DZAN (PRASANGKA) DALAM ISLAM

30 Mei 2026

ANTARA HUSNUDZAN DAN SU’UDZAN SERTA IMPLEMENTASINYA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL

DZAN (PRASANGKA) DALAM ISLAM:

ANTARA HUSNUDZAN DAN SU’UDZAN SERTA IMPLEMENTASINYA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL

 

Prasangka (الظنّ / dzan) merupakan bagian dari fitrah manusia. Setiap manusia tidak mungkin lepas dari penilaian terhadap sesuatu yang belum pasti. Islam tidak menghapus fitrah ini, tetapi mengarahkannya agar sesuai dengan nilai iman dan akhlak.

 

Hakikat Dzan dalam Islam

Ibn Faris pada Mu’jam Maqayis al-Lughah menjelaskan bahwa Dzan secara bahasa adalah dugaan yang belum mencapai tingkat yakin. Dalam konteks syariat, dzan bisa bernilai:

·         Terpuji (mahmud)

·         Tercela (mazmum).

Ibn Faris menjelaskan:

ظَنَّ، الظَّاءُ وَالنُّونُ أُصَيْلٌ صَحِيحٌ يَدُلُّ عَلَى مَعْنَيَيْنِ مُخْتَلِفَيْنِ: يَقِينٍ وَشَكٍّ. فَأَمَّا الْيَقِينُ فَقَوْلُ الْقَائِلِ: ظَنَنْتُ ظَنًّا، أَيْ أَيْقَنْتُ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ﴾ [البقرة: ٢٤٩] أَرَادَ —وَاللَّهُ أَعْلَمُ— يُوقِنُونَ. وَالْعَرَبُ تَقُولُ ذَلِكَ َتَعْرِفُهُ. قَالَ شَاعِرُهُمْ: فَقُلْتُ لَهُمْ ظُنُّوا بِأَلْفَيْ مُدَجَّجٍ ... سَرَاتُهُمْ فِي الْفَارِسِيِّ الْمُسَرَّدِ. أَرَادَ: أَيْقِنُوا. وَهُوَ فِي الْقُرْآنِ كَثِيرٌ. وَمِنْ هَذَا الْبَابِ مَظِنَّةُ الشَّيْءِ، وَهُوَ مَعْلَمُهُ وَمَكَانُهُ. وَيَقُولُونَ: هُوَ مَظِنَّةٌ لِكَذَا. قَالَ النَّابِغَةُ: فَإِنَّ مَظِنَّةَ الْجَهْلِ الشَّبَابُ. وَالأَصْلُ الآخَرُ: الشَّكُّ، يُقَالُ ظَنَنْتُ الشَّيْءَ، إِذَا لَمْ تَتَيَقَّنْهُ. وَمِنْ ذَلِكَ الظِّنَّةُ: التُّهْمَةُ. وَالظَّنِينُ: الْمُتَّهَمُ. وَيُقَالُ اظَّنَّنِي فُلَانٌ. قَالَ الشَّاعِرُ: وَلَا كُلُّ مَنْ يَظَّنُّنِي أَنَا مُعْتِبٌ ... وَلَا كُلُّ مَا يُرْوَى عَلَيَّ أَقُولُ. وَرُبَّمَا جُعِلَتْ طَاءً، لِأَنَّ الظَّاءَ أُدْغِمَتْ فِي تَاءِ الِافْتِعَالِ. وَالظَّنُونُ: السَّيِّئُ الظَّنِّ. وَالتَّظَنِّي: إِعْمَالُ الظَّنِّ. وَأَصْلُ التَّظَنِّي التَّظَنُّنُ. وَيَقُولُونَ: سُؤْتُ بِهِ ظَنًّا وَأَسَأْتُ بِهِ الظَّنَّ، يُدْخِلُونَ الْأَلِفَ إِذَا جَاءُوا بِالْأَلِفِ وَاللَّامِ. وَالظَّنُونُ: الْبِئْرُ لَا يُدْرَى أَفِيهَا مَاءٌ أَمْ لَا. قَالَ (الشَّاعِرُ): مَا جُعِلَ الْجُدُّ الظَّنُونُ الَّذِي ... جُنِّبَ صَوْبَ اللَّجِبِ الْمَاطِرِ. وَالدَّيْنُ الظَّنُونُ: الَّذِي لَا يُدْرَى أَيُقْضَى أَمْ لَا. وَالْبَابُ كُلُّهُ وَاحِدٌ.

Zha (ظ) dan Nun (ن) adalah akar kata esensial yang sahih, yang menunjukkan dua makna yang saling berlawanan: keyakinan (yaqin) dan keraguan (syak). Adapun makna keyakinan, contohnya adalah ucapan seseorang: "Zhanantu zhannan" (Aku menyangka dengan seyakin-yakinnya), yang berarti: "Aku telah yakin." Allah Ta'ala berfirman: "Berkatalah orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah..." (QS. Al-Baqarah: 249). Maksud ayat tersebut—wallahu a'lam—adalah mereka meyakini. Orang-orang Arab pun biasa mengucapkan hal itu dan memahaminya. Penyair mereka berkata: Maka aku katakan kepada mereka, "Yakinilah (hadapi dengan yakin) dua ribu pasukan yang bersenjata lengkap... para pemimpin mereka mengenakan baju besi rajutan Persia." Maksud kata "zhunnu" di sini adalah "aiqinu" (yakinilah). Penggunaan makna ini sangat banyak ditemukan di dalam Al-Qur'an. Termasuk dalam rumpun makna ini adalah kata mazhinnah atas sesuatu, yang berarti tanda keberadaannya atau tempatnya. Mereka (orang Arab) biasa berkata: "Ia adalah mazhinnah (tempat yang diduga kuat) bagi hal tersebut." An-Nabighah berkata dalam syairnya: Sesungguhnya masa muda adalah tempat bermuaranya kebodohan. Sementara itu, akar makna yang kedua adalah keraguan. Dikatakan: "Zhanantu asy-syai'a" (Aku meragukan/menyangka sesuatu), jika Anda belum meyakininya secara pasti. Dari sinilah muncul kata al-zhinnah yang berarti tuduhan (al-tuhmah), dan al-zhanin yang berarti orang yang tertuduh (al-muttaham). Dikatakan pula: "Izh-zhannani fulanun" (Si fulan menuduhku). Seorang penyair berkata: Tidak semua orang yang menuduhku akan aku turuti kemauannya... dan tidak semua hal yang diriwayatkan/dituduhkan atasku akan aku ucapkan. Terkadang huruf zha' (ظ) pada kata tersebut diubah menjadi tha' (ط) karena huruf zha' di-idgam-kan (melebur) ke dalam huruf ta' pada wazan Ifti'aal (إفْتعال). Kata al-zhanun berarti orang yang buruk sangka. Sedangkan al-tazhanni berarti menggunakan atau memperturutkan prasangka; asal kata al-tazhanni adalah al-tazhannun. Orang-orang Arab juga berkata: "Su'tu bihi zhannan" (Aku berburuk sangka kepadanya) dan "Asa'tu bihi azh-zhanna"—mereka menambahkan huruf alif (menjadi asa'tu) ketika kata zhan menggunakan alif lam (azh-zhanna). Kata al-zhanun juga digunakan untuk menyebut sumur yang tidak diketahui apakah masih ada airnya atau tidak. Penyair berkata: Bukanlah nasib baik berupa sumur tua yang diragukan airnya, yang dijauhkan dari curahan hujan lebat yang bergemuruh. Begitu pula dengan al-dain al-zhanun (piutang yang diragukan), yaitu piutang yang tidak diketahui apakah akan dibayar atau tidak. Kesimpulannya, semua cabang makna ini kembali pada satu rumpun asal yang sama. Mu’jam Maqâyîs al-Lughah, III: 463-464.

 

Pembagian Dzan

1. Husnudzan (Prasangka Baik)

1.a. Husnudzan bil-Lāh (Prasangka Baik kepada Allah)

Husnuzan billāh (حُسْنُ الظَّنِّ بِاللَّهِ) berarti berprasangka baik kepada Allah Ta‘ālā; meyakini bahwa seluruh ketentuan-Nya mengandung hikmah, rahmat, dan keadilan. Sikap ini merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman, karena seorang mukmin tidak hanya beribadah dengan anggota badan, tetapi juga dengan hati yang penuh harap, yakin, dan tawakal kepada Rabb-nya.

Prasangka baik kepada Allah bukan berarti merasa aman dari azab-Nya atau meninggalkan usaha dan taubat. Husnuzan yang benar ialah menggabungkan antara harapan kepada rahmat Allah, rasa takut terhadap murka-Nya, serta kesungguhan dalam ketaatan.

Pengertian Husnuzan Billāh. Secara bahasa, ḥusn berarti baik, sedangkan ẓann berarti prasangka atau dugaan. Maka husnuzan billāh adalah berbaik sangka kepada Allah dalam seluruh ketentuan dan janji-Nya.

Prasangka baik kepada Allah ialah seseorang meyakini bahwa Allah akan merahmatinya, mengampuninya, menerima taubatnya, dan mencukupkan kebutuhannya apabila ia menempuh sebab-sebab yang benar.

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan,

وَلَا رَيْبَ أَنَّ حُسْنَ الظَّنِّ إِنَّمَا يَكُونُ مَعَ الْإِحْسَانِ، فَإِنَّ الْمُحْسِنَ حَسَنُ الظَّنِّ بِرَبِّهِ أَنْ يُجَازِيَهُ عَلَى إِحْسَانِهِ وَلَا يُخْلِفَ وَعْدَهُ، وَيَقْبَلَ تَوْبَتَهُ.

“Tidak diragukan bahwa berbaik sangka hanya terjadi bersama kebaikan. Sesungguhnya orang yang berbuat baik memiliki anggapan baik terhadap Rabbnya bahwa Dia akan membalas kebaikannya dan tidak akan mengingkari janji-Nya, serta akan menerima taubatnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 37)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَأَمَّا الْمُسِيءُ الْمُصِرُّ عَلَى الْكَبَائِرِ وَالظُّلْمِ وَالْمُخَالَفَاتِ فَإِنَّ وَحْشَةَ الْمَعَاصِي وَالظُّلْمِ وَالْحَرَامِ تَمْنَعُهُ مِنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِرَبِّهِ، وَهَذَا مَوْجُودٌ فِي الشَّاهِدِ، فَإِنَّ الْعَبْدَ الْآبِقَ الْخَارِجَ عَنْ طَاعَةِ سَيِّدِهِ لَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِهِ، وَلَا يُجَامِعُ وَحْشَةَ الْإِسَاءَةِ إِحْسَانُ الظَّنِّ أَبَدًا، فَإِنَّ الْمُسِيءَ مُسْتَوْحِشٌ بِقَدْرِ إِسَاءَتِهِ، وَأَحْسَنُ النَّاسِ ظَنًّا بِرَبِّهِ أَطْوَعُهُمْ لَهُ.

“Adapun orang yang berbuat jahat dan tetap pada dosa-dosa besar, kezaliman, dan pelanggaran, maka kesunyian dari dosa-dosa, kezaliman, dan hal-hal haram menghalanginya dari berbaik sangka kepada Rabbnya. Ini terdapat pada kenyataannya, karena seorang hamba yang melarikan diri dari ketaatan kepada tuannya tidak akan memiliki anggapan baik terhadapnya, dan tidak mungkin bersamaan antara kesunyian dari perbuatan jahat dengan berbaik sangka. Sesungguhnya orang yang berbuat jahat merasa kesepian sesuai dengan kadar kejahatannya, dan sebaik-baik manusia yang memiliki anggapan baik terhadap Rabbnya adalah yang paling taat kepada-Nya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 37)

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ أَحْسَنَ الظَّنَّ بِرَبِّهِ فَأَحْسَنَ الْعَمَلَ وَإِنَّ الْفَاجِرَ أَسَاءَ الظَّنَّ بِرَبِّهِ فَأَسَاءَ الْعَمَلَ.

“Sesungguhnya orang Mukmin berbaik sangka kepada Rabbnya, sehingga ia melakukan amal yang baik. Sebaliknya, orang yang durhaka bersikap buruk sangka kepada Rabbnya, sehingga ia pun melakukan amalan yang buruk.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 38)

 

Larangan Berprasangka Buruk kepada Allah

Allah Ta‘ālā berfirman:

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ.

