POLITISASI DIAM-DIAM, LINGKARAN KEKUASAAN, DAN HILANGNYA INDEPENDENSI DAKWAH
oleh: Cepi Hamdan Rafiq, S.Th.I,. M.Pd
Ada sesuatu yang patut dikhawatirkan dalam kehidupan organisasi dakwah hari ini: bukan ketika sebuah ormas secara terang-terangan menjadi kendaraan politik, melainkan ketika proses politisasi berlangsung perlahan, halus, dan nyaris tidak disadari oleh para aktivisnya.
Ia tidak selalu datang membawa bendera partai. Tidak selalu berbicara tentang suara, jabatan, atau kontestasi politik. Kadang ia datang dalam bentuk yang jauh lebih lembut: silaturahmi, bantuan, undangan, fasilitas, akses, penghormatan, kedekatan personal, bahkan persahabatan.
Pada awalnya semua tampak biasa.
Tetapi kedekatan yang terus-menerus dapat melahirkan rasa sungkan. Rasa sungkan dapat memengaruhi cara seseorang menilai persoalan. Pengaruh dapat membentuk keberpihakan. Keberpihakan yang terus dipelihara dapat berubah menjadi ketergantungan. Dan ketika ketergantungan mulai mengganggu keberanian untuk mengatakan yang benar, independensi dakwah sedang berada dalam bahaya.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: kapan hubungan berubah menjadi pengaruh, dan kapan pengaruh berubah menjadi ketundukan?
Dakwah Boleh Dekat dengan Kekuasaan, Tetapi Tidak Boleh Kehilangan Kemerdekaan
Islam tidak mengajarkan dakwah untuk memusuhi kekuasaan hanya karena ia adalah kekuasaan. Penguasa tetap manusia yang membutuhkan nasihat, peringatan, dan dukungan untuk menegakkan kemaslahatan. Organisasi dakwah pun boleh berdialog, bekerja sama dalam kebaikan, menyampaikan aspirasi, bahkan hadir di ruang-ruang kekuasaan untuk membawa nilai-nilai Islam.
Tetapi ada batas yang tidak boleh hilang: dakwah harus tetap menjadi penyeru kebenaran, bukan pemberi legitimasi kepada siapa pun yang sedang berkuasa. Sebab amar ma‘ruf nahi munkar akan kehilangan makna apabila keberaniannya bergantung pada siapa yang menjadi objeknya. Allah berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 104)
Perhatikan: ayat itu tidak mengatakan bahwa amar ma‘ruf nahi munkar hanya dilakukan kepada orang yang tidak memiliki kekuasaan. Kebenaran tetap harus disebut benar, dan kemungkaran tetap harus disebut mungkar, siapa pun pelakunya.
Karena itu, persoalannya bukan: “Apakah kita dekat dengan penguasa?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah setelah dekat dengan penguasa, kita masih berani mengatakan bahwa penguasa bisa salah?”
Politisasi yang Paling Berbahaya Justru yang Tidak Terlihat
Politisasi terbuka relatif mudah dikenali. Ketika organisasi secara resmi menjadi bagian dari kepentingan politik tertentu, publik dapat membaca arahnya dan menilai sikapnya yang lebih berbahaya adalah politisasi yang tidak pernah diakui sebagai politisasi, ia tumbuh melalui relasi personal.
Seorang tokoh politik mulai dekat dengan pimpinan. Ia hadir dalam berbagai kegiatan. Membantu program. Memberi perhatian. Menjadi tamu kehormatan. Membuka akses. Mendukung agenda tertentu. Perlahan-lahan ia bukan sekadar dikenal, tetapi mulai dipercaya. Dari sini pengaruh bisa bekerja tanpa perlu satu pun instruksi tertulis. Informasi tertentu lebih cepat dipercaya karena datang dari orang dekat. Pendapat tertentu lebih mudah diterima karena disampaikan oleh orang yang dianggap berjasa. Kebijakan tertentu lebih mudah dimaklumi karena ada hubungan baik di belakangnya.
