MENJADI KETUA BUKAN CITA-CITA
"SAYA TIDAK PERNAH BERCITA-CITA INGIN MENJADI KETUA PD PEMUDA PERSIS KABUPATEN BANDUNG"
KABUPATEN BANDUNG – Dalam dunia pergerakan organisasi, jabatan seringkali dipandang sebagai puncak pencapaian atau target yang dikejar. Namun, bagi Hanafi Anshory, amanah memimpin Pimpinan Daerah (PD) Pemuda PERSIS Kabupaten Bandung bukanlah sebuah ambisi pribadi yang dirancang sejak awal. Sebuah pernyataan mengejutkan namun sarat makna keluar darinya: "Saya tidak pernah bercita-cita ingin menjadi Ketua PD Pemuda PERSIS Kabupaten Bandung!"
Kalimat ini bukanlah bentuk penolakan terhadap tanggung jawab, melainkan sebuah refleksi mendalam mengenai hakikat perjuangan di Jam'iyyah. Bagi Hanafi, menjadi bagian dari Pemuda PERSIS adalah tentang pengabdian, bukan tentang mengejar kursi kekuasaan.
Allah Ta’ala berfirman:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." QS. Al-Qashas: 83.
Imam Ibn Katsir menjelaskan:
يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَنَعِيمَهَا الْمُقِيمَ الَّذِي لَا يَحُولُ وَلَا يَزُولُ، جَعَلَهَا لِعِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ الْمُتَوَاضِعِينَ، الَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ، أَيْ: تَرَفُّعًا عَلَى خَلْقِ اللهِ وَتَعَاظُمًا عَلَيْهِمْ وَتَجَبُّرًا بِهِمْ، وَلَا فَسَادًا فِيهِمْ.
Allah Swt. menyebutkan bahwa negeri akhirat berikut kenikmatannya yang kekal, tidak berubah dan tidak lenyap, hanyalah diperuntukan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman lagi rendah diri, yaitu mereka yang tidak bersikap angkuh di muka bumi terhadap makhluk Allah yang lain, tidak besar diri, tidak berlaku sewenang-wenang terhadap mereka, dan tidak menimbulkan kerusakan di kalangan mereka. Tafsir Al-Qur’an al-‘Adzim, VI: 258.
BUKAN AMBISI, MELAINKAN AMANAH
Dalam berbagai kesempatan, Hanafi menekankan bahwa fokus utamanya sejak bergabung dengan organisasi ini adalah bagaimana memberikan kontribusi terbaik bagi dakwah Islam. Menjadi ketua adalah sebuah "titik temu" antara kepercayaan para anggota dan takdir yang digariskan Allah SWT.
"Di Jam'iyyah, kita diajarkan untuk tidak meminta jabatan, tetapi juga tidak boleh lari saat amanah itu diletakkan di pundak kita. Fokus saya hanya satu: berbuat yang terbaik di mana pun posisi saya ditempatkan," ungkapnya.
Salah satu dalil paling tegas yang menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan kemuliaan, adalah ketika Rasulullah ﷺ menegur Abdurrahman bin Samurah:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: " يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا، وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ، فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا، فَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ، وَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ ".
Dari Abdurrahman bin Samurah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan kepemimpinan. Sebab jika engkau diberi jabatan itu karena permintaanmu, engkau akan dibiarkan (mengurusnya sendiri). Namun jika engkau diberi tanpa memintanya, engkau akan diberi pertolongan (dalam menjalankannya). Dan apabila engkau bersumpah atas suatu hal, lalu engkau melihat ada yang lebih baik darinya, maka lakukanlah yang lebih baik itu, dan bayarlah kafarat untuk sumpahmu. Hr. al-Imām Aḥmad ibn Ḥanbal (164–241 H), Al-Musnad, XXXIV: 223: 20618. Mu’assasat ar-Risālah. Cet.ke-1, 1421 H – 2001. Abū Muḥammad ‘Abdullāh ibn ‘Abd ar-Raḥmān ibn al-Faḍl ibn Bahram ibn ‘Abd aṣ-Ṣamad ad-Dārimī, at-Tamīmī as-Samarqandī (w. 255 H). Musnad ad-Dārimī (Sunan ad-Dārimī), III: 1513: 2391. Dār al-Mughnī, Saudi Arabia. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, VI: 2443: 6248. Shahih Muslim, V: 86: 1652. Sunan Abu Dawud, III: 91: 2929. Sunan at-Tirmidzi, III: 355: 1609. Sunan an-Nasai, VIII: 225: 5384. Cet.ke-1, 1412 H – 2000 M. 4 juz.
Mengapa kepemimpinan tidak boleh diminta?
1. Jabatan kepemimpinan mudah menjerumuskan jika diambil karena ambisi.
2. Orang yang meminta jabatan biasanya menginginkan kehormatan, bukan memikul beban.
3. Kepemimpinan yang dipaksakan sering tidak membawa keberkahan.
Jika kepemimpinan adalah kemuliaan, tentu Rasulullah ﷺ tidak melarangnya. Karena kepemimpinan adalah beban, beliau menegaskan:
وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ
“Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah.”
Imam Muslim atas hadis di atas di antaranya beliau membuat judul:
بَاب النَّهْيِ عَنْ طَلَبِ الْإِمَارَةِ وَالْحِرْصِ عَلَيْهَا.
