TAUHID SEBAGAI DASAR PERJUANGAN

13 Mar 2026

PENGERTIAN TAUHID

Tauhid adalah meng-esa-kan Allah Ta’ala pada rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya dan kesempurnaan nama-nama (asma) dan sifat-sifat-Nya.

MACAM-MACAM TAUHID

Macam-macam tauhid ada tiga: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Asma dan Sifat. Ada juga yang membagi tauhid ini menjadi dua: Tauhid Ilmiy I’tiqadiy dan Tauhid Iradiy Thalabiy. (Mujmalu Ushul Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah fi al-‘Aqidah, Nashir al-‘Aql, hlm. 10-13)

1.        Tauhid Rububiyyah

Ialah Tauhid kepada Allah swt. berkaitan dengan apa yang dilakukan Allah swt., seperti menciptakan, memberi rezeki, mengatur urusan, menghidupkan, mematikan dan sebagainya.

اللَّهُ خالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ.

Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. Qs. Az-Zumar [39]: 62.

2.       Tauhid Uluhiyyah

Ialah Tauhid kepada Allah berkaitan dengan perbuatan hamba yang diperintahkan oleh Allah swt. (ibadah). Maka seluruh bentuk ibadah dilakukan kepada Allah swt. saja tidak ada sekutu bagi-Nya, seperti berdo’a, takut, tawakkal, memohon pertolongan, memohon perlindungan dan lain-lain.

وَقالَ رَبُّكُمُ : ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ.

Dan Rabb-mu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” Qs. Al-Mu’min [40]: 60.

3.       Tauhid Asma dan Sifat

Ialah mengimani seluruh yang disebutkan dalam al-Qur’an al-Karim dan hadis-hadis Nabi yang shahih dari nama-nama dan sifat-sifat Allah yang Ia sifatkan sendiri atau disifatkan rasul-Nya, secara sebenarnya. Nama-nama Allah itu banyak, di antaranya: ar-Rahman, as-Sami’, al-Bashir, al-‘Aziz dan al-Hakim. Sesungguhnya nama-nama dan sifat-sifat (Allah) itu tauqifiyyah. Demikian juga seluruh perkara ghaib dan urusan-urusan akhirat. (Hamdan, Sudah Luruskah ‘Aqidah Kita?, 1: 19-22)

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Yang Maha Mendengar. Qs. Asy-Syura [42]: 11.

PENTINGNYA TAUHID

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ.

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am: 82)

وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ: (لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ قَالُوا: فَأَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ بِذَاكُمْ، أَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ: {إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ})

Dari Ibnu Mas’ud ra., Ketika ayat ini turun, orang-orang berkata, “Siapa di antara kita yang tidak pernah menzalimi dirinya?” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Bukan seperti yang kalian maksudkan, apakah kalian tidak mendengar ucapan Luqman, ‘Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar’ (QS. Luqman: 13).” (HR. Al-Bukhari)

وَلِأَحْمَدَ بِنَحْوِهِ عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: (لَمَّا نَزَلَتْ {الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ} شَقَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّنَا لَا يَظْلِمُ نَفْسَهُ؟ قَالَ: إِنَّهُ لَيْسَ الَّذِي تَعْنُونَ، أَلَمْ تَسْمَعُوا مَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: {يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ}، إِنَّمَا هُوَ الشِّرْكُ)

Imam Ahmad memiliki riwayat yang serupa dari Abdullah, beliau berkata, “Ketika turun ayat, ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman.’ Hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah Saw, maka mereka berkata, ‘Ya Rasulullah, siapa di antara kita yang tidak pernah menzhalimi dirinya?’ Beliau menjawab, ‘Perkaranya bukan seperti yang kalian kira, apakah kalian tidak mendengar ucapan seorang hamba shalih, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’ Kezhaliman yang dimaksud adalah syirik’.”

