ESENSI JAM’IYAH

1 Jun 2026

A.    Pengertian Jam’iyah

Allah SWT berfirman;

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.

Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.[1]

Al-Maraghi menafsirkan ayat di atas sebagai berikut:

الْأُمَّةُ: الْجَمَاعَةُ الْمُؤَلَّفَةُ مِنْ أَفْرَادٍ، لَهُمْ رَابِطَةً تَضُمُّهُمْ، وَوَحْدَةٌ يَكُوْنُوْنَ بِهَا كَالْأَعْضَاءِ فِى بِنْيَةِ الشَّخْصِ.

Yang dimaksud “Umat” ialah kumpulan yang terdiri dari beberapa orang, yang memiliki ikatan yang menyatukan mereka juga memiliki kesatuan, yang membuat mereka dengannya bagaikan anggota badan yang ada pada tubuh seseorang.[2] 

Rasyid Ridha dalam tafsir Al-Manar menjelaskan makna umat pada ayat di atas;

فَالْمُرَادُ بِالْأُمَّةِ الَّتِي تُقِيمُهَا الْأُمَّةُ لِذَلِكَ مَا يُعَبَّرُ عَنْهُ فِي عُرْفِ هَذَا الْعَصْرِ بِالْجَمْعِيَّةِ.

Maka yang dimaksud dengan kata “Ummat” yang didirikan umat Islam untuk melakukan itu semua adalah apa yang dewasa ini diungkapkan dengan sebutan “Jam’iyah” (organisasi)[3]

Al-Raghib Al-Asfahani menafsirkan ayat di atas;

أي: جَمَاعَةٌ يَتَخَيَّرُوْنَ الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ يَكُوْنُوْنَ أُسْوَةً لِغَيْرِهِمْ.

Yaitu sekelompok orang yang memilih ilmu dan amal Salih, yang keadaan mereka menjadi tauladan bagi orang lain.[4]

B.     Fungsi dan Peranan Jam’iyah

Allah Swt berfirman;

قُلْ يٰقَوْمِ اعْمَلُوْا عَلٰى مَكَانَتِكُمْ ...

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai kaumku, berbuatlah menurut kedudukanmu…”[5]

Pada ayat tersebut ada perintah berbuat menurut kedudukan masing-masing, maka beristidlal darinya dalam sebuah Jam’iyah seluruh yang berada di dalamnya dituntut untuk berperan aktif sesuai dengan posisi, potensi, dan amanah yang diberikan dengan ikhlas dan tanggung jawab. Sebagaimana dalam kisah yang disebutkan dalam kitab al-Rakhiqul Makhtum sebagai berikut;

كَانَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ فَأَمَرَ بِإِصْلَاحِ شَاةٍ، فَقَالَ رَجُلٌ: عَلَيَّ ذَبْحُهَا، وَقَالَ آخَرُ: عَلَيَّ سَلْخُهَا، وَقَالَ آخَرُ:  عَلَيَّ طَبْخُهَا، فَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَعَلَيَّ جَمْعُ الْحَطَبِ.

Pada salah satu perjalanan Nabi Saw, beliau memerintah menyembelih seekor kambing, lalu seseorang berkata: Saya yang menyembelihnya, dan yang lain berkata: saya yang mengulitinya, dan yang lain berkata: saya yang memasaknya, Lalu Rasulullah Saw bersabda: Aku yang mengumpulkan kayu bakarnya.[6]

C.    Urgensi Berjam’iyah

1.      Allah SWT berfirman;

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ.

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kokoh.[7]

Pada ayat tersebut disinggung bahwa yang Allah cintai ialah orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur. Terkait ayat tersebut, dalam tafsir Al-Qasimi dijelaskan;

اِسْتِحْبَابُ قِيَامِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي الْقِتَالِ صُفُوْفًا كَصُفُوْفِ الصَّلَاةِ.

Disukai berdirinya orang-orang yang berjihad dalam berperang dalam keadaan berbaris yang teratur seperti shaf salat (berjama’ah).[8]

Sebagaimana mafhum adanya bahwa dalam shaf salat berjama’ah berlaku aturan-aturan yang harus dita’ati seperti harus lurus, harus rapat sehingga tidak ada celah yang dapat dimasuki seorang makmum, dan sebagainya.

Maka beristidlal berdasarkan keterangan tersebut bahwa berjihad di jalan Allah Swt. tidak boleh dilakukan sembarangan dan serampangan tanpa beraturan. Akan tetapi harus dilakukan secara teratur dan tersusun rapi. Sebagaimana sebuah pepatah mengatakan;

الْحَقُّ بِلَا نِظَامٍ يَغْلِبُهُ الْبَاطِلُ بِنِظَامٍ

“Kebenaran yang tidak terorganisir (tidak beraturan) dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.”

2.      Allah SWT berfirman;

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ

Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.[9]

Imam Al-Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya;

وَهُوَ أَمْرٌ لِجَمِيعِ الْخَلْقِ بِالتَّعَاوُنِ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، أَيْ لِيُعِنْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا،

Firman Allah Swt ini merupakan perintah kepada seluruh makhluk untuk saling tolong menolong dalam kebajikan dan takwa, yakni saling menolong sebagian kamu kepada sebagian lainnya.[10]

Dan beliau menukil dari Ibn Khuwaiz Mandad pada kitab Ahkam-nya: Tolong menolong dalam mengerjakan kebajikan dan takwa itu dapat dilakukan dengan banyak cara; Maka wajib bagi yang berilmu menolong orang lain dengan ilmunya lalu ia mengajar mereka, orang kaya menolong mereka dengan hartanya, pemberani menolong mereka dengan keberaniannya digunakan pada jalan Allah, dan semua umat Islam saling membantu bagaikan sebuah tangan.[11]

3.      Pada Hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Malik disebutkan;

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَالْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ

Dari Mu'adz bin Jabal ia telah berkata: aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allah Tabaraka Wa Ta'ala berfirman: 'Kecintaan-ku pasti turun kepada siapa yang saling mencintai karena-Ku. Siapa saja yang bermajlis karena-Ku, dan saling mengunjungi karena-Ku. Yang saling berkorban karenaKu.[12]

Menurut hemat kami, saling mencintai, bermajlis, saling mengunjungi, dan saling berkorban karena Allah Swt ini semua dapat terwujud dengan berperan aktif dalam jam’iyah. Wallahu A'lam. hanafi anshory.

Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.


[1]  QS. Ali-Imran[3]: 104.

[2] Tafsir Al-Maraghiy, IV: 21.

[3] Tafsir Al-Manar, IV: 37

[4] Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an hal: 19

[5] QS. Al-An’am [6]:  135.

[6] Ar-Rahiq al-Makhtum, al-Mubarakfury, hal 417, Lihat juga Tahdzib al-Akhlaq, Abu Nabhan, hal 88.

[7] QS. Ash-Shaf [61]:4.

[8] Al-Qasimi, Mahasin at-Ta’wil, (Mesir: Darul Hadis, 2003) jilid 9. Hal 115

[9] QS. Al-Maidah [5]: 2.

[10] Al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, jilid 3, hal 18.

[11] Al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, jilid 3, hal 18.

[12] HR. Malik No. 1779, 580. Beirut, Darul Fikr.