Bab larangan meminta jabatan kepemimpinan dan ambisi berlebihan terhadapnya.
Dalam syarah Imam Nawawi dijelaskan:
قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (لَا تَسَألِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ أُكِلْتَ عَلَيْهَا) قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم (إِنَّا وَاللَّهِ لَا نُوَلِّي عَلَى هَذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ وَلَا أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ) قَالَ الْعُلَمَاءُ وَالْحِكْمَةُ فِي أَنَّهُ لَا يُوَلَّى مَنْ سَأَلَ الْوِلَايَةَ أَنَّهُ يُوكَلُ إِلَيْهَا وَلَا) تَكُونُ مَعَهُ إِعَانَةٌ كَمَا صَرَّحَ بِهِ فِي حَدِيثِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ السَّابِقِ وَإِذَا لَمْ تَكُنْ مَعَهُ إِعَانَةٌ لَمْ يَكُنْ كُفْئًا وَلَا يُوَلَّى غَيْرُ الْكُفْءِ وَلِأَنَّ فِيهِ تُهْمَةً لِلطَّالِبِ وَالْحَرِيصِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
“Sabda Nabi ﷺ: ‘Janganlah engkau meminta jabatan kepemimpinan; karena jika engkau diberi jabatan itu karena permintaanmu, maka engkau akan diserahkan sepenuhnya kepadanya (tanpa pertolongan Allah).’ Dan sabda beliau ﷺ: ‘Sesungguhnya, demi Allah, kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang sangat berambisi terhadapnya.’ Para ulama berkata: hikmah tidak diberikannya jabatan kepada orang yang meminta kekuasaan adalah karena orang tersebut akan diserahkan kepada dirinya sendiri (tanpa pertolongan Allah), dan tidak ada bantuan (taufik) yang menyertainya, sebagaimana ditegaskan dalam hadis Abdurrahman bin Samurah yang telah disebutkan sebelumnya. Apabila tidak ada pertolongan yang menyertainya, maka ia tidak akan menjadi orang yang cakap; sedangkan jabatan tidak diberikan kecuali kepada orang yang cakap. Selain itu, pada diri orang yang meminta dan berambisi terhadap jabatan terdapat unsur kecurigaan (tuduhan buruk). Dan Allah Maha Mengetahui.” Abū Zakariyyā Muḥyī ad-Dīn Yaḥyā bin Syaraf an-Nawawī (676 H), al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bin al-Ḥajjāj, XII: 207-208. Dār Iḥyā’ at-Turāṯ al-‘Arabī – Bairūt. cet. Ke-2, 1392. 18 juz (9 jilid).
Orang yang meminta jabatan cenderung terdorong oleh ambisi atau keinginan dihormati, dan kehilangan sikap ikhlas.
GENGSI DAN POPULARITAS MERUSAK NIAT MEMIMPIN
Pemimpin yang mencari jabatan karena:
· status,
· popularitas,
· pengaruh,
· atau keuntungan pribadi,
tidak akan mampu membawa jamaah kepada Allah.
“Orang yang meminta kepemimpinan akan diserahkan kepada dirinya sendiri.” Artinya: Allah membiarkannya tanpa pertolongan, sehingga ia memimpin dengan nafsu, bukan hidayah.
IKHLAS MEMIMPIN BERARTI SIAP MEMIKUL AMANAH
Pemimpin yang ikhlas tidak mencari kehormatan, tetapi mencari ridha Allah. Ia sadar:
· jabatan itu berat,
· amanah itu akan dipertanyakan di akhirat,
· dan tanggung jawabnya bukan kepada manusia, tetapi kepada Allah dulu.
Itulah sebabnya ulama salaf berkata: “Kepemimpinan adalah beban, bukan kemuliaan.”
MENJAGA KHITTAH PERJUANGAN
Ketidakinginan pribadi untuk berkuasa justru menjadi modal utama dalam menjaga integritas. Ketika seseorang tidak memiliki ambisi jabatan, maka keputusan-keputusan yang diambil akan jauh dari kepentingan pribadi. Visi yang diusung pun menjadi lebih murni: yakni kemajuan organisasi dan penguatan basis kader di Kabupaten Bandung.
Di bawah kepemimpinannya, PD Pemuda PERSIS Kabupaten Bandung diharapkan terus bertransformasi menjadi organisasi yang adaptif terhadap perubahan zaman namun tetap kokoh memegang prinsip al-Quran dan as-Sunnah.
PESAN BAGI KADER MUDA
Pernyataan Hanafi Anshory ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh kader Pemuda PERSIS, khususnya di wilayah Kabupaten Bandung. Beliau mengingatkan bahwa:
- Ikhlas dalam Beramal: Keikhlasan adalah mesin utama dalam berorganisasi.
- Kualitas Kerja: Biarkan karya dan dedikasi yang berbicara, bukan kampanye pribadi.
- Kesiapan Mental: Seorang kader harus siap dipimpin dan siap memimpin dalam situasi apa pun.
Kini, tugas besar menanti. Meski tanpa cita-cita awal menjadi ketua, tanggung jawab telah sah disandang. Dengan dukungan kolektif dari seluruh anggota, Hanafi Anshory siap menakhodai kapal besar PD Pemuda PERSIS Kabupaten Bandung menuju pelabuhan dakwah yang lebih luas dan berdampak.
Wallâhu A’lam, Kominfo PD Pemuda PERSIS Kabupaten Bandung.