KETIKA MESIN BELAJAR, MANUSIA TETAP HARUS BERPIKIR — BAGIAN 2; IQRA’, TABAYYUN, DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA

2 Okt 2026

Oleh: Lukmannul Hakim Firdaus (Dosen Teknik Informatika Polban, Anggota Pemuda PERSIS Banjaran)

Pada bagian pertama, kita melihat bahwa kecanggihan AI tidak lahir dari proses berpikir seperti manusia, melainkan dari kemampuan model mengenali pola dan memproses informasi dalam skala yang sangat besar.

Kita juga melihat satu paradoks penting :

“semakin baik mesin menghasilkan bahasa, semakin sulit pula membedakan jawaban yang benar dari jawaban yang hanya terdengar benar”

Persoalannya kemudian tidak lagi hanya berada pada mesin.

Ia beralih kepada kita.

”Bagaimana manusia seharusnya memperlakukan informasi ketika memproduksi sebuah jawaban menjadi semakin mudah?”

Banjir Informasi dan Krisis Kepercayaan

Pada masa lalu, tantangan utama manusia adalah keterbatasan akses terhadap informasi. Internet mengubah keadaan itu secara drastis. Kini kita menghadapi persoalan yang hampir berlawanan yaitu informasi terlalu mudah diproduksi.

Dalam waktu singkat, AI dapat menghasilkan puluhan artikel. Gambar dapat dibuat tanpa kamera. Suara dapat direplikasi. Video dapat direkayasa.

Akibatnya, pertanyaan kita berubah.

Bukan lagi sekadar:

“Bagaimana saya memperoleh informasi?”

melainkan:

“Bagaimana saya mengetahui bahwa informasi ini dapat dipercaya?”

Jumlah kemunculan sebuah klaim tidak menentukan kebenarannya. Ribuan halaman di internet dapat saja mengulang informasi yang berasal dari sumber awal yang sama dan sumber awal itu sendiri mungkin keliru. Dalam kondisi seperti ini, persoalan AI bukan hanya soal kecanggihan mesin. Ia juga merupakan ujian terhadap daya kritis manusia.

Iqra’ dan Tabayun di Era Artificial Intelligence

Dalam tradisi Islam, persoalan ilmu mempunyai kedudukan yang sangat mendasar. Menarik bahwa wahyu pertama dimulai dengan perintah: Iqra’. Bacalah.

Namun perintah tersebut tidak berhenti pada aktivitas membaca secara mekanis.

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Ayat-ayat berikutnya juga menyebut qalam sebagai bagian dari proses manusia memperoleh pengetahuan. Ada pelajaran penting di sini. Aktivitas memperoleh pengetahuan tidak dilepaskan dari orientasi dan tanggung jawab.

Hari ini, medium pengetahuan berubah. Pena dan lembaran berdampingan dengan server, basis data, algoritma, dan model bahasa.

Medianya berubah.

Tanggung jawab terhadap ilmu tidak.

Maka iqra’ pada era digital tidak cukup dipahami sebagai kemampuan mengakses teks. Membaca juga berarti memahami konteks, mengenali sumber, membedakan fakta dan interpretasi, serta memiliki kerendahan hati intelektual untuk mengatakan: “saya belum mempunyai cukup dasar untuk menyimpulkan”.

Kemampuan terakhir ini justru semakin penting ketika sebuah mesin selalu siap memberikan jawaban.

Al-Qur’an juga memberikan prinsip penting dalam menerima informasi melalui konsep tabayyun. QS. Al-Hujurat ayat 6 mengajarkan pentingnya memeriksa sebuah berita sebelum menjadikannya dasar tindakan.

Ayat ini tentu tidak berbicara mengenai AI atau media digital. Kita tidak perlu memaksakan Al-Qur’an seolah-olah menjelaskan teknologi modern.

Namun prinsip epistemologisnya tetap relevan.

Dulu kita mungkin bertanya:

“Siapa yang mengatakan ini?”

Pada zaman deepfake dan AI generatif, pertanyaannya dapat berubah menjadi:

“Apakah benar ada manusia yang pernah mengatakan ini?”

Foto belum tentu menjadi bukti bahwa sesuatu terjadi. Rekaman suara belum tentu membuktikan seseorang pernah mengucapkannya. Tulisan yang menggunakan nama seseorang belum tentu ditulis olehnya.

Dalam keadaan seperti ini, tabayyun bukan hanya etika menerima berita. Ia menjadi bagian penting dari literasi digital.

