Mengapa Dunia Disebut Permainan?
Disusun oleh: Rifqy Fathin Al-Bukhariy (Anggota PC Pemuda PERSIS Bojongsoang)
Sebagaimana yang telah dimaklum bahwa kehidupan dunia yang dijalani detik ini merupakan salah satu bagian dari perjalanan manusia. Mulanya manusia mengalami Al-Maut (kematian) pertama dalam kandungan ibu sebelum usia empat puluh hari, lalu mengalami Al-Hayat (kehidupan) pertama setelahnya, dan akan ada kematian kedua setelah berakhirnya jatah usia di alam dunia, lalu dibangkitkan kembali untuk menjalani kehidupan kedua yang kekal di akhirat. Dengan demikian, kehidupan dunia hanyalah satu fase yang sangat singkat dalam keseluruhan perjalanan manusia menuju kehidupan yang abadi.
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Tidaklah keadaan kehidupan dunia itu selain permainan dan senda gurau; dan kampung akhirat itu benar-benar lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?
(Qs. Al-An’am [6]: 32)
Pada ayat di atas, Allah swt. mengilustrasikan tentang kehidupan yang sedang dijalani ini; bahwa kehidupan dunia tak ubahnya seperti permainan dan senda gurau. Bila hendak mengetahui maksud ilustrasi ini, seyogyanya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu la’ibun dan apa itu lahwun. Ibnu ‘Asyur menguraikan makna keduanya sebagai berikut:
وَاللَّعِبُ: عَمَلٌ أَوْ قَوْلٌ فِي خِفَّةٍ وَسُرْعَةٍ وَطَيْشٍ لَيْسَتْ لَهُ غَايَةٌ مُفِيدَةٌ بَلْ غَايَتُهُ إِرَاحَةُ الْبَالِ وَتَقْصِيرُ الْوَقْتِ وَاسْتِجْلَابُ الْعُقُولِ فِي حَالَةِ ضَعْفِهَا كَعَقْلِ الصَّغِيرِ وَعَقْلِ الْمُتْعَبِ، وَأَكْثَرُهُ أَعْمَالُ الصِّبْيَانِ. وَضِدَّ اللَّعِبِ الْجِدُّ.
Al-La’ib ialah perbuatan atau ucapan yang ringan (effortless), cepat, dan tanpa pertimbangan panjang yang tidak memiliki tujuan yang berfaidah. Akan tetapi tujuannya ialah menyegarkan pikiran, menghabiskan waktu, dan mengalihkan pikiran yang penat (relaksasi) ketika keadaannya sedang jenuh, seperti akalnya anak kecil dan akalnya orang yang kelelahan. Kebanyakan permainan ialah aktivitas anak-anak yang masih kecil. Antonim (kebalikan) dari Al-La’ib (permaianan) ialah Al-Jidd (kesungguh-sungguhan). (At-Tahrir wa At-Tanwir, VII: 193)
وَاللَّهْوُ: مَا يَشْتَغِلُ بِهِ الْإِنْسَانُ مِمَّا تَرْتَاحُ إِلَيْهِ نَفْسُهُ وَلَا يَتْعَبُ فِي الِاشْتِغَالِ بِهِ عَقْلُهُ. فَلَا يُطْلَقُ إِلَّا عَلَى مَا فِيهِ اسْتِمْتَاعٌ وَلَذَّةٌ وَمُلَائِمَةٌ لِلشَّهْوَةِ.
Al-Lahwu ialah sesuatu yang menyibukkan manusia berupa hal-hal yang membuat hatinya senang dan akalnya tidak lelah dalam melakukannya. Maka tidak dimutlakkan kecuali terhadap sesuatu yang di padanya ada kesenangan, kenikmatan, dan kecocokan dengan syahwat. (At-Tahrir wa At-Tanwir, VII: 193)
Dari kedua penjelasan tersebut tampak bahwa la’ibun dan lahwun bukan dua istilah yang sepenuhnya sama, meskipun keduanya sama-sama berkaitan dengan aktivitas yang menyenangkan. La’ibun menitikberatkan pada sifat suatu aktivitas yang dilakukan tanpa tujuan yang benar-benar bermanfaat dan tanpa kesungguhan, sedangkan lahwun menitikberatkan pada dampaknya, yaitu sesuatu yang menyibukkan, menghibur, dan memberikan kenikmatan sehingga membuat seseorang lalai dari perkara yang lebih penting. Karenanya, Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa hubungan antara keduanya ialah Al-‘Umum wa Al-Khushush Al-Wajhiy, yaitu pada sebagian keadaan keduanya bertemu atau ada kesamaan, namun pada sebagian keadaan yang lain masing-masing memiliki cakupannya tersendiri.
