KEPEMIMPINAN SEBAGAI AMANAH, BUKAN KEMULIAAN
1. Kepemimpinan sebagai Titipan Ilahi (Amanah), Bukan Status Kehormatan
Dalam Islam, kepemimpinan (al-imāmah, al-qiyādah) bukanlah lambang kemuliaan sosial, posisi kehormatan, atau simbol superioritas. Ia adalah amanah ilāhiyah yang Allah bebankan kepada hamba-hamba-Nya yang layak dan siap menanggung konsekuensinya. Al-Qur’an menegaskan:
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلٰى أَهْلِهَا.
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanat kepada ahlinya.” [1]
Ayat ini menjadi fondasi bahwa posisi kepemimpinan adalah amanah, dan setiap amanah harus dipegang oleh “ahluha” (orang yang paling pantas, paling kuat, paling amanah).
Karena itu, Islam tidak memandang pemimpin sebagai “yang dimuliakan”, tetapi sebagai yang paling dibebani. Maka kepemimpinan dalam jam’iyah—dengan seluruh struktur dari ketua, koordinator bidang, hingga penanggungjawab program—bukan tempat mencari kehormatan, tetapi ruang untuk menunaikan amanah.
2. Perspektif Nabi ﷺ: Kepemimpinan adalah Beban yang Akan Dipertanyakan
Rasulullah ﷺ menggambarkan kepemimpinan sebagai tugas berat terutama karena ia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah:
كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ...
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” [2]
Menjadi pemimpin berarti menerima pertanyaan langsung dari Allah tentang:
· arah yang ia berikan,
· keputusan yang ia buat,
· kader yang ia bimbing,
· jamaah yang ia jaga,
· dan visi syariat yang ia pertahankan.
Hadis ini menjadi jantung konsepsi kepemimpinan jam’iyah: pemimpin bukan orang yang berada di atas jamaah, tetapi orang yang paling besar tanggung jawabnya terhadap jamaah.
3. Rasulullah ﷺ Melarang Meminta Jabatan: Bukti Ia Bukan Kemuliaan
Salah satu dalil paling tegas yang menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan kemuliaan, adalah ketika Rasulullah ﷺ menegur Abdurrahman bin Samurah:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: " يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا، وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ، فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا، فَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ، وَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ ".
Dari Abdurrahman bin Samurah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan kepemimpinan. Sebab jika engkau diberi jabatan itu karena permintaanmu, engkau akan dibiarkan (mengurusnya sendiri). Namun jika engkau diberi tanpa memintanya, engkau akan diberi pertolongan (dalam menjalankannya). Dan apabila engkau bersumpah atas suatu hal, lalu engkau melihat ada yang lebih baik darinya, maka lakukanlah yang lebih baik itu, dan bayarlah kafarat untuk sumpahmu. [3]
Mengapa kepemimpinan tidak boleh diminta?
1. Jabatan kepemimpinan mudah menjerumuskan jika diambil karena ambisi.
2. Orang yang meminta jabatan biasanya menginginkan kehormatan, bukan memikul beban.
3. Kepemimpinan yang dipaksakan sering tidak membawa keberkahan.
Jika kepemimpinan adalah kemuliaan, tentu Rasulullah ﷺ tidak melarangnya. Karena kepemimpinan adalah beban, beliau menegaskan:
وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ
“Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah.”
4. “Kehinaan dan Penyesalan pada Hari Kiamat” – Dimensi Akhirat dari Kepemimpinan
Rasulullah ﷺ menyampaikan peringatan yang sangat keras:
يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيْهَا.
“Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang lemah, sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” [4]
Hadis ini memperlihatkan dua hal:
1. Pemimpin bukan dimuliakan karena jabatannya, tetapi diuji, ditelanjangi, dan diperiksa amalnya secara lebih berat.
2. Kepemimpinan bisa menjadi kehinaan jika digunakan untuk ambisi, prestise, atau kekuasaan.
Karena itu, jam’iyah tidak boleh menjadikan jabatan sebagai panggung pencitraan, tetapi sebagai tempat menunaikan amanah dan melayani jamaah.