“Dan agar Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk kepada Allah. Mereka akan mendapat giliran kebinasaan yang buruk.” (QS. Al-Fath: 6)

Orang-orang munafik dan musyrik berprasangka bahwa Allah tidak akan memenangkan agama-Nya. Ini merupakan prasangka buruk kepada Allah karena meragukan janji dan pertolongan-Nya. Imam Al-Maraghi menafsirkan:

«وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ» أَيْ: وَلِيُعَذِّبَ هَؤُلَاءِ فِي الدُّنْيَا بِإِيصَالِ الْهَمِّ وَالْغَمِّ إِلَيْهِمْ بِسَبَبِ عُلُوِّ كَلِمَةِ الْمُسْلِمِينَ، وَبِمَا يُشَاهِدُونَهُ مِنْ ظُهُورِ الْإِسْلَامِ وَقَهْرِ الْمُخَالِفِينَ، وَبِتَسْلِيطِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ قَتْلًا وَأَسْرًا وَاسْتِرْقَاقًا، وَفِي الْآخِرَةِ بِعَذَابِ جَهَنَّمَ. وَهُمْ قَدْ كَانُوا يَظُنُّونَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيُغْلَبُ، وَأَنَّ كَلِمَةَ الْكُفْرِ سَتَعْلُو كَلِمَةَ الْإِسْلَامِ، وَمِمَّا ظَنُّوهُ مَا حَكَاهُ اللهُ بِقَوْلِهِ: «بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ أَبَدًا». وَإِنَّمَا قَدَّمَ الْمُنَافِقِينَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ؛ لِأَنَّهُمْ كَانُوا أَشَدَّ ضَرَرًا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ مِنَ الْكُفَّارِ الْمُجَاهِرِينَ؛ لِأَنَّ الْمُؤْمِنَ كَانَ يَتَوَقَّى الْمُجَاهِرَ، وَيُخَالِطُ الْمُنَافِقَ لِظَنِّهِ إِيمَانَهُ، وَكَانَ يُفْشِي سِرَّهُ إِلَيْهِ. وَفِي هَذَا دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّهُمْ أَشَدُّ مِنْهُمْ عَذَابًا، وَأَحَقُّ مِنْهُمْ بِمَا أَوْعَدَهُمُ اللهُ بِهِ. وَالْخُلَاصَةُ: إِنَّ الْفَرِيقَيْنِ ظَنُّوا أَنَّ اللهَ لَا يَنْصُرُ رَسُولَهُ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ. وَقَدْ دَعَا سُبْحَانَهُ عَلَيْهِمْ بِأَنْ يُنْزِلَ بِهِمْ مَا كَانُوا يَظُنُّونَهُ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنَ الدَّوَائِرِ وَأَحْدَاثِ الزَّمَانِ فَقَالَ: «عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ» أَيْ: عَلَيْهِمْ تَدُورُ الدَّوَائِرُ، وَسَيَحِيقُ بِهِمْ مَا كَانُوا يَتَرَبَّصُونَهُ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ قَتْلٍ وَسَبْيٍ وَأَسْرٍ لَا يَتَخَطَّاهُمْ.

“Dan agar Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk kepada Allah.” Maksudnya, agar Allah mengazab mereka di dunia dengan menimpakan kesedihan dan kegundahan kepada mereka disebabkan tingginya kalimat kaum muslimin, serta karena apa yang mereka saksikan berupa kemenangan Islam dan tunduknya pihak-pihak yang menentang. Juga dengan diberikannya kekuasaan kepada Nabi ﷺ atas mereka berupa pembunuhan, penawanan, dan perbudakan. Adapun di akhirat, mereka akan diazab dengan azab Jahannam. Mereka dahulu menyangka bahwa Nabi ﷺ akan dikalahkan, dan bahwa kalimat kekufuran akan mengungguli kalimat Islam. Di antara prasangka mereka adalah sebagaimana yang Allah kisahkan dalam firman-Nya: “Bahkan kalian menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak akan kembali lagi kepada keluarga mereka selama-lamanya.” Allah mendahulukan penyebutan orang-orang munafik daripada orang-orang musyrik karena mereka lebih besar bahayanya terhadap kaum mukminin dibandingkan orang-orang kafir yang terang-terangan. Sebab, seorang mukmin biasanya waspada terhadap musuh yang nyata, namun ia bergaul dengan orang munafik karena mengira mereka beriman, bahkan sampai membocorkan rahasianya kepada mereka. Dalam hal ini terdapat petunjuk bahwa azab mereka lebih berat, dan mereka lebih pantas mendapatkan ancaman Allah tersebut. Kesimpulannya, kedua golongan itu sama-sama berprasangka bahwa Allah tidak akan menolong Rasul-Nya dan kaum mukminin atas orang-orang kafir. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mendoakan keburukan atas mereka dengan menimpakan kepada mereka apa yang dahulu mereka sangkakan akan menimpa kaum mukminin berupa bencana dan pergiliran zaman. Karena itu Allah berfirman: “Binasalah mereka oleh lingkaran keburukan.” Yakni, musibah-musibah itu akan berputar menimpa mereka, dan akan mengepung mereka apa yang dahulu mereka tunggu-tunggu menimpa kaum mukminin berupa pembunuhan, penawanan, dan penaklukan, yang tidak akan melampaui mereka sendiri. Tafsir al-Maraghi, XXVI: 86-87.

Prasangka buruk kepada Allah dapat muncul dalam bentuk:

  • Merasa Allah tidak adil.
  • Putus asa dari rahmat Allah.
  • Meragukan pertolongan Allah.
  • Menganggap syariat Allah membawa keburukan.

Semua ini termasuk penyakit hati yang berbahaya.

 

Larangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

Allah Ta‘ālā berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini adalah ayat yang paling memberikan harapan dalam Kitab Allah. Syaikh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan:

قُلْ: {يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ} [الزمر: ٥٣]. أَيْ قُلْ أَيُّهَا الرَّسُولُ: يَا عِبَادَ اللَّهِ الَّذِينَ أَفْرَطُوا فِي الْمَعَاصِي وَاسْتَكْثَرُوا مِنْهَا، لَا تَيْأَسُوا مِنْ مَغْفِرَةِ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ كُلَّ ذَنْبٍ إِلَّا الشِّرْكَ الَّذِي لَمْ يَتُبْ مِنْهُ صَاحِبُهُ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ} [النساء: ٤٨]. إِنَّ اللَّهَ كَثِيرُ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ، فَلَا يُعَاقِبُ بَعْدَ التَّوْبَةِ.

Katakanlah: "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53). Maksudnya, katakanlah wahai Rasul: "Wahai hamba-hamba Allah yang telah berlebihan dalam berbuat maksiat dan banyak melakukannya, janganlah kalian berputus asa dari ampunan Allah Ta'ala. Karena sesungguhnya Allah mengampuni setiap dosa kecuali kesyirikan yang pelakunya tidak bertobat darinya." Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An-Nisa: 48). Sesungguhnya Allah Maha Luas ampunan dan rahmat-Nya, maka Dia tidak akan menghukum setelah (seseorang) bertobat.

قَالَ ابْنُ كَثِيرٍ: هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ دَعْوَةٌ لِجَمِيعِ الْعُصَاةِ مِنَ الْكَفَرَةِ وَغَيْرِهِمْ إِلَى التَّوْبَةِ وَالْإِنَابَةِ، وَإِخْبَارٌ بِأَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا لِمَنْ تَابَ مِنْهَا، وَرَجَعَ عَنْهَا، وَإِنْ كَانَتْ مَهْمَا كَانَتْ، وَإِنْ كَثُرَتْ وَكَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ، وَلَا يَصِحُّ حَمْلُ هَذِهِ عَلَى غَيْرِ تَوْبَةٍ، لِأَنَّ الشِّرْكَ لَا يُغْفَرُ لِمَنْ لَمْ يَتُبْ مِنْهُ.

Ibnu Katsir berkata: "Ayat yang mulia ini merupakan seruan bagi seluruh pelaku maksiat—baik dari kalangan orang-orang kafir maupun yang lainnya—untuk bertobat dan kembali (kepada Allah). Ayat ini juga merupakan kabar gembira bahwa Allah Tabaraka wa Ta'ala mengampuni semua dosa bagi siapa saja yang bertobat dan meninggalkannya, bagaimanapun bentuk dosa tersebut, dan meskipun dosa itu sangat banyak hingga seperti buih di lautan. Tidak benar jika ayat ini dibawa pada makna 'tanpa tobat', karena dosa syirik tidak akan diampuni bagi orang yang tidak bertobat darinya."

وَقَالَ الشَّوْكَانِيُّ: وَهَذِهِ الْآيَةُ أَرْجَى آيَةٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ، لِاشْتِمَالِهَا عَلَى أَعْظَمِ بِشَارَةٍ، فَإِنَّهُ أَوَّلًا أَضَافَ الْعِبَادَ إِلَى نَفْسِهِ، لِقَصْدِ تَشْرِيفِهِمْ وَمَزِيدِ تَبْشِيرِهِمْ، ثُمَّ وَصَفَهُمْ بِالْإِسْرَافِ فِي الْمَعَاصِي وَالِاسْتِكْثَارِ مِنَ الذُّنُوبِ، ثُمَّ عَقَّبَ ذَلِكَ بِالنَّهْيِ عَنِ الْقُنُوطِ مِنَ الرَّحْمَةِ لِهَؤُلَاءِ الْمُسْتَكْثِرِينَ مِنَ الذُّنُوبِ، فَالنَّهْيُ عَنِ الْقُنُوطِ لِلْمُذْنِبِينَ غَيْرِ الْمُسْرِفِينَ مِنْ بَابِ الْأَوْلَى وَبِفَحْوَى الْخِطَابِ، ثُمَّ جَاءَ بِمَا لَا يَبْقَى بَعْدَهُ شَكٌّ: {إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ}...

Asy-Syaukani berkata: "Ayat ini adalah ayat yang paling memberikan harapan di dalam Kitabullah (Al-Qur'an), karena mengandung kabar gembira yang paling agung. Pertama-tama, Allah menyandarkan para hamba tersebut kepada diri-Nya sendiri (dengan kata 'Hamba-hamba-Ku') dengan tujuan untuk memuliakan mereka dan menambah kabar gembira bagi mereka. Kemudian, Allah menyifati mereka telah melampaui batas dalam maksiat dan banyak melakukan dosa. Lalu setelah itu, Allah mengiringinya dengan larangan berputus asa dari rahmat bagi mereka yang banyak berbuat dosa tersebut. Maka, larangan berputus asa bagi pelaku dosa yang belum melampaui batas tentu lebih utama lagi (untuk diampuni) berdasarkan kandungan makna tersirat dari redaksi tersebut (fahwal khitab). Kemudian, Allah mendatangkan kalimat yang tidak menyisakan keraguan sedikit pun setelahnya, yaitu: 'Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'..." at-Tafsir al-Munir, XXIV: 37-38.

Seorang mukmin:

  • Tidak boleh putus asa dari ampunan Allah.
  • Tidak boleh menganggap dosanya terlalu besar untuk diampuni.
  • Harus yakin bahwa rahmat Allah lebih luas daripada dosa manusia.

 

Keyakinan Bahwa Ketetapan Allah Mengandung Kebaikan

Allah Ta‘ālā berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ.

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Manusia terkadang membenci sesuatu karena tidak mengetahui akibat akhirnya, padahal di dalamnya terdapat maslahat besar yang diketahui Allah. Imam ath-Thabari menjelaskan:

الْقَوْلُ فِي تَأْوِيلِ قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ} قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ: يَعْنِي بِذَلِكَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ: وَلَا تَكْرَهُوا الْقِتَالَ، فَإِنَّكُمْ لَعَلَّكُمْ أَنْ تَكْرَهُوهُ وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ، وَلَا تُحِبُّوا تَرْكَ الْجِهَادِ، فَلَعَلَّكُمْ أَنْ تُحِبُّوهُ وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ.

Penjelasan mengenai takwil (tafsir) firman Allah Ta'ala: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu." (QS. Al-Baqarah: 216)

Abu Ja'far (Imam At-Thabari) berkata: "Maksud dari firman Allah—Jalla Tsanauhu (Maha Agung Pujian-Nya)—tersebut adalah: Janganlah kalian membenci peperangan (di jalan Allah), karena bisa jadi kalian membencinya padahal itu baik bagi kalian. Dan janganlah kalian menyukai ditinggalkannya jihad, karena bisa jadi kalian menyukai hal itu padahal ia buruk bagi kalian." Tafsir ath-Thabari, IV: 298.

Husnuzan billāh tampak ketika:

  • Tetap yakin saat diuji.
  • Tidak menyalahkan takdir Allah.
  • Meyakini bahwa di balik musibah ada hikmah.

 

Allah Sesuai dengan Prasangka Hamba-Nya

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullāh ﷺ bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي.

