AL-MASHLAHATUL AMMAH: KHIDMAT DAERAH DEMI TEGAKNYA PUSAT

29 Apr 2026

Membangun Marwah Jam'iyyah Melalui Akselerasi Kader Strategis

Dalam dinamika organisasi dakwah, khususnya Pemuda PERSIS, distribusi sumber daya manusia bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan sebuah manifestasi dari ketaatan organisasional. Ketika Pimpinan Pusat (PP) sebagai level nasional memanggil kader terbaik dari Pimpinan Daerah (PD), langkah ini harus dipandang melalui kacamata Al-Mashlahatul ‘Ammah (Kemaslahatan Umum). Penguatan struktural dari level daerah ke pusat adalah investasi jangka panjang untuk memastikan bahwa gerbong besar dakwah ini memiliki "otak" dan "jantung" yang kuat demi menggerakkan seluruh anggota tubuh hingga ke tingkat akar rumput.

 

1. Hierarki Kepentingan dalam Fiqh al-Awlawiyyat

Dalam ilmu Ushul Fiqh, terdapat kaidah Fiqh al-Awlawiyyat (Prioritas) yang menegaskan bahwa kepentingan kolektif (makro) harus didahulukan daripada kepentingan sektoral (mikro). Pimpinan Pusat memegang tanggung jawab atas kebijakan nasional dan perlindungan sistemik bagi seluruh daerah.

Allah Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا.

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat). Qs. An-Nisa [4]: 59.

Al-Hafidz Ibnu Katsir menafsirkan, di antaranya:

وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: (‌وَأُولِي ‌الْأَمْرِ ‌مِنْكُمْ) يَعْنِي: أَهْلَ الْفِقْهِ وَالدِّينِ. وَكَذَا قَالَ مُجَاهِدٌ، وَعَطَاءٌ، وَالْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ، وَأَبُو الْعَالِيَةِ: (‌وَأُولِي ‌الْأَمْرِ ‌مِنْكُمْ) يَعْنِي: الْعُلَمَاءَ. وَالظَّاهِرُ -وَاللَّهُ أَعْلَمُ- أَنَّ الْآيَةَ فِي جَمِيعِ أُولِي الْأَمْرِ مِنَ الْأُمَرَاءِ وَالْعُلَمَاءِ.

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengenai ayat: (Dan ulil amri di antara kamu), beliau berkata: 'Yaitu para ahli fikih (pakar hukum Islam) dan ahli agama.' Demikian pula yang dinyatakan oleh Mujahid, 'Atha, Al-Hasan Al-Bashri, dan Abu Al-Aliyah: (Dan ulil amri di antara kamu), yakni: 'Para ulama.' Namun pendapat yang tampak kuat (zahir)—wallahu a'lam—bahwa ayat ini mencakup seluruh pemegang urusan (uli al-amr), baik dari kalangan pemimpin (pemerintah/umara) maupun para ulama. Tafsir Ibn Katsir, II: 345.

Relevansi: Ayat ini menekankan pentingnya ketaatan pada struktur kepemimpinan (Ulil Amri). Secara organisasional, PP adalah pemegang amanah tertinggi. Ketika pusat memanggil kader, ketaatan daerah menjadi instrumen vital untuk menjaga ketertiban dan soliditas organisasi agar tidak terjadi disorientasi perjuangan.

Rasulullah saw. bersabda,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: "‌اسْمَعُوا ‌وَأَطِيعُوا ‌وَإِنِ ‌اسْتُعْمِلَ ‌عَلَيْكُمْ ‌عَبْدٌ ‌حَبَشِيٌّ ‌كَأَنَّ ‌رَأْسَهُ ‌زَبِيبَةٌ".

Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Dengarkanlah dan taatilah oleh kalian, walaupun orang yang dipercayakan untuk memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya Ḥabasyi (Ethiopia), yang kepalanya seperti kismis". Hr. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, IX: 173: 7140.

Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan di antaranya:

قَوْلُهُ: (‌اِسْمَعُوْا ‌وَأَطِيْعُوْا) أَيْ: فِيْمَا فِيْهِ طَاعَةٌ لِلّٰهِ.

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Dengarlah dan taatlah), maksudnya adalah: dalam perkara-perkara yang di dalamnya terdapat ketaatan kepada Allah. Fath al-Bari syarah Shahih al-Bukhari, II: 186.

Relevansi: Hadis ini mengajarkan loyalitas mutlak pada pimpinan sah dalam sistem organisasi. Loyalitas ini bukan pada personal, melainkan pada jabatan struktural demi kemaslahatan dakwah yang lebih luas.

 

2. Otoritas Pusat sebagai Penentu Arah (The Top-Down Effect)

Secara sosiologis dan ilmu manajemen, kekuatan pusat menentukan efektivitas distribusi instruksi. Jika Tasykil Pusat diisi oleh kader-kader mumpuni—termasuk dari daerah seperti PD Pemuda PERSIS Kabupaten Bandung—maka kualitas keputusan yang dihasilkan akan lebih berbobot dan aplikatif.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى".

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan merasa demam.' (HR. Muslim, Shahih Muslim, IV: 1999: 2586)

Imam An-Nawawi Rahimahullah menjelaskan, di antaranya:

‌مَثَلُ ‌الْمَؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ إِلَى آخِرَهِ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ صَرِيحَةٌ فِي تَعْظِيمِ حُقُوقِ الْمُسْلِمِينَ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ وَحَثِّهِمْ عَلَى التَّرَاحُمِ وَالْمُلَاطَفَةِ وَالتَّعَاضُدِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلَا مَكْرُوهٍ وَفِيهِ جواز التشبيه وَضَرْبِ الْأَمْثَالِ لِتَقْرِيبِ الْمَعَانِي إِلَى الْأَفْهَامِ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم (تداعى لها سَائِرُ الْجَسَدِ) أَيْ دَعَا بَعْضُهُ بَعْضًا إِلَى الْمُشَارَكَةِ فِي ذَلِكَ وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَدَاعَتِ الْحِيطَانُ أي تساقطت أو قربت من التساقط.

Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai dan menyayangi... hingga akhir hadis tersebut. Hadis-hadis ini secara eksplisit (tegas) menunjukkan betapa besarnya hak-hak sesama muslim satu sama lain, serta anjuran bagi mereka untuk saling menyayangi, bersikap lembut, dan saling menopang satu sama lain selama bukan dalam perkara dosa maupun perkara yang dibenci (makruh). Di dalam hadis ini juga terdapat kebolehan menggunakan penyerupaan (tasybih) dan pembuatan perumpamaan guna mendekatkan makna-makna agar lebih mudah dipahami oleh akal pikiran. Sabda beliau SAW: (Maka seluruh anggota tubuh lainnya saling menyeru), maksudnya adalah sebagian anggota tubuh memanggil sebagian yang lain untuk ikut merasakan (berpartisipasi) dalam kesakitan tersebut. Di antaranya seperti ungkapan: 'Tembok-tembok itu saling menyeru (tadaa'at),' yang artinya tembok-tembok tersebut berjatuhan atau sudah dekat dengan keruntuhan. Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim ibn Hajjaj, XVI: 139-140.

 

Relevansi: Pimpinan Pusat adalah organ vital (seperti jantung atau otak) dalam tubuh organisasi. Mengirimkan kader terbaik ke pusat adalah upaya memastikan "jantung" organisasi tetap sehat dan kuat. Pusat yang kuat akan mampu memompa semangat dan regulasi yang sehat ke seluruh daerah.

 

3. Kaderisasi Strategis dan Sirkulasi Elit

Perpindahan kader ke tingkat pusat seringkali dianggap sebagai "kehilangan" bagi daerah. Namun, secara ilmu pengembangan SDM, ini adalah bentuk upgrading dan sirkulasi elit yang sehat untuk mencegah stagnasi kepemimpinan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ.

Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?. Qs. At-Taubah: 122.

Imam Al-Maraghi menafsirkan, di antaranya:

نَفَرَ: خَرَجَ لِلْقِتَالِ. وَلَوْلَا: كَلِمَةٌ تُفِيدُ الْحَضَّ وَالْحَثَّ عَلَى مَا يَدْخُلُ عَلَيْهَا إِذَا كَانَ مُسْتَقْبَلًا، وَاللَّوْمَ عَلَى تَرْكِهِ إِذَا كَانَ مَاضِيًا، فَإِنْ كَانَ مِمَّا يُمْكِنُ تَلَافِيهِ فَرُبَّمَا أَفَادَ الْأَمْرَ بِهِ. وَالْفِرْقَةُ: الْجَمَاعَةُ الْكَثِيرَةُ. وَالطَّائِفَةُ: الْجَمَاعَةُ الْقَلِيلَةُ. وَتَفَقَّهَ: تَكَلَّفَ الْفَقَاهَةَ وَالْفَهْمَ وَتَجَشَّمَ مَشَاقَّ تَحْصِيلِهَا. وَأَنْذَرَهُ: خَوَّفَهُ. وَحَذِرَهُ: تَحَرَّزَ مِنْهُ.

  نَفَرَ (Nafara): Keluar untuk berperang (berjihad).   وَلَوْلَا (Wa-lawla): Kata yang memberikan makna al-hadh (dorongan kuat) dan al-hath (anjuran) terhadap hal yang menyertainya jika konteksnya untuk masa depan (mustaqbal), dan bermakna al-laum (celaan/sesalan) atas pengabaian hal tersebut jika konteksnya masa lalu (madhi). Namun, jika hal tersebut masih memungkinkan untuk diperbaiki, maka terkadang ia memberikan makna perintah untuk melakukannya.   الْفِرْقَةُ (Al-Firqah): Kelompok atau jamaah dalam jumlah yang besar (banyak).   الطَّائِفَةُ (At-Tha'ifah): Kelompok atau jamaah dalam jumlah yang sedikit.   تَفَقَّهَ (Tafaqqaha): Berusaha keras mendalami ilmu (fikih) dan pemahaman, serta menanggung beban kesulitan dalam proses mendapatkannya.   أَنْذَرَهُ (Andzarahu): Memberinya peringatan atau menakut-nakutinya (akan dampak buruk).   حَذِرَهُ (Hadzirahu): Bersikap waspada atau menjaga diri darinya. Tafsir Al-Maraghi, XI: 47.

 

هَذِهِ الْآيَةُ جَاءَتْ مُتَمِّمَةً لِأَحْكَامِ الْجِهَادِ مَعَ بَيَانِ حُكْمِ الْعِلْمِ وَالتَّفَقُّهِ فِي الدِّينِ مِنْ قِبَلِ أَنَّهُ وَسِيلَةٌ لِلْجِهَادِ بِالْحُجَّةِ وَالْبُرْهَانِ، وَهُوَ الرُّكْنُ الرَّكِينُ فِي الدَّعْوَةِ إِلَى الْإِيمَانِ وَإِقَامَةِ دَعَائِمِ الْإِسْلَامِ، وَلَمْ يُشْرَعْ جِهَادُ السَّيْفِ إِلَّا لِيَكُونَ حِمَايَةً وَسِيَاجًا لِتِلْكَ الدَّعْوَةِ مِنْ أَنْ تَلْعَبَ بِهَا أَيْدِي الْمُعْتَدِينَ مِنَ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ. رَوَى الْكَلْبِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- أَنَّهُ قَالَ: لَمَّا شَدَّدَ اللَّهُ عَلَى الْمُتَخَلِّفِينَ قَالُوا: لَا يَتَخَلَّفُ مِنَّا أَحَدٌ عَنْ جَيْشٍ أَوْ سَرِيَّةٍ أَبَدًا، فَفَعَلُوا ذَلِكَ وَبَقِيَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَحْدَهُ، فَنَزَلَ: (وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ) الْآيَةَ.

