IKHLAS DIPIMPIN: TAAT KEPADA YANG BENAR, BUKAN KEPADA PRIBADI
Ikhlas dalam jamaah bukan hanya tugas pemimpin—tetapi juga tugas makmum, kader, dan anggota jam’iyah.
1. Al-Qur’an: Taat kepada pemimpin selama dalam ketaatan kepada Allah
Allah berfirman:
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ.
“Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan pemimpin di antara kalian.” [1]
Ibnu Katsir menegaskan:
(وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ) أَيْ: فِيمَا أَمَرُوكُمْ بِهِ مِنْ طَاعَةِ اللَّهِ، لَا فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ، فَإِنَّهُ لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ.
“(Dan para pemegang otoritas di antara kalian), yaitu dalam hal-hal yang mereka perintahkan kepada kalian berupa ketaatan kepada Allah, bukan dalam kemaksiatan kepada Allah; karena sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.”[2]
Ketaatan kepada pemimpin adalah ketaatan bersyarat—selama pemimpin berada dalam ketaatan kepada Allah.
2. Hadis: Ketaatan hanya dalam kebaikan
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma‘ruf (kebaikan).”
Di antara matan lengkap dari potongan hadis di atas adalah riwayat Imam Al-Bukhari sebagai berikut:
عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: بَعَثَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم سَرِيَّةً، وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ، وَأَمَرَهُمْ أَنْ يُطِيعُوهُ، فَغَضِبَ عَلَيْهِمْ، وَقَالَ: أَلَيْسَ قَدْ أَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ تُطِيعُونِي؟ قَالُوا: بَلَى، قَالَ: قَدْ عَزَمْتُ عَلَيْكُمْ لَمَا جَمَعْتُمْ حَطَبًا وَأَوْقَدْتُمْ نَارًا، ثُمَّ دَخَلْتُمْ فِيهَا. فَجَمَعُوا حَطَبًا، فَأَوْقَدُوا، فَلَمَّا هَمُّوا بِالدُّخُولِ، فَقَامَ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، قَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّمَا تَبِعْنَا النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فِرَارًا مِنَ النَّارِ، أَفَنَدْخُلُهَا؟ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ خَمَدَتِ النَّارُ، وَسَكَنَ غَضَبُهُ، فَذُكِرَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: (لَوْ دَخَلُوهَا مَا خَرَجُوا مِنْهَا أَبَدًا، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ).
Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi ﷺ mengutus sebuah pasukan kecil (sariyyah) dan mengangkat seorang laki-laki dari kalangan Anshar sebagai pemimpin mereka, serta memerintahkan agar mereka menaati pemimpin tersebut. Lalu pemimpin itu marah kepada mereka dan berkata, “Bukankah Nabi ﷺ telah memerintahkan kalian untuk menaatiku?” Mereka menjawab, “Benar.” Ia berkata, “Aku telah bertekad kepada kalian agar kalian mengumpulkan kayu bakar, menyalakan api, lalu masuk ke dalamnya.” Mereka pun mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api. Ketika mereka hendak masuk ke dalam api itu, sebagian mereka saling memandang satu sama lain. Sebagian dari mereka berkata, “Sesungguhnya kami mengikuti Nabi ﷺ justru untuk menyelamatkan diri dari api (neraka); apakah pantas kami masuk ke dalamnya?” Ketika mereka masih dalam keadaan demikian, api itu pun padam dan kemarahannya pun mereda. Peristiwa tersebut kemudian disampaikan kepada Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda: “Seandainya mereka masuk ke dalamnya, niscaya mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya. Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma‘ruf (kebaikan).” [3]
Ikhlas dipimpin bukanlah ketaatan buta kepada sosok pemimpin, tetapi ketaatan kepada arah yang benar.