“Allah Ta‘ālā berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa prasangka di sini adalah harapan kepada Allah. Orang yang berharap rahmat Allah, yakin akan pertolongan-Nya, dan bersandar kepada-Nya dengan benar, maka Allah akan memperlakukannya sesuai prasangka baik tersebut. Imam An-Nawawi menjelaskan:

قَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي قَالَ الْعُلَمَاءُ مَعْنَى حُسْنُ الظَّنِّ بِاَللَّهِ تَعَالَى أَنْ يَظُنَّ أَنَّهُ يَرْحَمُهُ وَيَعْفُو عَنْهُ قَالُوا وَفِي حَالَةِ الصِّحَّةِ يَكُونُ خَائِفًا رَاجِيًا وَيَكُونَانِ سَوَاءً وَقِيلَ يَكُونُ الْخَوْفُ أَرْجَحَ فَإِذَا دَنَتْ أَمَارَاتُ الْمَوْتِ غَلَّبَ الرَّجَاءَ أَوْ مَحْضَهُ لِأَنَّ مَقْصُودَ الْخَوْفِ الِانْكِفَافُ عَنِ الْمَعَاصِي وَالْقَبَائِحِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْإِكْثَارِ مِنَ الطَّاعَاتِ وَالْأَعْمَالِ وَقَدْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ أَوْ مُعْظَمُهُ فِي هَذَا الْحَالِ فَاسْتُحِبَّ إِحْسَانُ الظَّنِّ الْمُتَضَمِّنُ لِلِافْتِقَارِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالْإِذْعَانِ لَهُ وَيُؤَيِّدُهُ الْحَدِيثُ الْمَذْكُورُ بَعْدَهُ بعث كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ وَلِهَذَا عَقَّبَهُ مُسْلِمٌ لِلْحَدِيثِ الْأَوَّلِ قَالَ الْعُلَمَاءُ مَعْنَاهُ يُبْعَثُ عَلَى الْحَالَةِ الَّتِي مَاتَ عَلَيْهَا وَمِثْلُهُ الْحَدِيثُ الْآخَرُ بَعْدَهُ ثُمَّ بُعِثُوا عَلَى نِيَّاتِهِمْ.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (dalam Hadis Qudsi): "Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku." Para ulama menjelaskan bahwa makna "berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah Ta'ala" adalah seorang hamba menyangka (meyakini) bahwa Allah akan merahmatinya dan mengampuni dosa-dosanya. Para ulama mengatakan: "Dalam kondisi sehat, hendaknya seseorang berada di antara rasa takut (khauf) dan rasa harap (raja'), dan keduanya berada dalam porsi yang seimbang." Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa rasa takut harus lebih dominan. Namun, apabila tanda-tanda kematian telah mendekat, maka rasa harap harus lebih mendominasi, atau bahkan sepenuhnya berisi rasa harap. Mengapa demikian? Karena tujuan dari rasa takut (khauf) adalah agar seseorang menahan diri dari kemaksiatan dan perkara-perkara buruk, serta memotivasinya untuk memperbanyak ketaatan dan amal saleh. Sementara pada kondisi (menjelang ajal) tersebut, hal-hal tadi sudah tidak memungkinkan lagi dilakukan—atau sebagian besarnya sudah tidak bisa diamalkan. Oleh karena itu, pada kondisi ini sangat dianjurkan untuk berprasangka baik kepada Allah (husnuzhan), yang di dalamnya mengandung rasa butuh yang amat sangat serta ketundukan kepada Allah Ta'ala. Pendapat ini diperkuat oleh hadis yang disebutkan setelahnya: "Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan apa yang ia mati di atasnya." Karena alasan inilah Imam Muslim meletakkan hadis tersebut tepat setelah hadis yang pertama. Para ulama menjelaskan maknanya: "Ia akan dibangkitkan dalam keadaan (atau keyakinan) yang sama saat ia meninggal dunia." Semakna dengan ini adalah hadis lain setelahnya: "Kemudian mereka dibangkitkan berdasarkan niat-niat mereka." Syarah Muslim li an-Nawawi, XVII: 210.

  • Yakin doa akan dikabulkan.
  • Yakin taubat diterima.
  • Yakin Allah menolong hamba yang taat.

Namun hal ini harus disertai amal saleh, bukan sekadar angan-angan kosong.

 

Larangan Mati dalam Keadaan Buruk Sangka kepada Allah

Rasulullāh ﷺ bersabda:

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ.

“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim)

Disunnahkan bagi orang yang mendekati kematian untuk memperbesar harapan kepada rahmat Allah dan berbaik sangka kepada-Nya. Imam an-Nawawi menjelaskan:

قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ) وَفِي رِوَايَةٍ: (إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ تَعَالَى) قَالَ الْعُلَمَاءُ: هَذَا تَحْذِيرٌ مِنَ الْقُنُوطِ وَحَثٌّ عَلَى الرَّجَاءِ عِنْدَ الْخَاتِمَةِ.

Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah." Dan dalam riwayat lain: "Melainkan dalam keadaan ia memperbaiki prasangkanya kepada Allah Ta'ala." Para ulama menjelaskan: "Ini adalah peringatan agar tidak berputus asa (dari rahmat Allah) dan anjuran untuk memperbesar rasa harap (raja') di akhir hayat (menjelang kematian)." Syarah Muslim li an-Nawawi, XVII: 210.

Menjelang wafat, seorang mukmin:

  • Memperbanyak taubat.
  • Memperbesar harapan akan ampunan Allah.
  • Yakin Allah Maha Penyayang.

 

Husnuzan Bukan Berarti Meremehkan Dosa

Sebagian orang berkata: “Allah Maha Pengampun,” lalu terus bermaksiat tanpa taubat. Ini bukan husnuzan, tetapi tertipu oleh angan-angan. Ada suatu kaum yang tertipu oleh angan-angan sampai mereka keluar dari dunia tanpa amal saleh. Imam al-Hasan al-Bashri Rahimahullah berkata:

رَوَى الطَّبَرَانِيُّ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ قَوْمًا أَلْهَتْهُمْ أَمَانِيُّ الْمَغْفِرَةِ، رَجَاءَ الرَّحْمَةِ حَتَّى خَرَجُوا مِنَ الدُّنْيَا وَلَيْسَتْ لَهُمْ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ.

At-Thabarani meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri, bahwasanya ia berkata: "Sesungguhnya ada suatu kaum yang dilalaikan oleh angan-angan ampunan dan harapan akan rahmat (Allah), hingga mereka keluar dari dunia (wafat) dalam keadaan tidak memiliki amal-amal saleh." Muhammad Nashruddin Muhammad 'Uwaidhah, Kitāb Fashlil-Khitāb fil-Zuhdi war-Raqā'iqi wal-Ādāb, I: 665.

Husnuzan yang benar harus dibarengi:

  • Taubat.
  • Amal saleh.
  • Takut kepada Allah.
  • Menjauhi maksiat.

 

Buah Husnuzan Billāh

1.       Ketenangan Hati, Orang yang yakin kepada Allah tidak mudah gelisah terhadap takdir.

2.       Semangat Beribadah, Ia yakin amalnya tidak akan sia-sia.

3.       Optimisme dalam Hidup, Mukmin selalu melihat harapan dalam setiap kesulitan.

4.       Kuat Menghadapi Musibah, Ia percaya bahwa semua ketetapan Allah penuh hikmah.

 

Cara Menumbuhkan Husnuzan Billāh

1. Mengenal Nama dan Sifat Allah

Seperti:

  • Ar-Rahmān (Maha Pengasih)
  • Ar-Rahīm (Maha Penyayang)
  • Al-Ghafūr (Maha Pengampun)

2. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an

Karena Al-Qur’an penuh dengan janji rahmat dan pertolongan Allah.

3. Mengingat Nikmat Allah

Semakin seseorang mengingat nikmat Allah, semakin kuat prasangka baiknya.

4. Bergaul dengan Orang Saleh

Lingkungan yang baik membantu menjaga hati tetap optimis kepada Allah.

5. Memperbanyak Doa

Di antara doa yang baik:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ التَّوْفِيقَ لِمَحَابِّكَ مِنَ الْأَعْمَالِ، وَصِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu taufik (bimbingan) untuk mengamalkan perbuatan-perbuatan yang Engkau cintai, ketulusan dalam bertawakal kepada-Mu, dan senantiasa berprasangka baik kepada-Mu.” Ibnu Abī Ad-Dunyā, Kitābut-Tawakkuli 'alallāhi libni Abid-Dunyā, 46.

 

Husnuzan billāh adalah cahaya hati seorang mukmin. Dengan prasangka baik kepada Allah, seseorang akan:

  • lebih tenang menghadapi hidup,
  • lebih kuat menghadapi ujian,
  • lebih semangat dalam ibadah,
  • dan lebih dekat kepada rahmat Allah Ta‘ālā.

Namun husnuzan yang benar bukan sekadar berharap tanpa amal. Ia harus dibangun di atas:

  • iman,
  • taubat,
  • ketaatan,
  • serta keyakinan penuh terhadap hikmah dan kasih sayang Allah.

Semoga Allah Ta‘ālā menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam seluruh keadaan.

رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ.

“Ya Rabb kami, hanya kepada-Mu kami bertawakal, hanya kepada-Mu kami kembali, dan hanya kepada-Mu tempat kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Janganlah engkau berprasangka terhadap ucapan saudaramu kecuali dengan prasangka terbaik selama masih mungkin ditafsirkan baik.

 

1.b. Husnudzan (Prasangka Baik) kepada Sesama Manusia

Allah berfirman:

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا.

“Mengapa ketika kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang mukmin tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri…” (QS. An-Nur: 12)

Qs. An-Nur: 12 ini merupakan penggalan kisah haditsul-ifki (berita bohong) dari rangkaian Qs. An-Nur dari ayat 11 sampai dengan 22 yang menimpa salah seorang istri Nabi saw., yakni Aisyah ra. Imam Al-Maraghi (Tafsir al-Maraghi, XVIII: 78-83) menjelaskan di antaranya:

بَعْدَ أَنْ ذَكَرَ سُبْحَانَهُ حُكْمَ مَنْ قَذَفَ الْأَجْنَبِيَّاتِ، وَحُكْمَ مَنْ قَذَفَ الزَّوْجَاتِ، ذَكَرَ فِي هَذِهِ الْآيَاتِ الْعَشْرِ بَرَاءَةَ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ مِمَّا رَمَاهَا بِهِ أَهْلُ الْإِفْكِ وَالْبُهْتَانِ مِنَ الْمُنَافِقِينَ، صِيَانَةً لِعِرْضِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَمُجْمَلُ الْقَصَصِ مَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَغَيْرُهُ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ خَالَتِهِ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ، فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَتْ قُرْعَتُهَا اسْتَصْحَبَهَا، فَأَقْرَعَ بَيْنَنَا فِي غَزْوَةٍ غَزَاهَا، فَخَرَجَ سَهْمِي (نَصِيبِي)، فَخَرَجْتُ مَعَهُ بَعْدَ نُزُولِ آيَةِ الْحِجَابِ، فَحُمِلْتُ فِي هَوْدَجٍ، فَسِرْنَا حَتَّى إِذَا قَفَلْنَا وَدَنَوْنَا مِنَ الْمَدِينَةِ نَزَلْنَا مَنْزِلًا، ثُمَّ نُودِيَ بِالرَّحِيلِ، فَقُمْتُ وَمَشَيْتُ حَتَّى جَاوَزْتُ الْجَيْشَ، فَلَمَّا قَضَيْتُ شَأْنِي أَقْبَلْتُ إِلَى رَحْلِي، فَلَمَسْتُ صَدْرِي فَإِذَا عِقْدِي مِنْ جَزْعِ ظَفَارٍ قَدِ انْقَطَعَ، فَرَجَعْتُ فَالْتَمَسْتُهُ، فَحَبَسَنِي ابْتِغَاؤُهُ، وَأَقْبَلَ الرَّهْطُ الَّذِينَ كَانُوا يُرَحِّلُونَ بِي فَاحْتَمَلُوا هَوْدَجِي فَرَحَّلُوهُ عَلَى بَعِيرِي، وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنِّي فِيهِ لِخِفَّتِي، فَلَمْ يَسْتَنْكِرُوا خِفَّةَ الْهَوْدَجِ، وَذَهَبُوا بِالْبَعِيرِ، وَوَجَدْتُ عِقْدِي بَعْدَ مَا اسْتَمَرَّ الْجَيْشُ، فَجِئْتُ مَنَازِلَهُمْ وَلَيْسَ فِيهَا دَاعٍ وَلَا مُجِيبٌ، فَتَيَمَّمْتُ مَنْزِلِي، وَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ سَيَفْقِدُونَنِي وَيَعُودُونَ فِي طَلَبِي، فَبَيْنَا أَنَا جَالِسَةٌ فِي مَنْزِلِي غَلَبَتْنِي عَيْنِي فَنِمْتُ، وَكَانَ صَفْوَانُ بْنُ الْمُعَطَّلِ السُّلَمِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْجَيْشِ، فَلَمَّا رَآنِي عَرَفَنِي، فَاسْتَيْقَظْتُ بِاسْتِرْجَاعِهِ، فَخَمَّرْتُ وَجْهِي بِجِلْبَابِي، وَوَاللَّهِ مَا تَكَلَّمْتُ بِكَلِمَةٍ، وَلَا سَمِعْتُ مِنْهُ كَلِمَةً غَيْرَ اسْتِرْجَاعِهِ، حِينَ أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ فَوَطِئَ عَلَى يَدَيْهَا، فَقُمْتُ إِلَيْهَا فَرَكِبْتُهَا، وَانْطَلَقَ يَقُودُ بِالرَّاحِلَةِ حَتَّى أَتَيْنَا الْجَيْشَ بَعْدَ أَنْ نَزَلُوا فِي نَحْرِ الظَّهِيرَةِ، وَافْتَقَدَنِي النَّاسُ حِينَ نَزَلُوا، وَمَاجَ الْقَوْمُ فِي ذِكْرِي، فَبَيْنَا النَّاسُ كَذَلِكَ إِذْ هَجَمْتُ عَلَيْهِمْ، فَخَاضُوا فِي حَدِيثِي، فَهَلَكَ مَنْ هَلَكَ، وَكَانَ الَّذِي تَوَلَّى الْإِفْكَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ. فَقَدِمْنَا الْمَدِينَةَ، فَاشْتَكَيْتُ حِينَ قَدِمْتُ شَهْرًا، وَالنَّاسُ يُفِيضُونَ فِي قَوْلِ أَصْحَابِ الْإِفْكِ، لَا أَشْعُرُ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ، وَيَرِيبُنِي فِي وَجَعِي أَنِّي لَا أَعْرِفُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللُّطْفَ الَّذِي كُنْتُ أَرَى مِنْهُ حِينَ أَشْتَكِي، إِنَّمَا يَدْخُلُ فَيُسَلِّمُ، ثُمَّ يَقُولُ: كَيْفَ تِيكُمْ؟ فَذَلِكَ يُرِيبُنِي، وَلَا أَشْعُرُ بِالشَّرِّ، حَتَّى خَرَجْتُ بَعْدَ مَا نَقِهْتُ، وَخَرَجْتُ مَعَ أُمِّ مِسْطَحٍ قِبَلَ الْمَنَاصِعِ، وَهُوَ مُتَبَرَّزُنَا، وَلَا نَخْرُجُ إِلَّا لَيْلًا إِلَى لَيْلٍ، قَبْلَ أَنْ تُتَّخَذَ الْكُنُفُ قَرِيبًا مِنْ بُيُوتِنَا، وَأَمْرُنَا أَمْرُ الْعَرَبِ الْأَوَّلِ فِي التَّنَزُّهِ فِي الْبَرِّيَّةِ، وَكُنَّا نَتَأَذَّى بِالْكُنُفِ أَنْ نَتَّخِذَهَا عِنْدَ بُيُوتِنَا. فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأُمُّ مِسْطَحٍ ـ وَهِيَ ابْنَةُ أَبِي رَهْمِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ، وَأُمُّهَا ابْنَةُ صَخْرِ بْنِ عَامِرٍ خَالَةُ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ ـ قِبَلَ بَيْتِي حِينَ فَرَغْنَا مِنْ شَأْنِنَا، فَعَثَرَتْ أُمُّ مِسْطَحٍ فِي مِرْطِهَا، فَقَالَتْ: تَعِسَ مِسْطَحٌ. فَقُلْتُ: أَتَسُبِّينَ رَجُلًا قَدْ شَهِدَ بَدْرًا؟ فَقَالَتْ: أَيْ هَنْتَاهُ، أَوَلَمْ تَسْمَعِي مَا قَالَ؟ قُلْتُ: وَمَا قَالَ؟ فَأَخْبَرَتْنِي بِقَوْلِ أَهْلِ الْإِفْكِ، فَازْدَدْتُ مَرَضًا عَلَى مَرَضِي.

