SELAMAT KARENA SALAT
Keselamatan bukan hanya tentang terhindar dari musibah dunia. Keselamatan yang hakiki adalah selamat saat berdiri di hadapan Allah. Dan jalan keselamatan itu, yang paling pertama dan paling utama, adalah shalat.
Shalat bukan sekadar gerakan ritual lima kali sehari. Ia adalah tiang agama, penjaga iman, pengikat langit dan bumi dalam diri seorang hamba. Ketika shalat tegak, maka bangunan agama tegak. Ketika shalat runtuh, maka runtuhlah bangunan itu perlahan-lahan.
Allah Ta‘ala berfirman:
اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِۗ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا
Dirikanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh! Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Qs. Al-Isra: 78.
Ayat ini bukan sekadar penetapan waktu, tetapi penegasan kontinuitas hubungan dengan Allah. Sejak siang condong hingga malam gelap, seorang mukmin diikat oleh panggilan Ilahi. Dan secara khusus disebutkan shalat Subuh sebagai masyhūdā — disaksikan. Para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul menyaksikannya.
Bayangkan, pada saat manusia lain masih terlelap, seorang hamba berdiri di hadapan Rabb-nya, dan langit menjadi saksi atas kesetiaannya.
Shalat Malam dan Derajat yang Terpuji
Allah melanjutkan:
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
Pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. Qs. Al-Isra: 79.
Tahajud adalah bukti cinta. Ia tidak diwajibkan seperti lima waktu, tetapi dipilih oleh jiwa yang rindu. Di sepertiga malam terakhir, ketika dunia sunyi dan riuh manusia mereda, seorang mukmin mengetuk pintu langit dengan doa dan sujudnya.
Di situlah Allah menjanjikan maqāman maḥmūdā — kedudukan yang terpuji. Derajat yang tinggi tidak diraih dengan popularitas, tetapi dengan sujud dalam kesendirian.
Masuk dan Keluar dengan Kejujuran
Setelah perintah shalat, Allah mengajarkan doa:
وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Ya Tuhanku, masukkan aku (ke tempat dan keadaan apa saja) dengan cara yang benar, keluarkan (pula) aku dengan cara yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku). Qs. Al-Isra: 80.
Shalat melahirkan kejujuran dalam hidup. Ia membentuk integritas. Seorang yang menjaga shalatnya akan meminta agar setiap langkah hidupnya — masuk dan keluarnya — diliputi kebenaran.
Karena shalat bukan hanya membentuk hubungan vertikal, tetapi membentuk karakter horizontal.
Shalat dan Ketahanan Keluarga
Allah juga berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.
“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, (karena) Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” QS. Thaha [20]: 132.
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat adalah fondasi ketahanan keluarga. Allah bahkan mengaitkan shalat dengan jaminan rezeki. Seolah Allah menegaskan: jangan tinggalkan shalat karena sibuk mencari dunia, karena Aku-lah Pemberi rezeki.
Banyak orang gelisah karena urusan dunia, tetapi melalaikan shalat. Padahal ketenangan justru lahir dari kedekatan kepada Allah.
Belajar Shalat dari Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي.
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 631)
Shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi teladan. Ia harus dipelajari, diperbaiki, dan disempurnakan. Gerakannya bukan hanya fisik, tetapi juga hati.
Shalat yang benar akan melahirkan ketundukan. Shalat yang khusyuk akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat yang hidup akan menyelamatkan.
Penyesalan yang Terlambat
Al-Qur’an menggambarkan keadaan orang-orang yang lalai ketika mereka dihadapkan kepada neraka (QS. Al-An’am: 27-30). Mereka berharap dikembalikan ke dunia untuk beriman dan beramal shalih.
Namun penyesalan itu terlambat. Di dunia, waktu terasa panjang. Tetapi di akhirat, seluruh umur terasa seperti sekejap. Banyak orang yang meremehkan shalat ketika muda, mengakhirkan taubat ketika sehat, dan menunda kesungguhan ketika lapang. Padahal shalat adalah penyelamat pertama yang akan ditanya pada hari kiamat.
وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ. بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ. وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ. وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى رَبِّهِمْ قَالَ أَلَيْسَ هَذَا بِالْحَقِّ قَالُوا بَلَى وَرَبِّنَا قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ.
Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman," (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.” Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya. Allah, Berfirman "Bukankah (kebangkitan) ini benar?” Mereka menjawab, "Sungguh benar, demi Tuhan kami.” Allah Berfirman, "Karena itu, rasakanlah azab ini disebabkan kalian mengingkarinya)." Qs. Al-An’am [6]: 27-30.
Membiasakan Shalat Sejak Dini
Tafsir Al-Maraghi menjelaskan bahwa cara terbaik membiasakan manusia pada kebajikan adalah dengan praktik, pembiasaan, bimbingan, dan pengajaran yang tepat. Anak-anak tidak boleh dibiarkan mengikuti hawa nafsu dengan dalih kebebasan, karena kebiasaan buruk akan menjadi watak yang sulit diubah.