3. Ikhlas dipimpin berarti tidak mengikuti hawa nafsu pribadi atau kelompok
Makmum tidak boleh mendahului imam, tidak boleh memisahkan diri, dan tidak boleh membuat jamaah gaduh. Makmum yang mendahului imam berarti menjadikan dirinya pemimpin tanpa hak. Imam An-Nawawi pada kitab Riyadh ash-Shalihin membuat judul bahasan: كِتَابُ الْأُمُورِ الْمَنْهِيِ عَنْهَا: بَابُ تَحْرِيمِ رَفْعِ الْمَأْمُومِ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ أَوِ السُّجُودِ قَبْلَ الْإِمَامِ (Kitab tentang perkara-perkara yang dilarang: Bab pengharaman mengangkat kepala oleh makmum dari rukuk atau sujud sebelum imam), hadis yang beliau tulis adalah sebagai berikut:
عنْ أَبي هُريْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ:"أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذا رفَعَ رأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يَجْعلَ اللَّه رأْسَهُ رأْسَ حِمارٍ، أَوْ يَجْعلَ اللَّه صُورتَهُ صُورَةَ حِمارٍ" متفقٌ عَلَيْهِ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidakkah salah seorang di antara kalian takut, apabila ia mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan menjadikan kepalanya seperti kepala keledai, atau Allah menjadikan rupanya seperti rupa keledai?’ Hadis ini disepakati keshahihannya. (Hr. Muttafaq ‘Alaih)[4]
Syaikh Muḥammad bin ʿAlī bin Ādam bin Mūsā al-Ityūbī al-Walawī pada kitabnya, “Al-Baḥr al-Muḥīṭ aṡ-Ṡajjāj fī Sharḥ Ṣaḥīḥ al-Imām Muslim bin al-Ḥajjāj” menyebutkan beberapa faidah dari hadis di atas, secara ringkas sebagai berikut:
1) أَنَّ فِيهِ دَلِيلًا صَرِيحًا عَلَىٰ تَحْرِيمِ سَبْقِ الْإِمَامِ بِرُكُوعٍ، أَوْ سُجُودٍ، أَوْ غَيْرِ ذٰلِكَ مِنْ أَجْزَاءِ الصَّلَاةِ عَمْدًا، فَقَدْ تُوُعِّدَ عَلَيْهِ بِالْمَسْخِ، وَهُوَ مِنْ أَشَدِّ الْعُقُوبَاتِ.
Sesungguhnya di dalamnya terdapat dalil yang tegas tentang keharaman mendahului imam dalam rukuk, sujud, atau selain keduanya dari bagian-bagian salat dengan sengaja. Perbuatan tersebut diancam dengan hukuman perubahan rupa (dimasukkan ke dalam bentuk lain), dan itu termasuk hukuman yang paling berat.
2) بَيَانُ الْوَعِيدِ الْمَذْكُورِ لِمَنْ رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ.
Penjelasan tentang ancaman yang disebutkan bagi orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam.
3) أَنَّ فِيهِ التَّهْدِيدَ عَلَى الْمُخَالَفَةِ خَشْيَةَ وُقُوعِهَا.
Sesungguhnya di dalamnya terdapat ancaman terhadap perbuatan menyelisihi (ketentuan), sebagai peringatan agar perbuatan tersebut tidak terjadi.
4) وُجُوبُ مُتَابَعَةِ الْإِمَامِ، قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ: لَا خِلَافَ أَنَّ مُتَابَعَةَ الْإِمَامِ مِنْ سُنَنِ الصَّلَاةِ.
Kewajiban mengikuti imam. Al-Qāḍī ‘Iyāḍ berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat bahwa mengikuti imam termasuk bagian dari sunah-sunah salat.”
5) بَيَانُ كَمَالِ شَفَقَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُمَّتِهِ، حَيْثُ بَيَّنَ لَهُمُ الْأَحْكَامَ، وَمَا يَتَرَتَّبُ عَلَى الْمُخَالَفَةِ مِنَ الْعِقَابِ.
Penjelasan tentang sempurnanya kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umatnya, karena beliau telah menjelaskan kepada mereka hukum-hukum syariat serta konsekuensi hukuman yang timbul akibat pelanggaran.
6) مَا قَالَ أَبُو بَكْرِ ابْنُ الْعَرَبِيِّ رَحِمَهُ اللهُ فِي «الْقَبَسِ»: جَاءَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الشَّيْطَانَ مُسَلَّطٌ عَلَى الْإِنْسَانِ لِإِفْسَادِ صَلَاتِهِ؛ عَلَيْهِ قَوْلًا بِالْوَسْوَسَةِ حَتَّىٰ لَا يَدْرِيَ كَمْ صَلَّى، وَفِعْلًا بِالتَّقَدُّمِ عَلَى الْإِمَامِ حَتَّىٰ يُخِلَّ بِالِاقْتِدَاءِ. فَأَمَّا الْوَسْوَسَةُ فَدَوَاؤُهَا الذِّكْرُ وَالْإِقْبَالُ عَلَى الصَّلَاةِ، وَأَمَّا التَّقَدُّمُ فَعِلَّتُهُ طَلَبُ الِاسْتِعْجَالِ، وَدَوَاؤُهُ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يُسَلِّمُ قَبْلَ الْإِمَامِ، فَلَا يَسْتَعْجِلُ فِي هٰذِهِ الْأَفْعَالِ.