فَلَمَّا رَجَعْتُ إِلَى مَنْزِلِي، وَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَالَ: كَيْفَ تِيكُمْ؟ قُلْتُ: أَتَأْذَنُ لِي أَنْ آتِيَ أَبَوَيَّ؟ قَالَ: نَعَمْ.

قَالَتْ: وَأَنَا حِينَئِذٍ أُرِيدُ أَنْ أَسْتَثْبِتَ الْخَبَرَ مِنْ قِبَلِهِمَا، فَجِئْتُ أَبَوَيَّ، فَقُلْتُ لِأُمِّي: أَيْ أُمَّاهُ، مَاذَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ بِهِ؟ فَقَالَتْ: أَيْ بُنَيَّةُ، هَوِّنِي عَلَيْكِ، فَوَاللَّهِ لَقَلَّمَا كَانَتِ امْرَأَةٌ قَطُّ وَضِيئَةً عِنْدَ رَجُلٍ يُحِبُّهَا، وَلَهَا ضَرَائِرُ، إِلَّا أَكْثَرْنَ عَلَيْهَا. قَالَتْ: قُلْتُ: سُبْحَانَ اللَّهِ! أَوَقَدْ تَحَدَّثَ النَّاسُ بِهَذَا، وَبَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَتْ: فَبَكَيْتُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ حَتَّى أَصْبَحْتُ، لَا يَرْقَأُ لِي دَمْعٌ، وَلَا أَكْتَحِلُ بِنَوْمٍ. ثُمَّ أَصْبَحْتُ، فَدَخَلَ عَلَيَّ أَبُو بَكْرٍ وَأَنَا أَبْكِي، فَقَالَ لِأُمِّي: مَا يُبْكِيهَا؟ قَالَتْ: لَمْ تَكُنْ عَلِمَتْ مَا قِيلَ لَهَا. فَأَكَبَّ يَبْكِي، فَبَكَى سَاعَةً، ثُمَّ قَالَ: اسْكُتِي يَا بُنَيَّةُ. فَبَكَيْتُ يَوْمِي ذَلِكَ، لَا يَرْقَأُ لِي دَمْعٌ، وَلَا أَكْتَحِلُ بِنَوْمٍ، ثُمَّ بَكَيْتُ لَيْلِي الْمُقْبِلَ، لَا يَرْقَأُ لِي دَمْعٌ، وَلَا أَكْتَحِلُ بِنَوْمٍ، حَتَّى ظَنَّ أَبَوَايَ أَنَّ الْبُكَاءَ سَيَفْلِقُ كَبِدِي. وَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ على بن أبى طالب وأسامة بن زيد حِينَ اسْتَلْبَثَ الْوَحْيُ، يَسْتَشِيرُهُمَا فِي فِرَاقِ أَهْلِهِ. قَالَتْ: فَأَمَّا أُسَامَةُ فَأَشَارَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالَّذِي يَعْلَمُ مِنْ بَرَاءَةِ أَهْلِهِ، وَبِالَّذِي فِي نَفْسِهِ مِنَ الْوُدِّ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هُمْ أَهْلُكَ، وَلَا نَعْلَمُ إِلَّا خَيْرًا. وَأَمَّا علي بن أبي طالب فَقَالَ: لَمْ يُضَيِّقِ اللَّهُ عَلَيْكَ، وَالنِّسَاءُ سِوَاهَا كَثِيرٌ، وَإِنْ تَسْأَلِ الْجَارِيَةَ ـ يَعْنِي بَرِيرَةَ ـ تُصَدِّقْكَ. فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرِيرَةَ، فَقَالَ: هَلْ رَأَيْتِ مِنْ شَيْءٍ يَرِيبُكِ مِنْ عَائِشَةَ؟ قَالَتْ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ، مَا رَأَيْتُ عَلَيْهَا أَمْرًا أَغْمِصُهُ عَلَيْهَا، أَكْثَرَ مِنْ أَنَّهَا جَارِيَةٌ حَدِيثَةُ السِّنِّ، تَنَامُ عَنْ عَجِينِ أَهْلِهَا، فَتَأْتِي الدَّوَاجِنُ فَتَأْكُلُهُ. فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَوْمِهِ، فَاسْتَعْذَرَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ، فَقَالَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ: «يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، مَنْ يَعْذِرُنِي مِنْ رَجُلٍ قَدْ بَلَغَنِي أَذَاهُ فِي أَهْلِي؟ فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي إِلَّا خَيْرًا، وَلَقَدْ ذَكَرُوا رَجُلًا مَا عَلِمْتُ عَلَيْهِ إِلَّا خَيْرًا، وَمَا كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أَهْلِي إِلَّا مَعِي».

Setelah Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menyebutkan hukum orang yang menuduh wanita-wanita asing berzina, dan hukum orang yang menuduh istri-istri mereka sendiri, maka Allah menjelaskan dalam sepuluh ayat ini tentang kebersihan dan kesucian Aisyah binti Abu Bakar Ummul Mukminin dari tuduhan dusta dan fitnah besar yang dilemparkan oleh orang-orang munafik, sebagai penjagaan terhadap kehormatan Rasulullah ﷺ. Secara ringkas, kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan selain beliau, dari Urwah bin Zubair, dari bibinya Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, beliau berkata: “Apabila Rasulullah ﷺ hendak bepergian, beliau mengadakan undian di antara istri-istri beliau. Siapa di antara mereka yang keluar undiannya, maka beliau membawanya turut serta. Maka pada suatu peperangan, undianku yang keluar sehingga aku berangkat bersama beliau setelah turunnya ayat hijab. Aku dibawa dalam sebuah sekedup (haudaj) di atas unta. Kami berjalan hingga ketika pulang dan telah mendekati Madinah, kami singgah di suatu tempat. Kemudian diumumkan keberangkatan kembali. Maka aku bangun dan berjalan hingga melewati pasukan untuk menunaikan hajatku. Setelah selesai, aku kembali ke tempat kendaraanku lalu meraba dadaku, ternyata kalungku dari manik-manik Zhafar telah terputus. Aku pun kembali mencarinya dan pencarian itu membuatku tertahan. Sementara rombongan yang biasa mengangkat sekedupku datang lalu mengangkat haudajku ke atas untaku. Mereka mengira aku berada di dalamnya karena tubuhku ringan, sehingga mereka tidak merasa aneh dengan ringannya haudaj itu. Mereka lalu membawa untaku pergi bersama pasukan. Setelah pasukan berjalan jauh, aku menemukan kembali kalungku. Lalu aku datang ke tempat singgah mereka, tetapi tidak ada seorang pun di sana. Maka aku menuju tempatku semula dan menyangka mereka akan menyadari kehilanganku lalu kembali mencariku. Ketika aku sedang duduk di tempatku, mataku terasa sangat mengantuk hingga aku tertidur. Saat itu Shafwan bin Mu'aththal berada di belakang pasukan. Ketika ia melihatku, ia mengenaliku. Aku terbangun karena ucapan istirjā‘-nya: ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.’ Maka segera kututupi wajahku dengan jilbabku. Demi Allah, aku tidak berbicara sepatah kata pun kepadanya dan aku pun tidak mendengar sepatah kata pun darinya selain ucapan istirjā‘ itu. Ia lalu mendekatkan untanya dan menundukkan kaki depan unta itu agar aku dapat menaikinya. Aku pun menaikinya dan ia berjalan menuntun untaku hingga kami menyusul pasukan di waktu panas terik siang hari. Ketika itu orang-orang kehilangan aku dan mulailah mereka membicarakanku. Saat aku datang bersama Shafwan, orang-orang pun larut dalam pembicaraan dusta tentang diriku. Maka binasalah orang-orang yang ikut tenggelam dalam fitnah itu. Orang yang paling besar menyebarkan fitnah tersebut adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Sesampainya di Madinah, aku jatuh sakit selama sebulan penuh, sedangkan orang-orang terus membicarakan berita dusta itu sementara aku sama sekali tidak mengetahui apa pun tentangnya. Yang membuatku merasa aneh hanyalah sikap Rasulullah ﷺ yang tidak seperti biasanya ketika aku sakit. Biasanya beliau sangat lembut kepadaku, tetapi kali ini beliau hanya masuk, mengucapkan salam, lalu berkata: ‘Bagaimana keadaan kalian?’ Hal itu membuatku merasa heran, tetapi aku belum menyadari adanya keburukan yang sedang tersebar. Setelah aku agak sembuh, aku keluar bersama Ummu Misthah menuju tempat buang hajat kami, karena saat itu rumah-rumah belum memiliki jamban dekat rumah sebagaimana kebiasaan orang Arab dahulu. Di tengah perjalanan, Ummu Misthah tersandung kainnya lalu berkata: ‘Celakalah Misthah!’ Maka aku berkata: ‘Apakah engkau mencela seorang laki-laki yang ikut perang Badar?’ Ia berkata: ‘Wahai wanita yang tidak tahu, apakah engkau belum mendengar apa yang dikatakannya?’ Aku bertanya: ‘Apa yang ia katakan?’ Maka ia pun memberitahuku tentang ucapan para penyebar fitnah itu. Mendengar hal itu, sakitku semakin bertambah parah. Ketika aku kembali ke rumah, Rasulullah ﷺ masuk lalu berkata: ‘Bagaimana keadaan kalian?’ Aku berkata: ‘Apakah engkau mengizinkanku pergi menemui kedua orang tuaku?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’ Aku ingin memastikan berita itu dari keduanya. Lalu aku mendatangi ayah dan ibuku. Aku berkata kepada ibuku: ‘Wahai ibuku, apa yang sedang dibicarakan orang-orang?’ Ibuku berkata: ‘Wahai anakku, tenangkan dirimu. Demi Allah, jarang sekali ada wanita cantik yang dicintai suaminya dan memiliki madu-madu kecuali mereka akan banyak membicarakannya.’ Aku berkata: ‘Subḥānallāh! Apakah orang-orang benar-benar membicarakan ini, bahkan sampai kepada Rasulullah ﷺ?’ Ibuku menjawab: ‘Ya.’ Maka aku menangis sepanjang malam hingga pagi hari. Air mataku tidak berhenti mengalir dan aku tidak bisa tidur sedikit pun. Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq masuk menemuiku sementara aku sedang menangis. Ia bertanya kepada ibuku: ‘Apa yang membuatnya menangis?’ Ibuku menjawab: ‘Ia baru mengetahui apa yang dikatakan orang-orang tentang dirinya.’ Maka Abu Bakar pun menangis beberapa saat lalu berkata: ‘Bersabarlah wahai putriku.’ Aku terus menangis sepanjang hari dan malam berikutnya hingga kedua orang tuaku menyangka tangisan itu akan membelah hatiku. Kemudian Rasulullah ﷺ memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid ketika wahyu belum juga turun, untuk meminta pendapat mereka tentang masalah keluarganya. Usamah berkata berdasarkan apa yang ia ketahui tentang kesucian keluarga Nabi dan kecintaannya kepada mereka: ‘Wahai Rasulullah, mereka adalah keluargamu dan kami tidak mengetahui dari mereka kecuali kebaikan.’ Sedangkan Ali berkata: ‘Allah tidak menyempitkan urusan bagimu, wanita selain dia masih banyak. Jika engkau bertanya kepada pelayan wanita itu —yakni Barirah— niscaya ia akan membenarkanmu.’ Maka Rasulullah ﷺ memanggil Barirah dan bertanya: ‘Apakah engkau pernah melihat sesuatu yang meragukan dari Aisyah?’ Barirah menjawab: ‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak pernah melihat suatu keburukan padanya sedikit pun, selain bahwa ia masih muda belia; terkadang ia tertidur dari menjaga adonan keluarganya lalu ayam atau hewan ternak datang memakannya.’ Lalu Rasulullah ﷺ berdiri pada hari itu dan meminta pembelaan terhadap tindakan Abdullah bin Ubay bin Salul. Beliau bersabda di atas mimbar: ‘Wahai kaum muslimin! Siapakah yang akan membelaku dari gangguan seorang lelaki yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang keluargaku kecuali kebaikan. Dan mereka juga menuduh seorang lelaki yang aku tidak mengetahui darinya kecuali kebaikan, dan tidaklah ia masuk menemui keluargaku kecuali bersamaku.’ Tafsir al-Maraghi, XVIII: 78-83.

