Kesabaran yang Menguatkan Perjuangan; Meneladani Kesabaran Nabi Nuh a.s dalam Berjihad
oleh Fahrul Rozi
Dalam Al Quran Allah seringkali mengajak pembaca dan pendengarnya untuk merenung sejanak, menatap ke dalam sanubari yang paling dalam dengan bentuk pertanyaan-pertanyaan (Istifham inkari), seperti dalam ayat berikut ini :
﴿الم* أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ﴾
Alif lam mim, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al ‘Ankabut [29] : 1-2)
Al Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan :
اسْتِفْهَامُ إِنْكَارٍ، وَمَعْنَاهُ: أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا بُدَّ أَنْ يَبْتَلِيَ عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ بِحَسْبِ مَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْإِيمَانِ
“Ini istifham Inkari, dan maknanya: “sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala pasti akan menguji hamba-hambanya yang beriman sesuai dengan kadar yang mereka miliki dari keimanan”.(Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz IV, hlm. 115)
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ :
إنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ فِي الْبَلَاءِ"
Sesungguhnya di antara manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, lalu orang-orang shalih, kemudian yang semisalnya dan seterusnya. seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya, maka jika imannya kuat, ia akan ditambah dalam ujiannya (Hr. Ahmad, musnad Ahmad : Juz. 16/no. 27721, dan at Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi, no.2398)
Ujian para Nabi adalah ujian paling besar, antara lain karena mereka mengemban misi jihad li takuuna kalimatullahi hiya Al ‘ulya, mengajak manusia menauhidkan Allah yang dibuktikan dengan pemahaman yang baik akan segala pesan ilahi yang Dia sampaikan dan mengamalkannya di segala ruang dan waktu.
Para Nabi adalah pelopor dan tonggak utamanya, dan sudah mejadi sunnatullah selalu dimusuhi di setiap zaman. Muhammad muda sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul adalah orang yang dicintai oleh kaumnya dan dihargai, namun tatkala Allah mengangkatnya menjadi Rasul penilaian masyarakat berubah 180 derajat menjadi membenci dan memusuhi.
Tatkala wahyu pertama turun, Rasulullah diantarkan oleh Khadijah menemui anak pamannya : Waraqah, seorang ahli Injil yang diriwayatkan memiliki naskah injil berbahasa Ibrani yang ia salin sendiri. Ia memperingatkan Nabi dengan ucapan :
لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ!
“Kalaulah Aku masih hidup Ketika kaummu mengusirmu!
«أَوَ مُخْرِجِيَّ هُمْ»
Apakah benar mereka akan mengusirku?, Tanya Nabi keheranan
Jawab Waraqah :
نَعَمْ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا.
“Ya! Tidak datang seorangpun dengan membawa sesuatu seperti yang engkau bawa, melainkan ia dimusuhi, dan jika hari itu (masih) menemukanku, pasti aku akan menolongmu sekuat-kuatnya” (Shahih Al Bukhari, kitab Bad’I Al wahyi : no. 3)
Kesabaran Nabi Nuh ‘Alaihissalam
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (Qs. Al ‘Ankabut [29] : 14)
Ayat ini menjadi penghibur sekaligus penyemangat Nabi Saw. dan mukminin dalam berjihad menyampaikan risalahnya, sesuai dengan ayat-ayat sebelumnya yang secara garis besar mengingatkan akan adanya ujian dan cobaan yang berat dalam mengemban amanah tersebut.
Bagaimana tidak, Ia menetap di antara kaumnya sambil terus menerus berdakwah kepada meraka siang malam, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan selama 950 tahun. Tapi mereka semakin diajak semakin menjauh, lari berpaling dari kebenaran. Dan yang mau beriman sangatlah sedikit. Bahkan pembangkangan itu tidak hanya datang dari luar tapi juga dari dalam rumahnya, yaitu dari istri dan anaknya sendiri.
Al Quran dengan singkat namun padat (ijaz) memberi isyarat yang jika ditadabburi dapat memberi faedah bahwa begitu lama Nuh alaihissalam menanggung ujian dakwahnya itu, antara lain dengan pemilihan kalimat :
فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا
maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun
Dalam tafsir AL Qurtubi disebutkan :
فَلِمَ قَالَ" أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا" وَلَمْ يَقُلْ تِسْعَمِائَةٍ وَخَمْسِينَ عَامًا. فَفِيهِ جَوَابَانِ: أَحَدُهُمَا- أَنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ تَكْثِيرُ الْعَدَدِ فَكَانَ ذِكْرُهُ الْأَلْفَ أَكْثَرَ فِي اللَّفْظِ وَأَكْثَرَ فِي الْعَدَدِ.
“Maka mengapa Dia mengatakan: ‘seribu tahun kurang lima puluh tahun’, dan tidak mengatakan: ‘sembilan ratus lima puluh tahun’? Dalam hal ini ada dua jawaban: salah satunya adalah bahwa maksudnya untuk memperbanyak (memberi kesan besar) jumlah; sehingga penyebutan ‘seribu’ itu lebih (terkesan) banyak dalam lafazh dan lebih (terkesan) banyak dalam jumlah.” (Al Jami li Ahkam Al Quran : Juz. VIII/Hlm. 192)
Lalu penggunaan kata سنة bukan حول yang sebenarnya bersinomin juga memberi kesan serupa, karena Ar Raghib menjelaskan :
الحَوْلُ السَنَةُ اعْتِبَارًا بِانْقِلَابِهَا وَدَوْرَانِ الشَمْسِ فِي مَطَالِعِهَا وَمَغَارِبِهَا...وَمِنْهُ حَالَتِ السَنَتُ تَحُولُ وَحَالَتِ الدَارُ : تَغَيَّرَتْ.