5. Kepemimpinan sebagai Pelayanan (Khidmah), Bukan Keistimewaan
Konsep amanah secara otomatis melahirkan prinsip khidmah (melayani). Nabi ﷺ bersabda:
قَالَ أَبُو ْعَبْدِ الرَّحْمن ِالسُّلَمِيِّ: قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الزَّاهِدُ الْعُكْبَرِيُّ بِهَا قَالَ: أنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مَسِيحٍ قَالَ: أنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّاسٍ الْمَعْرُوفُ بِابْنِ مَرْدَهْ قَالَ: أنا مُحَمَّدُ بْنُ السَّرِيِّ الْقَنْطَرِيُّ قَالَ: أنا عَلِيُّ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ يَحْيَى بْنُ أَكْثَمَ: بِتُّ لَيْلَةً عِنْدَ الْمَأْمُونِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ، فَانْتَبَهْتُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَنَا عَطْشَانُ ، فَتَقَلَّبْتُ، فَقَالَ: يَا يَحْيَى مَا شَأْنُكَ؟ . قُلْتُ: عَطْشَانُ وَاللَّهِ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ. فَوَثَبَ مِنْ مَرْقَدِهِ فَجَاءَنِي بِكُوزٍ مِنْ مَاءٍ، فَقُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، أَلَا دَعَوْتَ بِخَادِمٍ، أَلَا دَعَوْتَ بِغُلَامٍ؟ فَقَالَ: لَا، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ: «سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ» وَمِنْ آدَابِهَا: أَنْ يُشَارِكَ إِخْوَانَهُ فِي الْمَكْرُوهِ كَمَا يُشَارِكُهُمْ فِي الْمَحْبُوبِ، لَا يَتَلَوَّنُ عَلَيْهِمْ فِي الْحَالَيْنِ جَمِيعًا.
Abu ‘Abdurrahman as-Sulamī berkata: “Ubaidullah bin Muhammad az-Zāhid al-‘Ukbarī memberitahukan kepadaku kisah ini. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Masīḥ. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbās yang dikenal dengan nama Ibn Mardah. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin as-Sarī al-Qanṭarī. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ubaidillah. Ia berkata: Yahya bin Aktsam berkata: “Suatu malam aku bermalam di rumah al-Ma’mun, Amīrul Mu’minīn. Aku terbangun di tengah malam dalam keadaan sangat haus. Aku pun bergerak (di tempat tidur). Lalu Al-Ma’mun bertanya: ‘Wahai Yahya, ada apa denganmu?’ Aku menjawab: ‘Aku haus, demi Allah, wahai Amīrul Mu’minīn.’ Maka beliau bangkit dari tempat tidurnya dan membawakan kepadaku sebuah kendi berisi air. Aku pun berkata: ‘Wahai Amīrul Mu’minīn, mengapa Anda tidak memanggil pelayan saja? Mengapa tidak memanggil seorang pembantu?’ Beliau menjawab: ‘Tidak. Ayahku telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ‘Uqbah bin ‘Āmir, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.”” Dan termasuk adabnya adalah: bahwa seseorang hendaknya ikut merasakan kesulitan bersama saudara-saudaranya sebagaimana ia ikut merasakan kenyamanan bersama mereka, dan tidak berubah sikap terhadap mereka dalam dua keadaan itu sekaligus.[5]
