UMAR BIN AL-KHATHTHAB, DI ANTARA FADHILAH RADLIYALLAHU ‘ANHU

24 Mar 2026

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu sahabat agung yang memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya. Keutamaannya bukan hanya dikenal melalui sejarah kepemimpinannya yang agung, tetapi juga ditegaskan secara jelas dalam banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, sangat layak bagi kita untuk menelaah sebagian dari fadhilah beliau, agar semakin tumbuh rasa cinta, penghormatan, dan keteladanan terhadap sosok Amirul Mukminin yang mulia ini. 

Di antara dalil yang menunjukkan agungnya kedudukan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu adalah kabar gembira dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang istana beliau di surga.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِقَصْرٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ؟ قَالُوا: لِشَابٍّ مِنْ قُرَيْشٍ فَظَنَنْتُ أَنِّي أَنَا هُوَ. فَقُلْتُ: وَمَنْ هُوَ؟ فَقَالُوا: عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ.

“Ketika aku masuk surga, tiba-tiba aku melihat istana dari emas. Maka aku pun bertanya, “Untuk siapa ini?” Para malaikat pun menjawab, “Untuk seorang pemuda dari suku Quraisy.” Aku pun mengira bahwa itu adalah aku, maka aku bertanya, “Siapa dia?” Para malaikat menjawab, “‘Umar bin Khattab.”” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 1423.)

Kabar ini menunjukkan bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu termasuk hamba pilihan yang telah Allah siapkan baginya kemuliaan besar di akhirat. Bahkan, jaminan surga bagi beliau juga datang dalam bentuk yang lebih tegas melalui hadits-hadits yang lain.

Dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwasanya beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ. …

“Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga. …” (HR at-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahih al-Jami ash-Shaghir no. 50.)

Bukan hanya itu, di antara bentuk pujian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Umar adalah sabda beliau yang menunjukkan betapa luar biasanya keutamaan, kekuatan iman, dan keteguhan agama yang ada pada diri beliau.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كَانَ بَعْدِيْ نَبِيٌّ، لَكَانَ عُمَرُ.

“Jika seandainya ada Nabi setelahku, maka ia adalah ‘Umar.” (HR at-Tirmidzi, Al-Hakim, Ahmad, dan yang lainnya. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 327.)

Tentu saja, makna hadits ini bukanlah menetapkan kemungkinan adanya nabi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab beliau adalah penutup para nabi. Akan tetapi, hadits ini menunjukkan tingginya derajat ‘Umar dalam hal kebenaran, keteguhan, dan kedekatannya kepada petunjuk. Hal ini semakin diperjelas dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikutnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَقَدْ كَانَ فِيمَا قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ، فَإِنْ يَكُ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ.

“Sungguh dahulu di antara umat sebelum kalian ada beberapa Muhaddatsun (yaitu orang-orang yang diberi ilham / firasat yang benar). Seandainya ada seseorang di antara umatku, maka sesungguhnya dia adalah Umar.” (HR al-Bukhari no. 3486)

Keutamaan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu tidak hanya tampak dalam sisi ilham dan ketajaman firasat, tetapi juga dalam kewibawaan imannya yang demikian besar, sampai-sampai setan pun menjauh darinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَى شَيَاطِيْنِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ قَدْ فَرُّوْا مِنْ عُمَرَ.

“Sungguh aku melihat setan-setan dari kalangan jin dan manusia lari (kabur) dari Umar.” (HR at-Tirmidzi, hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani di dalam Misykatul Mashabih yang ditahqiq oleh beliau.)

Bahkan, dalam riwayat yang lebih masyhur, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa setan akan menghindari jalan yang dilewati oleh ‘Umar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِيْهًا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا قَطُّ إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ.