Lalu pada lafazh “kehidupan dunia” sebetulnya cakupannya luas. Tentang kehidupan dunia tidak terbatas pada permainan atau senda gurau saja; selain keduanya ada banyak hal-hal lainnya, seperti makan, minum, menikah, bekerja, dan lain-lain. Namun mengapa pada ayat ini, justru Allah membatasi bahwa kehidupan dunia seolah-olah hanya la’ibun dan lahwun? Mengenainya, Ibnu ‘Asyur menguraikan alasannya sebagai berikut:
فَالْحَيَاةُ تَشْتَمِلُ عَلَى أَحْوَالٍ كَثِيرَةٍ مِنْهَا الْمُلَائِمُ كَالْأَكْلِ وَاللَّذَّاتِ، وَمِنْهَا الْمُؤْلِمُ كَالْأَمْرَاضِ وَالْأَحْزَانِ، فَأَمَّا الْمُؤْلِمَاتُ فَلَا اعْتِدَادَ بِهَا هُنَا وَلَا الْتِفَاتَ إِلَيْهَا لِأَنَّهَا لَيْسَتْ مِمَّا يَرْغَبُ فِيهِ الرَّاغِبُونَ، لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْ ذِكْرِ الْحَيَاةِ هُنَا مَا يَحْصُلُ فِيهَا مِمَّا يُحِبُّهَا النَّاسُ لِأَجْلِهِ، وَهُوَ الْمُلَائِمَاتُ.
Kehidupan dunia mencakup berbagai macam keadaan, di antaranya ada yang menyenangkan, seperti makan dan berbagai kenikmatan lainnya; dan ada pula yang menyakitkan, seperti menderita sakit dan kesedihan. Adapun hal-hal yang menyakitkan itu tidak diperhitungkan dan tidak menjadi perhatian dalam konteks ini, karena bukan itulah yang diinginkan oleh manusia. Sebab, yang dimaksud dari penyebutan kehidupan di sini ialah segala sesuatu yang terdapat di dalamnya dari sesuatu yang membuat manusia mencintai kehidupan itu, yaitu berbagai kenikmatan atau hal-hal yang menyenangkan.
فَلَا جَرَمَ كَانَ الْأَغْلَبُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ وَالْغَالِبُ عَلَى النَّاسِ اللَّعِبَ وَاللَّهْوَ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا. فَلِذَلِكَ وَقَعَ الْقَصْرُ الِادِّعَائِيُّ فِي قَوْلِهِ: وَمَا الْحَياةُ الدُّنْيا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ.
Tidaklah keadaan kebanyakan orang-orang musyrik dan sekalian manusia itu permainan dan senda gurau kecuali orang yang beriman dan beramal shaleh. Demikianlah qashr iddi’aiy terletak dalam firman-Nya: “Tidaklah keadaan kehidupan dunia itu selain permainan dan senda gurau.” (At-Tahrir wa At-Tanwir, VII: 193)
Allah tidak membatasi secara hakiki bahwa kehidupan dunia hanya tentang permainan dan senda gurau, tetapi karena fakta realita menunjukkan bahwa kebanyakan manusia terlena dengan ragam aktivitas unfaedah (la’ibun wa lahwun) yang membuat dirinya mencintai kehidupan dunia dan membenci kehidupan akhirat, bahkan mengingkarinya. Sejatinya ungkapan tersebut merupakan tahdzir (peringatan) bagi sekalian manusia.
Setelah mengetahui makna la’ibun dan lahwun, kita kembali lagi kepada tujuan utama pembahasaan, yaitu mengapa Allah menyerupakan dunia dengan lai’bun wa lahwun? Apa kesamaan antara dunia dan lai’bun wa lahwun? Mengapa Allah tidak langsung menyebut: “kehidupan dunia itu seperti permainan dan senda gurau?” Untuk mengetahui hal tersebut, dalam kajian Ilmu Balaghah dijelaskan bahwa pada lafazh “tidaklah keadaan kehidupan dunia itu selain permainan dan senda gurau” termasuk ke dalam pembahasan tasybih baligh, yaitu tasybih yang dibuang adat tasybih dan wajh syibhnya. Hal demikian telah dijelaskan oleh Wahbah Az-Zuhailiy dalam kitab tafsirnya sebagai berikut:
وَمَا الْحَياةُ الدُّنْيا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ تشبيه بليغ حيث جعلت الدنيا اللعب واللهو نفسه مبالغة.