وَمِنْ هٰذَا يَسْتَبِينُ لَكَ أَنَّ الطَّرِيقَةَ الْمُثْلَى لِتَعْوِيدِ النَّاسِ الْفَضِيلَةَ، هِيَ حَمْلُهُمْ عَلَيْهَا بِالْعَمَلِ وَالْمِرَانِ وَحُسْنِ التَّلْقِينِ وَالتَّعْلِيمِ، كَمَا يُمَرَّنُ الْأَطْفَالُ الصِّغَارُ وَالرِّجَالُ عَلَى أَعْمَالِ الْجُنْدِيَّةِ، وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُسْمَحَ لِلْأَحْدَاثِ بِإِطَاعَةِ شَهَوَاتِهِمْ وَاتِّبَاعِ أَهْوَائِهِمْ، ظَنًّا أَنَّ هٰذَا يُعَوِّدُهُمُ الْحُرِّيَّةَ وَالِاسْتِقْلَالَ فَيَهْدِيَهُمْ ذٰلِكَ إِلَى الْحَقِّ وَالْفَضِيلَةِ، إِذْ قَلَّمَا يُوجَدُ مَنْ يَتَّبِعُ شَهَوَاتِهِ فِي الصِّغَرِ ثُمَّ يَعْدِلُ عَنْ ذٰلِكَ فِي الْكِبَرِ بَعْدَ أَنْ يَصِيرَ طَبِيعَةً وَعَادَةً. فَمَا مِثْلُ تَرْبِيَةِ الْأَطْفَالِ عَلَى الْآدَابِ وَالْفَضَائِلِ إِلَّا مِثْلُ تَرْبِيَتِهِمْ عَلَى النَّظَافَةِ وَمُرَاعَاةِ الْقَوَانِينِ الصِّحِّيَّةِ، فَإِنَّا نُعَوِّدُهُمْ ذٰلِكَ فِي الصِّغَرِ ثُمَّ هُمْ يَعْرِفُونَ فَوَائِدَ ذٰلِكَ فِي الْكِبَرِ.
Dari hal ini dapat diketahui bahwa cara yang paling baik untuk membiasakan manusia pada kebajikan adalah dengan melatih mereka melakukannya melalui 1 PRAKTIK, PEMBIASAAN, 2 BIMBINGAN YANG BAIK, DAN 3 PENGAJARAN YANG TEPAT, sebagaimana anak-anak kecil dan para lelaki dilatih untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan keprajuritan. Tidak sepantasnya anak-anak muda dibiarkan menuruti hawa nafsu dan keinginan mereka dengan anggapan bahwa hal itu akan membiasakan mereka pada kebebasan dan kemandirian sehingga akan menuntun mereka kepada kebenaran dan kebajikan. Sebab, jarang sekali seseorang yang terbiasa mengikuti hawa nafsunya sejak kecil akan mampu meninggalkannya ketika dewasa, setelah hal itu menjadi watak dan kebiasaannya. Maka, pendidikan anak-anak dalam adab dan kebajikan tidak ubahnya seperti mendidik mereka untuk menjaga kebersihan dan mematuhi aturan-aturan kesehatan. Kita membiasakan mereka akan hal itu sejak kecil, dan kelak mereka akan memahami manfaatnya ketika telah dewasa. Tafsir Al-Maraghi, VII: 103.
Demikian pula shalat. Ia harus ditanamkan sejak dini. Seperti kita membiasakan anak menjaga kebersihan dan kesehatan, kita juga membiasakan mereka menjaga wudhu dan shalat.
Shalat bukan sekadar kewajiban individu, tetapi investasi peradaban.
Akhir yang Indah bagi Orang Bertakwa
Allah menggambarkan keadaan orang-orang bertakwa dalam QS. Az-Zukhruf: 66–73. Pada hari kiamat, persahabatan dunia bisa berubah menjadi permusuhan, kecuali persahabatan yang dibangun atas dasar takwa.
{هَلْ يَنْظُرُونَ إِلا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ. الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ. يَا عِبَادِ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ. الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ. ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ. يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ. وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ. لَكُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ كَثِيرَةٌ مِنْهَا تَأْكُلُونَ.
Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadarinya. Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan istri-istrimu digembirakan.” Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala; dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. Di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebagiannya kamu makan. Qs. Az-Zukhruf: 66-73.
Mereka masuk surga dengan penuh kegembiraan, disuguhi kenikmatan yang tidak pernah terbayangkan. Semua itu diwariskan karena amal yang dahulu mereka kerjakan.
Dan di antara amal terbesar itu adalah shalat.
Shalat sebagai Jalan Keselamatan
Shalat menjaga iman. Shalat menenangkan jiwa. Shalat membentengi keluarga. Shalat membentuk karakter. Shalat menyelamatkan di akhirat.
Barang siapa menjaga shalatnya, maka ia menjaga agamanya. Dan barang siapa menyia-nyiakannya, ia telah membuka pintu bahaya bagi dirinya sendiri. Maka, jika kita ingin selamat — selamat di dunia dari kegelisahan, dan selamat di akhirat dari azab — jagalah shalat. Karena keselamatan itu, benar-benar, adalah selamat karena shalat. Wallāhu A‘lam biṣ-ṣawāb. Hanafi Anshory.