“Wahai ‘Umar bin Al-Khaththab, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah ada satu pun setan yang bertemu denganmu di suatu jalan melainkan dia akan mencari jalan yang lain yang tidak dilalui olehmu.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Salah satu fadhilah besar lainnya yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa keislaman ‘Umar merupakan jawaban atas doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masuk Islamnya beliau menjadi sebab bertambah kuatnya barisan kaum Muslimin dan semakin tampaknya kemuliaan agama ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ، بِأَبِي جَهْلِ بْنِ هِشَامٍ، أَوْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، يَقُوْلُ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: فَكَانَ أَحَبَّهُمَا إِلَيْهِ عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu di antara kedua orang yang paling Engkau cintai, yaitu Abu Jahal bin Hisyam atau Umar bin Al-Khaththab. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Dan ternyata yang lebih Allah cintai di antara keduanya adalah Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu.”” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Imam Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani.)

Setelah menelaah beberapa fadhilah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dari sisi nash-nash hadits, maka semakin jelas bahwa beliau bukan sekadar sahabat besar, melainkan salah satu pilar utama kekuatan Islam. Keutamaan-keutamaan tersebut kemudian tampak nyata dalam kepemimpinan beliau saat memegang tampuk kekhalifahan.

KEKHALIFAHAN UMAR BIN KHATHTHAB

Setelah wafatnya Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, estafet kepemimpinan umat Islam berpindah kepada ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Masa kekhalifahan beliau menjadi salah satu fase paling gemilang dalam sejarah Islam, baik dari sisi kekuatan pemerintahan, perluasan wilayah, ketegasan hukum, maupun kemaslahatan yang dirasakan oleh kaum Muslimin. 

وَلِيَ الْخِلَافَةَ بِعَهْدٍ مِنْ أَبِي بَكْرٍ فِي جُمَادَى الْآخِرَةِ سَنَةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ.

Umar memegang jabatan kekhalifahan berdasarkan penunjukan (wasiat) dari Abu Bakar. Ia mulai memangku kekhalifahan pada bulan Jumādā al-Ākhirah tahun 13 H.

Untuk memperjelas waktu pengangkatan beliau, para ulama juga menyebutkan rincian hari ketika ‘Umar mulai menjabat sebagai khalifah.

قَالَ الزُّهْرِيُّ: اسْتُخْلِفَ عُمَرُ يَوْمَ تُوُفِّيَ أَبُو بَكْرٍ، وَهُوَ يَوْمُ الثُّلَاثَاءِ لِثَمَانٍ بَقِينَ مِنْ جُمَادَى الْآخِرَةِ، أَخْرَجَهُ الْحَاكِمُ.

Az-Zuhri berkata: “Umar diangkat menjadi khalifah pada hari wafatnya Abu Bakar, yaitu hari Selasa, ketika tersisa delapan hari lagi dari bulan Jumadil Akhir.” Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Hakim.

Bukan hanya diangkat secara sah dan jelas, ‘Umar pun menunaikan amanah kekhalifahan dengan sangat sempurna. Ringkasan ini disebutkan dalam pernyataan berikut.

بِالْأَمْرِ أَتَمَّ قِيَامٍ، وَكَثُرَتِ الْفُتُوحُ فِي أَيَّامِهِ.

Ia menjalankan urusan (kekhalifahan) itu dengan sebaik-baiknya, dan pada masa pemerintahannya banyak terjadi penaklukan (pembukaan wilayah).

Kalimat singkat ini sesungguhnya merangkum lautan jasa yang sangat luas. Karena itu, para ulama sejarah kemudian menyebutkan secara berurutan sebagian peristiwa besar yang terjadi pada masa kekhalifahan beliau dari tahun ke tahun.

PERISTIWA-PERISTIWA PENTING PADA MASA KEKHALIFAHAN ‘UMAR

Memasuki tahun 14 H, tampak jelas bahwa kekhalifahan ‘Umar ditandai dengan meluasnya wilayah Islam dan tertatanya kehidupan ibadah kaum Muslimin. 

