MENTAWADHUKAN PEMUDA PERSIS KABUPATEN BANDUNG
MENJEMPUT KEMULIAAN DENGAN KERENDAHAN HATI
Tawadhu secara bahasa berarti rendah hati. Namun, dalam cakupan yang lebih luas, para ulama mendefinisikannya sebagai ketundukan kepada kebenaran dan kesediaan untuk menerimanya dari siapa pun, serta tidak merasa diri lebih hebat di hadapan sesama hamba Allah.
Bagi Pemuda PERSIS Kabupaten Bandung, "Mentawadhukan diri" bukan sekadar pilihan akhlak, melainkan strategi perjuangan dan pondasi utama dalam ber-Jam’iyyah. Mengingat Kabupaten Bandung merupakan basis kader terbesar, maka sikap tawadhu menjadi kunci agar kekuatan kuantitas ini tidak berubah menjadi fitnah keangkuhan.
MANIFESTASI TAWADHU DALAM JAM’IYYAH
Mentawadhukan Pemuda PERSIS Kabupaten Bandung harus terwujud dalam berbagai dimensi struktural dan kultural:
1. Tawadhu dalam Kepemimpinan: Pemimpin yang tidak merasa berkuasa, melainkan merasa sedang memikul amanah yang berat.
2. Tawadhu dalam Mendukung Pemimpin: Menanggalkan ego pribadi demi ketaatan pada keputusan organisasi selama tidak dalam kemaksiatan.
3. Tawadhu dalam Interaksi: Bersikap santun baik sebagai pemimpin, pendukung, maupun anggota, karena kemuliaan di sisi Allah hanya diukur dari ketakwaan.
4. Tawadhu dalam Berilmu dan Beramal: Menyadari bahwa setiap kecerdasan dan prestasi yang diraih semata-mata adalah taufik dari Allah, bukan semata-mata kecerdasan pribadi.
5. Tawadhu dalam Berdakwah: Menyampaikan kebenaran dengan hikmah, bukan dengan merasa paling suci atau merendahkan objek dakwah.
TAWADHU SEBAGAI JALAN KEMULIAAN
Ketawadhuan merupakan jalan pintas memperoleh kemuliaan dari Allah Ta’ala. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ.
"Tidaklah seseorang bersikap tawadhu (rendah hati) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim)
Sebaliknya, al-Kibru (sombong) adalah bintik hitam menuju jurang kecelakaan dunia dan akhirat. Rasulullah SAW mengingatkan dengan tegas:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan." (HR. Muslim)
MENGAPA PEMUDA PERSIS HARUS TAWADHU?
Sebagai basis kader terbanyak, Pemuda PERSIS Kabupaten Bandung adalah sasaran empuk bagi godaan setan, baik dari golongan jin yang membisikkan syahwat duniawi maupun setan berwujud manusia yang mengajak pada perpecahan.
Jika sikap tawadhu sirna, maka yang muncul adalah penyakit hati: saling hasud dan saling benci. Kondisi ini akan menghancurkan ikatan persaudaraan (ukhuwah) dan membuat Jam’iyyah kehilangan keberkahannya. Allah Ta’ala telah memperingatkan dalam firman-Nya:
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ.
Taatilah Allah dan Rasul-Nya, janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal: 46)
TAWADHU ADALAH KEKUATAN, BUKAN KELEMAHAN
Perlu ditegaskan bahwa tawadhu bukan berarti lemah. Tawadhu adalah keberanian untuk mengalah demi al-mashlahatul ‘ammah (kemaslahatan umum) yang jauh lebih besar dibandingkan al-mashlahatul khashshah (kepentingan pribadi/golongan). Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَ لاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.
"Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak ada seorang pun yang menganiaya orang lain dan tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri terhadap orang lain." (HR. Muslim)
Dalam pengambilan keputusan, tawadhu berarti kesediaan melihat pendapat orang lain yang lebih shalih dan berilmu dibandingkan memaksakan rasionalisasi pribadi. Allah SWT memerintahkan untuk merujuk kepada yang lebih ahli:
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ ٤٣
Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya. Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl: 43)
MENEKAN EGO DEMI JAM’IYYAH
Tawadhu adalah kemampuan menekan keinginan pribadi demi mendahulukan kepentingan Jam’iyyah. Hal ini selaras dengan prinsip itsaar (mendahulukan orang lain) yang dipuji Rasulullah SAW:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.
"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada akhirnya, muara dari segala ketawadhuan adalah ketundukan total kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seorang Pemuda PERSIS yang tawadhu tidak akan mendebat wahyu dengan logika yang dangkal. Allah Ta’ala berfirman:
اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.
Sesungguhnya yang merupakan ucapan orang-orang mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar ia memutuskan (perkara) di antara mereka, hanyalah, “Kami mendengar dan kami taat.” Mereka itulah orang-orang beruntung. (QS. An-Nur: 51)
Mari Mentawadhukan Diri, Menguatkan Jam'iyyah, Menjemput Ridha Ilahi.
Wallâhu A’lam, Pimpinan Daerah Pemuda PERSIS Kabupaten Bandung.