SEBUAH REFLEKSI TENTANG NAMA, KARYA, PERSONAL BRANDING, DAN SESUATU YANG LEBIH BESAR DARIPADA DIRI SENDIRI
oleh: Dinda Putra Gemilang (Anggota Pemuda PERSIS Banjaran)
Zaman yang Menuntut Terlihat
Ada satu hal yang semakin sulit dihindari dalam kehidupan hari ini: kita dituntut untuk terlihat.
Di dunia kerja, kita perlu menunjukkan kemampuan. Di media sosial, kita perlu membangun kehadiran. Dalam bisnis, kita perlu membangun merek. Dalam kehidupan profesional, kita perlu membuat orang tahu siapa kita dan apa yang kita kerjakan.
Bahkan sebuah pekerjaan yang baik sering kali belum cukup. Orang perlu tahu bahwa kita yang mengerjakannya. Karena itu kita mengenal istilah personal branding. Membangun nama. Menampilkan keahlian. Membagikan karya. Menunjukkan pencapaian. Membangun jaringan. Menjaga reputasi.
Semua itu bukan sesuatu yang salah. Justru dalam dunia yang semakin terbuka, kemampuan untuk menjelaskan siapa diri kita dan apa yang kita tawarkan menjadi semakin penting.
Tetapi di tengah kebutuhan untuk terlihat itu, saya teringat pada sebuah kalimat yang pernah saya terima dari seorang guru: “Meniadakan diri untuk mewujudkan sesuatu.”
Semakin lama saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa kalimat itu bukan ajakan untuk menghilang. Ia justru mengajak kita bertanya: “Untuk apa sebenarnya kita ingin terlihat?”
Apa yang Sebenarnya Harus Ditiadakan?
Kata meniadakan mungkin terdengar ekstrem. Seolah-olah seseorang harus menghapus dirinya sendiri. Tidak lagi mengejar cita-cita. Tidak perlu dikenal. Tidak boleh menunjukkan kemampuan. Tidak boleh menerima penghargaan. Tidak boleh membangun nama.
Menurut saya, bukan itu maksudnya.
Sebab manusia tetap membutuhkan identitas. Kita membutuhkan ambisi. Kita membutuhkan pengakuan atas kerja yang kita lakukan. Kita juga membutuhkan keberanian untuk menunjukkan kemampuan.
Yang perlu ditiadakan bukan keberadaan diri, melainkan diri sebagai pusat dari segala sesuatu.
Ada perbedaan yang sangat halus antara keduanya.
Seseorang bisa membangun bisnis karena ingin membuktikan bahwa dirinya hebat. Seseorang yang lain bisa membangun bisni karena melihat ada persoalan yang ingin ia selesaikan.
Keduanya sama-sama bekerja keras. Keduanya sama-sama membangun reputasi. Keduanya bahkan mungkin sama-sama berhasil. Tetapi pusat dari keduanya berbeda.
Yang pertama bertanya: “Bagaimana saya bisa menjadi seseorang?”
Yang kedua bertanya: “Apa yang bisa saya wujudkan?”
Di situlah saya memahami bahwa meniadakan diri bukan berarti membuat diri menjadi tidak berarti. Justru sebaliknya.
Diri ditempatkan sebagai alat untuk membuat sesuatu menjadi berarti.
Dan dari sini, persoalannya menjadi menarik ketika kita membawanya ke dalam dunia personal branding.
Personal Branding Tidak Harus Menjadi Musuh
Ada kecenderungan untuk melihat nilai-nilai lama dan budaya baru sebagai dua hal yang harus dipertentangkan.
Di satu sisi ada nasihat: Jangan terlalu menonjolkan diri. Di sisi lain ada tuntutan zaman: Tunjukkan kemampuanmu. Bangun personal brand-mu.
Seolah-olah kita harus memilih salah satunya.
Padahal mungkin masalahnya bukan pada personal branding-nya. Masalahnya adalah apa yang kita jadikan pusat dari personal branding tersebut.
Bayangkan seorang anak muda yang sangat menyukai kopi. Ia belajar tentang kopi selama bertahun-tahun. Ia belajar mengenai biji, proses pascapanen, roasting, brewing, hingga pengalaman minum kopi.
Ada beberapa kemungkinan tujuan yang bisa tumbuh dari perjalanan itu.
Ia bisa berkata: “Saya ingin dikenal sebagai ahli kopi.” Tidak ada yang salah. Tetapi pusat perhatiannya masih berada pada dirinya.
