MANIFESTASI USWAH NABI, KEPEMIMPINAN ALI BIN ABI THALIB RA.

12 Jun 2026

a. Kedudukan Ali bin Abi Thalib r.a. dalam Kepemimpinan Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: « قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِعَلِيٍّ: ‌أَنْتَ ‌مِنِّي ‌بِمَنْزِلَةِ ‌هَارُونَ ‌مِنْ ‌مُوسَى، ‌إِلَّا ‌أَنَّهُ ‌لَا ‌نَبِيَّ ‌بَعْدِي».

Dari ‘Āmir bin Sa‘d bin Abī Waqqāṣ, dari ayahnya, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda kepada ‘Alī: “Engkau bagiku seperti kedudukan Hārūn terhadap Mūsā, hanya saja tidak ada nabi setelahku.”[1]

Hadis ini menunjukkan keutamaan besar Ali r.a. dalam kepemimpinan dan amanah, sebagaimana Imam an-Nawawi berkata:

وهذا الحديث لاحجة فِيهِ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ بَلْ فِيهِ إِثْبَاتُ فَضِيلَةٍ لِعَلِيٍّ وَلَا تَعَرُّضَ فِيهِ لِكَوْنِهِ أَفْضَلَ مِنْ غَيْرِهِ أَوْ مِثْلَهُ وَلَيْسَ فِيهِ دَلَالَةٌ لِاسْتِخْلَافِهِ بَعْدَهُ لِأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم إِنَّمَا قَالَ هَذَا لِعَلِيٍّ حِينَ اسْتَخْلَفَهُ فِي الْمَدِينَةِ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ وَيُؤَيِّدُ هَذَا أَنَّ هَارُونَ الْمُشَبَّهَ بِهِ لَمْ يَكُنْ خَلِيفَةً بَعْدَ مُوسَى بَلْ تُوُفِّيَ فِي حَيَاةِ مُوسَى وَقَبْلَ وَفَاةِ مُوسَى بِنَحْوِ أَرْبَعِينَ سَنَةٍ عَلَى مَا هُوَ مَشْهُورٌ عِنْدَ أَهْلِ الْأَخْبَارِ وَالْقَصَصِ قَالُوا وَإِنَّمَا اسْتَخْلَفَهُ حِينَ ذَهَبَ لِمِيقَاتِ رَبِّهِ لِلْمُنَاجَاةِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Hadis ini sama sekali bukan hujah bagi satu pun dari kelompok tersebut (Pen.: Kaum Rāfiḍah, Imāmiyyah, dan seluruh golongan Syiah). Yang ada di dalamnya hanyalah penetapan keutamaan bagi ‘Alī, tanpa menyinggung bahwa ia lebih utama dari selainnya atau setara dengan mereka. Hadis ini juga tidak mengandung dalil tentang penunjukan ‘Alī sebagai khalifah sepeninggal Nabi ﷺ, karena Nabi ﷺ mengucapkan hal tersebut kepada ‘Alī ketika beliau menjadikannya sebagai pengganti di Madinah pada Perang Tabuk. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa Hārūn—yang dijadikan perumpamaan—tidak menjadi khalifah setelah Mūsā, bahkan ia wafat ketika Mūsā masih hidup, sekitar empat puluh tahun sebelum wafatnya Mūsā, sebagaimana yang masyhur di kalangan ahli sejarah dan kisah. Mereka mengatakan bahwa Mūsā hanya menjadikan Hārūn sebagai pengganti ketika ia pergi untuk bermunajat kepada Rabb-nya di waktu yang telah ditentukan. Dan Allah Maha Mengetahui.[2]

Ali r.a. dididik langsung oleh Rasulullah ﷺ sejak kecil, sehingga model kepemimpinannya adalah refleksi langsung dari kepemimpinan Nabi.

b. Prinsip Keadilan dalam Kepemimpinan Ali r.a.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.”[3]

Dalam konteks jam’iyah, keadilan Ali r.a. adalah koreksi terhadap kepemimpinan yang tebang pilih atau elitis.

c. Kepemimpinan Ali r.a. sebagai Ri‘ayah (Pelayanan Umat)

Rasulullah ﷺ bersabda:

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.”[4]

Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Ali r.a.:

· tidak memosisikan diri di atas jamaah,

· menolak kultus individu,

· menghidupkan prinsip ri‘āyah, bukan dominasi.

d. Relevansi Kepemimpinan Ali r.a. bagi Jam’iyah Kontemporer

Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib r.a. mengajarkan bahwa:

1) Kepemimpinan lahir dari keteladanan Rasulullah ﷺ

2) Keadilan lebih utama daripada popularitas

3) Pemimpin adalah penjaga amanah, bukan pemilik jamaah

4) Ketegasan harus berjalan seiring rahmah

5) Jam’iyah tidak boleh dikorbankan demi stabilitas semu.

Ini adalah pesan strategis bagi jam’iyah: kebenaran lebih penting daripada jumlah, dan prinsip lebih utama daripada kompromi batil.

Dengan demikian, kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan Rasulullah ﷺ sebagai Uswah Hasanah. Ali r.a. adalah manifestasi hidup dari imāmah, qiyādah, dan ri‘āyah yang telah dijelaskan dalam bab-bab sebelumnya buku ini.

Menempatkan figur Ali r.a. dalam kerangka ini menguatkan keseluruhan bangunan konseptual Model Kepemimpinan dalam Jam’iyah, serta memberikan contoh aplikatif tentang bagaimana nilai shalat berjamaah, amanah, keadilan, dan pelayanan diwujudkan dalam kepemimpinan nyata. Wallahu A'lam. hanafi anshory.

Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.


[1] HR. Muslim, Shahih Muslim, VII: 119: 2404. Ahmad, al-Musnad, XVII: 373: 11272. Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, 75: 120. At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, VI: 300: 4064.

[2] An-Nawawi, Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, XV: 175.

[3] QS. an-Naḥl [16]: 90.

[4] HR. al-Ṭabarānī dalam al-Mu‘jam al-Awsaṭ, no. 6537; hasan.