فَقَامَ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ الْأَنْصَارِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ: أَنَا أَعْذِرُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنْ كَانَ مِنَ الْأَوْسِ ضَرَبْنَا عُنُقَهُ، وَإِنْ كَانَ مِنْ إِخْوَانِنَا الْخَزْرَجِ أَمَرْتَنَا فَفَعَلْنَا أَمْرَكَ. فَقَامَ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ وَهُوَ سَيِّدُ الْخَزْرَجِ وَكَانَ رَجُلًا صَالِحًا وَلَكِنِ احْتَمَلَتْهُ الْحَمِيَّةُ، فَقَالَ أَيْ سَعْدَ بْنَ مُعَاذٍ: لَعَمْرُ اللَّهِ لَا تَقْتُلُهُ وَلَا تَقْدِرُ عَلَى قَتْلِهِ، وَلَوْ كَانَ مِنْ أَهْلِكَ مَا أَحْبَبْتَ أَنْ يُقْتَلَ. فَقَامَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ وَهُوَ ابْنُ عَمِّ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ فَقَالَ لِسَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ: كَذَبْتَ لَعَمْرُ اللَّهِ لَنَقْتُلَنَّهُ، فَإِنَّكَ مُنَافِقٌ تُجَادِلُ عَنِ الْمُنَافِقِينَ. فَتَثَاوَرَ الْحَيَّانِ الْأَوْسُ وَالْخَزْرَجُ حَتَّى هَمُّوا أَنْ يَقْتَتِلُوا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَلَمْ يَزَلْ يُخَفِّضُهُمْ حَتَّى سَكَتُوا. ثُمَّ أَتَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا فِي بَيْتِ أَبَوَيَّ، فَبَيْنَمَا هُمَا جَالِسَانِ عِنْدِي وَأَنَا أَبْكِي اسْتَأْذَنَتْ عَلَيَّ امْرَأَةٌ مِنَ الْأَنْصَارِ فَأَذِنْتُ لَهَا فَجَلَسَتْ تَبْكِي مَعِي. قَالَتْ: فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ جَلَسَ عِنْدِي وَلَمْ يَجْلِسْ عِنْدِي مُنْذُ قِيلَ مَا قِيلَ، وَقَدْ لَبِثَ شَهْرًا لَا يُوحَى إِلَيْهِ فِي شَأْنِي بِشَيْءٍ. قَالَتْ: فَتَشَهَّدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ جَلَسَ ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعْدُ يَا عَائِشَةُ، فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي عَنْكِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ اللَّهُ، وَإِنْ كُنْتِ أَلْمَمْتِ بِذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرِي اللَّهَ وَتُوبِي إِلَيْهِ، فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ. فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَقَالَتَهُ قَلَصَ دَمْعِي حَتَّى مَا أُحِسُّ مِنْهُ دَمْعَةً. قُلْتُ لِأَبِي: أَجِبْ عَنِّي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا قَالَ. قَالَ: وَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا أَقُولُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقُلْتُ لِأُمِّي: أَجِيبِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَتْ: وَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا أَقُولُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَتْ: فَقُلْتُ وَأَنَا جَارِيَةٌ حَدِيثَةُ السِّنِّ لَا أَقْرَأُ كَثِيرًا مِنَ الْقُرْآنِ: إِنِّي وَاللَّهِ قَدْ عَرَفْتُ أَنْ قَدْ سَمِعْتُمْ بِهَذَا حَتَّى اسْتَقَرَّ فِي أَنْفُسِكُمْ حَتَّى كِدْتُمْ أَنْ تُصَدِّقُوا بِهِ، فَإِنْ قُلْتُ لَكُمْ إِنِّي بَرِيئَةٌ (وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَنِّي بَرِيئَةٌ) لَا تُصَدِّقُونِي بِذَلِكَ، وَلَئِنِ اعْتَرَفْتُ لَكُمْ بِأَمْرٍ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَنِّي مِنْهُ بَرِيئَةٌ لَتُصَدِّقُنَّنِي، وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أَجِدُ لِي وَلَكُمْ مَثَلًا إِلَّا كَمَا قَالَ أَبُو يُوسُفَ: «فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ». ثُمَّ تَوَلَّيْتُ فَاضْطَجَعْتُ عَلَى فِرَاشِي وَأَنَا وَاللَّهِ أَعْلَمُ أَنِّي بَرِيئَةٌ، وَأَنَّ اللَّهَ سَيُبَرِّئُنِي بِبَرَاءَتِي، وَلَكِنِّي وَاللَّهِ مَا كُنْتُ أَظُنُّ أَنْ يَنْزِلَ فِي شَأْنِي وَحْيٌ يُتْلَى، وَلَشَأْنِي كَانَ أَحْقَرَ فِي نَفْسِي مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ اللَّهُ فِيَّ بِأَمْرٍ يُتْلَى، وَلَكِنِّي كُنْتُ أَرْجُو أَنْ يَرَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ رُؤْيَا يُبَرِّئُنِي اللَّهُ بِهَا. قَالَتْ: وَاللَّهِ مَا رَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجْلِسَهُ وَلَا خَرَجَ مِنَ الْبَيْتِ أَحَدٌ حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ، فَأَخَذَهُ مَا كَانَ يَأْخُذُهُ مِنَ الْبُرَحَاءِ عِنْدَ الْوَحْيِ حَتَّى إِنَّهُ لَيَتَحَدَّرُ مِنْهُ مِثْلُ الْجُمَانِ مِنَ الْعَرَقِ فِي الْيَوْمِ الشَّاتِي مِنْ ثِقَلِ الْقَوْلِ الَّذِي يَنْزِلُ عَلَيْهِ. قَالَتْ: فَلَمَّا سُرِّيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَضْحَكُ، كَانَ أَوَّلُ كَلِمَةٍ تَكَلَّمَ بِهَا أَنْ قَالَ: أَبْشِرِي يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَرَّأَكِ. فَقَالَتْ لِي أُمِّي: قُومِي إِلَيْهِ. فَقُلْتُ: وَاللَّهِ لَا أَقُومُ إِلَيْهِ وَلَا أَحْمَدُ إِلَّا اللَّهَ، هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ بَرَاءَتِي. فَأَنْزَلَ اللَّهُ: «إِنَّ الَّذِينَ جَاؤُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ» الْعَشْرَ الْآيَاتِ كُلَّهَا. فَلَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ هَذَا فِي بَرَاءَتِي قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَكَانَ يُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحٍ لِقَرَابَتِهِ وَفَقْرِهِ: وَاللَّهِ لَا أُنْفِقُ عَلَيْهِ شَيْئًا أَبَدًا بَعْدَ الَّذِي قَالَ لِعَائِشَةَ. فَأَنْزَلَ اللَّهُ: «وَلَا يَأْتَلِ أُولُوا الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ -إِلَى قَوْلِهِ- غَفُورٌ رَحِيمٌ». فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ النَّفَقَةَ الَّتِي كَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِ، وَقَالَ: لَا أَنْزِعُهَا مِنْهُ أَبَدًا. قَالَتْ عَائِشَةُ: وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُ زَيْنَبَ بِنْتَ جَحْشٍ عَنْ أَمْرِي وَمَا سَمِعَتْ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَحْمِي سَمْعِي وَبَصَرِي، وَاللَّهِ مَا رَأَيْتُ إِلَّا خَيْرًا. قَالَتْ عَائِشَةُ: وَهِيَ الَّتِي كَانَتْ تُسَامِينِي، فَعَصَمَهَا اللَّهُ بِالْوَرَعِ، وَطَفِقَتْ أُخْتُهَا حَمْنَةُ تُحَارِبُ لَهَا، فَهَلَكَتْ فِيمَنْ هَلَكَ. وَكَانَ مَسْرُوقٌ إِذَا حَدَّثَ عَنْ عَائِشَةَ يَقُولُ: حَدَّثَتْنِي الصِّدِّيقَةُ بِنْتُ الصِّدِّيقِ حَبِيبَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُبَرَّأَةُ مِنَ السَّمَاءِ.

Maka berdirilah Sa'ad bin Mu'adz Al-Anshari radhiyallahu 'anhu dan berkata: "Aku akan membelamu (memberi uzur bagimu) wahai Rasulullah. Jika dia (pelaku fitnah) dari kaum Aus, kami akan penggal lehernya. Namun jika dia dari saudara kami kaum Khazraj, engkau tinggal perintahkan kami, maka kami akan laksanakan perintahmu." Lalu berdirilah Sa'ad bin Ubadah, ia adalah pemimpin kaum Khazraj, seorang pria yang saleh namun ia terpancing oleh fanatisme kesukuan (hamiyyah). Ia berkata kepada Sa'ad bin Mu'adz: "Demi Allah, engkau tidak akan membunuhnya dan engkau tidak akan mampu membunuhnya! Seandainya dia dari kaummu, tentu engkau tidak ingin dia dibunuh." Kemudian berdirilah Usaid bin Hudhair, sepupu Sa'ad bin Mu'adz, dan berkata kepada Sa'ad bin Ubadah: "Engkau dusta! Demi Allah, kami benar-benar akan membunuhnya! Sesungguhnya engkau adalah orang munafik yang membela orang-orang munafik." Maka kedua kabilah (Aus dan Khazraj) tersebut saling bersitegang hingga hampir berkelahi, sementara Rasulullah ﷺ masih berdiri di atas mimbar. Beliau terus menenangkan mereka sampai mereka diam. Kemudian Rasulullah ﷺ mendatangiku saat aku berada di rumah orang tuaku. Ketika mereka berdua sedang duduk di dekatku dan aku sedang menangis, seorang wanita Anshar meminta izin masuk. Aku mengizinkannya, lalu ia duduk dan ikut menangis bersamaku. Saat kami dalam kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ masuk lalu duduk di dekatku. Beliau tidak pernah lagi duduk di dekatku sejak fitnah itu tersebar. Sudah satu bulan lamanya tidak ada wahyu yang turun kepada beliau mengenai urusanku. Setelah duduk, Rasulullah ﷺ bersyahadat kemudian bersabda: "Amma ba'du, wahai Aisyah. Sungguh telah sampai kepadaku berita begini dan begitu tentangmu. Jika engkau tidak bersalah (berlepas diri), maka Allah akan membebaskanmu dari tuduhan itu. Namun jika engkau telah melakukan dosa, maka mintalah ampun kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya. Karena sesungguhnya seorang hamba jika mengakui dosanya lalu bertaubat, maka Allah menerima taubatnya." Setelah Rasulullah ﷺ selesai berbicara, air mataku kering hingga aku tidak merasakan setetes pun air mata lagi. Aku berkata kepada ayahku: "Jawablah untukku apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ." Ayahku menjawab: "Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah ﷺ." Lalu aku berkata kepada ibuku: "Jawablah Rasulullah ﷺ." Ia pun menjawab: "Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah ﷺ." Aku berkata—saat itu aku masih gadis belia yang belum banyak membaca Al-Qur'an: "Demi Allah, aku tahu kalian telah mendengar berita ini hingga ia menetap di jiwa kalian dan kalian hampir mempercayainya. Jika aku katakan kepada kalian bahwa aku tidak bersalah (dan Allah tahu aku tidak bersalah), kalian tidak akan mempercayaiku. Namun jika aku mengakui suatu perkara—padahal Allah tahu aku bersih darinya—kalian pasti akan langsung mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menemukan perumpamaan untukku dan kalian kecuali seperti yang dikatakan Ayah Yusuf (Nabi Ya'qub): 'Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah pulalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.' (QS. Yusuf: 18)." Lalu aku memalingkan wajah dan berbaring di tempat tidurku. Demi Allah, saat itu aku tahu bahwa aku tidak bersalah dan Allah akan membebaskanku. Namun demi Allah, aku tidak menyangka akan turun wahyu tentangku yang akan terus dibaca (selamanya). Urusanku dalam pandanganku jauh lebih remeh daripada jika Allah berbicara tentangku melalui firman yang terus dibaca. Aku hanya berharap Rasulullah ﷺ melihat mimpi dalam tidurnya yang dengannya Allah membersihkan namaku. Demi Allah, Rasulullah ﷺ belum lagi beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun yang keluar dari rumah hingga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Beliau mengalami keadaan yang biasa dialami saat wahyu turun (beban berat), sampai-sampai keringatnya bercucuran seperti butiran mutiara meskipun di hari yang sangat dingin, karena beratnya wahyu yang turun kepadanya. Setelah keadaan itu berlalu dari Rasulullah ﷺ, beliau tertawa (senang). Kata pertama yang beliau ucapkan adalah: "Bergembiralah wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah telah membebaskanmu (dari tuduhan)." Ibuku berkata kepadaku: "Berdirilah (dekati) beliau." Aku menjawab: "Demi Allah, aku tidak akan mendekat kepadanya dan aku tidak akan memuji kecuali kepada Allah. Dialah yang telah menurunkan pembebasanku." Maka Allah menurunkan ayat: "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga..." hingga sepuluh ayat (QS. An-Nur: 11-20). Setelah Allah menurunkan ayat pembebasanku ini, Abu Bakar—yang selama ini memberi nafkah kepada Mistah karena hubungan kerabat dan kemiskinannya—berkata: "Demi Allah, aku tidak akan memberinya nafkah sedikit pun selamanya setelah apa yang dia katakan tentang Aisyah." Lalu Allah menurunkan ayat: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya)... (sampai firman-Nya) Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nur: 22). Maka Abu Bakar berkata: "Sesungguhnya aku sangat ingin agar Allah mengampuniku." Lalu ia mengembalikan nafkah kepada Mistah yang biasa ia berikan dan berkata: "Aku tidak akan mencabut nafkah ini darinya selamanya." Aisyah berkata: "Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada Zainab binti Jahsy tentang urusanku dan apa yang ia dengar. Zainab menjawab: 'Wahai Rasulullah, aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, aku tidak tahu tentangnya kecuali kebaikan'." Aisyah berkata: "Zainab adalah istri Nabi yang menjadi sainganku, namun Allah melindunginya dengan sifat warak (hati-hati). Sementara saudarinya, Hamnah binti Jahsy, mulai memusuhiku (membela Zainab), maka binasalah ia bersama orang-orang yang binasa (karena ikut menyebar fitnah)." Adalah Masruq, jika ia meriwayatkan hadis dari Aisyah, ia selalu berkata: "Telah menceritakan kepadaku Ash-Shiddiqah (wanita jujur) putri Ash-Shiddiq (Abu Bakar), kekasih Rasulullah ﷺ, yang telah dibersihkan namanya (oleh Allah) dari langit." Tafsir al-Maraghi, XVIII: 78-83.

«لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ» أَيْ: هَلَّا إِذْ سَمِعْتُمْ مَا قَالَ أَهْلُ الْإِفْكِ فِي عَائِشَةَ ظَنَنْتُمْ بِمَنِ اتُّهِمَ بِذَلِكَ خَيْرًا، لِأَنَّ الْإِيمَانَ يَحْمِلُكُمْ عَلَى إِحْسَانِ الظَّنِّ، وَيَكُفُّكُمْ عَنْ إِسَاءَتِكُمْ. أَنْفُسَكُمْ أَيْ: أَمْثَالَكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ هُمْ كَأَنْفُسِكُمْ كَمَا قَالَ: «وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ» وَقَالَ: «فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ». وَهَلَّا قُلْتُمْ حِينَئِذٍ: هَذَا كَذِبٌ ظَاهِرٌ مَكْشُوفٌ؟ فَإِنَّ الَّذِي وَقَعَ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا يُرْتَابُ مِنْهُ؛ ذَاكَ أَنَّ مَجِيءَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَاكِبَةً جَهْرَةً عَلَى رَاحِلَةِ صَفْوَانَ وَقْتَ الظَّهِيرَةِ وَالْجَيْشُ أَجْمَعُهُ يُشَاهِدُ ذَلِكَ، وَرَسُولُ اللَّهِ بَيْنَ أَظْهُرِهِمْ يَنْفِي كُلَّ شَكٍّ، وَإِنَّمَا قِيلَ مَا قِيلَ لِحَسَدٍ فِي الْقُلُوبِ كَامِنٍ، وَبُغْضٍ فِي النَّفْسِ مَكْتُومٍ.

"Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata'." (QS. An-Nur: 12) Maksudnya adalah: Mengapa saat kalian mendengar apa yang dikatakan oleh para penyebar fitnah tentang Aisyah, kalian tidak berprasangka baik kepada orang yang dituduh tersebut? Karena keimanan seharusnya mendorong kalian untuk berbaik sangka (husnuzan) dan mencegah kalian dari berprasangka buruk. Kalimat "terhadap diri mereka sendiri" maksudnya adalah terhadap sesama mukmin yang seperti diri kalian sendiri, sebagaimana firman Allah: "Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri" (yakni sesamamu) serta firman-Nya: "Maka apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam kepada dirimu sendiri" (yakni kepada sesama penghuninya). Dan mengapa kalian tidak berkata pada saat itu juga: "Ini adalah kebohongan yang nyata dan terang-terangan?" Sebab, kejadian yang sebenarnya terjadi sama sekali tidak mengandung hal yang patut diragukan. Hal itu dikarenakan kedatangan Ummul Mu'minin (Aisyah) dengan menunggangi unta milik Safwan secara terang-terangan di tengah hari bolong, sementara seluruh pasukan menyaksikannya, dan Rasulullah ﷺ berada di tengah-tengah mereka—semua fakta ini seharusnya menepis segala keraguan. Adapun tuduhan-tuduhan yang dilontarkan, hanyalah muncul karena adanya rasa dengki yang terpendam di dalam hati dan kebencian yang disembunyikan di dalam jiwa. Tafsir al-Maraghi, XVIII: 84.

 

2. Su’udzan (Prasangka Buruk)

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini menjadi landasan utama bahwa tidak semua dzan tercela, tetapi “sebagian” darinya adalah dosa.

Al-Hafidz Ibn Katsir menjelaskan:

يَقُولُ تَعَالَى نَاهِيًا عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ عَنْ كَثِيرٍ مِنَ الظَّنِّ، وَهُوَ التُّهْمَةُ وَالتَّخَوُّنُ لِلْأَهْلِ وَالْأَقَارِبِ وَالنَّاسِ فِي غَيْرِ مَحَلِّهِ؛ لِأَنَّ بَعْضَ ذَلِكَ يَكُونُ إِثْمًا مَحْضًا، فَلْيُجْتَنَبْ كَثِيرٌ مِنْهُ احْتِيَاطًا، وَرُوِينَا عَنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّهُ قَالَ: وَلَا تَظُنَّنَّ بِكَلِمَةٍ خَرَجَتْ مِنْ أَخِيكَ الْمُسْلِمِ إِلَّا خَيْرًا، وَأَنْتَ تَجِدُ لَهَا فِي الْخَيْرِ مَحْمَلًا. رَوَاهُ أَحْمَدُ فِي الزُّهْدِ كَمَا فِي الدُّرِّ الْمَنْثُورِ (٧/ ٥٦٥).

Allah Ta‘ālā berfirman dengan melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari banyak prasangka, yaitu tuduhan dan kecurigaan kepada keluarga, kerabat, dan manusia tanpa tempat dan alasan yang benar; karena sebagian dari prasangka itu merupakan dosa yang murni. Maka hendaklah banyak dari prasangka itu dijauhi sebagai bentuk kehati-hatian. Dan telah diriwayatkan kepada kami dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab, bahwa beliau berkata: “Jangan sekali-kali engkau berprasangka terhadap suatu ucapan yang keluar dari saudaramu sesama muslim kecuali dengan prasangka yang baik, selama engkau masih mendapatkan kemungkinan makna yang baik baginya.” Riwayat ini dibawakan oleh Ahmad dalam kitab Az-Zuhd sebagaimana tercantum dalam Ad-Durr al-Mantsūr (7/565).

وَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ بْنُ مَاجَهْ: حَدَّثَنَا أَبُو الْقَاسِمِ بْنُ أَبِي ضَمْرَةَ نَصْرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ الْحِمْصِيُّ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي قَيْسٍ النَّضْرِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَطُوفُ بِالْكَعْبَةِ وَيَقُولُ: «مَا أَطْيَبَكِ وَأَطْيَبَ رِيحَكِ، مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَحُرْمَةُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ حُرْمَةً مِنْكِ، مَالُهُ وَدَمُهُ، وَأَنْ يُظَنَّ بِهِ إِلَّا خَيْرٌ». تَفَرَّدَ بِهِ ابْنُ مَاجَهْ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. سُنَنُ ابْنِ مَاجَهْ بِرَقْمِ (٣٩٣٢). وَقَالَ الْبُوصِيرِيُّ فِي الزَّوَائِدِ (٣/ ٢٢٣): «هَذَا إِسْنَادٌ فِيهِ مَقَالٌ، نَصْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ ضَعَّفَهُ أَبُو حَاتِمٍ، وَذَكَرَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي الثِّقَاتِ، وَبَاقِي رِجَالِ الْإِسْنَادِ ثِقَاتٌ».

Abdullah bin Umar berkata: Aku melihat Nabi ﷺ thawaf mengelilingi Ka‘bah seraya bersabda: “Betapa baik engkau, dan betapa harum wangimu. Betapa agung engkau dan betapa agung kehormatanmu. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin lebih agung di sisi Allah daripada kehormatanmu; demikian pula hartanya, darahnya, dan hendaknya tidak diprasangkai terhadapnya kecuali dengan prasangka yang baik.” Hadits ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Ibnu Majah melalui jalur ini. Dalam Az-Zawāid (3/223), Al-Bushiri berkata: “Sanad ini terdapat pembicaraan padanya; Nashr bin Muhammad dilemahkan oleh Abu Hatim, namun Ibnu Hibban menyebutkannya dalam kitab Ats-Tsiqāt, sedangkan para perawi lainnya terpercaya.”

وَقَالَ مَالِكٌ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَنَافَسُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يُوسُفَ، وَمُسْلِمٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى، وَأَبُو دَاوُدَ عَنِ الْعُتْبِيِّ، ثَلَاثَتُهُمْ عَنْ مَالِكٍ بِهِ. الْمُوَطَّأُ (٢/ ٩٠٨)، وَصَحِيحُ الْبُخَارِيِّ بِرَقْمِ (٦٠٦٦)، وَصَحِيحُ مُسْلِمٍ بِرَقْمِ (٢٥٦٣).

Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan. Janganlah kalian memata-matai, jangan mencari-cari kesalahan, jangan saling berlomba secara buruk, jangan saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Abu Dawud dari jalur Imam Malik.

وَقَالَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَا تَقَاطَعُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالتِّرْمِذِيُّ -وَصَحَّحَهُ- مِنْ حَدِيثِ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ بِهِ. صَحِيحُ مُسْلِمٍ بِرَقْمِ (٢٥٥٩)، وَسُنَنُ التِّرْمِذِيِّ بِرَقْمِ (١٩٣٥).

Anas bin Malik berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian saling memutus hubungan, jangan saling membelakangi, jangan saling membenci, jangan saling dengki, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Tirmidzi, dan beliau menilainya shahih.

وَقَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْقِرْمِطِيُّ الْعَدَوِيُّ، حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْمَدَنِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ قَيْسٍ الْأَنْصَارِيُّ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي الرِّجَالِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ حَارِثَةَ بْنِ النُّعْمَانِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «ثَلَاثٌ لَازِمَاتٌ لِأُمَّتِي: الطِّيَرَةُ، وَالْحَسَدُ، وَسُوءُ الظَّنِّ». فَقَالَ رَجُلٌ: مَا يُذْهِبُهُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِمَّنْ هُنَّ فِيهِ؟ قَالَ: «إِذَا حَسَدْتَ فَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ، وَإِذَا ظَنَنْتَ فَلَا تُحَقِّقْ، وَإِذَا تَطَيَّرْتَ فَامْضِ». الْمُعْجَمُ الْكَبِيرُ (٣/ ٢٢٨)، وَقَالَ الْهَيْثَمِيُّ فِي الْمَجْمَعِ (٨/ ٧٨): «فِيهِ إِسْمَاعِيلُ بْنُ قَيْسٍ الْأَنْصَارِيُّ وَهُوَ ضَعِيفٌ».