Ayat ini datang sebagai penyempurna bagi hukum-hukum jihad, disertai penjelasan mengenai hukum menuntut ilmu dan mendalami agama (tafaqquh fid-din). Hal ini dikarenakan ilmu merupakan sarana untuk berjihad dengan hujah (argumen) dan bukti yang nyata. Ilmu adalah pilar yang kokoh dalam berdakwah menuju iman dan menegakkan pilar-pilar Islam. Tidaklah disyariatkan jihad dengan pedang (fisik) melainkan untuk menjadi pelindung dan pagar bagi dakwah tersebut, agar tidak dipermainkan oleh tangan-tangan para penyerang dari kalangan orang-orang kafir dan munafik. Al-Kalbi meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Ketika Allah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang tidak ikut berperang (pada perang sebelumnya), orang-orang mukmin berkata: 'Selamanya tidak akan ada satu pun dari kami yang tertinggal dari pasukan perang atau ekspedisi militer.' Mereka pun melaksanakan hal itu hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tinggal sendirian di Madinah. Maka turunlah ayat: (Dan tidak sepatutnya bagi mukminin...) hingga akhir ayat." Tafsir Al-Maraghi, XI: 47.

(وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً): أَيْ وَمَا كَانَ شَأْنُ الْمُؤْمِنِينَ وَلَا مِمَّا يُطْلَبُ مِنْهُمْ أَنْ يَنْفِرُوا جَمِيعًا فِي كُلِّ سَرِيَّةٍ تَخْرُجُ لِلْجِهَادِ، فَإِنَّهُ فَرْضُ كِفَايَةٍ مَتَى قَامَ بِهِ بَعْضٌ سَقَطَ عَنِ الْبَاقِينَ، لَا فَرْضَ عَيْنٍ عَلَى كُلِّ شَخْصٍ، وَإِنَّمَا يَجِبُ ذَلِكَ إِذَا خَرَجَ الرَّسُولُ وَاسْتَنْفَرَهُمْ لِلْجِهَادِ.

"(Dan tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi ke medan perang semuanya)": Maksudnya adalah bukan merupakan urusan orang-orang mukmin, dan bukan pula hal yang dituntut dari mereka, untuk semuanya pergi berperang dalam setiap ekspedisi militer (sariyyah) yang keluar untuk berjihad. Sebab, jihad (dalam kondisi normal) adalah fardu kifayah; yang mana jika sebagian orang telah melaksanakannya, maka gugurlah kewajiban tersebut bagi yang lainnya, dan bukan merupakan fardu ain atas setiap individu secara pribadi. Kewajiban itu (jihad secara massal) barulah menjadi wajib apabila Rasulullah sendiri yang keluar memimpin atau beliau menyerukan secara khusus kepada mereka untuk berangkat berjihad. Tafsir Al-Maraghi, XI: 47-48.

(فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ): أَيْ فَهَلَّا نَفَرَ لِلْقِتَالِ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ كَبِيرَةٍ مِنْهُمْ، كَأَهْلِ بَلَدٍ أَوْ قَبِيلَةٍ، طَائِفَةٌ وَجَمَاعَةٌ؛ لِيَتَسَنَّى لَهُمْ -أَيْ لِلْمُؤْمِنِينَ فِي جُمْلَتِهِمْ- التَّفَقُّهُ فِي الدِّينِ، بِأَنْ يَتَكَلَّفَ الْبَاقُونَ فِي الْمَدِينَةِ الْفَقَاهَةَ فِي الدِّينِ بِمَا يَتَجَدَّدُ نُزُولُهُ عَلَى الرَّسُولِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- مِنَ الْآيَاتِ، وَمَا يَكُونُ مِنْهُ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- مِنْ بَيَانِهَا بِالْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، فَيُعْرَفَ الْحُكْمُ مَعَ حِكْمَتِهِ، وَيُوَضَّحَ الْمُجْمَلُ بِالْعَمَلِ بِهِ.

