Mengurai Makna "Sebaik-baik Perhiasan ialah Istri Shalihah"

22 Jun 2026

oleh: Rifqy Fathin al-Bukhari

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dunia itu perhiasaan dan sebaik-baiknya perhiasan ialah istri shalihah.” (Hr. Muslim, Shahih Muslim, IV: 178, no. 1467)

Sebutan Perempuan Dalam al-Quran

1.     Al-Untsa (الأنثى)

Al-Untsa berasal dari kata anutsa ya’nutsu yang artinya laana yalinu (lembut, lunak, belas kasihan). Perempuan disebut al-Untsa karena ia mempunyai karakter atau kepribadian yang lemah lembut, hatinya lunak atau mudah tersentuh, dan sikapnya selalu menyayangi, khususnya kepada anak kecil. Hal ini sebagaimana dijelaskan Ibnu al-A’rabiy berikut:

وَزَعَمَ ابْنُ الأَعرابي أَن المرأَة إِنما سُمِّيَتْ أُنثى، مِنَ الْبَلَدِ الأَنيث، قَالَ: لأَن المرأَة أَلْيَنُ مِنَ الرَّجُلِ، وَسُمِّيَتْ أُنثى لِلِينِهَا.

Ibnu al-A’rabiy berpendapat bahwa perempuan dinamakan al-Untsa karena berasal dari kata al-Balad al-Anits yaitu tanah yang subur (bertekstur lembut). Ia berkata: “Karena perempuan itu lebih lembut ketimbang laki-laki, dan dinamakan al-Untsa karena kelembutannya.” (Lisan al-‘Arab, II: 113)

2.    An-Nisa (النساء)

An-Nisa berasal dari kata nasa’a yansa’u yang artinya akhkhara yuakhkhiru (menunda, menangguhkan, mengakhirkan). Hal ini seperti ungkapan nasa’a ad-dayn (ia telah menunda pembayaran hutang). Perempuan disebut an-Nisa karena mengalami fase hamil; ketika seorang perempuan sedang hamil, maka masa haidnya sedang tertunda. Hal ini sebagaimana dijelaskan Ibnu al-A’rabiy berikut:

ونُسِئَتِ المرأَةُ تُنْسَأُ نَسْأً، عَلَى مَا لَمْ يُسمَّ فاعِلُه، إِذَا كَانَتْ عِنْدَ أَوَّل حَبَلِها، وَذَلِكَ حِينَ يتأَخَّرُ حَيْضُها عَنْ وَقْتِهِ، فيُرْجَى أَنها حُبْلَى. وَهِيَ امرأَة نَسِيءٌ.

Seorang perempuan telah ditunda apabila keadaannya ketika fase awal kehamilan. Hal tersebut terjadi ketika masa haidnya tertunda dari waktu biasanya, maka diharapkan bahwa perempuan itu sedang hamil dan ia disebut imra’atun nasi’un (perempuan yang sedang hamil). (Lisan al-‘Arab, I: 168)

3.    Al-Mar’ah atau Imra’ah (المرأة / امرة)

Al-Mar’ah atau Imra’ah berasal dari kata mara’a yamruhu yang artinya kamalur rajuliyyah (sempurnanya kedewasaan). Ditulis al-Mar’ah bilamana disertai alif lam; adapun jika ditulis tanpa alif lam menjadi imra’ah. Perempuan disebut al-Mar’ah atau Imra’ah karena perempuan itu lebih cepat dewasa daripada laki-laki. Hal ini sebagaimana dijelaskan Ibnu al-A’rabiy berikut:

مرأ: المُرُوءَة: كَمالُ الرُّجُولِيَّة. مَرُؤَ الرجلُ يَمْرُؤُ مُرُوءَةً، فَهُوَ مَرِيءٌ، عَلَى فعيلٍ.

Mara’a ialah al-Muru’ah, yaitu sempurnanya kedewasaan. (Lisan al-‘Arab, I: 154)

Adapun dalam konteks hadits ini, al-Mar’ah dikhususkan bagi seorang istri, yaitu al-Mar’ah as-Shalihah (istri shalihah); sebab keshalihan seorang perempuan dapat diraih bilamana menjadi seorang istri bagi suaminya. Hal ini sebagaimana firman Allah swt. berikut:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهَ.