Ia bisa naik satu tingkat: “Saya ingin membangun bisnis kopi yang besar.” Lebih besar, lebih produktif, dan lebih konkret. Namun tetap saja, dirinya masih menjadi pemilik utama dari tujuan tersebut.
Lalu ia bisa melihat persoalannya dari sudut yang berbeda: “Saya ingin membuat lebih banyak orang mendapatkan pengalaman minum kopi yang lebih baik.”
Sekarang sesuatu telah berubah.
Keahlian tetap ada. Bisnis tetap ada. Nama tetap boleh tumbuh. Personal branding tetap dibutuhkan.
Tetapi semuanya menjadi kendaraan. Bukan tujuan akhir.
Dari “Lihat Saya” Menjadi “Lihat Apa yang Sedang Saya Bangun”
Mungkin inilah salah satu perubahan kecil yang perlu terjadi dalam cara kita memahami personal branding.
Personal branding sering dimulai dari: “Lihat saya.” Lalu: “Kenali kemampuan saya.” Kemudian: “Percayalah kepada saya.” Dan akhirnya: “Ikutilah saya.”
Tidak ada yang salah dengan perjalanan tersebut.
Tetapi ada kemungkinan lain.
Setelah orang mengenal kita, pertanyaan berikutnya bukan lagi: “Seberapa besar nama saya?” Melainkan: “Apa yang sedang menjadi lebih besar karena saya?” Ini bukan berarti kita harus merendahkan diri.
Seorang dokter tetap boleh dikenal sebagai dokter yang kompeten. Seorang guru tetap boleh membangun reputasi sebagai guru yang baik. Seorang pengusaha tetap boleh membangun merek pribadi. Seorang seniman tetap boleh menunjukkan karyanya. Seorang profesional tetap perlu menunjukkan track record-nya.
Tetapi ada perbedaan antara menampilkan diri agar orang melihat kita dengan menampilkan diri agar orang dapat melihat sesuatu yang sedang kita perjuangkan.
Yang pertama berhenti pada diri. Yang kedua menggunakan diri sebagai jendela.
Personal Branding yang Melampaui Diri
Di sinilah mungkin kita bisa menemukan bentuk baru dari personal branding.
Bukan personal branding yang menolak keberadaan diri. Tetapi personal branding yang melampaui diri.
Nama kita tetap ada. Wajah kita tetap ada. Keahlian kita tetap ditampilkan. Karya kita tetap dipublikasikan.
Namun perlahan-lahan, perhatian tidak berhenti pada siapa kita. Ia bergerak menuju apa yang kita bawa.
Seorang guru mungkin dikenal bukan hanya karena dirinya sebagai guru, tetapi karena gagasan-gagasan yang membuat murid-muridnya berpikir.
Seorang pengusaha mungkin dikenal bukan hanya karena
kekayaannya, tetapi karena masalah yang berhasil ia pecahkan.
Seorang kreator mungkin dikenal bukan hanya karena jumlah
pengikutnya, tetapi karena perubahan yang muncul dari gagasan yang ia sebarkan.
Seorang pemimpin mungkin dikenal bukan karena seberapa lama namanya disebut, tetapi karena sistem yang tetap berjalan ketika ia sudah tidak berada di sana.
Dalam bentuk seperti ini, popularitas bukan musuh. Pengakuan bukan dosa. Personal branding bukan kesalahan.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai alat berubah menjadi
tujuan.
Sebuah Kompas yang Sederhana
Kalau gagasan ini diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita tidak membutuhkan teori yang terlalu rumit.
Cukup dengan empat pertanyaan.
- Apa yang Saya Bisa?
Kompetensi. Apa yang benar-benar saya kuasai? Apa yang sedang saya pelajari? Apa yang bisa saya kerjakan lebih baik daripada sebelumnya? Tanpa kompetensi, personal branding hanya menjadi kemasan.
- Apakah Orang Tahu Bahwa Saya Bisa?
Visibility. Karya yang tidak pernah terlihat akan sulit menemukan orang yang membutuhkannya.
Karena itu, tampil bukan sesuatu yang harus ditakuti. Bagikan karya. Ceritakan proses. Tunjukkan kemampuan. Bangun reputasi.
Jangan takut menjadi terlihat. Tetapi jangan lupa pertanyaan berikutnya.
- Siapa yang Menjadi Lebih Baik karena Apa yang Saya Bisa
Contribution. Di sini perhatian mulai bergerak keluar dari diri.
