اللَّهَ الَّذِيْ بِهِ تَعَاقَدُوْنَ وَتَعَاهَدُوْنَ، وَاتَّقُوْا الْأَرْحَامَ أَنْ تَقْطَعُوْهَا، وَلَكِنْ بِرُّوْهَا وصِلُوْهَا.
Ad-Dhahak berkata: "Bertaqwalah kalian kepada Allah yang kalian telah berjanji dan berikrar dengan menyebut nama-Nya dan jagalah silaturahmi, janganlah kalian memutuskannya, akan tetapi berbuat baiklah dan silaturahmilah kalian." (Tafsir Ibnu Katsir, II: 206)
Ayat di atas jelas bagi kita bahwa menjaga silaturahmi ialah kewajiban bukan pilihan. Silaturahmi itu bukan dasar orang lain menyayangi kita, lalu kita pun menyayanginya; atau bukan dasar orang lain tidak menyayangi kita, lalu kita pun bersikap demikian. Allah swt. mengajarkan kepada kita bahwa silaturahmi itu tidak kaitannya dengan sikap orang lain kepada kita, apakah menyayangi atau justru membenci. Adapun cara silaturahmi atau menyambungkan kasih sayang itu beragam bentuknya. Perhatikanlah penjelaskan berikut:
قَالَ الْقُرْطُبِيُّ: إِنَّ الرَّحِمَ الَّتِي تُوصَلُ عَامَّةٌ وَخَاصَّةٌ، فَالْعَامَّةُ رَحِمُ الدِّينِ وَتَجِبُ مُوَاصَلَتُهَا بِالتَّوَادُدِ وَالتَّنَاصُحِ وَالْعَدْلِ وَالْإِنْصَافِ وَالْقِيَامِ بِالْحُقُوقِ الْوَاجِبَةِ وَالْمُسْتَحَبَّةِ. وَأَمَّا الرَّحِمُ الْخَاصَّةُ فَتَزِيدُ النَّفَقَةَ عَلَى الْقَرِيبِ وَتَفَقُّدِ أَحْوَالِهِمْ وَالتَّغَافُلِ عَنْ زَلَّاتِهِمْ.
Al-Qurthubiy berkata: "Sesungguhnya rahim itu disambungkan secara umum dan khusus. Secara umum, rahim dalam agama dan wajib menyambungkannya dengan saling menyayangi, saling menasihati, berlaku adil, bersikap jujur, dan menunaikan hak-haknya yang wajib dan sunat. Adapun secara khusus yaitu memberi tambahan nafkah kepada kerabat, memperhatikan keadaannya, dan saling memaafkan kesalahannya." (Fath al-Bariy, X: 432)
Dari keterangan di atas dapat kita bayangkan, betapa indahnya kehidupan ini bila dua insan saling menyayangi, bila dua suku saling menyayangi, bila dua keluarga saling menyayangi. Sebab dengan terwujudnya silaturahmi akan terwujudnya kasih sayang Allah di antara kita semua, sebagaimana penuturan al-Hilaliy berikut:
صِلَةُ الْأَرْحَامِ سَبَبٌ فِيْ رَحْمَةِ اللهِ لِعِبَادِهِ، وَسَبَبٌ فِيْ ظُهُوْرِ الْخَيْرِ بَيْنَ النَّاسِ.
Silaturahmi adalah sebab turunnya rahmat Allah terhadap hamba-Nya dan sebab nampaknya kebaikan di antara manusia. (Bahjah an-Nazhirin, I: 358)