Ismā‘īl bin Muḥammad al-‘Ajlūnī al-Jarrāḥī (1162 H) menjelaskan:
(سَيِّدُ القَوْمِ خَادِمُهُمْ) رَوَاهُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمٰنِ السُّلَمِي فِي آدَابِ الصُّحْبَةِ لَهُ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَكْثَمَ، عَنِ المَأْمُونِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَفَعَهُ، وَفِيهِ قِصَّةٌ لِيَحْيَى بْنِ أَكْثَمَ مَعَ المَأْمُونِ، وَفِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ وَانْقِطَاعٌ. وَرَوَاهُ الخَطِيبُ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَكْثَمَ عَنِ المَأْمُونِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَن جَرِيرٍ مَرْفُوعًا. وَرَوَاهُ أَبُو نُعَيْمٍ فِي تَرْجَمَةِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَمَ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ جِدًّا مَعَ انْقِطَاعٍ، عَنْ أَنَسٍ مَرْفُوعًا بِلَفْظِ: وَيْحَ الخَادِمِ فِي الدُّنْيَا، هُوَ سَيِّدُ القَوْمِ فِي الآخِرَةِ. وَأَخْرَجَهُ الدَّيْلَمِي فِي مُسْنَدِهِ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَفَعَهُ: سَيِّدُ القَوْمِ فِي السَّفَرِ خَادِمُهُمْ، فَمَنْ سَبَقَهُمْ بِخِدْمَةٍ لَمْ يَسْبِقُوهُ بِعَمَلٍ إِلَّا الشَّهَادَةَ. وَرَوَى الطَّبَرَانِي مَا بِمَعْنَاهُ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ: أَفْضَلُ الغُزَاةِ فِي سَبِيلِ اللهِ خَادِمُهُمْ، ثُمَّ الَّذِي يَأْتِيهِمْ بِالأَخْبَارِ، وَأَخَصُّهُمْ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ الصَّائِمُ، وَمَنِ اسْتَقَى لِأَصْحَابِهِ قِرْبَةً فِي سَبِيلِ اللهِ سَبَقَهُمْ إِلَى الجَنَّةِ بِسَبْعِينَ دَرَجَةً، أَوْ بِسَبْعِينَ عَامًا. وَعِنْدَ ابْنِ دُرَيْدٍ فِي المُجْتَبَى: قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَيِّدُ القَوْمِ خَادِمُهُمْ، فِي الكَلِمَاتِ الَّتِي تَفَرَّدَ بِهَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَقَالَ فِي المَقَاصِدِ: عَزَا الدَّيْلَمِي الحَدِيثَ لِلتِّرْمِذِي وِابْنِ مَاجَهْ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، فَوَهِمَ، وَاعْتَرَضَهُ النَّجْمُ بِأَنَّ الوَهْمَ فِي الأَوَّلِ دُونَ الثَّانِي. ثُمَّ قَالَ: وَعِنْدَ الطَّبَرَانِي فِي أَرْبَعِينِهِ الصُّوفِيَّةِ عَنْ أَنَسٍ: سَيِّدُ القَوْمِ خَادِمُهُمْ، وَسَاقِيْهِمْ آخِرُهُمْ شُرْبًا. وَفِي فَتَاوَى ابْنِ حَجَرٍ المَكِّي نَقْلًا عَنِ الجَلَالِ السُّيُوطِي: حَدِيثُ: أَطْعَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْحَابَهُ لُقْمَةً لَقِمَهُ، وَقَالَ: سَيِّدُ القَوْمِ خَادِمُهُمْ — كَذِبٌ مُفْتَرًى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. انْتَهَى. وَأَقُولُ: مَرَادُهُ بِقَوْلِهِ كِذْبٌ إِلخْ، بِالنِّسْبَةِ إِلَى الجُمْلَةِ الأُولَى، أَوْ بِالنِّسْبَةِ لِكَوْنِهِ عَلَى هٰذَا المِنْوَالِ، وَإِلَّا فَالحَدِيثُ ضَعِيفٌ كَمَا عَلِمْتَ، عَلَى أَنَّهُ قَدْ يُقَالُ: إِنَّهُ حَسَنٌ لِغَيْرِهِ لِتَعَدُّدِ طُرُقِهِ كَمَا مَرَّ، فَتَدَبَّرْ.