Tidaklah keadaan kehidupan dunia itu selain permainan dan senda gurau merupakan tasybih baligh, karena kehidupan dunia dijadikan sebagai permainan dan hiburan itu sendiri, sebagai bentuk mubalaghah. (At-Tafsir Al-Munir, VII: 176)
|
وَمَا
الْحَياةُ الدُّنْيا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ |
||
|
التقدير:
شبه الله تعالى الحياة الدنيا باللعب واللهو في عدم الفائدة الباقية |
لعب
ولهو (المشبه
به) |
الحياة
الدنيا (المشبه) |
|
التنبيه:
إن حذف الأداة ووجه الشبه مبالغة في التشبيه، حتى كأنهما كالشيء الواحد. |
||
Intinya, Allah mengumpamakan kehidupan dunia seperti permainan, karena keduanya sama-sama tidak bermanfaat. Permainan dianggap tidak bermanfaat, sebab ia aktivitas non-substansial atau tidak ada gunanya selain mengilangkan kepenataan pikiran dari ragam aktivitas sehari-hari yang dilalui. Demikian juga dengan kehidupan dunia yang tidak ada manfaatnya bilamana dijalani tanpa keimanan dan amal shaleh yang sejatinya kedua hal tersebut yang akan berguna dan bermanfaat bagi manusia dalam menjalani masa kehidupan setelah dunia, yaitu alam akhirat.
Alasan mengapa Allah tidak menyebut secara langsung: “kehidupan dunia itu seperti permainan,” karena hal tersebut menunjukkan bahwa kebanyakan manusia, khususnya orang-orang musyrik menjalani kehidupan dunia dengan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat. Seolah-olah aktivitas permainan (hal-hal yang tidak berguna bagi akhirat) menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan dunia.
Allah meneruskan firman-Nya dengan mengungkapkan: “dan kampung akhirat itu benar-benar lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa” sebagai bandingan dari perbuatan sebelumnya. Bahwa seharusnya kehidupan dunia yang detik ini sedang dijalani, hendaknya dijadikan sebagai arena perjuangan untuk mendapatkan keridhaan Allah di akhirat kelak. Sehingga nasib di kemudian hari jangan sampai seperti orang-orang musyrik yang menyesal akibat dari perbuatannya sendiri selama hidup di dunia dengan ragam aktivitas unfaedahnya (tidak bernilai amal shaleh); karenanya mereka tidak diridhai Allah untuk meraih surga yang nikmatnya tiada tara, kekal abadi, dan diperuntukkan secara khusus bagi orang-orang yang bertakwa.
فإن الحياة الدنيا تعتبر وسيلة إلى رضا الله الذي يظفرون به يوم القيامة.
Maka sejatinya kehidupan dunia dianggap sebagai sarana menggapai ridha Allah yang kelak mereka dapatkan pada hari kiamat. (At-Tafsir Al-Wasith, V: 64)
Alhasil, ukuran keberhasilan seseorang tidaklah diukur seberapa banyak kenikmatan dunia yang berhasil ia kumpulkan, melainkan sejauh mana seluruh aktivitas dunianya mampu mengantarkannya kepada keridhaan Allah swt. Dunia bukan destinasi akhir, tetapi jalan juang yang harus ditempuh untuk memperoleh kebahagiaan yang hakiki di akhirat. Karenanya, segala bentuk amal, baik ibadah mahdhah maupun aktivitas sehari-hari seperti bekerja, belajar, berdagang, dan aktivitas muamalah lainnya dapat bernilai ibadah bilamana dilandasi keimanan, niat yang ikhlas, dan dilaksanakan sesuai tuntunan syariat.
Sebaliknya, bilamana kehidupan dunia dijadikan sebagai tujuan utama, maka seluruh kesibukan manusia akan berkisar pada permainan dan hiburan yang melalaikan. Dunia akan menghabiskan umur manusia tanpa menghasilkan bekal yang bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Inilah keadaan yang menimpa orang-orang musyrik; mereka disibukkan oleh berbagai kenikmatan dunia sehingga lalai mempersiapkan diri untuk kehidupan yang kekal.