"(Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya)": Maksudnya adalah: Mengapa tidak berangkat untuk berperang dari setiap kelompok besar di antara mereka—seperti penduduk suatu negeri atau suatu kabilah—hanya sebagian kelompok atau golongan saja? Tujuannya agar memungkinkan bagi mereka (yakni bagi kaum mukminin secara keseluruhan) untuk mendalami agama (tafaqquh fid-din). Hal ini dilakukan dengan cara: orang-orang yang tetap tinggal di Madinah (tidak berangkat perang) menyibukkan diri dan berupaya keras meraih pemahaman agama melalui ayat-ayat yang baru diturunkan kepada Rasulullah ﷺ, serta penjelasan-penjelasan beliau baik melalui ucapan maupun perbuatan. Dengan demikian, suatu hukum dapat diketahui beserta hikmahnya, dan hal-hal yang masih bersifat global (mujmal) dapat menjadi jelas melalui praktik pengamalannya. Tafsir Al-Maraghi, XI: 48.

وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمُ الَّذِينَ نَفَرُوا لِلِقَاءِ الْعَدُوِّ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ: أَيْ لِيَجْعَلُوا أَهَمَّ قَصْدٍ لَهُمْ مِنَ الْفَقَاهَةِ إِرْشَادَ هَؤُلَاءِ وَتَعْلِيمَهُمْ، وَإِنْذَارَهُمْ عَاقِبَةَ الْجَهْلِ وَتَرْكَ الْعَمَلِ بِمَا عَلِمُوا، رَجَاءَ أَنْ يَخَافُوا اللَّهَ وَيَحْذَرُوا عَاقِبَةَ عِصْيَانِهِ، وَأَنْ يَكُونَ جَمِيعُ الْمُؤْمِنِينَ عُلَمَاءَ بِدِينِهِمْ قَادِرِينَ عَلَى نَشْرِ دَعْوَتِهِ وَالْحِجَاجِ عَنْهُ وَبَيَانِ أَسْرَارِهِ لِلنَّاسِ، لَا أَنْ يُوَجِّهُوا أَنْظَارَهُمْ إِلَى الرِّيَاسَاتِ وَالْمَنَاصِبِ الْعَالِيَةِ وَالتَّرَفُّعِ عَنْ سَوَادِ النَّاسِ وَكَسْبِ الْمَالِ وَالتَّشَبُّهِ بِالظَّلَمَةِ وَالْجَبَّارِينَ فِي مَلَابِسِهِمْ وَمَرَاكِبِهِمْ وَمُنَافَسَةِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا.

"Dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya yang telah berangkat menghadapi musuh apabila mereka telah kembali kepada mereka": Maksudnya adalah agar mereka (orang-orang yang memperdalam agama) menjadikan tujuan utama dari penguasaan ilmu tersebut untuk membimbing dan mengajar orang-orang yang baru pulang perang, serta memperingatkan mereka akan konsekuensi dari kebodohan dan dampak meninggalkan amal dari apa yang telah diketahui. Harapannya adalah agar mereka takut kepada Allah dan waspada terhadap akibat dari kemaksiatan kepada-Nya. Selain itu, tujuannya adalah agar seluruh orang mukmin menjadi ulama (orang yang paham) terhadap agama mereka, mampu menyebarkan dakwahnya, berargumentasi membela agama tersebut, serta menjelaskan rahasia-rahasia syariat kepada manusia. Tujuan menuntut ilmu ini bukanlah agar mereka (para penuntut ilmu) mengarahkan pandangan mereka pada kepemimpinan, mengejar jabatan tinggi, merasa lebih mulia dari masyarakat awam, mencari harta, atau menyerupai orang-orang zalim dan penguasa yang sombong dalam hal pakaian serta kendaraan mereka, dan bukan pula untuk saling bersaing (dalam kemewahan dunia) satu sama lain. Tafsir Al-Maraghi, XI: 48.

