IHSAN DALAM BERJAM’IYYAH

23 Sep 2026

Memaknai tujuan Pemuda Persis dalam dimensi segala ruang dan waktu.

Oleh Dindin Ahmad Tohidin (Bidang Kaderisasi PD Pemuda Persis Kabupaten Bandung)

Menghadirkan Nilai-Nilai Islam dalam Segala Ruang dan Waktu 

Pemuda Persatuan Islam (Pemuda Persis) memiliki tujuan mencetak kader pemimpin umat yang memahami, mengamalkan, dan menda’wahkan aqidah, syari’ah, dan akhlaq Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam segala ruang dan waktu.(QA QD Pemuda Persis 2021-2026).

Tujuan ini mengandung pesan penting bahwa keberislaman seorang kader tidak boleh berhenti pada pemahaman ilmu, aktivitas ibadah, atau keterlibatan dalam kegiatan jam’iyyah semata. Nilai-nilai Islam harus hadir dalam seluruh aspek kehidupan, baik ketika berada di lingkungan organisasi maupun di luar organisasi, baik ketika sedang mendapat amanah maupun ketika tidak sedang memegang jabatan.

Salah satu nilai utama yang harus menjadi karakter kader adalah ihsan. Ihsan bukan hanya berbuat baik kepada orang lain, tetapi juga menghadirkan kualitas terbaik dalam setiap amal dengan kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi.

Dalam konteks berjam’iyyah, ihsan menjadi landasan agar setiap aktivitas organisasi tidak sekadar terlaksana secara formal atau administratif, tetapi juga memiliki kualitas ruhiyah, akhlak, tanggung jawab, dan kemaslahatan.

Oleh karena itu, pembahasan ihsan dalam berjam’iyyah ini perlu diarahkan pada bagaimana seorang kader menghadirkan nilai-nilai kebaikan, ketulusan, profesionalitas, dan akhlak Islam dalam setiap ruang dan waktu kehidupannya.

Makna Ihsan dalam Islam

Secara umum, ihsan bermakna melakukan sesuatu dengan baik, sempurna, dan penuh ketulusan. Dalam hadis Jibril, Rasulullah ﷺ menjelaskan:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ 

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”(HR. Muslim, ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Iman, no. 9)

Hadis ini menunjukkan bahwa ihsan berawal dari kesadaran akan pengawasan Allah. Seorang muslim tidak berbuat baik hanya karena dilihat, dipuji, atau dinilai manusia, melainkan karena menyadari bahwa setiap amal berada dalam pengetahuan Allah.

Ihsan juga mencakup kualitas dalam melaksanakan setiap pekerjaan. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu.”(HR. Muslim no. 1955) 

Hadis tersebut memberikan prinsip bahwa ihsan tidak terbatas pada ibadah ritual, tetapi mencakup seluruh aktivitas manusia. Dengan demikian, menjadi seorang anggota jam’iyyah/organisasi apalagi seorang yang diamanahi sebagai pengurus atau Tasykil yang bertugas mengelola organisasi, melayani anggota, menjalankan program, menyelesaikan tugas, dan menjaga hubungan antarkader semuanya dapat menjadi ruang pengamalan ihsan. 

Ihsan dalam Berjam’iyyah pada Segala Ruang dan Waktu 

Ihsan dalam Ruang Jam’iyyah

Dalam kehidupan berjam’iyyah, ihsan diwujudkan melalui kesungguhan menjalankan amanah, kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama kader. Seorang kader yang berihsan tidak hanya aktif ketika ada kegiatan besar saja, tetapi juga bersungguh-sungguh dalam aktivitas yang tidak terlihat dan tidak mendapatkan penghargaan.

Ihsan dalam ruang jam’iyyah juga berarti membangun hubungan yang dilandasi ukhuwah, saling menghormati, dan menghindari sikap merendahkan. Perbedaan pendapat dalam musyawarah tidak boleh berubah menjadi permusuhan. Kritik disampaikan dengan adab, keputusan dijalankan dengan tanggung jawab, dan keberhasilan organisasi dipandang sebagai hasil kerja bersama.

Allah SWT berfirman: 

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”(QS. An-Nahl: 90)

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan dan ihsan merupakan prinsip penting dalam hubungan sosial. Dalam kepemimpinan berjam’iyyah, keduanya dapat diwujudkan melalui pembagian tugas yang proporsional, pengambilan keputusan yang adil, serta perlakuan yang baik kepada seluruh anggota tanpa membedakan jabatan atau kedudukan.