Tradisi keilmuan Islam juga sejak lama menaruh perhatian pada bukan hanya isi informasi, tetapi sumber dan jalur transmisinya. Tentu metodologi sanad tidak dapat begitu saja disamakan dengan verifikasi digital. Namun terdapat satu semangat yang tetap relevan yaitu sebuah informasi perlu dinilai bersama sumber dan proses yang melahirkannya.

Jangan Sampai Jawaban Menggantikan Proses Belajar

Dalam ruang pendidikan, perkembangan AI menghadirkan persoalan yang menarik.

AI dapat menjadi alat belajar yang sangat baik. Mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk memperoleh penjelasan alternatif, mencari contoh, menguji kode, mengeksplorasi ide, atau mendapatkan umpan balik awal.

Namun teknologi yang sama dapat menjadi jalan pintas.

Tugas diberikan, AI mengerjakan. Buku tidak dibaca karena ringkasannya tersedia dalam beberapa detik. Argumentasi diterima tanpa mengetahui bagaimana kesimpulannya dibangun.

Mahasiswa akhirnya memiliki jawaban, tetapi tidak selalu memiliki proses intelektual yang menghasilkan jawaban tersebut.

Sebagai pendidik, saya melihat pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar apakah AI perlu diperbolehkan atau dilarang.

Pertanyaannya adalah:

“Bagaimana AI digunakan tanpa menghilangkan proses belajar?”

Tujuan pendidikan bukan menghasilkan sebanyak mungkin jawaban. Pendidikan seharusnya membentuk kemampuan memahami persoalan, menyusun argumen, menilai bukti, menerima koreksi, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan.

Teknologi seharusnya memperkuat proses tersebut, bukan menggantikannya.

Pemuda Muslim Tidak Cukup Menjadi Konsumen

Respons terhadap AI karena itu tidak perlu berupa ketakutan, tetapi juga tidak boleh berhenti pada kekaguman. Pemuda Muslim perlu bergerak dari sekadar pengguna menuju generasi yang memahami, mengkritisi, dan kelak ikut membangun teknologi.

Kolaborasi lintas disiplin menjadi penting.

Mahasiswa informatika mungkin memahami bagaimana model bahasa bekerja, tetapi belum tentu memahami metodologi ilmu hadis atau fikih. Sebaliknya, mahasiswa agama dapat memahami sumber-sumber keislaman dengan baik, tetapi belum tentu mengetahui bagaimana sebuah sistem AI mengambil dan menghasilkan informasi.

Keduanya tidak perlu saling menggantikan.

Yang dibutuhkan justru pertemuan keduanya.

Yang satu memahami algoritma, yang lain memahami metodologi keilmuan. Yang satu memahami struktur data, yang lain membantu menentukan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dari sana pertanyaan kita tidak lagi hanya:

“AI apa yang dapat kita gunakan?”

tetapi berkembang menjadi:

“Inovasi seperti apa yang layak kita bangun?”

Pertanyaan kedua jauh lebih penting jika kita ingin umat tidak berhenti sebagai konsumen teknologi.

Mesin Belajar, Manusia Tetap Bertanggung Jawab

AI akan terus berkembang. Kemampuan yang hari ini terasa luar biasa mungkin beberapa tahun mendatang menjadi hal biasa. Namun kecanggihan teknologi tidak pernah otomatis membuat penggunaannya menjadi benar.

AI dapat memperluas akses terhadap ilmu sekaligus mempercepat penyebaran informasi yang keliru. Ia dapat membantu pendidikan sekaligus membuat seseorang merasa tahu tanpa pernah benar-benar belajar.

Karena itu, persoalan AI pada akhirnya tetap kembali kepada manusia.

Al-Qur’an tentu tidak mengajarkan cara membuat neural network, GPU, atau arsitektur Transformer. Tidak perlu memaksakan teks agama menjadi buku petunjuk teknologi. Namun Al-Qur’an berbicara sangat serius mengenai ilmu, akal, kabar, dan tanggung jawab manusia.

Justru pada lapisan itulah relevansinya menjadi terasa. Di tengah mesin yang semakin mudah memberikan jawaban, kita perlu mempertahankan kemampuan untuk bertanya:

Apakah informasi ini benar?
Apa sumbernya?
Apa dasar kesimpulannya?
Dan apa tanggung jawab saya setelah mengetahuinya?

Gunakanlah AI dan Pelajari cara kerjanya. Manfaatkan kemampuannya untuk pendidikan, penelitian, dakwah, dan kemaslahatan.

Tetapi jangan serahkan kepada mesin sesuatu yang sejak awal merupakan tanggung jawab manusia yaitu kemampuan menimbang, memilih, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan.

Lalu, bagimana jika ternyata tulisan ini 98% dibuat oleh AI?

Mesin boleh belajar. Manusia tetap harus berpikir.