وسميت الدنيا بالدنيا لدنوها قبل الآخرة او لدناءتها. وسميت الآخرة بالآخر لتأخرها عن خلقها وانما جعل الله الآخرة غائبة عن الابصار لانها لو كانت حاضرة لما جحدوها ولارتفعت التكاليف والمحن.
Dinamakan dunia karena (manusia lebih) dekat dengan dunia sebelum (dekat) dengan akhirat, atau karena rendahnya nilai dunia. Dinamakan akhirat karena diciptakan terakhir. Hanyalah Allah menciptakan akhirat itu ghaib (tidak terlihat) oleh pandangan manusia; karena seandainya akhirat itu nampak (tidak ghaib), niscaya mereka tidak akan mengingkarinya, dan beban syariat serta ujian kehidupan akan kehilangan maknanya. (Ruh Al-Bayan, III: 23)
Keghaiban akhirat merupakan bagian dari hikmah Allah dalam menguji keimanan manusia. Keimanan tidak dibangun atas dasar sesuatu yang dapat disaksikan secara langsung, melainkan atas keyakinan terhadap berita yang dibawa oleh Allah dan rasul-Nya. Karenanya, seseorang baru benar-benar disebut beriman bilamana ia membenarkan adanya kehidupan akhirat, surga, neraka, hisab, dan seluruh perkara ghaib lainnya, meskipun semua itu belum dapat diindra.
Andaikan kehidupan akhirat dapat dilihat dengan mata kepala, niscaya tidak akan ada lagi ruang pengingkaran. Setiap orang barangtentu akan terdorong untuk beriman dan menaati Allah karena menyaksikan sendiri balasan dan akibat yang dijanjikan. Dalam keadaan demikian, hikmah adanya taklif (beban syariat) dan mahnun (ujian kehidupan) menjadi hilang, sebab manusia tidak lagi beribadah atas dasar iman, melainkan karena penglihatan yang memaksa mereka untuk mengakui kebenaran.
Inilah sebabnya dunia dinamakan dunia, yaitu kehidupan yang dekat sekaligus rendah nilainya bilamana dibandingkan dengan akhirat. Sebaliknya, akhirat merupakan kehidupan yang kekal, sempurna, dan menjadi tujuan akhir perjalanan manusia. Alhasil, kita sebagai manusia dituntun dan dituntut untuk memandang dunia secara proporsional: memanfaatkannya sebagai sarana beramal shaleh, tanpa menjadikannya sebagai orientasi utama kehidupan.
Pada akhirnya, Allah menutup ayat ini dengan sebuah pertanyaan: “tidakkah kalian mengerti?” Sebagaimana yang telah dimaklum bahwa tidak setiap pertanyaan membutuhkan kepada jawaban. Ada beberapa jenis pertanyaan yang tidak perlu kepada jawaban, melainkan hanya butuh kepada perenungan dan evaluasi diri semata. Demikian juga pada pertanyaan yang dijadikan sebagai closing statement ini; bahwa sejatinya Allah sedang tidak membutuhkan kepada jawaban, melainkan memerintah dengan tegas kepada siapapun yang membaca ayat ini agar memikirkan dan merenungi maksud yang Allah kehendaki. Dalam kajian Ilmu Nahwu, pertanyaan demikian dinamakan Istifham li At-Taubikh, yaitu pertanyaan yang dijadikan sebagai ungkapan celaan, teguran, dan peringatan atas kesalahan yang telah diperbuat.
Pada konteks ayat ini, kesalahan yang ditegur Allah ialah meyakini bahwa dunia sebagai orientasi utama kehidupannya sehingga tidak menyiapkan perbekalan untuk menghadapi kehidupan akhirat.
والاستفهام في قوله- تعالى- أَفَلا تَعْقِلُونَ للحث على التدبر والتفكر والموازنة بين اللذات العاجلة الفانية التي تكون في الدنيا، وبين النعيم الدائم الباقي الذي يكون في الآخرة.
Pertanyaan pada firman-Nya: “tidakkah kalian mengerti?” menunjukkan dorongan untuk mentadabburi, mentafakkuri, dan menimbang-nimbang antara sesuatu yang cepat hilang lagi fana yang terjadi pada saat di dunia dengan kenikmatan yang kekal lagi abadi yang terjadi pada saat di akhirat kelak. (At-Tafsir Al-Munir, V: 64)