فَفِي سَنَةِ أَرْبَعَ عَشْرَةَ فُتِحَتْ دِمَشْقُ مَا بَيْنَ صُلْحٍ وَعَنْوَةٍ، وَحِمْصُ وَبَعْلَبَكُّ صُلْحًا، وَالْبَصْرَةُ وَالْأُبُلَّةُ كِلَاهُمَا عَنْوَةً، وَفِيهَا جَمَعَ عُمَرُ النَّاسَ عَلَى صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ، قَالَهُ الْعَسْكَرِيُّ فِي الْأَوَائِلِ.

Pada tahun 14 H, Damaskus ditaklukkan sebagian melalui perjanjian damai dan sebagian melalui peperangan. Kota Hims dan Ba‘labakk ditaklukkan secara damai, sedangkan Bashrah dan Ubullah keduanya ditaklukkan melalui peperangan. Pada tahun itu pula Umar mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Hal ini disebutkan oleh Al-‘Askari dalam kitab Al-Awā’il.

Setelah itu, pada tahun berikutnya, kemenangan-kemenangan besar terus berlanjut, bahkan terjadi beberapa pertempuran monumental yang sangat menentukan arah sejarah Islam.

وَفِي سَنَةِ خَمْسَ عَشْرَةَ فُتِحَتِ الْأُرْدُنُّ كُلُّهَا عَنْوَةً، إِلَّا طَبَرِيَّةَ فَإِنَّهَا فُتِحَتْ صُلْحًا، وَفِيهَا كَانَتْ وَقْعَةُ الْيَرْمُوكِ وَالْقَادِسِيَّةِ.

Pada tahun 15 H, seluruh wilayah Yordania ditaklukkan dengan peperangan (secara paksa), kecuali Thabariyah, karena kota itu ditaklukkan melalui perjanjian damai. Pada tahun itu pula terjadi Perang Yarmuk dan Perang Qadisiyah.

Selain penaklukan wilayah, masa ‘Umar juga dikenal sebagai masa peletakan fondasi administrasi negara yang kokoh. Karena itu, para sejarawan juga mencatat berbagai kebijakan penting beliau pada tahun yang sama.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: وَفِيهَا مَصَّرَ سَعْدٌ الْكُوفَةَ، وَفِيهَا فَرَضَ عُمَرُ الْفُرُوضَ، وَدَوَّنَ الدَّوَاوِينَ، وَأَعْطَى الْعَطَاءَ عَلَى السَّابِقَةِ.

Ibnu Jarir berkata: “Pada tahun itu Sa‘d membangun (menjadikan) Kufah sebagai kota. Pada tahun itu pula Umar menetapkan berbagai tunjangan, membukukan daftar-daftar administrasi (diwan-diwan), dan memberikan santunan berdasarkan kadar keutamaan dalam masuk Islam lebih dahulu.”

Kemudian, pada tahun 16 H, capaian besar kekhalifahan ‘Umar tidak hanya tampak dalam penaklukan wilayah, tetapi juga dalam momentum penting yang berkaitan dengan Baitul Maqdis dan lahirnya sistem penanggalan Islam.

وَفِيهَا (سَنَةَ سِتَّ عَشْرَةَ) فُتِحَتْ تَكْرِيتُ، وَفِيهَا سَارَ عُمَرُ فَفَتَحَ بَيْتَ الْمَقْدِسِ، وَخَطَبَ بِالْجَابِيَةِ خُطْبَتَهُ الْمَشْهُورَةَ...

Dan pada tahun itu (tahun 16 H), Tikrit berhasil ditaklukkan. Pada tahun itu pula Umar berangkat (melakukan perjalanan), lalu Baitul Maqdis dibuka (ditaklukkan), dan di al-Jabiyah ia menyampaikan khutbahnya yang masyhur (terkenal).

