KESETARAAN DALAM BARISAN, BUKAN KESERAGAMAN VISI
A. KESETARAAN DALAM BARISAN, KESATUAN DALAM TUJUAN
Dalam shalat berjamaah, Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (سَوُّوا صُفُوفَكُمْ، فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ).
Dari Anas ra., dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Luruskanlah saf-saf kalian, karena sesungguhnya meluruskan saf termasuk bagian dari menegakkan salat.”[1]
Meluruskan shaf bukan semata persoalan fisik. Ia mengandung nilai tandzhīm (keteraturan organisasi):
a. Tidak ada sekat sosial dalam jamaah.
b. Yang membedakan hanya ketakwaan dan kepatuhan.
c. Barisan yang rapat melahirkan kekuatan kolektif.
Demikian pula jam’iyah:
· Ia menolak kesombongan struktural.
· Ia menolak kesenjangan sosial internal.
· Ia menolak klaim eksklusif yang memecah barisan.
Shaf yang rapat adalah citra jam’iyah yang solid. Shaf yang renggang adalah citra jam’iyah yang rapuh.
B. KESETARAAN DALAM BARISAN, BUKAN KESERAGAMAN VISI
Salah satu hikmah paling dahsyat dari shalat berjamaah adalah lurusnya shaf, tetapi hati dan pikiran jamaah tetap beragam. Islam tidak menghapus keragaman individu, tetapi menyatukannya dalam tujuan yang sama.
1. Lurusnya shaf: simbol kesetaraan sosial
Rasulullah ﷺ bersabda: “Luruskan shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat.” [2]
Dalam shaf:
· Tidak ada kursi VVIP,
· Tidak ada kasta sosial,
· Tidak ada “orang besar” menggeser orang kecil,
· Tidak ada barisan khusus pejabat.
Yang di depan adalah yang paling siap, bukan yang paling terkenal. Yang di belakang bukan hina, hanya berbeda posisi dan kesiapan. Ini adalah simbol masyarakat Islam dan simbol jam’iyah:
· Semua anggota setara dalam nilai,
· Semua berhak berkontribusi,
· Semua adalah bagian dari barisan perjuangan.
2. Islam tidak menuntut keseragaman cara berpikir
Dalam jamaah shalat:
· Ada yang hafalannya kuat,
· Ada yang baru belajar,
· Ada yang tua,
· Ada yang muda,
· Ada yang konsentrasi tinggi,
· Ada yang mudah lupa.
Namun seluruhnya bersatu dalam arah, bukan dalam “kesamaan kepribadian”. Demikian pula jam’iyah:
· Tidak semua harus berpikir sama,
· Tidak semua harus berperilaku sama,
· Tidak semua harus satu gaya perjuangan,
· Yang wajib adalah kesatuan arah visi.
Islam mengajarkan: persatuan bukan seragam, tapi searah. Shaf shalat adalah contoh nyata bahwa:
· kita boleh berbeda karakter,
· tetapi tidak boleh berbeda tujuan.
3. Persamaan dalam barisan membentuk kekuatan kolektif
Barisan yang renggang membuka ruang bagi syaitan. Barisan yang rapat menutup peluang kekacauan. Kesetaraan barisan adalah penjaga kekuatan organisasi. Dalam jam’iyah:
· perpecahan kecil dapat mengundang konflik besar,
· kesenjangan internal dapat membuka peluang fitnah,
· rasa eksklusif dapat memutus ukhuwah.
Wallahu A'lam, hanafi anshory.
Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.

[1] HR. Muslim.
[2] HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, I: 254: 690.