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu ‘Abdurrahman as-Sulami dalam Adab ash-Shuhbah. Ia meriwayatkannya dari Yahya bin Aktsam, dari al-Ma’mun, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ‘Uqbah bin ‘Amir secara marfū‘. Dalam riwayat tersebut terdapat kisah Yahya bin Aktsam bersama al-Ma’mun, namun sanadnya mengandung kelemahan dan keterputusan. Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Khathib dari Yahya bin Aktsam, dari al-Ma’mun, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, dari Jarir, secara marfū‘. Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya dalam biografi Ibrahim bin Adham dengan sanad yang sangat lemah dan terputus dari Anas secara marfū‘ dengan lafaz: “Celakalah pelayan di dunia; dialah pemimpin kaum itu di akhirat.” Ad-Dailami meriwayatkannya dalam Musnad-nya dari Sahl bin Sa‘d secara marfū‘: “Pemimpin suatu kaum ketika safar adalah pelayan mereka. Maka siapa yang mendahului mereka dalam pelayanan, mereka tidak akan mendahuluinya dalam amal kecuali (dalam meraih) kesyahidan.” Ath-Thabarani meriwayatkan makna yang serupa dengan sanad lemah dari Abu Hurairah secara marfū‘: “Sebaik-baik para mujahid di jalan Allah adalah pelayan mereka. Lalu yang terbaik setelahnya adalah yang menyampaikan kabar kepada mereka. Dan yang paling mulia di sisi Allah adalah yang berpuasa. Barang siapa mengambil air untuk kawan-kawannya dengan satu kantong air di jalan Allah, ia akan mendahului mereka masuk surga sebanyak tujuh puluh derajat atau tujuh puluh tahun.” Dalam kitab al-Mujtaba, Ibnu Durayd menukil sabda Nabi ﷺ: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” Termasuk dalam daftar kata-kata yang Nabi khususkan. Dalam al-Maqāshid, disebutkan bahwa ad-Dailami menisbatkan hadis ini kepada at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Qatadah, namun penisbatan itu keliru. An-Najm mengoreksinya bahwa kekeliruan itu hanya pada penyandaran kepada Tirmidzi, bukan kepada Ibnu Majah. Kemudian disebutkan juga bahwa dalam Arba‘in ash-Shufiyyah karya ath-Thabarani, dari Anas, terdapat hadis: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka, dan orang yang menuangkan minuman bagi mereka adalah yang terakhir minum.” Dalam Fatawa Ibn Hajar al-Makki, dikutip dari al-Jalal as-Suyuthi bahwa hadis: Nabi ﷺ memberikan kepada para sahabat sesuap makanan yang beliau suapkan, lalu bersabda: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka” adalah kedustaan yang direkayasa atas nama Nabi ﷺ. Selesai. Penulis (al-‘Ajluni) berkata: Yang dimaksud oleh as-Suyuthi dengan “kedustaan” adalah terkait bagian pertama riwayat itu, atau terkait bentuk riwayat tersebut secara keseluruhan. Adapun secara umum, hadis “Pemimpin kaum adalah pelayan mereka” itu berstatus lemah, sebagaimana telah disebutkan. Namun bisa dikatakan bahwa hadis itu menjadi hasan li ghairihi karena banyaknya jalur yang meriwayatkannya, sebagaimana telah dijelaskan. Maka renungkanlah.[6]
Kata “sayyid” (orang mulia) dibalik secara radikal oleh Nabi:
· bukan yang paling dihormati,
· bukan yang paling tinggi kursinya,
· bukan yang paling sering tampil,
tetapi yang paling melayani jamaahnya.
Dalam konteks jam’iyah:
· Ketua bukan “pusat kehormatan”, tetapi pelayan gerakan.
· Pemimpin bidang bukan “atasan”, tetapi pengayom kader.
· Struktur bukan “hierarki status”, tetapi “shaf pelayanan”.
Ini paralel dengan shalat berjamaah: Imam berdiri di depan bukan untuk diagungkan, tetapi untuk menanggung beban, memastikan jamaah merasakan kemudahan dan ketertiban.
6. Amanah Mengharuskan Kompetensi: Kuat dan Terpercaya
Ketika putri Syu’aib a.s. merekomendasikan Musa a.s., ia berkata:
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ.
“Sesungguhnya orang terbaik yang engkau ambil sebagai pekerja adalah yang kuat dan amanah.” [7]
Dua sifat ini pula yang menjadi syarat pemimpin dalam jam’iyah:
1. Al-Qawiyy
– kompeten, mampu, mengerti arah, menguasai tugas.
2. Al-Amīn
– jujur, tidak menipu jamaah, tidak mengkhianati visi, tidak menjadikan posisi sebagai sarana kepentingan.
Amanah tidak cukup dengan ketulusan saja; ia harus dibarengi kemampuan teknis. Kemampuan tanpa amanah adalah kerusakan; Amanah tanpa kemampuan adalah kelemahan.
7. Amanah Menuntut Keadilan dan Keberpihakan kepada Kebenaran
Dalam amanah kepemimpinan, Allah memerintahkan keadilan mutlak:
وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ.
“Jika kalian menetapkan hukum di tengah manusia, lakukanlah dengan adil.” [8]
Pemimpin jam’iyah tidak boleh:
· membela kelompok tertentu,
· melindungi kepentingan pribadi,
· memonopoli informasi,
· atau menggunakan kedudukan untuk membungkam kritik.
