KESINAMBUNGAN ANTARA RIDHA ALLAH, IMAM DAN MAKMUM
1. Imam sebagai penghubung ketaatan
Sistem shalat jamaah dibangun di atas kesinambungan:
· Allah → imam → makmum
Imam bukan penguasa, tetapi penghubung ketaatan. Makmum mengikuti imam karena imam mengikuti Allah dan Rasul-Nya.
2. Hadis: Imam dijadikan untuk diikuti
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ؛...
“Imam dijadikan tiada lain untuk diikuti…”[1] Imam adalah pusat keselarasan gerakan jamaah, sebagaimana al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan:
قَوْلُهُ: (بَابُ إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ) هٰذِهِ التَّرْجَمَةُ قِطْعَةٌ مِنَ الْحَدِيثِ الآتِي فِي الْبَابِ، وَالْمُرَادُ بِهَا أَنَّ الائْتِمَامَ يَقْتَضِي مُتَابَعَةَ الْمَأْمُومِ لِإِمَامِهِ فِي أَحْوَالِ الصَّلَاةِ، فَتَنْتَفِي الْمُقَارَنَةُ وَالْمُسَابَقَةُ وَالْمُخَالَفَةُ، إِلَّا مَا دَلَّ الدَّلِيلُ الشَّرْعِيُّ عَلَيْهِ.
“Perkataan penulis (Imam al-Bukhari): (Bab: ‘Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti’) — judul ini merupakan potongan dari hadits yang akan disebutkan dalam bab ini. Yang dimaksud dengannya ialah bahwa bermakmum meniscayakan mengikuti makmum terhadap imamnya dalam seluruh keadaan shalat, sehingga tertolak adanya berbarengan (muqāranah), mendahului (musābaqah), dan menyelisihi (mukhālafah), kecuali pada perkara yang memang ditunjukkan kebolehannya oleh dalil syar‘i.” [2]
3. Keselarasan ridha: Allah ridha, maka imam dan makmum pun harmonis
Dalam jamaah shalat:
· imam tidak boleh memanjangkan shalat,
· makmum tidak boleh mendahului imam,
· dan semuanya mengikuti aturan syariat.
Dalam jam’iyah:
· pemimpin harus mengikuti syariat dan visi,
· kader harus mengikuti arahan yang makruf,
· semua harus menjaga ukhuwah.
Kesinambungan ini menciptakan barisan yang kokoh dan berkah.
4. Hilangnya kesinambungan → hilangnya keberkahan
· Jika imam salah arah, makmum bingung.
· Jika makmum tidak mengikuti imam, jamaah kacau.
· Jika keduanya tidak merujuk kepada Allah, shalat tidak sah.
Demikian pula jam’iyah:
· pemimpin tanpa ridha Allah → hilang wibawanya,
· anggota tanpa ketaatan syar’i → muncul perpecahan,
· organisasi tanpa ruh ikhlas → hilang keberkahannya.
Wallahu A'lam, hanafi anshory.
Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.

[1] Hr. Malik, al-Muwaththa’, I: 133: 339. Ad-Darimi, Musnad ad-Darimi, II: 798: 1291. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, I: 149: 371. Muslim, Shahih Muslim, II: 18: 411. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, 211: 844. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, I: 233: 601. At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, I: 414: 361. An-Nasai, Sunan an-Nasai, II: 83: 794.
[2] Aḥmad bin ‘Alī bin Ḥajar al-‘Asqalānī (773–852 H), Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ al-Bukhārī, II: 174. al-Maktabah as-Salafiyyah – Meṣir. Cet.ke-1, 1380–1390 H. 13 juz.