KRISIS JAM'IYYAH KARENA HILANGNYA KEIKHLASAN KOLEKTIF
1. Penyakit terbesar organisasi: riya’, ambisi, dan perebutan posisi
عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ " قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: " الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللهُ عز وجل لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُونَ فِي الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً ".
Dari Mahmūd bin Labīd, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu riya’. Pada hari Kiamat, ketika manusia dibalas atas amal-amal mereka, Allah عز وجل berfirman kepada orang-orang tersebut: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian pameri (amal) di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka.’” [1]
Riya’ adalah racun organisasi. Ia mengubah perjuangan menjadi arena pencitraan.
2. Ketika pemimpin tidak ikhlas, jamaah terpecah
Pemimpin yang tidak ikhlas:
· menjadikan jabatan sebagai alat kontrol,
· memaksa kehendaknya,
· menolak kritik,
· mengutamakan loyalitas pribadi daripada kualitas,
· dan membangun gerbong kekuasaan.
Ini adalah awal kehancuran jam’iyah.
3. Ketika makmum tidak ikhlas, organisasi gaduh
Makmum (kader) yang tidak ikhlas:
· sulit menerima arahan,
· membuat kelompok kecil,
· menyebarkan prasangka,
· merasa lebih pantas memimpin,
· dan melemahkan program.
Shaf yang renggang adalah tanda hati yang renggang. Sebagaimana lurusnya shaf adalah sebab terikatnya hati orang-orang yang salat. Dan bengkoknya shaf dapat menyebabkan berselisihnya hati mereka. Dari Abu Mas’ud radhiallahu’anhu, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلَاةِ وَيَقُولُ: اسْتَوُوا، وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ. لِيَلِنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ».
Rasulullah ﷺ biasa mengusap (meluruskan) bahu-bahu kami ketika salat, lalu beliau bersabda: “Luruskanlah (shaf kalian), dan janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian tidak menjadi berselisih. Hendaklah yang berdiri paling dekat denganku adalah orang-orang yang berakal dan berilmu di antara kalian, kemudian yang setelah mereka, kemudian yang setelah mereka.” [2]
4. Tidak ada jam’iyah yang runtuh karena kurang cerdas, tetapi karena kurang ikhlas
Sejarah menunjukkan:
· Kaum munafik gagal bukan karena bodoh, tetapi karena tidak ikhlas.
· Khawarij hancur bukan karena kurang ilmu, tetapi karena salah niat.
· Umat Islam kuat ketika ikhlas, lemah ketika niatnya bercampur.
5. Keikhlasan kolektif adalah ruh kemenangan
Jika seluruh anggota jam’iyah:
· pemimpin yang ikhlas memimpin,
· anggota yang ikhlas dipimpin,
· dan seluruh struktur bergerak karena Allah,
maka Allah menjanjikan:
إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ.
“Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian.” [3]
Ikhlas sebagai Pemersatu dan Penguat Shaf. Kepemimpinan dalam jam’iyah bukan soal kemampuan teknis saja, tetapi soal kemurnian ruh. Tanpa ikhlas, kepemimpinan menjadi ambisi; ketaatan menjadi formalitas; jamaah menjadi rapuh.
Ikhlas memimpin melahirkan kebijakan yang bijak. Ikhlas dipimpin melahirkan jamaah yang rapi. Ikhlas kolektif melahirkan jam’iyah yang kokoh.
Wallahu A'lam, hanafi anshory.
Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.

[1] Hr. al-Imām Aḥmad ibn Ḥanbal (164–241 H), Al-Musnad, XXXIX: 39: 23630. Mu’assasat ar-Risālah. Cet.ke-1, 1421 H – 2001.
[2] Abū al-Ḥusayn Muslim ibn al-Ḥajjāj ibn Muslim al-Qusyairī an-Naysābūrī, Ṣaḥīḥ Muslim, II: 30: 432. Dār aṭ-Ṭibā‘ah al-‘Āmirah – Turki. 1334 H.
[3] QS. Muhammad: 7.