FILOSOFI KEBERSAMAAN DALAM MEMPERKUAT STRUKTUR JAM’IYAH

15 Okt 2026

oleh: Hanafi Anshory, S.Pd.I,. M.Pd (Ketua PD Pemuda PERSIS Kab Bandung)

Islam membangun konsep al-jama‘ah sebagai pilar kekuatan umat.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ.

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka bangunan yang kokoh." [1]

إِنَّ (اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا): أَيْ مُصْطَفِّينَ، مَصْدَرٌ وَقَعَ مَوْقِعَ الْحَالِ.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur,” yakni mereka yang berbaris rapi; kata ṣaffan adalah bentuk masdar yang digunakan dalam fungsi ḥāl (keterangan keadaan).

(كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ): شَدِيدُ اللُّصُوقِ، مِنْ رَصِّ الْبِنَاءِ، وَهُوَ إِحْكَامُهُ فِي اتِّصَالٍ وَاسْتِقَامَةٍ. وَقِيلَ: (بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ): بُنِيَ بِالرَّصَاصِ. وَالْمَعْنَى: لَاصِقٌ بَعْضُهُ إِلَى بَعْضٍ، لَا يُغَادِرُ شَيْءٌ مِنْهُ شَيْئًا. وَقِيلَ: يُرِيدُ اسْتِوَاءَ نِيَّاتِهِمْ فِي حَرْبِ عَدُوِّهِمْ، حَتَّى يَكُونُوا لِاجْتِمَاعِ كَلِمَتِهِمْ كَالْبِنَاءِ، لَا خَلَلَ فِيهِ وَلَا فُرَجَ.

“Seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh,” yaitu sangat kuat dan saling melekat, berasal dari kata raṣṣ dalam pembangunan, yakni pengokohan dan penguatannya dalam keterhubungan serta kelurusan. Dikatakan pula: ‘bangunan yang tersusun kokoh’ maksudnya dibangun dengan timah (yang merekatkan). Maknanya: bagian-bagiannya saling melekat satu sama lain, tidak ada satu bagian pun yang terpisah dari yang lain. Dan dikatakan pula: yang dimaksud adalah kesatuan dan keselarasan niat mereka dalam memerangi musuh, sehingga karena bersatunya tekad mereka, mereka menjadi seperti bangunan yang tidak memiliki cacat dan celah sedikit pun.

وَفِي بَعْضِ التَّفَاسِيرِ: «وَكَانَ بَعْضُهُمْ يُؤْثِرُ الْقِتَالَ رَاجِلًا عَلَى الْقِتَالِ رَاكِبًا؛ لِأَنَّ الْفُرْسَانَ لَا يَصْطَفُّونَ، وَأَنَّ ذَلِكَ مِنْ وَصْفِ الرَّجَّالَةِ».

Dalam sebagian kitab tafsir disebutkan: “Sebagian dari mereka lebih memilih berperang dengan berjalan kaki daripada berkuda, karena pasukan berkuda tidak dapat berbaris rapat; dan hal itu merupakan ciri khas pasukan pejalan kaki.”[2]

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: « ‌مَثَلُ ‌الْمُؤْمِنِينَ ‌فِي ‌تَوَادِّهِمْ ‌وَتَرَاحُمِهِمْ ‌وَتَعَاطُفِهِمْ ‌مَثَلُ ‌الْجَسَدِ، ‌إِذَا ‌اشْتَكَى ‌مِنْهُ ‌عُضْوٌ ‌تَدَاعَى ‌لَهُ ‌سَائِرُ ‌الْجَسَدِ ‌بِالسَّهَرِ ‌وَالْحُمَّى .»

Dari an-Nu‘mān bin Basyīr r.a., ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh; apabila satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak dapat tidur dan demam.” [3]

Ini adalah perumpamaan bagi kebersamaan, kerja sama, dan saling menguatkan; sebagaimana Imam Al-Nawawi menjelaskan:

‌مَثَلُ ‌الْمَؤْمِنِينَ ‌فِي ‌تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ إِلَى آخِرَهِ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ صَرِيحَةٌ فِي تَعْظِيمِ حُقُوقِ الْمُسْلِمِينَ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ وَحَثِّهِمْ عَلَى التَّرَاحُمِ وَالْمُلَاطَفَةِ وَالتَّعَاضُدِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلَا مَكْرُوهٍ.

“(Sabda Nabi ﷺ): ‘Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai dan saling menyayangi …’ hingga akhir hadis.
Hadis-hadis ini secara tegas menunjukkan pengagungan hak-hak kaum Muslimin satu sama lain, serta mendorong mereka untuk saling menyayangi, bersikap lembut, dan saling menopang dalam perkara yang tidak mengandung dosa dan tidak pula makruh.

وَفِيهِ جواز التشبيه وَضَرْبِ الْأَمْثَالِ لِتَقْرِيبِ الْمَعَانِي إِلَى الْأَفْهَامِ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم (تداعى لها سَائِرُ الْجَسَدِ) أَيْ دَعَا بَعْضُهُ بَعْضًا إِلَى الْمُشَارَكَةِ فِي ذَلِكَ وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَدَاعَتِ الْحِيطَانُ أي تساقطت أو قربت من التساقط.

Di dalamnya terdapat kebolehan membuat perumpamaan dan analogi untuk mendekatkan makna-makna kepada pemahaman. Sabda beliau ﷺ: ‘Maka seluruh tubuh turut merasakannya (تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ)’ maksudnya adalah bahwa sebagian anggota tubuh memanggil sebagian yang lain untuk ikut serta merasakan hal tersebut. Dari sini pula ungkapan ‘تَدَاعَتِ الْحِيطَانُ’ yang artinya dinding-dinding itu saling runtuh atau hampir runtuh.” [4]

Pelajaran Jam’iyah

  1. Struktur jam’iyah bukan kertas organisasi—tetapi shaf yang rapi.
  2. Kesesuaian hati dan kekompakan gerak lebih penting daripada jumlah struktur.
  3. Kualitas kepemimpinan menentukan rapat tidaknya bangunan jam’iyah.

Wallahu A'lam,

Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.


[1] QS. As-Saff 61:4.

[2] Abū al-Qāsim Maḥmūd bin Ḥamzah al-Karmānī, al-mutawaffā ba‘da sanah (531 H), Lubāb at-Tafāsīr: 3248-3249. Al-Maktabah al-Syamilah.

[3] HR. Abū al-Ḥusayn Muslim ibn al-Ḥajjāj ibn Muslim al-Qusyairī an-Naysābūrī, Ṣaḥīḥ Muslim, VIII: 20: 2586. Dār aṭ-Ṭibā‘ah al-‘Āmirah – Turki. 1334 H.

[4] Abū Zakariyyā Muḥyī ad-Dīn Yaḥyā bin Syaraf an-Nawawī (676 H), al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bin al-Ḥajjāj, XVI: 139-140: 2586. Dār Iḥyā’ at-Turāṯ al-‘Arabī – Bairūt. cet. Ke-2, 1392. 18 juz (9 jilid).