IKHLAS MEMIMPIN: TIDAK KARENA GENGSI ATAU AMBISI
Dimensi paling mendasar dalam kepemimpinan Islam: ikhlas. Tanpa ikhlas, ilmu kehilangan cahaya, amanah kehilangan ruh, dan shaf jamaah kehilangan kekuatannya. Ikhlas adalah fondasi moral yang menyatukan imam dan makmum, pemimpin dan jamaah, individu dan organisasi. Tanpa ikhlas, jam’iyah akan rapuh, mudah tercerai, dan kehilangan keberkahan perjuangan.
Ikhlas Memimpin: Tidak karena Gengsi atau Ambisi
1. Al-Qur’an: Memimpin adalah amanah, bukan ambisi
Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ.
“Mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan ikhlas…” [1]
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh amal, termasuk memimpin, harus dilandasi ikhlas. Kepemimpinan bukan ibadah ritual, tetapi ibadah sosial. Karena itu, niatnya harus murni untuk Allah.
2. Larangan meminta jabatan karena ambisi
Rasulullah ﷺ menegaskan kepada Abdurrahman bin Samurah:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: " يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا، وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ، فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا، فَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ، وَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ ".
Dari Abdurrahman bin Samurah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan kepemimpinan. Sebab jika engkau diberi jabatan itu karena permintaanmu, engkau akan dibiarkan (mengurusnya sendiri). Namun jika engkau diberi tanpa memintanya, engkau akan diberi pertolongan (dalam menjalankannya). Dan apabila engkau bersumpah atas suatu hal, lalu engkau melihat ada yang lebih baik darinya, maka lakukanlah yang lebih baik itu, dan bayarlah kafarat untuk sumpahmu. [2]
Imam Muslim atas hadis di atas di antaranya beliau membuat judul:
بَاب النَّهْيِ عَنْ طَلَبِ الْإِمَارَةِ وَالْحِرْصِ عَلَيْهَا.
Bab larangan meminta jabatan kepemimpinan dan ambisi berlebihan terhadapnya.
Dalam syarah Imam Nawawi dijelaskan:
قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (لَا تَسَألِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ أُكِلْتَ عَلَيْهَا) قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم (إِنَّا وَاللَّهِ لَا نُوَلِّي عَلَى هَذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ وَلَا أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ) قَالَ الْعُلَمَاءُ وَالْحِكْمَةُ فِي أَنَّهُ لَا يُوَلَّى مَنْ سَأَلَ الْوِلَايَةَ أَنَّهُ يُوكَلُ إِلَيْهَا وَلَا) تَكُونُ مَعَهُ إِعَانَةٌ كَمَا صَرَّحَ بِهِ فِي حَدِيثِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ السَّابِقِ وَإِذَا لَمْ تَكُنْ مَعَهُ إِعَانَةٌ لَمْ يَكُنْ كُفْئًا وَلَا يُوَلَّى غَيْرُ الْكُفْءِ وَلِأَنَّ فِيهِ تُهْمَةً لِلطَّالِبِ وَالْحَرِيصِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
“Sabda Nabi ﷺ: ‘Janganlah engkau meminta jabatan kepemimpinan; karena jika engkau diberi jabatan itu karena permintaanmu, maka engkau akan diserahkan sepenuhnya kepadanya (tanpa pertolongan Allah).’ Dan sabda beliau ﷺ: ‘Sesungguhnya, demi Allah, kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang sangat berambisi terhadapnya.’ Para ulama berkata: hikmah tidak diberikannya jabatan kepada orang yang meminta kekuasaan adalah karena orang tersebut akan diserahkan kepada dirinya sendiri (tanpa pertolongan Allah), dan tidak ada bantuan (taufik) yang menyertainya, sebagaimana ditegaskan dalam hadis Abdurrahman bin Samurah yang telah disebutkan sebelumnya. Apabila tidak ada pertolongan yang menyertainya, maka ia tidak akan menjadi orang yang cakap; sedangkan jabatan tidak diberikan kecuali kepada orang yang cakap. Selain itu, pada diri orang yang meminta dan berambisi terhadap jabatan terdapat unsur kecurigaan (tuduhan buruk). Dan Allah Maha Mengetahui.”[3]
Orang yang meminta jabatan cenderung terdorong oleh ambisi atau keinginan dihormati, dan kehilangan sikap ikhlas.
3. Gengsi dan popularitas merusak niat memimpin
Pemimpin yang mencari jabatan karena:
· status,
· popularitas,
· pengaruh,
· atau keuntungan pribadi,
tidak akan mampu membawa jamaah kepada Allah.
“Orang yang meminta kepemimpinan akan diserahkan kepada dirinya sendiri.” Artinya: Allah membiarkannya tanpa pertolongan, sehingga ia memimpin dengan nafsu, bukan hidayah.
4. Ikhlas memimpin berarti siap memikul amanah
Pemimpin yang ikhlas tidak mencari kehormatan, tetapi mencari ridha Allah. Ia sadar:
· jabatan itu berat,
· amanah itu akan dipertanyakan di akhirat,
· dan tanggung jawabnya bukan kepada manusia, tetapi kepada Allah dulu.
Itulah sebabnya ulama salaf berkata: “Kepemimpinan adalah beban, bukan kemuliaan.”
Wallahu A'lam, hanafi anshory.
Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.

[1] QS. Al-Bayyinah: 5.
[2] Hr. al-Imām Aḥmad ibn Ḥanbal (164–241 H), Al-Musnad, XXXIV: 223: 20618. Mu’assasat ar-Risālah. Cet.ke-1, 1421 H – 2001. Abū Muḥammad ‘Abdullāh ibn ‘Abd ar-Raḥmān ibn al-Faḍl ibn Bahram ibn ‘Abd aṣ-Ṣamad ad-Dārimī, at-Tamīmī as-Samarqandī (w. 255 H). Musnad ad-Dārimī (Sunan ad-Dārimī), III: 1513: 2391. Dār al-Mughnī, Saudi Arabia. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, VI: 2443: 6248. Shahih Muslim, V: 86: 1652. Sunan Abu Dawud, III: 91: 2929. Sunan at-Tirmidzi, III: 355: 1609. Sunan an-Nasai, VIII: 225: 5384.
Cet.ke-1, 1412 H – 2000 M. 4 juz. HR. Bukhari.
[3] Abū Zakariyyā Muḥyī ad-Dīn Yaḥyā bin Syaraf an-Nawawī (676 H), al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bin al-Ḥajjāj, XII: 207-208. Dār Iḥyā’ at-Turāṯ al-‘Arabī – Bairūt. cet. Ke-2, 1392. 18 juz (9 jilid)