Siapa yang terbantu? Masalah apa yang terselesaikan Pengetahuan apa yang berpindah? Kesempatan apa yang terbuka bagi orang lain?
Sebab kemampuan yang hanya berhenti pada pemiliknya akan menjadi prestasi pribadi. Tetapi kemampuan yang berpindah kepada orang lain mulai menjadi kontribusi.
- Apa yang Tetap Hidup Ketika Saya Tidak Lagi Berada di Sana?
Legacy. Tidak harus sesuatu yang monumental.
Bisa berupa murid yang kemudian menjadi guru. Sistem kerja yang tetap berjalan. Bisnis yang terus memberikan manfaat. Gagasan yang terus digunakan. Kebiasaan baik yang diteruskan.
Atau bahkan seseorang yang suatu hari berkata: “Saya belajar sesuatu dari orang itu.”
Pada titik ini, ukuran keberhasilan mulai berubah. Bukan lagi
hanya: “Seberapa banyak orang mengenal saya?” Tetapi: “Seberapa banyak sesuatu menjadi lebih baik karena saya pernah ada?”
Ketika Nama Menjadi Kendaraan
Ada seorang fotografer yang awalnya ingin terkenal.
Ia mengejar jumlah pengikut, mengejar publikasi, mengejar nama besar. Lama-kelamaan ia menemukan bahwa semakin besar namanya, semakin banyak orang meminta jasanya.
Pada suatu titik ia mulai menggunakan kesempatan itu untuk mengajari fotografer muda, membuat kelas murah, membuka akses peralatan, dan membantu orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki kesempatan untuk belajar.
Namanya justru semakin besar. Tetapi orientasinya berubah.
Dulu ia ingin karya-karyanya membuat orang mengenal dirinya. Sekarang ia ingin namanya menjadi pintu agar lebih banyak orang bisa mengenal dunia fotografi.
Namanya tidak hilang. Tetapi fungsi namanya berubah. Dari tujuan menjadi kendaraan.
Barangkali seperti itulah meniadakan diri bekerja. Kita tidak menghilangkan nama. Kita mengubah untuk apa nama itu digunakan.
Meniadakan Diri
Pada akhirnya, saya merasa kalimat “meniadakan diri untuk
mewujudkan sesuatu” justru menjadi semakin relevan di zaman ketika semua orang memiliki kesempatan untuk terlihat.
Karena persoalannya hari ini bukan lagi bagaimana menjadi terlihat. Kita sudah memiliki cukup banyak alat untuk itu.
Persoalan yang lebih sulit adalah: “Setelah kita terlihat, apa yang ingin kita wujudkan?”
Kita boleh membangun nama. Boleh membangun reputasi. Boleh menunjukkan pencapaian. Boleh memiliki ambisi. Boleh menjadi pemimpin. Boleh bahkan menjadi sangat terkenal.
Tetapi mungkin ada satu hal yang perlu terus diperiksa: “Apakah semua itu sedang memperbesar diri kita, atau sedang memperbesar sesuatu yang kita anggap penting?”
Sebab ada perbedaan antara orang yang ingin memiliki panggung dan orang yang menggunakan panggung untuk menyampaikan sesuatu.
Ada perbedaan antara orang yang ingin dikagumi dan orang yang ingin membuat gagasannya bekerja.
Ada perbedaan antara orang yang ingin namanya terus disebut dan orang yang ingin apa yang dibangunnya terus hidup.
Mungkin meniadakan diri bukan tentang menjadi kecil. Justru mungkin ia adalah keberanian untuk menyadari bahwa kita tidak harus selalu menjadi pusat dari sesuatu yang kita perjuangkan.
Kita boleh terlihat. Tetapi jangan menjadikan keterlihatan sebagai tujuan.
Kita boleh memiliki nama. Tetapi jangan sampai nama menjadi alasan utama kita berkarya.
Kita boleh membangun diri. Tetapi pada akhirnya, diri itu sebaiknya menjadi alat untuk membangun sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.
Karena mungkin, ukuran terbesar dari sebuah nama bukanlah berapa lama nama itu disebut setelah kita pergi.
Melainkan: berapa lama sesuatu yang kita perjuangkan tetap
hidup setelah nama kita tidak lagi disebut.
Dan mungkin di sanalah makna meniadakan diri untuk mewujudkan sesuatu menemukan bentuknya yang paling sederhana:
bukan menghilangkan diri, tetapi berhenti menjadikan diri sebagai tujuan akhir.