Maka Perempuan-perempuan shalihah itu ialah perempuan yang taat lagi dapat menjaga diri saat suami tiada karena Allah telah menjaga. (Qs. an-Nisa [4]: 34)

Mengapa Dunia Disebut Perhiasan?

Pada hadits di atas, dunia dijelaskan oleh Nabi saw. sebagai mata’un yang biasa diterjemahkan perhiasan. Lafazh mata’un merupakan isim mashdar dari tamatta’a, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu ‘Asyur berikut:

وَالْمَتَاعُ: اسْمُ مَصْدَرِ تَمَتَّعَ، فَهُوَ الِالْتِذَاذُ وَالتَّنَعُّمُ.

Al-Mata’ ialah isim mashdar dari tamatta’a, yaitu merasa nikmat dan merasa senang. (at-Tahrir wa at-Tanwir, X: 198)

Lalu mata’un diartikan perhiasan karena biasanya orang-orang merasa nikmat dan senang ketika menggunakan perhiasan, seperti halnya seorang perempuan yang menggunakan cincin emas; ia akan merasa nikmat dan senang ketika menggunakan cincin emas, bahkan tidak sedikit yang terlena sampai merasa sombong dengan perhiasan yang ia gunakan. Berarti dari ungkapan: “ad-Dunya mata’un” maksudnya dunia itu seperti perhiasaan (dalam Ilmu Balaghah disebut tasybih baligh) yang kebanyakan manusia merasa nikmat dan senang dengan kehidupan dunia, bahkan tidak sedikit yang terlena sampai ia hubbud dunya wa karahiyatul maut (cinta dunia dan takut mati).

Perhiasan dunia atau mata’ud dunya bukanlah kenikmatan yang hakiki, tetapi justru kenikmatan yang menipu diri. Untuk lebih memahaminya perhatikan penjelasan az-Zamakhsyariy berikut:

شبه الدنيا بالمتاع الذي يدلس به على المستام ويغره حتى يشتريه ثم يتبين له فساده ورداءته.

Dunia diserupakan dengan al-Mata’u yang digunakan untuk menipu dan mengelabuhi calon pembeli, sehingga ia tertarik membelinya, lalu setelah itu tampaklah baginya kerusakan dan keburukan (kualitas rendah) barang tersebut. (at-Tanwir Syarh al-Jami’ as-Shaghir, VI: 141)      

Artinya dunia terasa nikmat bukan karena dunia itu nikmat secara hakiki, tetapi supaya kenikmatan duniawi itu dapat menipu dan mengelabuhi orang-orang yang menikmatinya dari kenikmatan ukhrawi yang kekal abadi, sehingga nantinya mereka akan menyadari dan mengetahui akan kerusakan dan keburukan dari kenikmatan duniawi. 

Karenanya, dalam Qs. an-Nisa [4]: 77 dijelaskan bahwa salah satu ciri munafiq ialah selalu mengelak perintah Allah, seperti mengelak perintah berperang. Mereka mengelak berperang karena sudah terlena dengan nikmat dan senangnya kehidupan dunia. Sehingga Allah swt. memerintahkan Nabi saw. untuk menjelaskan kepada mereka bahwa:

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى.

Katakanlah: “Perhiasan dunia itu sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertaqwa.”

إن طلبكم التأخير وقعودكم عن القتال خشية الموت ناشئ من الرغبة في متاع الدّنيا ولذّاتها، مع أن كلّ ما يتمتع به في الدّنيا زائل وقليل بالنسبة إلى متاع الآخرة، وآخرة المتّقي خير من دنياه لأن نعيم الدّنيا محدود فان، ومتاع الآخرة كثير باق لا كدر فيه ولا تعب، ولا يناله إلا من اتّقى الله، فامتثل ما أمره الله به، واجتنب ما نهى الله عنه، وستحاسبون على كلّ شيء.