Amanah mengharuskan pemimpin bersikap objektif, karena jamaah mengikuti tindakan, bukan sekadar ucapan.
8. Amanah Melahirkan Tanggung Jawab Moral, Spiritual, dan Sosial
Kepemimpinan bukan hanya urusan struktural. Ia adalah:
· tanggung jawab moral, karena menyangkut hidayah jamaah;
· tanggung jawab spiritual, karena dipertanggungjawabkan di hadapan Allah;
· tanggung jawab sosial, karena memengaruhi masa depan umat dan organisasi.
Imam Al-Mawardi menyatakan:
الْإِمَامَةُ: مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا، وَعَقْدُهَا لِمَنْ يَقُومُ بِهَا فِي الْأُمَّةِ وَاجِبٌ بِالْإِجْمَاعِ وَإِنْ شَذَّ عَنْهُمْ الْأَصَمُّ.
“Imamah (kepemimpinan tertinggi dalam Islam) ditetapkan sebagai kelanjutan tugas kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Mengangkat seseorang yang menjalankan tugas tersebut di tengah umat adalah kewajiban berdasarkan ijma’ (kesepakatan ulama), meskipun al-Asham menyelisihi mereka.” [9]
Dengan demikian, pemimpin jam’iyah bukan hanya mengurus administrasi, tetapi:
· menjaga visi keislaman jam’iyah,
· membimbing jiwa jamaah,
· menjaga kesatuan barisan,
· dan memastikan arah perjuangan tetap pada rel wahyu. Wallahu A'lam. hanafi anshory.
Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.

[1] QS. An-Nisā’ 4:58.
[2] Hr. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, II: 901: 2416.
[3] Hr. al-Imām Aḥmad ibn Ḥanbal (164–241 H), Al-Musnad, XXXIV: 223: 20618. Mu’assasat ar-Risālah. Cet.ke-1, 1421 H – 2001. Abū Muḥammad ‘Abdullāh ibn ‘Abd ar-Raḥmān ibn al-Faḍl ibn Bahram ibn ‘Abd aṣ-Ṣamad ad-Dārimī, at-Tamīmī as-Samarqandī (w. 255 H). Musnad ad-Dārimī (Sunan ad-Dārimī), III: 1513: 2391. Dār al-Mughnī, Saudi Arabia. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, VI: 2443: 6248. Shahih Muslim, V: 86: 1652. Sunan Abu Dawud, III: 91: 2929. Sunan at-Tirmidzi, III: 355: 1609. Sunan an-Nasai, VIII: 225: 5384. Cet.ke-1, 1412 H – 2000 M. 4 juz.
[4] Hr. Muslim, Shahih Muslim, VI: 6: 1825.
[5] Muḥammad bin al-Ḥusayn bin Muḥammad bin Mūsā bin Khālid bin Sālim an-Nīsābūrī, Abū ‘Abdirraḥmān as-Sulamī (412 H), Ādāb aṣ-Ṣuḥbah, 89: 117. Dār aṣ-Ṣaḥābah, Mesir. cet.ke-1, 1410 H – 1990 M.
[6] Ismā‘īl bin Muḥammad al-‘Ajlūnī al-Jarrāḥī (1162 H). Kashf al-Khafā’ wa Muzīl al-Ilbās ‘ammā Isytahara min al-Aḥādīts ‘alā Alsinati an-Nās, I: 463. Maktabat al-Qudsī, Kairo. 1351 H.
[7] QS. Al-Qashash 28:26.
[8] QS. An-Nisā’ 4:58.
[9] Abū al-Ḥasan ‘Alī ibn Muḥammad ibn Muḥammad ibn Ḥabīb al-Baṣrī al-Baghdādī, asy-syahīr bi al-Māwardī (450 H), al-Aḥkām as-Sulṭāniyyah. Dār al-Ḥadīth, Kairo-Mesir. tt. الْأَصَمّ yang dimaksud dalam perkataan al-Māwardī adalah: Abu Bakr al-Aṣamm (الأصم) Seorang tokoh Mu‘tazilah, bernama lengkap: أبو بكر الأصمّ عبد الرحمن بن كيسان (w. sekitar awal abad ke-3 H)