SAHABAT MENCURI TABIAT Perbandingan antara Semerbak Wangi dan Percikan Api
Oleh: Rifqy Fathin al-Bukhari (Anggota Pemuda PERSIS Bojongsoang)
إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ، وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يَحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً.
Sesungguhnya perumpamaan teman dekat yang shaleh dan teman dekat yang buruk adalah seperti penjual parfum dan tukang pandai besi. Seorang penjual parfum terkadang mengoleskan wanginya kepadamu dan terkadang kamu membelinya sebagian atau kamu dapat mencium semerbak harumnya minyak wangi itu. Sementara tukang pandai besi adakalanya ia membakar pakaianmu ataupun kamu akan mencium baunya yang tidak sedap. (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, III: 63, no. 2101)
Sering kita temukan dalam teks al-Quran ataupun hadits berupa amtsal (perumpamaan). Sejatinya amtsal bukan semata penghias kata, tetapi juga pemberi makna yang menakjubkan dan pelajaran yang sangat berarti. Amtsal digunakan untuk 2 perkara:
Pertama, untuk mendekatkan makna yang asing. Sesuatu yang asing dari pembicaraan akan sulit dijelaskan dan dipahami, sehingga amtsal berfungsi untuk menjembatani makna yang asing supaya mudah untuk dipahami.
Kedua, untuk menjelaskan makna yang samar. Sejatinya firman Allah swt. atau sabda Rasulullah saw. tidak mungkin menyampaikan sesuatu yang bermakna samar. Dikatakan samar karena keterbatasan kemampuan akal dalam menjangkau makna yang dimaksud, sehingga amtsal di sini dapat lebih mudah dipahami oleh akal manusia.
Penggunaan amtsal memiliki fungsi yang sangat penting dalam pendidikan dan pengajaran. Banyak makna yang sulit dijelaskan dengan uraian panjang, tetapi dapat dipahami dengan mudah melalui sebuah gambaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Maka seringkali Allah swt. dan Rasulullah saw. menyertakan amtsal dengan tujuan demikian.
Pada hadits yang termaktub di atas, Rasulullah saw. menyerupkaan teman yang shaleh dengan tukang parfum. Bila suatu hal disamakan dengan suatu hal lainnya, berarti ada persamaan antara keduanya. Lalu apa persamaan antara teman yang shaleh dengan tukang parfum?
وقد شبهه الرسول صلى الله عليه وسلم ببائع الطيب الذي ينفحك بعطره، ويغمرك بنشره، فإما أن يهديك، وإما أن تجد عنده ريحا طيبة؛ فأنت معه في ربح دائم ونشوة غامرة.
Sesungguhnya Rasul saw. telah menyerupakan teman dekat yang baik dengan penjual minyak wangi yang memberimu semerbak harumnya minyak wangi dan membuatmu terlena dengan aromanya, adakalanya dia menghadiahkanmu atau kamu dapat mencium semerbak harumnya minyak wangi itu; maka kamu bersamanya berada dalam keberuntungan yang abadi dan kesenangan yang melimpah. (Min Kunuuz as-Sunnah, Hal. 35)
Apabila anda bergaul atau berkawan dengan tukang parfum, ia akan menghadiahkan parfum kepada anda. Sekalipun ia tidak menghadiahkan parfum, tentu anda akan mendapatkan wanginya parfum itu. Demikian juga bila anda bergaul dengan teman yang shaleh, ia akan menularkan keshalehannya, walaupun hanya sedikit. Artinya, sedikit banyaknya keshalehan teman anda akan berdampak kepada keshalehan diri anda. Semakin sering dan lama berjumpa dan berbincang dengan tukang parfum, maka anda akan semakin harum. Demikian juga dengan al-Jalis as-Shalih. Lalu siapakah al-Jalis as-Shalih itu?
فالجليس الصالح هو الذي ترتاح إليه نفسك، ويطمئن به فؤادك وتنتعش روحك. تطرب لحديثه وتنعم بمجالسته، وتسعد بصحبته، إنه عدة في الرخاء، وزينة في الشدة، وبلسم في الفؤاد وراحة النفس.