Pada tahap tertentu, organisasi masih merasa independen. Tidak ada surat keputusan yang menyatakan keberpihakan. Tidak ada deklarasi politik. Tidak ada perubahan AD/ART. Tetapi cara melihat masalah telah berubah. Cara memilih kata telah berubah, Cara menyikapi penguasa telah berubah dan yang paling berbahaya: keberanian moral mulai berubah. Inilah bentuk politisasi yang paling sulit dideteksi. Politisasi yang paling efektif adalah politisasi yang membuat orang yang dipengaruhi tetap merasa dirinya independen.
Ketika Lingkaran Kepemimpinan Menjadi Pintu Masuk Pengaruh
Di sinilah persoalan al-biṭānah menjadi penting. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ، وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ، إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ: بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْخَيْرِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالسُّوءِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ...
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi atau mengangkat seorang khalifah, kecuali ia memiliki dua kelompok dekat: kelompok yang menyuruhnya kepada kebaikan dan mendorongnya kepadanya, dan kelompok yang menyuruhnya kepada keburukan dan mendorongnya kepadanya...” (HR. al-Bukhārī, no. 6611 dan 7198).
Hadis ini menyentuh satu persoalan kepemimpinan yang sangat mendasar: siapa yang berada di sekitar seorang pemimpin akan memengaruhi apa yang ia lihat, apa yang ia dengar, dan pada akhirnya bagaimana ia memutuskan. Maka persoalan kepemimpinan bukan hanya, siapa yang duduk di kursi pimpinan? Tetapi juga:
- Siapa yang duduk di sekitar pikirannya?
- Siapa yang menyuplai informasi?
- Siapa yang menjelaskan suatu persoalan kepadanya?
- Siapa yang menentukan mana yang dianggap penting?
- Siapa yang paling sering didengar?
- Siapa yang membuat seorang pemimpin merasa aman?
- serta siapa yang berani mengatakan kepadanya bahwa keputusannya keliru?
Pemimpin yang dikelilingi orang-orang yang selalu membenarkan akan kehilangan cermin. Ia mungkin masih memiliki banyak informasi, tetapi tidak lagi memiliki cukup ruang untuk menguji dirinya sendiri. Karena itu, lingkaran kepemimpinan yang sehat bukanlah lingkaran yang selalu setuju, tetapi lingkaran yang tetap jujur ketika berbeda.
Dakwah Tidak Boleh Menjadi Humas Kekuasaan
Tentu saja, menjaga independensi bukan berarti organisasi harus menjadi oposisi terhadap setiap kebijakan pemerintah.
- Tidak semua kebijakan harus ditentang.
- Tidak semua pejabat harus dicurigai.
- Tidak setiap pertemuan adalah kompromi.
- Tidak setiap kerja sama adalah pengkhianatan.
Tetapi organisasi dakwah harus memiliki satu kemampuan yang tidak boleh hilang
- kemampuan untuk berkata “ya” ketika benar, dan berkata “tidak” ketika salah.
- Maslahat tidak boleh dijadikan kata yang membungkam prinsip.
- Persatuan tidak boleh dijadikan alasan untuk menutup semua kritik.
- Adab tidak boleh berubah menjadi ketakutan.
- Silaturahmi tidak boleh berubah menjadi ketergantungan.
dan kedekatan tidak boleh menghapus jarak kritis. Dekati kekuasaan untuk menasihatinya, bukan untuk bergantung kepadanya.
Lima Pertanyaan untuk Menguji Independensi Organisasi
Mungkin kita semua perlu berhenti sejenak dan bertanya:
- Apakah kita masih berani mengkritik kekuasaan ketika ia salah?
- Apakah standar moral kita tetap sama ketika pelakunya adalah orang yang dekat dengan kita?
- Apakah keputusan organisasi lahir dari syura, ilmu, dan maslahat, atau terlalu banyak dipengaruhi hubungan personal?
- Apakah kader bebas berbeda pendapat, atau kritik mulai dicap sebagai ketidakloyalan?
- Dan yang paling penting: Jika suatu hari akses, fasilitas, bantuan, dan kedekatan itu hilang, apakah prinsip organisasi akan tetap sama?
Pertanyaan terakhir mungkin sederhana, tetapi sangat jujur. Kalau hilangnya akses membuat prinsip ikut berubah, jangan-jangan yang selama ini dipertahankan bukan prinsip, tetapi akses itu sendiri.
Kutawaringin, 15 September 2026
Alfaqir ila-Allah