“Haul itu sama dengan tahun ditinjau dari perputarannya (pergantian waktunya) dan peredaran matahari pada tempat-tempat terbit dan terbenamnya…darinya (ada ungkapan : Tahun/negeri itu telah haalat atau tahuulu maksudnya telah berganti”(Mu’jam mufradat Alfazh Al Quran : hlm. 105)
Pertama : haul dihitung jika tanggal dan bulan yang sama sudah datang pada tahun berikutnya. Ini batasan yang sangat rinci dan jelas. Oleh karena itu, untuk menentukan batasan pada hukum-hukum syara yang berupa waktu dalam satuan tahun Al Quran menggunakan kata ini, seperti pada batas persusuan bayi :
وَٱلْوَٰلِدَٰتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَٰدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَ ۚ
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (Qs. Al Baqarah [2] : 233)
وَٱلَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَٰجًا وَصِيَّةً لِّأَزْوَٰجِهِم مَّتَٰعًا إِلَى ٱلْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ ۚ
Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). (Al Baqarah [2] : 240)
Sementara itu kata سنة tidak seperti itu, dalam adat keseharian ia sering digunakan dalam uslub (gaya bahasa) umur, misalkan bayi yang lahir pada tanggal 24 April tahun 2025 ketika ditanya oleh seseorang : “berapa umur bayi kamu?” (Di tanggal 25 April 2026), ia akan menjawab : “bayi saya berumur 1 tahun” walaupun sudah lebih 1 hari, karena yang ditanyakan jika di bahasa arabkan bayi itu berumur سنة واحدة bukan حول واحد.
Penggunaan kata سنة yang lebih sering dipakai pada konteks umur manusia sebagaimana penjelasan di atas, ketimbang haul yang sering digunakan dalam konteks batasan waktu ini juga memberi kesan lamanya masa jihad Nabi Nuh ‘Alahissalam.
Kedua : mengapa dikatakan 1000 tahun dengan ألف سنة, sedangkan 50 tahun dengan خمسين عاما? padahal سنة dan عام adalah sinomim yang berarti tahun.
Walau bersinonim keduanya memiliki sedikit perbedaan. Al ‘Askari dalam al Furuq fi Al Lughah (hlm. 486) menjelaskan : عام berarti kumpulan hari-hari, sementara سنة Kumpulan bulan-bulan., ia kemudian menyebutkan buktinya :
أَلا ترى أَنه لما كَانَ يُقَال أَيَّام الزنج قيل عَام الزنج وَلما لم يُقَل شهور الزنج لم يُقل سنة الزنج
Tidakkah kamu memperhatikan, bahwasanya Ketika ada istilah Ayyam Az zanj (Hari-hari pemberontakan Zanj), diistilahkan juga ‘aam Az Zanj. ketika tidak dikatakan syuhur az zanj (bulan-bulan Az Zanj) tidak dikatakan sanatu az Zanj.
Selanjutnya dari segi uslub, Ar Raghib menuturkan penggunaan سنة dan عام itu sama, tapi kebanyakan sanah itu digunakan untuk mengungkapkan tahun yang terdapat kesulitan dan bencana padanya. (Mu’jam Mufradat Alfazh Al Quran : hlm. 186 & 266)
Allah mengungkapkan 7 tahun kemarau di masa Yusuf dengan kata سنين (jama dari سنة) sedangkan tahun turunnya hujan diungkapkan dengan kata عام :
قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدتُّمْ فَذَرُوهُ فِى سُنۢبُلِهِۦٓ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأْكُلُونَ* ثُمَّ يَأْتِى مِن بَعْدِ ذَلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تُحْصِنُونَ
Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. (Qs. Yusuf [12] : 47-48)
ثُمَّ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ ٱلنَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ
Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur”. (Qs. Yusuf [12] : 49)
Maka, mengapa ketika mengungkapkan alfa (1000) diiringi sanah, yang berarti Kumpulan bulan dan biasa digunakan untuk tahun-tahun yang berat, sementara illa khamsiina diiringi dengan ‘aam yang yang berarti Kumpulan hari & biasanya digunakan bukan berkaitan dengan tahun yang berat. Ayat ini memberi faedah membangkitkan rasa bahwa begitu lama Nuh ‘alaihissalam Menanggung ujian sedangkan masa-masa mudahnya begitu sebentar.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: بُعِثَ نُوحٌ وَهُوَ لِأَرْبَعِينَ سَنَةٍ وَلَبِثَ فِي قَوْمِهِ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا وَعَاشَ بَعْدَ الطُّوفَانِ سِتِّينَ عاماً حتى كثر الناس وفشوا.
“Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Nabi Nuh diutus sedang ia berusia empat puluh tahun. Ia tinggal di tengah kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun, dan ia hidup setelah banjir (taufan) selama enam puluh tahun, hingga manusia menjadi banyak dan tersebar luas.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim : Juz. VI/Hlm. 19, Umdatu at Tafsir : juz. III/hlm. 790)
Maka ada di manakah kita dari kesabaran nabi Nuh?