MENGAPA KESATUAN ORIENTASI MENJADI FONDASI KEPEMIMPINAN?

7 Agt 2026

1. Pemimpin sebagai Penjaga Niat Jama’ah

Salah satu tugas utama imam adalah meluruskan niat jamaah. Pemimpin adalah yang paling bertanggung jawab atas lurusnya barisan, baik zahir maupun batin.

Demikian pula pemimpin jam’iyah:

· menjaga agar visi tidak berubah,

· memastikan seluruh anggota memahami arah perjuangan,

· mengawal agar program tidak menyimpang dari misi,

· membersihkan niat dari ambisi dan riya.

2. Orientasi Kolektif: Kunci Kekokohan Jam’iyah

Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ.

“Sesungguhnya umat kalian adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhan kalian, maka sembahlah Aku.” [1]

Al-Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan: Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا.

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang saleh. (Al-Mu’minun: 51) sampai dengan firman-Nya:

وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ.

dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. (Al-Mu'minun: 52) Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"نَحْنُ مَعْشَرَ الْأَنْبِيَاءِ أَوْلَادُ عَلات دِينُنَا وَاحِدٌ".

Kami golongan para nabi adalah saudara-saudara lain ibu, sedangkan agama kami adalah satu. Makna yang dimaksud ialah menyembah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, melalui syariat yang berbeda-beda yang dibawa oleh para rasul. Seperti yang dijelaskan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا.

Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (Al-Maidah: 48)[2]

Ayat ini menegaskan bahwa kesatuan umat dimulai dari kesatuan orientasi ibadah. Jam’iyah harus mengikat seluruh gerakannya dalam ibadah kepada Allah, bukan kepada tokoh atau kelompok tertentu.

3. Orientasi yang Salah Melahirkan Kepemimpinan yang Rusak

Jika orientasi pemimpin keliru, maka jamaah ikut terseret.

قال صلى الله عليه وسلم: "صِنفانِ مِنْ أُمَّتِي إِذَا صَلَحُوا صَلَحَ النَّاسُ، وَإِذَا فَسَدُوا فَسَدَ النَّاسُ: الأُمَرَاءُ وَالْفُقَهَاءُ". ابن عبد البر قاله (إِحْيَاءُ عُلُومِ الدِّينِ 1/11) إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ.

Nabi ﷺ bersabda: “Dua golongan dari umatku: bila mereka baik, maka baiklah manusia; bila mereka rusak, maka rusaklah manusia, yaitu para pemimpin dan para fuqaha (ulama).” Ibnu ‘Abdil Barr menyebutkannya. (Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn 1/11) Sanadnya lemah. [3]

Orientasi pemimpin menentukan:

· arah jamaah,

· kultur organisasi,

· kualitas kader,

· keteguhan barisan.

Maka, kesatuan orientasi bukan sekadar kebutuhan teknis, tetapi kebutuhan spiritual dan strategis.

Dengan niat yang lurus (visi–misi yang jernih) dan shaf yang rapi (struktur yang tertata), jam’iyah mampu:

· bergerak serempak,

· menjaga soliditas,

· mencegah fitnah internal,

· memperkuat ruh perjuangan,

· dan memastikan seluruh amal tetap bernilai di sisi Allah.

Sebagaimana shalat tidak sempurna tanpa niat dan shaf yang lurus, demikian pula jam’iyah tidak akan kuat tanpa kesatuan orientasi dan barisan.

Wallahu A'lam, hanafi anshory.

Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.


[1] Qs. Al-Anbiya [21]: 92.

[2] Abū al-Fidā’ Ismā‘īl ibn ‘Umar ibn Kathīr al-Qurashī al-Dimashqī (700–774 H), Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, V: 371. Dār Ṭayyibah, Riyadh, Saudi Arabia. Cet.ke-2, 1420 H – 1999 M. 8 juz.

[3] Rauḍat al-Muḥaddithīn — dan ia tampaknya merupakan transkripsi dari penilaian-penilaian al-Ḥāfiẓ Ibn Ḥajar dan lainnya terhadap hadis-hadis. Sumber kitab: Program Manẓūmat al-Taḥqīqāt al-Ḥadīthiyyah produksi Markaz Nūr al-Islām li-Abḥāth al-Qur’ān wa al-Sunnah di Aleksandria. Tanggal publikasi di al-Maktabah al-Shāmilah: 8 Dzulhijjah 1431 H.