ADAB MAKMUM TERHADAP IMAM
oleh: Hanafi Anshory, S.Pd.I,. M.Pd (Ketua PD Pemuda PERSIS Kab Bandung)
Kepemimpinan dalam shalat merupakan miniatur kepemimpinan dalam jam’iyah Islam. Di dalamnya terdapat adab-adab penting yang merupakan pelajaran bagi tatanan organisasi.
- Mendengar dan Mengikuti Imam
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ؛...
“Imam dijadikan tiada lain untuk diikuti…”[1]
Imam adalah pusat keselarasan gerakan jamaah, sebagaimana al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan:
قَوْلُهُ: (بَابُ إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ) هٰذِهِ التَّرْجَمَةُ قِطْعَةٌ مِنَ الْحَدِيثِ الآتِي فِي الْبَابِ، وَالْمُرَادُ بِهَا أَنَّ الائْتِمَامَ يَقْتَضِي مُتَابَعَةَ الْمَأْمُومِ لِإِمَامِهِ فِي أَحْوَالِ الصَّلَاةِ، فَتَنْتَفِي الْمُقَارَنَةُ وَالْمُسَابَقَةُ وَالْمُخَالَفَةُ، إِلَّا مَا دَلَّ الدَّلِيلُ الشَّرْعِيُّ عَلَيْهِ.
“Perkataan penulis (Imam al-Bukhari): (Bab: ‘Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti’) — judul ini merupakan potongan dari hadits yang akan disebutkan dalam bab ini. Yang dimaksud dengannya ialah bahwa bermakmum meniscayakan mengikuti makmum terhadap imamnya dalam seluruh keadaan shalat, sehingga tertolak adanya berbarengan (muqāranah), mendahului (musābaqah), dan menyelisihi (mukhālafah), kecuali pada perkara yang memang ditunjukkan kebolehannya oleh dalil syar‘i.” [2]
- Menegur dengan Adab
Dalam shalat, jamaah diberi ruang untuk mengoreksi kesalahan imam dengan cara paling terhormat.
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: كَانَ قِتَالٌ بَيْنَ بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ، فَبَلَغَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، فَأَتَاهُمْ بَعْدَ الظُّهْرِ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ، وَقَالَ: "يَا بِلَالُ، إِنْ حَضَرَتِ الصَّلَاةُ وَلَمْ آتِ، فَمُرْ أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ".
Dari Sahl bin Sa‘d, ia berkata: Telah terjadi suatu pertikaian di antara Bani ‘Amr bin ‘Auf. Peristiwa itu sampai kepada Nabi ﷺ, maka beliau mendatangi mereka setelah salat Zuhur untuk mendamaikan mereka. Beliau bersabda:
“Wahai Bilal, jika waktu salat telah tiba sementara aku belum datang, maka perintahkanlah Abu Bakar untuk mengimami orang-orang.”
قَالَ: فَلَمَّا حَضَرَتِ الْعَصْرُ أَقَامَ بِلَالٌ الصَّلَاةَ، ثُمَّ أَمَرَ أَبَا بَكْرٍ فَتَقَدَّمَ بِهِمْ، وَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بَعْدَمَا دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فِي الصَّلَاةِ، فَلَمَّا رَأَوْهُ صَفَّحُوا، وَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَشُقُّ النَّاسَ حَتَّى قَامَ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ،
Sahl berkata: Ketika waktu salat Asar tiba, Bilal pun mengumandangkan iqamah, lalu ia memerintahkan Abu Bakar untuk maju mengimami mereka. Rasulullah ﷺ datang setelah Abu Bakar mulai masuk ke dalam salat. Ketika para makmum melihat beliau, mereka bertepuk tangan. Rasulullah ﷺ berjalan menerobos barisan jamaah hingga berdiri di belakang Abu Bakar.
قَالَ: وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ لَمْ يَلْتَفِتْ، فَلَمَّا رَأَى التَّصْفِيحَ لَا يُمْسَكُ عَنْهُ، فَالْتَفَتَ فَرَأَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم خَلْفَهُ، فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِيَدِهِ: أَنْ امْضِهْ، فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ هُنَيْهَةً، فَحَمِدَ اللهَ عَلَى ذَلِكَ، ثُمَّ مَشَى الْقَهْقَرَى،
Sahl berkata: Abu Bakar apabila telah masuk ke dalam salat, ia tidak menoleh. Namun ketika ia mendengar tepukan tangan yang terus-menerus, ia pun menoleh dan melihat Nabi ﷺ berada di belakangnya. Maka Rasulullah ﷺ memberi isyarat kepadanya dengan tangan agar tetap melanjutkan salatnya. Abu Bakar pun berdiri sejenak, memuji Allah atas hal itu, kemudian mundur ke belakang.
قَالَ: فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَصَلَّى بِالنَّاسِ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلَاتَهُ قَالَ: " يَا أَبَا بَكْرٍ، مَا مَنَعَكَ إِذْ أَوْمَأْتُ إِلَيْكَ أَنْ لَا تَكُونَ مَضَيْتَ؟ " قَالَ: فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: لَمْ يَكُنْ لِابْنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنْ يَؤُمَّ رَسُولَ اللهِ.
Rasulullah ﷺ lalu maju ke depan dan mengimami salat. Setelah Rasulullah ﷺ menyelesaikan salatnya, beliau bersabda: “Wahai Abu Bakar, apa yang menghalangimu ketika aku memberi isyarat kepadamu sehingga engkau tidak melanjutkan (sebagai imam)?” Abu Bakar menjawab: “Tidak pantas bagi putra Abu Quhafah untuk mengimami Rasulullah.”
فَقَالَ لِلنَّاسِ: " إِذَا نَابَكُمْ فِي صَلَاتِكُمْ شَيْءٌ، فَلْيُسَبِّحِ الرِّجَالُ، وَلْيُصَفِّحِ النِّسَاءُ ".
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda kepada para jamaah: “Apabila terjadi sesuatu pada salat kalian, maka hendaklah kaum laki-laki mengucapkan tasbih, dan kaum perempuan bertepuk tangan.” [3]
- Pelajaran Besar untuk Jam’iyah:
- Koreksi dilakukan saat diperlukan, bukan sembarangan.
- Menggunakan metode paling santun.
- Tidak menjatuhkan kewibawaan pemimpin, tetapi menyelamatkan kesempurnaan ibadah.
Ini menjadi landasan adab dalam memberi masukan kepada pemimpin organisasi.
Wallahu A'lam
Tulisan selengkapnya dapat ditemukan pada buku "Model Kepemimpinan dalam Jam'iyah" karya Ust. H. Hamdan Abu Nabhan, Hanafi Anshory, Taufik Hidayatuddin dan Asep Sofyan Nurdin.
[1] Hr. Malik, al-Muwaththa’, I: 133: 339. Ad-Darimi, Musnad ad-Darimi, II: 798: 1291. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, I: 149: 371. Muslim, Shahih Muslim, II: 18: 411. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, 211: 844. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, I: 233: 601. At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, I: 414: 361. An-Nasai, Sunan an-Nasai, II: 83: 794.
[2] Aḥmad bin ‘Alī bin Ḥajar al-‘Asqalānī (773–852 H), Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ al-Bukhārī, II: 174. al-Maktabah as-Salafiyyah – Meṣir. Cet.ke-1, 1380–1390 H. 13 juz.
[3] HR. Bukhari no. 684.