KEISTIMEWAAN TAUHID

وَقَوْلُهُ: "إِنَّمَا هُوَ الشِّرْكُ"، إِنْ أَرَادَ الْأَكْبَرَ فَمَقْصُودُهُ أَنَّ مَنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِهِ فَهُوَ آمِنٌ مِمَّا وُعِدَ بِهِ الْمُشْرِكُونَ مِنْ عَذَابِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. وَإِنْ كَانَ مَرَادُهُ جِنْسَ الشِّرْكِ، يُقَالُ: ظَلَمَ الْعَبْدُ نَفْسَهُ كَبُخْلِهِ لِحُبِّ الْمَالِ بِبَعْضِ الْوَاجِبِ - هُوَ شِرْكٌ أَصْغَرُ، وَحُبِّهِ مَا يُبْغِضُهُ اللهُ تَعَالَى حَتَّى يُقَدِّمَ هَوَاهُ عَلَى مَحَبَّةِ اللهِ - الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، وَنَحْوِ ذَلِكَ، فَهَذَا فَاتَهُ مِنَ الْأَمْنِ وَالِاهْتِدَاءِ بِحَسَبِهِ، وَلِهَذَا كَانَ السَّلَفُ يُدْخِلُونَ الذُّنُوبَ فِي هَذَا الشِّرْكِ بِهَذَا الِاعْتِبَارِ مُلَخَّصًا.

Dan sabdanya, “Ia (kezhaliman yang dimaksud) adalah syirik,” jika yang beliau maksud adalah syirik akbar, maka maksudnya adalah bahwa siapa yang tidak melakukannya, maka dia aman dari azab dunia dan akhirat yang diancamkan kepada orang-orang musyrik. Jika maksud beliau adalah syirik secara umum, dikatakan bahwa kezhaliman seorang hamba terhadap dirinya seperti kebakhilannya -karena kecintaan terhadap harta- dari melaksanakan sebagian kewajiban merupakan syirik ashghar (kecil), dan kecintaannya kepada apa yang dibenci oleh Allah Swt. sehingga dia mendahulukan hawa nafsunya atas kecintaan kepada Allah, dan ini merupakan syirik ashghar, dan yang sepertinya, maka orang ini kehilangan rasa aman dan petunjuk sesuai dengan kadarnya. Oleh karena itu, ulama salaf memasukkan dosa-dosa ke dalam syirik ini dengan pertimbangan ini. Demikian Syaikhul Islam (dari kitab Al-Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) dengan diringkas. (Alu Asy-Syaikh, Fath al-Majid syarh Kitab at-Tauhid, hlm. 33)

وَقَالَ ابْنُ كَثِيرٍ فِي الآيَةِ: "أَيْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَخْلَصُوا الْعِبَادَةَ لِلَّهِ وَحْدَهُ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا هُمُ الْآمِنُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُهْتَدُونَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ".

Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini, “Yakni, mereka yang mengikhlaskan beribadah hanya kepadaNya semata dan tidak menyekutukanNya dengan siapa pun, mereka itulah orang-orang yang aman pada Hari Kiamat, yang mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.”

IKHLAS SEBAGAI PEMBUKTIAN

عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ قَالَ: الْإِيمَانُ الْإِخْلَاصُ لِلَّهِ وَحْدَهُ.

Dari Ar-Rabi’ bin Anas, beliau berkata: “Iman adalah ikhlas kepada Allah semata.” (Fath al-Majid, hlm. 33)

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَىٰ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ، وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ؛ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَىٰ مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ». أَخْرَجَاهُ.

Dari Ubadah bin ash-Shamit ra., beliau berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah, kalimatNya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan ruh dariNya, surga adalah haq dan neraka adalah haq, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amal yang dia lakukan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

وَقَالَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ: الْإِلٰهُ هُوَ الْمَعْبُودُ الْمُطَاعُ، فَإِنَّ الْإِلٰهَ هُوَ الْمَأْلُوهُ، وَالْمَأْلُوهُ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ أَنْ يُعْبَدَ، وَكَوْنُهُ يَسْتَحِقُّ أَنْ يُعْبَدَ هُوَ بِمَا اتَّصَفَ بِهِ مِنَ الصِّفَاتِ الَّتِي تَسْتَلْزِمُ أَنْ يَكُونَ هُوَ الْمَحْبُوبَ غَايَةَ الْحُبِّ، الْمَخْضُوعَ لَهُ غَايَةَ الْخُضُوعِ.

Syaikhul Islam berkata, “Al-ilaah adalah yang disembah dan ditaati, karena al-ilaah ialah al-ma-luuh (yang dituhankan) dan al-ma-luuh adalah yang berhak disembah. Dia berhak untuk disembah karena Dia mempunyai sifat-sifat yang menuntutnya menjadi yang dicintai dengan kecintaan paling tinggi dan ditaati dengan ketaatan yang mendalam.

وَقَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ: (الْإِلٰهُ) هُوَ الَّذِي تَأْلَهُهُ الْقُلُوبُ مَحَبَّةً وَإِجْلَالًا وَإِنَابَةً وَإِكْرَامًا وَتَعْظِيمًا وَذُلًّا وَخُضُوعًا وَخَوْفًا وَرَجَاءً وَتَوَكُّلًا.

