MENGAPA KETAATAN MELAHIRKAN KEKUATAN?
Hikmah Kolektif: Taat, Tertib, dan Teratur
Tidak ada ibadah lain yang menampilkan harmoni gerak kolektif seindah shalat berjamaah.
1. Taat
Ketaatan di dalam shalat berjamaah bukan ketaatan buta, tetapi ketaatan yang:
· bersumber dari syariat,
· terbatas pada kebaikan,
· mengikuti imam selama tidak menyimpang.
Hadits: “Ketaatan itu hanyalah dalam kebaikan.” [1]
Jam’iyah harus mengikuti prinsip ini:
· Taat kepada pemimpin selama berada di atas syariat,
· Koreksi dilakukan dengan adab,
· Makmum menegur imam dengan ucapan “Subhānallāh”.
Ini menjadi dasar mekanisme check and balance dalam organisasi Islam.
2. Tertib
Tertib dalam shalat berjamaah mengajarkan:
· ada urutan,
· ada sistem,
· ada tahapan,
· ada prioritas.
Shalat tidak dimulai dengan sujud, tetapi dengan takbir. Tidak diakhiri dengan rukuk, tetapi dengan salam.
Tertib adalah ruh kemenangan. Jam’iyah yang tidak tertib akan kacau:
· program tumpang tindih,
· visi kabur,
· struktur tidak jelas,
· kader tidak terarah.
3. Teratur
Gerakan makmum mengikuti imam dengan irama teratur:
· ruku’ bersama,
· sujud bersama,
· berdiri bersama.
Keteraturan ini adalah simbol:
· disiplin,
· kepatuhan sistem,
· kesadaran kolektif.
Jam’iyah yang teratur adalah jam’iyah yang:
· tidak gaduh oleh ambisi individu,
· tidak lumpuh oleh konflik internal,
· tidak berjalan acak tanpa komando,
· tetapi bergerak seperti satu tubuh.
Wallahu A'lam, hanafi anshory.
Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.

[1] HR. Bukhari.