Haritsah bin Nu'man berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Tiga perkara yang selalu melekat pada umatku: merasa sial karena sesuatu, hasad, dan buruk sangka.” Lalu seorang laki-laki bertanya: “Apa yang dapat menghilangkannya wahai Rasulullah bagi orang yang terkena hal itu?” Beliau menjawab: “Apabila engkau hasad maka mohonlah ampun kepada Allah, apabila engkau berprasangka maka jangan engkau membuktikannya, dan apabila engkau merasa sial maka lanjutkanlah urusanmu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani. Al-Haitsami berkata dalam Al-Majma‘: “Di dalam sanadnya terdapat Ismail bin Qais Al-Anshari, dan ia seorang perawi yang lemah.”

وَقَالَ أَبُو دَاوُدَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ زَيْدٍ قَالَ: أُتِيَ ابْنُ مَسْعُودٍ -بِرَجُلٍ، وَلَفْظَةُ «بِرَجُلٍ» غَيْرُ مَوْجُودَةٍ بِسُنَنِ أَبِي دَاوُدَ- فَقِيلَ لَهُ: هَذَا فُلَانٌ تَقْطُرُ لِحْيَتُهُ خَمْرًا. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: إِنَّا قَدْ نُهِينَا عَنِ التَّجَسُّسِ، وَلَكِنْ إِنْ يَظْهَرْ لَنَا شَيْءٌ نَأْخُذْ بِهِ. سُنَنُ أَبِي دَاوُدَ بِرَقْمِ (٤٨٩٠). سَمَّاهُ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ فِي رِوَايَتِهِ الْوَلِيدَ بْنَ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ. وَذَلِكَ لَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ فِي الْوَلِيدِ بْنِ عُقْبَةَ، وَقَدْ كَانَ ابْنُ مَسْعُودٍ عَلَى بَيْتِ الْمَالِ فِي وِلَايَةِ الْوَلِيدِ بْنِ عُقْبَةَ فِي عَهْدِ عُثْمَانَ. وَقِصَّةُ جَلْدِ الْوَلِيدِ عَلَى الْخَمْرِ مَشْهُورَةٌ فِي الصَّحِيحَيْنِ.

Disebutkan kepada Abdullah bin Mas'ud tentang seseorang —lafaz “dengan seorang laki-laki” tidak terdapat dalam Sunan Abi Dawud— lalu dikatakan kepadanya: “Ini si fulan, janggutnya meneteskan khamr.” Maka Abdullah berkata: “Sesungguhnya kita telah dilarang dari memata-matai, tetapi apabila tampak bagi kita sesuatu secara nyata maka kami akan mengambil tindakan terhadapnya.” Riwayat Abu Dawud no. 4890. Ibnu Abi Hatim dalam riwayatnya menyebut orang tersebut adalah Al-Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu‘aith. Hal itu karena manusia banyak membicarakan Al-Walid bin ‘Uqbah. Ketika itu Ibnu Mas‘ud menjadi bendahara negara pada masa kepemimpinan Al-Walid bin ‘Uqbah di zaman Khalifah ‘Utsman, عثمان. Kisah hukuman cambuk terhadap Al-Walid karena khamr sangat masyhur dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا هَاشِمٌ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ نَشِيطٍ الْخَوْلَانِيِّ، عَنْ كَعْبِ بْنِ عَلْقَمَةَ، عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ، عَنْ دُخَيْنٍ كَاتِبِ عُقْبَةَ قَالَ: قُلْتُ لِعُقْبَةَ: إِنَّ لَنَا جِيرَانًا يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ، وَأَنَا دَاعٍ لَهُمُ الشُّرَطَ فَيَأْخُذُونَهُمْ. قَالَ: لَا تَفْعَلْ، وَلَكِنْ عِظْهُمْ وَهَدِّدْهُمْ. قَالَ: فَفَعَلَ فَلَمْ يَنْتَهُوا. قَالَ: فَجَاءَهُ دُخَيْنٌ فَقَالَ: إِنِّي قَدْ نَهَيْتُهُمْ فَلَمْ يَنْتَهُوا، وَإِنِّي دَاعٍ لَهُمُ الشُّرَطَ فَيَأْخُذُونَهُمْ. قَالَ: لَا تَفْعَلْ، وَلَكِنْ عِظْهُمْ وَهَدِّدْهُمْ. قَالَ: فَفَعَلَ فَلَمْ يَنْتَهُوا. قَالَ: فَجَاءَهُ دُخَيْنٌ فَقَالَ: إِنِّي قَدْ نَهَيْتُهُمْ فَلَمْ يَنْتَهُوا، وَإِنِّي دَاعٍ لَهُمُ الشُّرَطَ فَتَأْخُذُهُمْ. فَقَالَ لَهُ عُقْبَةُ: وَيْحَكَ لَا تَفْعَلْ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ مُؤْمِنٍ فَكَأَنَّمَا اسْتَحْيَا مَوْءُودَةً مِنْ قَبْرِهَا». وَرَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ مِنْ حَدِيثِ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ، بِهِ نَحْوَهُ. الْمُسْنَدُ (٤/ ١٥٣)، وَسُنَنُ أَبِي دَاوُدَ بِرَقْمِ (٤٨٩٢)، وَالنَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى بِرَقْمِ (٧٢٨٣).

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Telah menceritakan kepada kami Hāsyim, telah menceritakan kepada kami Laits, dari Ibrahim bin Nasyīth Al-Khaulāni, dari Ka‘b bin ‘Alqamah, dari Abul Haitsam, dari Dukhaīn —penulis ‘Uqbah— ia berkata: Aku berkata kepada Uqbah bin Amir: “Sesungguhnya kami mempunyai tetangga yang meminum khamr, dan aku akan memanggil petugas keamanan agar mereka menangkapnya.” Maka ‘Uqbah berkata: “Jangan lakukan itu, tetapi nasihatilah mereka dan ancamlah mereka.” Dukhaīn berkata: Maka aku pun melakukannya, tetapi mereka tidak berhenti. Kemudian Dukhaīn datang lagi kepadanya seraya berkata: “Sesungguhnya aku telah melarang mereka tetapi mereka tidak berhenti, dan aku akan memanggil petugas keamanan agar mereka menangkapnya.” ‘Uqbah berkata: “Jangan lakukan itu, tetapi nasihatilah mereka dan ancamlah mereka.” Dukhaīn berkata: Maka aku pun melakukannya, tetapi mereka tidak berhenti. Lalu Dukhaīn datang lagi seraya berkata: “Sesungguhnya aku telah melarang mereka tetapi mereka tidak berhenti, dan aku akan memanggil petugas keamanan sehingga mereka menangkapnya.” Maka ‘Uqbah berkata kepadanya: “Celaka engkau, jangan lakukan itu! Karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barangsiapa menutupi aib seorang mukmin, maka seakan-akan ia telah menghidupkan kembali seorang bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup dari kuburnya.’” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa'i dari hadits Al-Laits bin Sa‘d dengan lafaz yang semisal.

وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنْ ثَوْرٍ، عَنْ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «إِنَّكَ إِنِ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ أَفْسَدْتَهُمْ» أَوْ: «كَدْتَ أَنْ تُفْسِدَهُمْ». فَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ: كَلِمَةٌ سَمِعَهَا مُعَاوِيَةُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، نَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ مُنْفَرِدًا بِهِ مِنْ حَدِيثِ الثَّوْرِيِّ، بِهِ. سُنَنُ أَبِي دَاوُدَ بِرَقْمِ (٤٨٨٨).

Muawiyah bin Abi Sufyan berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya jika engkau mengikuti dan mencari-cari aib manusia, maka engkau akan merusak mereka,” atau beliau bersabda: “Hampir saja engkau merusak mereka.” Lalu Abu Darda berkata: “Satu kalimat yang didengar Mu‘awiyah dari Rasulullah ﷺ, lalu Allah memberikan manfaat kepadanya dengan kalimat itu.” Hadits ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Abu Dawud dari jalur Sufyan Ats-Tsauri.

وَقَالَ أَبُو دَاوُدَ أَيْضًا: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَمْرٍو الْحَضْرَمِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، حَدَّثَنَا ضَمْضَمُ بْنُ زُرْعَةَ، عَنْ شُرَيْحِ بْنِ عُبَيْدٍ، عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، وَكَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ، وَعَمْرِو بْنِ الْأَسْوَدِ، وَالْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ، وَأَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «إِنَّ الْأَمِيرَ إِذَا ابْتَغَى الرِّيبَةَ فِي النَّاسِ، أَفْسَدَهُمْ». سُنَنُ أَبِي دَاوُدَ بِرَقْمِ (٤٨٨٩).

Abu Dawud juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin ‘Amr Al-Hadhrami, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepada kami Dhamdham bin Zur‘ah, dari Syuraih bin ‘Ubaid, dari Jubair bin Nufair, Katsir bin Murrah, ‘Amr bin Al-Aswad, Al-Miqdam bin Ma‘di Karib, dan Abu Umamah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang pemimpin apabila mencari-cari kecurigaan dan kesalahan pada manusia, maka ia akan merusak mereka.” Hadits ini diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud no. 4889. Tafsir Ibnu Katsir, VII: 377-379.

 

Kapan Husnudzan dan Kapan Su’udzan (Ihtiyath, kehati-hatian)?

1. Husnudzan Diperintahkan:

·         Kepada sesama mukmin yang zahirnya baik

·         Dalam hubungan sosial

·         Dalam menafsirkan ucapan.

2. Su’udzan yang Dibolehkan (Ihtiyath)

Bukan su’udzan tercela, tetapi kewaspadaan syar’i, yaitu:

·         Jika ada tanda nyata keburukan

·         Dalam konteks hukum (hakim, saksi)

·         Terhadap ahli maksiat terang-terangan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998)

Boleh berhati-hati, tidak berarti menuduh tanpa bukti. Imam An-Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

"لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ"، الرِّوَايَةُ الْمَشْهُورَةُ: «لَا يُلْدَغُ»، بِرَفْعِ الْغَيْنِ. وَقَالَ الْقَاضِي: يُرْوَى عَلَى وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا بِضَمِّ الْغَيْنِ، عَلَى الْخَبَرِ، وَمَعْنَاهُ الْمُؤْمِنُ الْمَمْدُوحُ، وَهُوَ الْكَيِّسُ الْحَازِمُ، الَّذِي لَا يُسْتَغْفَلُ فَيُخْدَعُ مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى وَلَا يَفْطُنُ لِذَلِكَ. وَقِيلَ: إِنَّ الْمُرَادَ الْخِدَاعُ فِي أُمُورِ الْآخِرَةِ دُونَ الدُّنْيَا.

“Seorang mukmin tidak akan dipatuk dari satu lubang yang sama dua kali.” Riwayat yang masyhur berbunyi: “Lā yuldaghu” dengan huruf ghain dibaca rafa‘ (dhammah). Al-Qadhi berkata: hadis ini diriwayatkan dalam dua bentuk bacaan.

Pertama, dengan ghain berharakat dhammah sebagai bentuk khabar (berita). Maknanya adalah seorang mukmin yang terpuji ialah orang yang cerdas dan waspada, yang tidak mudah diperdaya sehingga tertipu berulang kali tanpa menyadarinya. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah tipu daya dalam urusan akhirat, bukan urusan dunia.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي بِكَسْرِ الْغَيْنِ، عَلَى النَّهْيِ أَنْ يُؤْتَى مِنْ جِهَةِ الْغَفْلَةِ. قَالَ: وَسَبَبُ الْحَدِيثِ مَعْرُوفٌ، وَهُوَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسَرَ أَبَا عِزَّةَ الشَّاعِرَ يَوْمَ بَدْرٍ، فَمَنَّ عَلَيْهِ وَعَاهَدَهُ أَنْ لَا يُحَرِّضَ عَلَيْهِ وَلَا يَهْجُوَهُ وَأَطْلَقَهُ، فَلَحِقَ بِقَوْمِهِ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى التَّحْرِيضِ وَالْهِجَاءِ، ثُمَّ أَسَرَهُ يَوْمَ أُحُدٍ، فَسَأَلَهُ الْمَنَّ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمُؤْمِنُ لَا يُلْدَغُ مِنْ جُحْرٍ مَرَّتَيْنِ». وَهَذَا السَّبَبُ يُضَعِّفُ الْوَجْهَ الثَّانِي.

Bentuk kedua, ghain dibaca kasrah (lā yaldigh) sebagai bentuk larangan, yakni agar seorang mukmin tidak datang dari sisi kelalaian sehingga mudah tertipu. Ia berkata: sebab munculnya hadis ini sudah dikenal, yaitu ketika Nabi ﷺ menawan Abu ‘Izzah sang penyair pada Perang Badar. Nabi kemudian membebaskannya dan mengambil janji darinya agar ia tidak menghasut dan tidak mencela Nabi ﷺ lagi. Setelah dibebaskan, ia kembali kepada kaumnya, namun kemudian kembali melakukan hasutan dan celaan. Lalu ia tertawan lagi pada Perang Uhud dan meminta agar dibebaskan kembali. Maka Nabi ﷺ bersabda: “Seorang mukmin tidak dipatuk dari satu lubang dua kali.” Sebab hadis ini melemahkan pendapat kedua (yang memaknainya sebagai larangan). Tahqiq Syaikh ‘Abdul Baqi ‘ala Shahih Muslim, IV: 2295.

 

Tabayyun: Batasan dan Kewajiban

Allah Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ 

Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu. QS. Al-Hujurat: 6.