Teman dekat yang baik ialah orang yang membuat jiwa merasa senang kepadanya, hatimu merasa tenang dengannya, dan ruhmu (seolah) menjadi hidup kembali. Kamu merasa senang dengan ucapannya, kamu merasa nikmat berkumpul dengannya, kamu merasa bahagia bersahabat dengannya. Sesungguhnya dia ialah penopang di saat senang, pelipur lara di saat susah, penawar bagi hati, dan penghibur bagi jiwa. (Min Kunuuz as-Sunnah, Hal. 35)
Uraian di atas merupakan teman shaleh sejati; ketika anda bersamanya seolah surga terasa dekat dan neraka terasa jauh. Teman seperti itu tidak boleh lepas dari genggaman anda. Jangan biarkan lisan dan sikap anda membuatnya kecewa dan sakit hati, sehingga ia meninggalkan anda. Sebab mempunyai al-Jalis as-Shalih merupakan anugerah istimewa yang Allah hadirkan dan berikan, serta patut disyukuri dengan cara membersamainya sampai akhir hayat.
Bergaul dengan teman shaleh begitu banyak manfaat dan kebaiakan yang bisa diwujudkan. Anda akan bertumbuh dalam kebaikan dan keshalehan. Anda tidak akan menemukan kerugian ketika duduk bersamanya. Terkadang ia memberi nasehat secara langsung; ia mengajarkan ilmu, menolong dengan tindakan nyata dan tanpa pamrih. Bahkan ketika ia tidak berbicara sekalipun, akhlaknya yang terpuji dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang di sekitarnya. Keberadaannya saja sudah membawa manfaat, apalagi semua tindak-tanduknya.
Lebih jauh lagi, teman yang shaleh memiliki pengaruh yang sering kali tidak anda sadari. Manusia cenderung meniru orang yang sering ia lihat dan kagumi. Ketika seseorang berteman dengan orang yang rajin beribadah, cinta ilmu, menjaga lisan, dan berakhlak mulia, sedikit demi sedikit sifat-sifat tersebut akan meresap ke dalam dirinya.
Awalnya mungkin hanya kekaguman, kemudian menjadi kebiasaan, dan akhirnya berubah menjadi karakter. Inilah yang dimaksud dengan semerbak wangi. Keharuman itu tidak hanya tercium, tetapi juga melekat dan menyatu dengan diri seseorang.
Sebaliknya, teman yang buruk diumpamakan tak ubahnya seperti tukang pandai besi. Dalam lingkungan kerja seorang pandai besi terdapat api, asap, percikan bara, dan bau yang tidak disukai. Orang yang berada di dekatnya selalu terancam oleh bahaya. Pakaiannya bisa terbakar, tubuhnya bisa terkena percikan api, atau setidaknya ia akan membawa pulang bau yang tidak enak. Rasulullah saw. mengumpamakan hal ini untuk menunjukkan bahwa teman yang buruk hampir selalu membawa dampak negatif, baik besar maupun kecil.
أما جليس السوء فليس هناك أبلغ من تشبيهه بالحداد الذي ينفخ بكيره، فأنت معه في خسارة دائمة، فإن لم يحرقك بناره، أحرقك بشراره؛ فصحبته هم دائم، حزن لازم.
Adapun teman dekat yang buruk, maka di sana tidak ada yang lebih jelas dari perumpaannya dengan tukang pandai besi yang meniup besinya, maka kamu bersamanya dalam kerugian yang abadi. Jika dia tidak membakarmu dengan api besi, niscaya dia membakarmu dengan percikan apinya; maka bersahabat dengannya ialah kecelakaan yang abadi dan duka cita yang terus-menerus. (Min Kunuuz as-Sunnah, Hal. 35)
الأدباء يقولون: من جالس جانس؛ لأن النفس تقتبس الخير أو الشر من الجلساء؛ ولهذا أمر الباري تبارك وتعالى بصحبة الصالحين: "اتقوا الله وكونوا مع الصادقين".
Ulama ahli adab berkata: “Barangsiapa yang bergaul, niscaya akan serupa; karena sesungguhnya jiwa itu akan memperoleh kebaikan atau keburukan dari teman dekatnya; karenanya, Allah Tabaraka wa Ta’ala memerintahkan untuk bersahabat dengan orang-orang shaleh: “Bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!” (Min Kunuuz as-Sunnah, Hal. 36)
Alhasil, teman ialah cermin yang diam-diam memantulkan warna kehidupan. Jika ia laksana minyak wangi, harum akhlaknya akan meresap tanpa disadari; jika ia laksana percikan api, panas keburukannya perlahan menghanguskan hati; bersamanya surga terasa dekat dan neraka terasa jauh.