Ihsan di Luar Ruang Jam’iyyah

Tujuan Pemuda Persis menyebutkan “dalam segala ruang dan waktu”. Artinya, karakter seorang kader tidak boleh hanya tampak ketika mengenakan atribut organisasi, menghadiri kegiatan, atau berada di hadapan pimpinan. Nilai Islam harus tetap tercermin ketika berada di keluarga, lingkungan masyarakat, tempat kerja, lembaga pendidikan, maupun ruang digital.

Kader yang berihsan akan menjaga lisan, kejujuran, etika bermedia sosial, dan kepedulian sosial. Ia tidak menjadikan jam’iyyah sebagai tempat menampilkan kesalehan semata, sementara perilakunya di luar organisasi bertentangan dengan nilai yang didakwahkannya.

Allah SWT berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”(QS. Al-Baqarah: 83)

Ayat ini menunjukkan bahwa akhlak Islam harus hadir dalam interaksi sehari-hari. Seorang kader membawa nama baik Islam dan jam’iyyah melalui perilakunya, bahkan ketika tidak sedang menjalankan kegiatan organisasi.

Ihsan dalam Setiap Waktu dan Keadaan

Ihsan juga menuntut konsistensi. Seorang kader tidak hanya bersemangat ketika memperoleh jabatan, mendapatkan apresiasi, atau berada dalam suasana jam’iyyah yang menyenangkan. Ihsan justru diuji ketika menghadapi kesulitan, perbedaan pendapat, kegagalan program, kelelahan, dan ketika kontribusinya tidak diketahui orang lain.

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Ayat ini menggambarkan bahwa kualitas ihsan tampak dalam berbagai keadaan, bukan hanya saat kondisi mendukung. Dalam berjam’iyyah, kader dituntut tetap menjaga akhlak, memberikan kontribusi, dan menyelesaikan amanah meskipun menghadapi keterbatasan.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa amal yang bernilai tidak hanya ditentukan oleh bentuk lahiriahnya, tetapi juga oleh niat dan keadaan hati yang melandasinya. Pemahaman ini mengingatkan bahwa aktivitas jam’iyyah harus dibangun di atas keikhlasan, bukan sekadar mengejar pengakuan atau kedudukan.

Sementara itu, para ulama menjelaskan bahwa ihsan mencakup dua hal: berbuat baik kepada sesama dan melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Oleh sebab itu, kader yang berihsan adalah kader yang baik akhlaknya sekaligus berkualitas dalam menjalankan tanggung jawabnya. 

Implementasi Ihsan bagi Kader Pemuda Persis

Ihsan dalam berjam’iyyah dapat diwujudkan melalui beberapa sikap nyata:

  1. Ikhlas dalam berkhidmat, beraktivitas bukan semata-mata untuk popularitas atau jabatan.
  2. Bertanggung jawab terhadap amanah, menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh.
  3. Menjaga akhlak dalam perbedaan, mengutamakan adab dan ukhuwah.
  4. Memberikan kontribusi di setiap ruang, baik jam’iyyah, keluarga, masyarakat, maupun dunia digital.
  5. Konsisten dalam setiap waktu, tetap berbuat baik meskipun tidak sedang diawasi atau diapresiasi.
  6. Mengupayakan kualitas terbaik, menjadikan setiap program sebagai sarana menghadirkan kemaslahatan  umat.

Dengan demikian, kader Pemuda Persis tidak hanya dikenal karena aktivitas organisasinya, tetapi juga karena akhlak dan manfaat yang dirasakan oleh lingkungan di sekitarnya.

Ihsan dalam berjam’iyyah merupakan upaya menghadirkan nilai-nilai Islam secara utuh dalam segala ruang dan waktu. Ihsan tidak cukup dipahami sebagai konsep, tetapi harus menjadi karakter yang membimbing seorang kader dalam berpikir, bersikap, bekerja, dan berinteraksi.

Landasan tujuan Pemuda Persis mengingatkan bahwa kaderisasi bukan hanya mencetak orang yang memahami aqidah, syari’ah, dan akhlaq Islam, tetapi juga melahirkan pribadi yang mampu mengamalkannya secara konsisten di mana pun berada dan kapan pun waktunya. Wallahu A’lam Bishshawab

(Disampaikan pada Pembinaan Anggota PC Pemuda Persis Bojongsoang, Ahad 20 September 2026)