Syaikh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan:

أَيْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ صَدَّقُوا بِاللَّهِ تَعَالَى وَرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِنْ أَتَاكُمْ فَاجِرٌ لَا يُبَالِي بِالْكَذِبِ بِخَبَرٍ فِيهِ إِضْرَارٌ بِأَحَدٍ، فَتَبَيَّنُوا الْحَقِيقَةَ، وَتَثَبَّتُوا مِنَ الْأَمْرِ، وَلَا تَتَعَجَّلُوا بِالْحُكْمِ حَتَّى تَتَبَصَّرُوا فِي الْأَمْرِ وَالْخَبَرِ لِتَتَّضِحَ الْحَقِيقَةُ وَتَظْهَرَ، خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِالْأَذَى، وَتُلْحِقُوا بِهِمْ ضَرَرًا لَا يَسْتَحِقُّونَهُ، وَأَنْتُمْ جَاهِلُونَ حَالَهُمْ، فَتَصِيرُوا عَلَىٰ مَا حَكَمْتُمْ عَلَيْهِمْ بِالْخَطَإِ نَادِمِينَ عَلَىٰ ذَلِكَ، مُغْتَمِّينَ لَهُ، مُتَمَنِّينَ عَدَمَ وُقُوعِهِ.

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya ﷺ, apabila datang kepada kalian seorang yang fasik, yang tidak peduli untuk berdusta, membawa suatu berita yang dapat menimbulkan mudarat bagi seseorang, maka periksalah kebenarannya dengan saksama dan pastikan terlebih dahulu keadaannya. Jangan tergesa-gesa menjatuhkan keputusan sebelum kalian memahami persoalan dan berita tersebut secara jelas sehingga hakikatnya menjadi terang. Hal itu dilakukan karena khawatir kalian akan menimpakan gangguan atau bahaya kepada suatu kaum yang sebenarnya tidak pantas menerimanya, sementara kalian tidak mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya. Akibatnya, kalian akan menyesali keputusan yang telah kalian ambil secara keliru, merasa sedih dan menanggung penyesalan atas perbuatan tersebut, serta berharap hal itu tidak pernah terjadi. At-Tafsir al-Munir, XXVI: 227.

 

Kapan Wajib Tabayyun?

·         Saat menerima berita dari orang tidak jelas (fasik)

·         Saat berpotensi menimbulkan fitnah

·         Saat menyangkut kehormatan orang lain.

 

Batasan Tabayyun

·         Tidak berubah menjadi tajassus (memata-matai)

·         Tidak membuka aib

·         Cukup pada kebutuhan.

Allah Ta’ala berfirman:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اِجْتَنِبُوا كَثِيراً مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاِتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوّابٌ رَحِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. Qs. Al-Hujurat: 12.

Imam ath-Thabari menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: ﴿وَلَا تَجَسَّسُوا﴾. يَقُولُ: وَلَا يَتَتَبَّعْ بَعْضُكُمْ عَوْرَةَ أَخِيهِ، وَلَا يَبْحَثْ عَنْ سَرَائِرِهِ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ الظُّهُورَ عَلَى عُيُوبِهِ، وَلَكِنِ اقْنَعُوا بِمَا ظَهَرَ لَكُمْ مِنْ أَمْرِهِ، وَبِهِ فَاحْمَدُوا أَوْ ذُمُّوا، لَا عَلَى مَا لَا تَعْلَمُونَهُ مِنْ سَرَائِرِهِ.

Firman Allah Ta'ala: "Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain (bertajassus)." (QS. Al-Hujurat: 12) Maksudnya, janganlah sebagian kalian menelusuri aurat (aib) saudaranya, dan jangan pula menyelidiki rahasia-rahasianya dengan tujuan mengetahui kekurangan dan cacat-celanya. Akan tetapi, cukuplah kalian menilai seseorang berdasarkan apa yang tampak dari dirinya. Berdasarkan hal yang tampak itulah kalian boleh memuji atau mencelanya, bukan berdasarkan hal-hal tersembunyi yang tidak kalian ketahui dari rahasia pribadinya.

وَبِنَحْوِ الَّذِي قُلْنَا فِي ذَلِكَ قَالَ أَهْلُ التَّأْوِيلِ.

Demikian pula para ahli tafsir menjelaskan makna ayat ini.

ذِكْرُ مَنْ قَالَ ذَلِكَ

Riwayat-riwayat Tafsir

حَدَّثَنِي عَلِيٌّ، قَالَ: ثَنَا أَبُو صَالِحٍ، قَالَ: ثَنَّى مُعَاوِيَةُ، عَنْ عَلِيٍّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَوْلَهُ: ﴿وَلَا تَجَسَّسُوا﴾، يَقُولُ: نَهَى اللَّهُ الْمُؤْمِنَ أَنْ يَتَتَبَّعَ عَوْرَاتِ الْمُؤْمِنِ.

Telah menceritakan kepadaku Ali, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Shalih, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Mu'awiyah, dari Ali, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya: "Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain" (QS. Al-Hujurat: 12), ia (Ibnu Abbas) berkata: "Allah melarang seorang mukmin untuk mencari-cari/mengikuti aurat (aib dan kelemahan) mukmin lainnya."

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو، قَالَ: ثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، قَالَ: ثَنَا عِيسَى، وَحَدَّثَنِي الْحَارِثُ، قَالَ: ثَنَا الْحَسَنُ، قَالَ: ثَنَا وَرَقَاءُ، جَمِيعًا عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ قَوْلَهُ: ﴿وَلَا تَجَسَّسُوا﴾، قَالَ: خُذُوا مَا ظَهَرَ لَكُمْ وَدَعُوا مَا سَتَرَ اللَّهُ.

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin 'Amr, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami 'Isa. (Dalam jalur periwayatan lain) Dan telah menceritakan kepadaku Al-Harits, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Warqa', semuanya dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid mengenai firman-Nya: "Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain" (QS. Al-Hujurat: 12), ia (Mujahid) berkata: "Ambillah (sikapi/nilailah) apa yang tampak bagi kalian, dan tinggalkanlah (jangan mengorek-ngorek) apa yang telah Allah tutupi."

حَدَّثَنَا بِشْرٌ، قَالَ: ثَنَا يَزِيدُ، قَالَ: ثَنَا سَعِيدٌ، عَنْ قَتَادَةَ قَوْلَهُ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا﴾، هَلْ تَدْرُونَ مَا التَّجَسُّسُ أَوِ التَّجْسِيسُ؟ هُوَ أَنْ تَتَّبِعَ، أَوْ تَبْتَغِيَ غَيْبَ أَخِيكَ، لِتَطَّلِعَ عَلَى سِرِّهِ.

Telah menceritakan kepada kami Bisyr, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa'id, dari Qatadah mengenai firman-Nya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain" (QS. Al-Hujurat: 12), ia (Qatadah) berkata: "Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan at-tajassus atau at-tajsiis? Yaitu kamu mengikuti (mencari-cari) atau memburu keburukan/aib saudaramu yang tersembunyi, untuk mengetahui rahasianya."

حَدَّثَنَا ابْنُ حُمَيْدٍ، قَالَ: ثَنَا مِهْرَانُ، عَنْ سُفْيَانَ: ﴿وَلَا تَجَسَّسُوا﴾، قَالَ: الْبَحْثُ.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mihran, dari Sufyan mengenai firman-Nya: "Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain" (QS. Al-Hujurat: 12), ia (Sufyan) berkata: "(Yang dimaksud tajassus adalah) Al-Bahts (menyelidiki/mengorek-ngorek)."

حَدَّثَنِي يُونُسُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ: قَالَ ابْنُ زَيْدٍ فِي قَوْلِهِ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا﴾، قَالَ: حَتَّى أَنْظُرَ فِي ذَلِكَ وَأَسْأَلَ عَنْهُ، حَتَّى أَعْرِفَ أَحَقٌّ هُوَ أَمْ بَاطِلٌ؟ قَالَ: فَسَمَّاهُ اللَّهُ تَجَسُّسًا. قَالَ: يَتَجَسَّسُ كَمَا يَتَجَسَّسُ الْكِلَابُ. وَقَرَأَ قَوْلَ اللَّهِ: ﴿وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا﴾.

Telah menceritakan kepadaku Yunus, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Ibnu Zaid berkata mengenai firman-Nya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain" (QS. Al-Hujurat: 12), ia berkata: "(Yaitu tindakan seseorang yang berkata): 'Sampai aku memeriksa hal itu dan menanyakannya, hingga aku tahu apakah itu benar atau salah?'" Ia (Ibnu Zaid) berkata: "Maka Allah menamakan tindakan tersebut sebagai tajassus (mencari-cari kesalahan)." Ia berkata lagi: "Ia mengendus-endus (mencari-cari info) sebagaimana anjing mengendus-endus." Kemudian ia membaca firman Allah: "Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain." (QS. Al-Hujurat: 12). Tafsir Jami’ al-Bayan li ath-Thabari, XXI: 374-375.

 

Tabayyun = klarifikasi yang adil

Tajassus = mencari-cari kesalahan.

 

Larangan Turunan dari Su’udzan dalam QS. Al-Hujurat: 12 adalah Su’udzan, Tajassus dan Ghibah.

 

Taubat dari Su’udzan dan Ghibah

وَاِتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوّابٌ رَحِيمٌ

Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. Qs. Al-Hujurat: 12.

Imam ath-Thabari menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: ﴿وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ﴾. يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: وَاتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ، فَخَافُوا عُقُوبَتَهُ، بِانْتِهَائِكُمْ عَمَّا نَهَاكُمْ عَنْهُ؛ مِنْ ظَنِّ أَحَدِكُمْ بِأَخِيهِ الْمُؤْمِنِ ظَنَّ السُّوءِ، وَتَتَبُّعِ عَوْرَاتِهِ، وَالتَّجَسُّسِ عَمَّا اسْتَتَرَ عَنْهُ مِنْ أُمُورِهِ، وَاغْتِيَابِهِ بِمَا يَكْرَهُهُ، تُرِيدُونَ شَيْنَهُ وَعَيْبَهُ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي نَهَاكُمْ عَنْهَا رَبُّكُمْ.

Dan firman-Nya: "Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12). Allah—sebutan keluhuran bagi-Nya—berfirman: "Bertakwalah kepada Allah wahai manusia! Takutilah hukuman-Nya dengan cara menghentikan diri dari apa saja yang telah Dia larang; mulai dari berprasangka buruknya salah seorang dari kalian kepada saudaranya yang mukmin, melacak-lacak aurat (aib) pribadinya, memata-matai urusannya yang tersembunyi dari pengetahuan orang lain, hingga menggunjingnya (ghibah) dengan hal-hal yang tidak ia sukai demi tujuan menjatuhkan harga diri dan mencelanya, serta perkara-perkara lain yang telah dilarang oleh Tuhan kalian."

﴿إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ﴾. يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ رَاجِعٌ لِعَبْدِهِ إِلَى مَا يُحِبُّهُ، إِذَا رَاجَعَ الْعَبْدُ رَبَّهُ إِلَى مَا يُحِبُّهُ مِنْهُ، رَحِيمٌ بِهِ أَنْ يُعَاقِبَهُ عَلَى ذَنْبٍ أَذْنَبَهُ بَعْدَ تَوْبَتِهِ مِنْهُ.

(Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang), Dia berfirman: "Sesungguhnya Allah berkenan kembali memberikan apa yang disukai hamba-Nya (berupa ampunan dan rida), apabila hamba tersebut telah kembali kepada apa yang disukai oleh Tuhan-Nya (berupa ketaatan dan tobat). Dia Maha Penyayang kepada hamba-Nya dengan tidak menyiksanya atas dosa yang pernah diperbuat setelah ia bertobat dari dosa tersebut." Tafsir Jami’ al-Bayan li ath-Thabari, XXI: 381-382.

Cara Taubat Menurut ulama:

·         Menyesal

·         Berhenti

·         Tidak mengulangi

·         Mengganti dengan kebaikan.

 

Khilaf: Apakah harus minta maaf? → Pendapat kuat:

·         Jika tidak menimbulkan mudarat, boleh minta maaf

·         Jika berpotensi memperparah, cukup doakan dan perbaiki nama.

 

Dzan adalah fitrah manusia yang diarahkan dalam Islam. Dzan terbagi:

·         Husnudzan (wajib/anjuran)

·         Su’udzan (terlarang kecuali dalam ihtiyath syar’i)

Fiqih banyak dibangun atas dzan rajih (dugaan kuat).

Tabayyun adalah mekanisme syariat untuk menghindari kesalahan dzan.

Su’udzan yang tercela melahirkan dosa sosial: tajassus, ghibah, permusuhan.

Islam menekankan kehormatan seorang muslim lebih tinggi dari segalanya.

 

Islam adalah agama yang menjaga hati, lisan, dan hubungan sosial. Dzan yang tidak terkontrol menjadi sumber kerusakan, sementara husnudzan menjadi sumber persatuan.

Oleh karena itu, seorang muslim harus:

·         Mengedepankan husnudzan

·         Bersikap hati-hati tanpa menuduh

·         Melakukan tabayyun secara proporsional

·         Menjaga kehormatan sesama.

 

Wallâhu A’lam, hanafi anshory.