Ibnul Qayyim berkata, “Al-ilaah (tuhan) adalah yang dituhankan oleh hati dengan kecintaan, pengagungan, ketergantungan, pemuliaan, penghormatan, kerendahan, kepatuhan, ketakutan, harapan, dan tawakkal.

فَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ لَا تَنْفَعُ إِلَّا مَنْ عَرَفَ مَدْلُولَهَا نَفْيًا وَإِثْبَاتًا، وَاعْتَقَدَ ذٰلِكَ، وَقَبِلَهُ، وَعَمِلَ بِهِ. وَأَمَّا مَنْ قَالَهَا مِنْ غَيْرِ عِلْمٍ وَاعْتِقَادٍ وَعَمَلٍ، فَقَدْ تَقَدَّمَ فِي كَلَامِ الْعُلَمَاءِ أَنَّ هٰذَا جَهْلٌ صِرْفٌ، فَهِيَ حُجَّةٌ عَلَيْهِ بِلَا رَيْبٍ.

Laa ilaaha illallaah tidak berguna kecuali bagi orang yang mengetahui kandungannya dari sisi apa yang dinafikan dan apa yang ditetapkan, meyakini hal itu dan mengamalkannya. Adapun orang yang mengucapkannya tanpa ilmu, tanpa keyakinan dan tanpa amal perbuatan, maka telah hadir ucapan para ulama bahwa ini adalah kejahilan murni, ia merupakan hujjah atasnya tanpa ragu. (Alu Asy-Syaikh, Fath al-Majid syarh Kitab at-Tauhid, hlm. 36-38)

وَقَوْلُهُ: (أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَىٰ مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ) هٰذِهِ الْجُمْلَةُ جَوَابُ الشَّرْطِ، وَفِي رِوَايَةٍ: أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ.

Sabda Nabi Saw., “Niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amal yang dia lakukan.” Kalimat ini adalah jawaban dari kalimat syarat. Dalam sebuah riwayat, “Niscaya Allah memasukkannya melalui salah satu pintu surga yang delapan yang orang itu kehendaki.”

قَالَ الْحَافِظُ: مَعْنَىٰ قَوْلِهِ: عَلَىٰ مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ، أَيْ: مِنْ صَلَاحٍ أَوْ فَسَادٍ؛ لِأَنَّ أَهْلَ التَّوْحِيدِ لَابُدَّ لَهُمْ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ. وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ مَعْنَىٰ قَوْلِهِ: عَلَىٰ مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ، أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ عَلَىٰ حَسَبِ أَعْمَالِ كُلِّ مِنْهُمْ فِي الدَّرَجَاتِ.

Al-Hafidz berkata, “Makna ucapannya, ‘Sesuai dengan amal yang dia lakukan’, yakni, yang baik atau yang tidak baik, karena ahli tauhid pasti masuk surga. Bisa pula makna dari, ‘Sesuai dengan amal yang dilakukan’  yakni, penduduk surga masuk menurut amal masing-masing sesuai dengan derajat mereka.”

قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ: مَا وَرَدَ فِي حَدِيثِ عُبَادَةَ يَكُونُ مَخْصُوصًا لِمَنْ قَالَ مَا ذَكَرَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَرَنَ بِالشَّهَادَتَيْنِ حَقِيقَةَ الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ الَّذِي وَرَدَ فِي حَدِيثِهِ، فَيَكُونُ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مَا يَرْجَحُ عَلَىٰ سَيِّئَاتِهِ، وَيُوجِبُ لَهُ الْمَغْفِرَةَ وَالرَّحْمَةَ وَدُخُولَ الْجَنَّةِ لِأَوَّلِ وَهْلَةٍ.

Al-Qadhi Iyadh berkata, “Apa yang tercantum dalam hadis Ubadah dikhususkan untuk orang yang mengucapkan apa yang disabdakan oleh Nabi Saw. dan dia menyandingkan dua kalimat syahadat dengan hakikat iman dan tauhid, yang tercantum dalam hadisnya tersebut, maka dia meraih pahala yang lebih berat (lebih kuat) dibandingkan dengan keburukan-keburukannya dan menyebabkannya pasti meraih ampunan dan rahmat Allah serta masuk surga sejak awal.” (Alu Asy-Syaikh, Fath al-Majid syarh Kitab at-Tauhid, hlm. 41)

Wallahu A’lam. Hanafi Anshory.