Sesungguhnya permintaan penundaan kalian dan duduknya kalian (tidak ikut berperang) karena takut mati yang muncul dari keinginan terhadap kenikmatan dunia dan kelezatannya. Padahal segala sesuatu yang dinikmati di dunia itu pasti lenyap dan sedikit dibandingkan dengan kenikmatan akhirat; dan akhirat lebih baik bagi orang yang bertakwa daripada dunianya, karena kenikmatan dunia itu terbatas lagi fana, sedangkan kenikmatan akhirat itu banyak, kekal, tidak ada kesusahan dan kepayahan di dalamnya; dan tidak ada yang bisa meraihnya kecuali orang yang bertakwa kepada Allah. Maka lakukanlah apa yang Allah perintahkan dan jauhilah apa yang Allah larang, dan kalian akan dihisab atas segala sesuatu. (at-Tafsir al-Munir, V: 163)

Makna Sebaik-baiknya Perhiasan Ialah Istri Shalihah

Dari pemaparan mata’ud dunya di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perhiasan dunia terkesan negatif dan buruk; karena sejatinya perhiasan dunia itu menipu dan mengelabuhi manusia dari kenikmatan hakiki di akhirat. Namun pada hadits ini dijelaskan bahwa perhiasan dunia berupa istri shalihah tidak akan menipu dan mengelabuhi manusia dari kenikmatan hakiki di akhirat, tetapi justru akan mengantarkan kepada mata’ul akhirah yang kekal abadi. Hal ini sebagaimana penjelasan berikut:

الظاهر أنه صلى الله عليه وسلم أخبر أن الاستمتاعات الدنيوية كلها حقيرة لا يعبأ بها. فنبه على أنها تضاد ما عند الله تعالي من حسن الثواب، وخص منها المرأة وقيدها بالصالحة؛ ليؤذن بأنها شرها لو لم تكن على هذه الصفة.

Nampaknya Nabi saw. mengabarkan bahwa seluruh kenikmatan-kenikmatan duniawi itu hina dan tidak patut diperhatikan (tidak dianggap berarti). Lalu beliau mengingatkan bahwa (perhiasan dunia) itu berbeda dengan versi Allah Ta’ala berupa kebaikan pahala. Beliau mengkhususkan perempuan dari perhiasan dunia, lalu membatasinya dengan sifat shalihah sebab beliau memberitahu bahwa perempuan ialah seburuk-buruknya (perhiasan dunia) jika ia tidak berada pada sifat ini. (al-Kasyif ‘an Haqaiq as-Sunan, VII: 2259)

(الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ) أي لأنها مُعينة على أمور الآخرة.

Karena istri shalihah itu menjadi penolong/pembantu untuk meraih kenikmatan akhirat. (Dzakhirah al-‘Uqba fi Syarh al-Mujtaba, XXVII: 166)

Alhasil, istri shalihah tetaplah keadaanya sebagai perhiasan dunia yang suaminya akan merasa nikmat dan senang saat berada bersamanya. Istri shalihah; raut wajahnya meneduhkan riuh gemuruh hati suaminya, lekuk tubuhnya menundukkan pandangan suaminya, ucapannya melembutkan amarah suaminya, dan kasih sayangnya memadamkan api cemburu suaminya. Hal ini selaras dengan hadits Nabi saw. berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قِيلَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟ قَالَ: الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ .

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Dikatakan kepada Rasulullah saw: “Siapakah istri terbaik itu?” Sabdanya: “Yang membuat senang jika dilihat suaminya, mentaatinya jika diperintahkan suaminya, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dengan apa yang tidak disukai oleh suaminya.” (Hr. an-Nasaiy, Sunan an-Nasaiy, I: 639, no. 3231)

(الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ) قاله الفيّوميّ، أي تُفرِح زوجها (إِذَا نَظَرَ) أي لحسنها ظاهرًا، أو لحسن أخلاقها باطنًا، ودوام اشتغالها بِطاعة الله تعالى، والتقوى.

Al-Fayyumiy berkata: “Maksudnya seorang istri membuat suaminya senang ketika ia melihat istrinya karena kecantikan wajahnya (secara zhahiriyah), keelokan akhlaqnya (secara bathiniyah), dan selalu konsisten menyibukkan diri dengan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala.” (Dzakhirah al-‘Uqba fi Syarh al-Mujtaba, XXVII: 133)

(وتطيعه إذا أمر، ولا تخالفه في نفسها) بمنعه عن التمكين منها وخروجها عن منزله بغير إذنه.

Dengan menahan suaminya dari kemungkinan menikmati istrinya dan keluar dari rumah tanpa izin suaminya. (at-Tanwir Syarh al-Jami’ as-Shaghir, V: 567)

(ولا مالها بما يكره) فلا تنفق ولا تصرف منه إلا بإرادته.

Seorang istri jangan membelanjakan hartanya kecuali dengan seizin suaminya. (at-Tanwir Syarh al-Jami’ as-Shaghir, V: 567)