Apa yang dikatakan oleh Abu Bakr Ibn al-‘Arabī rahimahullah dalam kitab al-Qabas: Diriwayatkan dari beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) bahwa setan diberi kekuasaan atas manusia untuk merusak salatnya; yaitu dengan perkataan berupa bisikan (waswas), sehingga seseorang tidak mengetahui berapa rakaat yang telah ia kerjakan, dan dengan perbuatan berupa mendahului imam, hingga merusak makna mengikuti imam. Adapun waswas, maka obatnya adalah dzikir dan memusatkan perhatian dalam salat. Sedangkan mendahului imam, penyebabnya adalah keinginan untuk tergesa-gesa, dan obatnya adalah dengan menyadari bahwa ia tidak akan salam sebelum imam; maka hendaknya ia tidak tergesa-gesa dalam perbuatan-perbuatan tersebut.
7) مَا قَالَهُ ابْنُ الْمُلَقِّنِ: هٰذَا الْحَدِيثُ دَالٌّ بِمَنْطُوقِهِ عَلَىٰ عَدَمِ الْمُسَابَقَةِ، وَبِمَفْهُومِهِ عَلَىٰ جَوَازِ الْمُقَارَنَةِ، وَلَا شَكَّ فِيهِ، لَكِنْ يُكْرَهُ، وَيَفُوتُ بِهِ فَضِيلَةُ الْجَمَاعَةِ. نَعَمْ، تَضُرُّ مُقَارَنَتُهُ فِي تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ. هٰذَا فِي الْأَفْعَالِ، وَأَمَّا فِي الْأَقْوَالِ فَإِنَّهُ يُتَابِعُهُ فِيهَا، فَيَتَأَخَّرُ ابْتِدَاؤُهُ عَنْ ابْتِدَاءِ الْإِمَامِ إِلَّا فِي التَّأْمِينِ، فَتُسْتَحَبُّ الْمُقَارَنَةُ؛ لِلنَّصِّ فِيهِ. وَحَكَى الْقَاضِي عَنْ مَالِكٍ ثَلَاثَةَ أَقْوَالٍ: أَحَدُهَا عَقِبَهُ، ثَانِيهَا بَعْدَ تَمَامِهِ، ثَالِثُهَا مَعَهُ إِلَّا الْقِيَامَ مِنِ اثْنَتَيْنِ فَبَعْدَ تَمَامِهِ.
Apa yang dikemukakan oleh Ibn al-Mulaqqin: Hadis ini secara makna eksplisit menunjukkan larangan mendahului (imam), dan secara implisit menunjukkan bolehnya melakukan gerakan bersamaan. Hal ini tidak diragukan, namun perbuatan bersamaan itu dimakruhkan dan dapat menghilangkan keutamaan salat berjamaah. Ya, melakukan gerakan bersamaan dalam takbiratul ihram justru membahayakan (keabsahan salat). Ini berlaku pada perbuatan-perbuatan salat. Adapun pada bacaan-bacaan, maka makmum mengikutinya, sehingga ia memulai bacaannya setelah imam memulai, kecuali pada bacaan ‘amin’, maka dianjurkan melakukannya secara bersamaan, karena adanya nash yang menjelaskannya. Al-Qāḍī juga meriwayatkan dari Imam Mālik tiga pendapat: pertama, setelah imam (segera sesudahnya); kedua, setelah imam selesai sepenuhnya; ketiga, bersamaan dengan imam, kecuali saat berdiri dari rakaat kedua, maka dilakukan setelah imam selesai.”[5]
Dalam jam’iyah, ikhlas dipimpin berarti:
· menerima arahan organisasi dengan lapang dada,
· tidak membuat gerakan bayangan,
· tidak memecah belah shaf dengan ambisi pribadi,
· tidak mengkultuskan pemimpin,
· tetapi setia kepada visi perjuangan.
4. Ikhlas dipimpin adalah cermin kedewasaan kader
Orang yang sulit dipimpin biasanya karena:
· hatinya belum bersih,
· ambisinya terlalu besar,
· atau egonya lebih kuat daripada kepentingan jamaah.
