SENI MEMIMPIN DENGAN KETELADAN, LEAD BY EXAMPLE

5 Jun 2026

USWAH HASANAH DALAM KEPEMIMPINAN

Meneladani praktik terbaik dari Rasulullah ﷺ dan para Khulafā’ ar-Rāsyidīn bukan sekadar mengagungkan sejarah, tetapi merupakan upaya menghadirkan nilai-nilai kepemimpinan Qur’ani ke dalam realitas jam’iyah sepanjang zaman. Kepemimpinan mereka lahir dari wahyu, dibentuk oleh Sunnah, dan dimatangkan melalui keteladanan langsung Rasulullah ﷺ dalam mengelola umat, membina jamaah, dan memimpin masyarakat dengan hikmah.

Rasulullah ﷺ menjadi fondasi utama seluruh corak kepemimpinan Islam. Dari beliau terpancar kelembutan yang menenteramkan umat, ketegasan yang menjaga prinsip, keadilan yang menempatkan segala sesuatu pada porsinya, serta kasih sayang yang melampaui sekat sosial dan kepentingan golongan. Kepemimpinan beliau bukan kepemimpinan simbolik, melainkan kepemimpinan yang hadir di tengah umat, mendengar keluhan, merasakan penderitaan, dan mengarahkan langkah jamaah menuju ridha Allah.

Nilai-nilai kepemimpinan tersebut kemudian terwariskan secara nyata dalam kepemimpinan para Khulafā’ ar-Rāsyidīn. Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq r.a. menampilkan kepemimpinan yang berakar pada kelembutan iman dan keteguhan keyakinan. Dalam situasi krisis pasca wafatnya Rasulullah ﷺ, kelembutan beliau tidak menjadikannya lemah, justru menjadi sumber keteguhan dalam menjaga kesatuan jamaah dan kemurnian akidah.

Umar bin al-Khaṭṭāb r.a. menghadirkan warna kepemimpinan yang tegas dan adil. Ketegasannya bukan lahir dari kekerasan, melainkan dari keberanian menegakkan kebenaran dan komitmen tinggi terhadap amanah. Di tangannya, jam’iyah umat tumbuh menjadi kuat, tertib, dan memiliki wibawa, karena hukum ditegakkan tanpa pandang bulu dan kepemimpinan dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Utsman bin ‘Affān r.a. mewarnai kepemimpinan dengan kedermawanan, kesantunan, dan ketulusan. Kepemimpinannya menunjukkan bahwa kekuatan jam’iyah tidak hanya bertumpu pada struktur dan ketegasan, tetapi juga pada kelapangan hati, pengorbanan harta, dan keikhlasan dalam melayani umat. Kedermawanan Utsman r.a. menjadi perekat ukhuwah dan penopang stabilitas jamaah dalam masa pertumbuhan yang pesat.

Adapun Ali bin Abi Thalib r.a. menghadirkan kepemimpinan yang sarat dengan hikmah, keilmuan, dan keadilan. Dalam situasi yang penuh ujian dan konflik internal, Ali r.a. tetap menegakkan prinsip kebenaran tanpa mengorbankan nilai moral dan integritas kepemimpinan. Kepemimpinannya mengajarkan bahwa jam’iyah harus berdiri di atas keadilan, meskipun jalan tersebut tidak selalu mudah dan populer.

Dengan demikian, kepemimpinan Rasulullah ﷺ dan para Khulafā’ ar-Rāsyidīn menampilkan spektrum nilai yang saling melengkapi: kelembutan yang menguatkan, ketegasan yang menjaga arah, keadilan yang menegakkan amanah, kedermawanan yang merekatkan jamaah, serta kebijaksanaan yang menuntun umat di tengah ujian. Inilah fondasi kokoh bagi setiap jam’iyah yang ingin bertahan, bertumbuh, dan berkontribusi secara bermakna dalam kehidupan umat dan masyarakat.

Jam’iyah yang meneladani kepemimpinan mereka tidak akan terjebak pada kultus individu atau sekadar mekanisme struktural, tetapi akan tumbuh sebagai jamaah yang hidup, dinamis, dan berakar kuat pada nilai-nilai wahyu. Kepemimpinan seperti inilah yang bukan hanya menggerakkan organisasi, tetapi juga membina manusia, menjaga persatuan, dan mengantarkan perjuangan menuju tujuan yang diridhai Allah Ta‘ala. Wallahu A'lam. hanafi anshory.

Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.