PEMIMPIN YANG DIPIMPIN

21 Apr 2026

Islam mengatur kehidupan dari A sampai Z, dari hal yang terkecil sampai yang terbesar,  dari yang zhahir sampai yang bathin, dari urusan dunia sampai urusan akhirat. Tidak ada aturan yang seperti ini melainkan aturan yang dibuat oleh Allah yang Maha Sempurna. Urusan tidur, makan, masuk kamar mandi dan lain-lainnya semuanya ada aturannya yang mana aturan tersebut jika diamalkan akan bernilai ibadah. Apalagi urusan pemimpin, yang dipimpin dan kepemimpinan yang memang ranah dan koridornya teramat penting, besar, luas dan dalam. Oleh karena itu, Islam dengan quran dan haditsnya hadir untuk mengatur urusan tersebut. Satu ayat saja yang begitu mendalam tentang urusan ini, yaitu Allah swt berfirman dalam surat an-nisa ayat 59:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, taátilah Allah dan taátilah Rasul (Nabi Muhammad) serta pemimpin di antara kamu…

Ayat ini memberikan beberapa penjelasan, diantaranya:

1.     Ayat ini diawali dengan seruan wahai orang beriman, artinya urusan ini adalah urusan yang bukan kaitan dengan duniawi, karena urusan duniawi tidak usah bersinggungan dengan keimanan. Urusan kepemimpinan itu sudah ada sejak Muhammad belum diangkat jadi Nabi, tapi pada ayat ini ditegaskan kepemimpinan yang mana yang harus ditaati.  Ibnu Masúd pernah berkata: jika kalian mendengar firman Allah taála “wahai orang yang beriman, maka perhatikan ayat itu dengan seksama. Karena pasti ada kebaikan yang akan diperintahkan atau ada keburukan yang harus dihindari.

2.     Wajib mentaati Allah, Rasul dan pemimpin. Namun penyebutan أَطِيعُوا hanya disebutkan dua kali, satu kali untuk Allah أَطِيعُوا اللَّهَ dan satu kalinya lagi untuk Rasul أَطِيعُوا الرَّسُولَ, sementara keta’atan kepada pemimpin, kata أَطِيعُوا tidak diulang kembali. Memiliki maksud, bahwa ketaátan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaátan yang mutlak, Allah dan RasulNya tidak akan mungkin salah, keputusan dari Allah dan rasulnya, tidak usah dipertimbangkan atau dipertanyakan, cukup ditaáti saja. Sementara ketaátan kepada pemimpin tentu saja ada batasannya. Nabi Saw bersabda:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي مَعْرُوْفٍ

Hanyasanya ketaátan itu berlaku dalam kebaikan.

 

 Imam Ali Ahs-Shabuni menerangkan:

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Tidak ada ketaátan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq (Allah).

3.     Penyebutan ulil amri (pemimpin) setelah Allah dan RasulNya menunjukkan bukan sekadar pemimpin melainkan pemimpin yang taát kepada Allah dan RasulNya. Karena jika pemimpin yang tidak taát kepada Allah dan Rasulnya tidak akan disebutkan setelah Allah dan Rasul.

4.     Sebelum ayat ini, Allah swt memerintahkan kepada para pemimpin untuk amanah dan berlaku adil.  Sahabat Ali bin Abi Thalib berkata: merupakan keharusan bagi setiap pemimpin untuk berlaku adil dan menunaikan amanah. Apabila pemimpin tersebut melakukannya, wajib bagi umat muslim untuk mentaátinya. Yang dimaksud dengan pemimpin yang adil adalah pemimpin yang memutuskan sesuatu bukan berdasarkan hawa nafsu dan kepentingan dirinya. Ibnu hajar menjelaskan, tafsiran yang terbaik tentang pemimpin yang adil adalah dia yang mengikuti perintah Allah dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya tanpa lebih dan kurang.

 

Banyak keutamaan-keutamaan menjadi pemimpin yang adil, diantaranya:

a.     Mendapatkan surga Firdaus

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

(sungguh beruntung pula) orang-orang yang memelihara amanat dan janji mereka. (Al-Mu’minun: 8)

b.     Doánya tidak akan tertolak

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami dari Sa’dan Al-Qummi dari Abu Mujahid dari Abi Mudillah dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda: "Tiga orang yang do'a mereka tidak tertolak, yaitu; seorang yang berpuasa hingga berbuka, seorang imam (penguasa) yang adil dan do'anya orang yang di dzalimi… (Sunan At-Tirmidzi)

c.     Akan dinaungi oleh Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naungan dariNya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan 'ibadah kepada Rabbnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, 'Aku takut kepada Allah', dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis." (shahih Al-Bukhari)

 

Dengan demikian, kepemimpinan dalam Islam bukanlah perkara yang biasa. Tidak akan mungkin firman Allah dan sabda Nabi (wahyu) mengatur urusan yang biasa. Maka semuanya akan dipinta pertanggungjawaban keberpihakkan seseorang kepada calon pemimpin, mengapa memilih orang itu. Demikian pula, terpilihnya pemimpin masuulun án raiyyatihi (akan ditanya tentang kepemimpinannya). Berhati-hatilah dalam urusan ini!