PRINSIP “SAMI’NA WA ATHA’NA” DALAM BUDAYA JAM’IYAH
oleh: Hanafi Anshory, S.Pd.I, M.Pd (Ketua PD Pemuda PERSIS Kab Bandung)
Prinsip ini sangat penting untuk menjaga soliditas, kedisiplinan, dan keberkahan kepemimpinan.
وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا.
"Mereka berkata: Kami mendengar dan kami taat. Ampunilah kami wahai Tuhan kami." [1]
(وَقالُوا سَمِعْنا وَأَطَعْنا) فِيهِ حَذْفٌ، أَيْ سَمِعْنَا سَمَاعَ قَابِلِينَ. وَقِيلَ: سَمِعَ بِمَعْنَى قَبِلَ، كَمَا يُقَالُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَلَا يَكُونُ فِيهِ حَذْفٌ. وَعَلَى الْجُمْلَةِ فَهَذَا الْقَوْلُ يَقْتَضِي الْمَدْحَ لِقَائِلِهِ. وَالطَّاعَةُ قَبُولُ الْأَمْرِ.
Firman-Nya: “Mereka berkata: ‘Kami mendengar dan kami taat’”, di dalamnya terdapat penghilangan (lafaz) yang dipahami, yaitu maknanya: kami mendengar dengan pendengaran orang-orang yang menerima. Ada pula yang berpendapat bahwa kata “mendengar” di sini bermakna menerima, sebagaimana ungkapan: “Allah mendengar orang yang memuji-Nya”; dengan demikian, tidak ada penghilangan lafaz di dalamnya. Secara keseluruhan, ungkapan ini mengandung pujian bagi orang yang mengucapkannya. Adapun ketaatan adalah menerima dan melaksanakan perintah.[2]
Imam at-Tirmidzi pada kitab Sunan-nya dalam Abwab al-Jihad ‘an Rasulillah Saw. salahsatunya membuat judul bab:
بَابُ مَا جَاءَ لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ.
" Bab tentang ketentuan bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah."
Adapun hadis yang beliau tulis adalah sebagai berikut:
عن ابن عُمرَ، قال رَسولُ الله صلى الله عليه وسلم: "السَّمْعُ والطَّاعةُ على المرءِ المُسْلمِ فِيما أحَبَّ وكَرِهَ ما لم يُؤْمَرْ بِمَعْصيةٍ، فإنْ أُمِرَ بِمَعْصيةٍ، فلا سَمْعَ عَليْهِ ولا طَاعةَ."
Dari Ibnu ‘Umar r.a., Rasulullah ﷺ bersabda: “Mendengar dan menaati (pemimpin) adalah kewajiban atas setiap Muslim dalam perkara yang ia sukai maupun yang ia benci, selama ia tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila ia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan tidak pula menaati.” [3]
وَفِيهِ أَنَّ الْإِمَامَ إِذَا أَمَرَ بِمَنْدُوبٍ أَوْ مُبَاحٍ وَجَبَ.
Di dalamnya terdapat penjelasan bahwa apabila imam memerintahkan suatu perbuatan yang bersifat sunah atau mubah, maka ketaatan terhadapnya menjadi wajib. [4]
Integrasi dalam Budaya Jam’iyah. Prinsip sami’na wa atha’na bukanlah ketaatan buta, tetapi:
1. Taat dalam kebaikan
2. Saling menasihati bila ada kesalahan
3. Menjaga wibawa pemimpin
4. Mengutamakan persatuan daripada ego pribadi
5. Menjadikan syariat sebagai batas tertinggi
Ini selaras dengan konsep kepemimpinan Islam: al-ittiba‘ fi al-ma‘ruf, yaitu taat dalam kebaikan yang sesuai dengan dalil. Wallahu A'lam,
Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.

[1] QS. Al-Baqarah 2:285.
[2] Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Aḥmad al-Anṣārī al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, VI: 109. Dār al-Kutub al-Miṣriyyah – Kairo. Cet.ke-2, 1384 H / 1964 M. 20 juz.
[3] Hr. Abū ‘Īsā Muḥammad bin ‘Īsā bin Saurah at-Tirmiżī (209–279 H), Al-Jāmi‘ al-Kabīr “Sunan at-Tirmiżī”: III: 503: 1803, Dār ar-Risālah al-‘Ālamiyyah. Cet.ke-1, 1430 H – 2009 M. 6 juz; pada catatan kaki dari hadis tersebut disampaikan: “Haditsun shahiihun” (hadis ini shahih) dan meriwayatkannya al-Bukhari (2955), Muslim (1837), Abu Dawud (2626), Ibn Majah (2864), an-Nasa-i (VII: 160), termasuk pada “Musnad Ahmad” (4668).
[4] Abū al-‘Alā’ Muḥammad ‘Abd ar-Raḥmān bin ‘Abd ar-Raḥīm al-Mubārakfūrī (1353 H), Tuhfat al-Aḥwadzī bi Syarḥ Jāmi‘ at-Tirmidzī, V: 299. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah – Beirut, tt. 10 Jilid.