Tidak berhenti di situ, pada tahun yang sama pula lahir salah satu tonggak peradaban Islam yang sangat penting, yaitu penetapan kalender hijriyah.

... وَفِي رَبِيعِ الْأَوَّلِ كُتِبَ التَّارِيخُ مِنَ الْهِجْرَةِ بِمَشُورَةِ عَلِيٍّ ... .

… Dan pada bulan Rabi‘ul Awwal, penanggalan (tarikh) ditetapkan berdasarkan peristiwa hijrah, atas usul (musyawarah/pertimbangan) Ali … .

Memasuki tahun 17 H, sejarah tidak hanya mencatat perluasan dan pembangunan, tetapi juga ujian berat berupa paceklik panjang yang menimpa negeri-negeri kaum Muslimin di Hijaz.

وَفِي سَنَةِ سَبْعَ عَشْرَةَ زَادَ عُمَرُ فِي الْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ، وَفِيهَا كَانَ الْقَحْطُ بِالْحِجَازِ، ذَكَرَهُ ابْنُ سَعْدٍ، وَسُمِّيَ عَامَ الرَّمَادَةِ، وَاسْتَسْقَى عُمَرُ لِلنَّاسِ بِالْعَبَّاسِ.

Pada tahun 17 H, Umar memperluas Masjid Nabawi. Pada tahun itu pula terjadi paceklik di wilayah Hijaz—sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sa‘d—dan tahun itu dikenal dengan nama ‘Ām ar-Ramādah (Tahun Abu/Debuan). Umar pun memohon hujan untuk kaum Muslimin dengan bertawassul melalui Al-‘Abbas.… .

Sesudah ujian paceklik tersebut, kaum Muslimin kembali diuji dengan musibah lain yang sangat besar, yaitu wabah mematikan yang terkenal dalam sejarah Islam.

وَفِيهَا (سَنَةَ ثَمَانِي عَشْرَةَ) كَانَ طَاعُونُ عَمَوَاسَ.

… Pada tahun 18 H terjadi Wabah Tha‘un ‘Amwās.… .

Beberapa tahun kemudian, kebijakan-kebijakan penting ‘Umar dalam mengatur wilayah dan menata masyarakat kembali tampak dalam keputusan beliau terhadap Khaibar dan Najran.

... وَفِيهَا (سَنَةَ عِشْرِينَ) أَجْلَىٰ عُمَرُ الْيَهُودَ عَنْ خَيْبَرَ وَعَنْ نَجْرَانَ، وَقَسَمَ خَيْبَرَ وَوَادِيَ الْقُرَىٰ.... .

… Pada tahun 20 H, Umar mengusir orang-orang Yahudi dari Khaibar dan Najran, lalu membagi-bagikan Khaibar dan Wādī al-Qurā.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun memimpin umat dengan keadilan, ketegasan, kezuhudan, dan kekuatan, tibalah penghujung kehidupan beliau yang mulia. Sejarah pun menutup fase kekhalifahan ‘Umar dengan kisah syahadah yang agung.

... وَفِي آخِرِهَا كَانَتْ وَفَاةُ سَيِّدِنَا عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ صُدُورِهِ مِنَ الْحَجِّ شَهِيدًا. ... .

… Pada penghujung tahun 23 H inilah Umar menemui syahidnya saat kembali dari ibadah haji … .  (Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa, 1: 119-120)

Demikianlah, sebagian kecil dari fadhilah dan jejak kepemimpinan ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat yang dijamin surga, sosok yang doanya dan keberadaannya menjadi sebab kemuliaan Islam, seorang pemimpin yang ditakuti setan, serta khalifah yang pada masanya Allah bukakan kemenangan-kemenangan besar bagi kaum Muslimin. Semoga Allah meridhai ‘Umar bin al-Khaththab, menempatkannya di tempat terbaik, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu meneladani keimanan, keberanian, keadilan, dan kezuhudan beliau. Radliyallahu ‘anhu wa ardhaahu.