Imam Ahmad berkata:
وُجُوبُ طَاعَةِ وُلَاةِ الأَمْرِ وَالرَّدُّ عَلَى مَنْ أَبَاحَ الْخُرُوجَ عَلَيْهِمْ. قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: (وَالسَّمْعُ وَالطَّاعَةُ لِلْأَئِمَّةِ، وَأَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ، الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ، وَمَنْ وَلِيَ الْخِلَافَةَ، وَاجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ وَرَضُوا بِهِ، وَمَنْ ظَهَرَ عَلَيْهِمْ بِالسَّيْفِ حَتَّى صَارَ خَلِيفَةً، وَسُمِّيَ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ).
“Kewajiban menaati para pemegang kekuasaan dan bantahan terhadap orang yang membolehkan pemberontakan terhadap mereka. Penulis (Imam Ahmad bin Hanbal)—semoga Allah Ta‘ala merahmatinya—berkata: (Adalah kewajiban untuk mendengar dan taat kepada para imam dan kepada Amirul Mukminin, baik yang saleh maupun yang fajir; serta kepada siapa pun yang memegang kekhalifahan, lalu manusia berkumpul di bawah kepemimpinannya dan meridhainya; dan juga kepada siapa pun yang menguasai mereka dengan pedang hingga ia menjadi khalifah dan dinamai Amirul Mukminin)…”
Imam Ahmad pun berkata:
فَلِأَجْلِ ذَلِكَ قَالُوا: يَجِبُ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ لِوُلَاةِ الْأُمُورِ، وَاسْتَدَلُّوا بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (أُوصِيكُمْ بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ ـ يَعْنِي: لِوُلَاةِ الْأُمُورِ ـ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ مُجَدَّعُ الْأَطْرَافِ، كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ). أَمَرَ بِأَنْ يُسْمَعَ لَهُ وَيُطَاعَ، إِلَّا أَنَّهُمْ لَا يُطَاعُونَ فِي مَعْصِيَةٍ، لِقَوْلِهِ: (لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ). وَلَكِنْ لَا يَجُوزُ أَنْ يُخْرَجَ عَلَيْهِمْ بِالسَّيْفِ، وَلَا أَنْ تُنْزَعَ الطَّاعَةُ مِنْ أَيْدِيهِمْ.
“…Oleh sebab itu para ulama mengatakan: wajib mendengar dan taat kepada para pemimpin. Mereka berdalil dengan sabda Nabi ﷺ: “ Aku wasiatkan kepada kalian untuk mendengar dan taat—yakni kepada para pemimpin—meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyi yang terpotong anggota tubuhnya, seakan-akan kepalanya seperti kismis.” Beliau memerintahkan untuk mendengar dan taat kepada mereka, kecuali dalam perkara maksiat, berdasarkan sabdanya: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta.” Namun demikian, tidak boleh memberontak terhadap mereka dengan pedang, dan tidak boleh mencabut ketaatan dari mereka…”[6]
Wallahu A'lam, hanafi anshory.
Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.

[1] QS. An-Nisa: 59.
[2] Tafsir Ibnu Katsir, II: 345. Dār Ibn al-Jawzī li al-Nasyr wa al-Tawzī‘ – Arab Saudi. Cet. Ke-1, 1431 H. 7 jilid.
[3] Abū ‘Abdillāh Muḥammad ibn Ismā‘īl al-Bukhārī al-Ju‘fī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, VI: 2612: 6726. Dār Ibn Kathīr, Dār al-Yamāmah, Damaskus. Cet.ke-7. 1414 H-1993 M. 7 juz.
[4] bū Zakariyyā Muḥyī ad-Dīn Yaḥyā bin Sharaf an-Nawawī (w. 676 H), Riyāḍ aṣ-Ṣāliḥīn: 486: 337. Muʾassasah ar-Risālah, Beirut, Libanon. Cet.ke-3, 1419 H / 1998 M
[5] Muḥammad bin ʿAlī bin Ādam bin Mūsā al-Ityūbī al-Walawī, Al-Baḥr al-Muḥīṭ aṡ-Ṡajjāj fī Sharḥ Ṣaḥīḥ al-Imām Muslim bin al-Ḥajjāj: X: 201-202. Dār Ibn al-Jawzī – Riyāḍ. Cet.ke-1, (1426–1436 H). 47 juz
[6] ‘Abdullāh bin ‘Abdir-Raḥmān bin ‘Abdillāh bin Ibrāhīm bin Fahd bin Ḥamd bin Jibrīn (1430 H), Syarḥ Uṣūl as-Sunnah li al-Imām Aḥmad, II: 1. Al-Maktabah al-Syamilah.