وَفِي الْآيَةِ إِشَارَةٌ إِلَى وُجُوبِ التَّفَقُّهِ فِي الدِّينِ وَالِاسْتِعْدَادِ لِتَعْلِيمِهِ فِي مَوَاطِنِ الْإِقَامَةِ، وَتَفْقِيهِ النَّاسِ فِيهِ بِالْمِقْدَارِ الَّذِي تَصْلُحُ بِهِ حَالُهُمْ، فَلَا يَجْهَلُونَ الْأَحْكَامَ الدِّينِيَّةَ الْعَامَّةَ الَّتِي يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ أَنْ يَتَعَرَّفَهَا، وَالنَّاصِبُونَ أَنْفُسَهُمْ لِهَذَا التَّفَقُّهِ عَلَى هَذَا الْقَصْدِ لَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ سَامِي الْمَرَاتِبِ مَا لَا يَقِلُّ فِي الدَّرَجَةِ عَنِ الْمُجَاهِدِ بِالْمَالِ وَالنَّفْسِ فِي سَبِيلِ إِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللَّهِ وَالذَّوْدِ عَنِ الدِّينِ وَالْمِلَّةِ، بَلْ هُمْ أَفْضَلُ مِنْهُمْ فِي غَيْرِ الْحَالِ الَّتِي يَكُونُ فِيهَا الدِّفَاعُ وَاجِبًا عَيْنِيًّا عَلَى كُلِّ شَخْصٍ.

Dalam ayat ini terdapat isyarat mengenai kewajiban mendalami agama (tafaqquh fid-din) dan kesiapan untuk mengajarkannya di tempat-tempat mukim, serta memahamkan orang lain tentang agama tersebut dalam kadar yang dapat memperbaiki keadaan mereka. Dengan begitu, mereka tidak lagi jahil (bodoh) terhadap hukum-hukum agama yang bersifat umum yang wajib diketahui oleh setiap orang mukmin. Orang-orang yang mencurahkan diri mereka untuk mendalami agama dengan tujuan ini, akan memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah, yang tingkatannya tidak lebih rendah dibandingkan orang yang berjihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah demi menegakkan kalimatullah serta membela agama dan umat. Bahkan, mereka (para penuntut ilmu dan pengajar) lebih utama daripada para pejuang tersebut dalam kondisi selain keadaan di mana pertahanan (perang) menjadi kewajiban fardu ain bagi setiap individu. Tafsir Al-Maraghi, XI: 48.

Relevansi: Ayat ini mengajarkan manajemen distribusi SDM. Ada sebagian kader yang harus mengambil peran strategis di tempat lain (level pusat) untuk memperluas cakrawala, yang pada gilirannya ilmu dan kebijakan yang mereka bawa akan kembali memberikan manfaat dan perlindungan bagi daerah asal.

 

KAIDAH FIQH ORGANISASI

Dalam kaidah fiqh disebutkan: "Al-hukmu bi al-mashlahati yata'allaqu bi al-kulliyyah" (Hukum yang berdasar pada maslahat berkaitan dengan kepentingan kolektif/menyeluruh).

Penguatan Tasykil Pimpinan Pusat melalui kontribusi kader dari Pimpinan Daerah (seperti PD Bandung) adalah implementasi nyata dari mendahulukan kepentingan jamaah di atas kepentingan kelompok kecil. Dengan pusat yang kokoh dan berwibawa, arah kebijakan dakwah Pemuda PERSIS akan semakin jelas, terukur, dan mampu menjawab tantangan zaman secara nasional maupun lokal. Khidmah daerah untuk pusat adalah investasi bagi tegaknya dakwah Islamiyyah secara utuh. Wallâhu A’lam, Hanafi Anshory.