LEMBUT DALAM SIKAP, KOKOH DALAM PRINSIP, KEPEMIMPINAN ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ R.A.
a. Landasan Qur’ani
Allah memuji kelembutan Rasul ﷺ — kelembutan yang diwarisi sempurna oleh Abu Bakar r.a.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ.
Maka dengan rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka menjauh dari sekitarmu. [1]
Mereka lembut kepada Rasulullah saw. karena beliau memperlakukan mereka dengan kelembutan dan kesabaran.
Kelembutan ini paling tampak dalam kepemimpinan Abu Bakar setelah wafatnya Nabi ﷺ — masa yang penuh guncangan, namun beliau mengokohkannya tanpa kekerasan emosional.
b. Contoh Keteladanan Abu Bakar ash-Shiddiq ra.
Dalam Bai’at Saqifah, Abu Bakar ra. berkata:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: ثُمَّ تَكَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا النَّاسُ، فَإِنِّي قَدْ وُلِّيتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ، فَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِينُونِي، وَإِنْ أَسَأْتُ فَقَوِّمُونِي، الصِّدْقُ أَمَانَةٌ، وَالْكَذِبُ خِيَانَةٌ، وَالضَّعِيفُ فِيكُمْ قَوِيٌّ عِنْدِي حَتَّى أُرِيحَ عَلَيْهِ حَقَّهُ، إِنْ شَاءَ اللَّهُ، وَالْقَوِيُّ فِيكُمْ ضَعِيفٌ حَتَّى آخُذَ الْحَقَّ مِنْهُ، إِنْ شَاءَ اللَّهُ، لَا يَدَعُ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا ضَرَبَهُمُ اللَّهُ بِالذُّلِّ، وَلَا تَشِيعُ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ إِلَّا عَمَّهُمُ اللَّهُ بِالْبَلَاءِ، أَطِيعُونِي مَا أَطَعْتُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، فَإِذَا عَصَيْتُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَلَا طَاعَةَ لِيَ عَلَيْكُمْ، قُومُوا إِلَى صَلَاتِكُمْ يَرْحَمْكُمُ اللَّهُ.
Dari Anas bin Mālik ra. berkata: Kemudian Abu Bakar berbicara. Ia memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan pujian yang memang layak bagi-Nya, lalu berkata: “Amma ba‘du, wahai manusia. Sesungguhnya aku telah diangkat memimpin kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, maka bantulah aku; dan jika aku berbuat salah, maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, dan dusta adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian adalah kuat di sisiku hingga aku mengembalikan haknya kepadanya, insya Allah. Dan orang yang kuat di antara kalian adalah lemah di sisiku hingga aku mengambil hak darinya, insya Allah. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah melainkan Allah akan menimpakan kepada mereka kehinaan. Dan tidaklah perbuatan keji menyebar di suatu kaum melainkan Allah akan meratakan kepada mereka bala (bencana). Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila aku bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak ada kewajiban taat kepadaku atas kalian. Bangkitlah kalian untuk menunaikan salat kalian, semoga Allah merahmati kalian.”[2]
Ini adalah model kepemimpinan humble leadership, jauh dari kesombongan, dan sangat relevan bagi jam’iyah modern.
c. Pelajaran bagi Jam’iyah
· Pemimpin harus membuka ruang koreksi.
· Kelembutan bukan kelemahan, tetapi kekuatan psikologis yang membuat jamaah bertahan.
· Pemimpin jam’iyah idealnya seperti imam shalat yang memudahkan jamaah namun tetap memimpin dengan arah. Wallahu A'lam. hanafi anshory.
Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.

[1] Qs. Ali Imran: 159.
[2] HR. ath-Thabari dalam Tārīkh, III: 210, sanad shahih.